
Hari ini tepat dua bulan kepergian Khanna. Nervan semakin terpuruk dan tidak mengurus dirinya dengan baik. Bulu bulu halus nampak tumbuh di dagu dan kumisnya, Tubuhnya semakin kurus dengan penampilan yang berantakan. Bahkan selama ini Ia tidak pernah pergi ke kantor. Kerjaannya hanya menyusuri jalanan saja mencari keberadaan Khanna. Dia tidak punya semangat hidup sedikitpun. Bahkan pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Benar benar seperti orang bodoh yang tidak tahu apa apa. Anak buah Papa Reno dan Papa Sakti pun tidak bisa menjangkau keberadaan Khanna. Papa Shiv benar benar menutup semua akses informasi tentang Khanna.
Pagi ini Papa Sakti mengumpulkan semua orang di rumahnya. Ada Papa Reno dan Mama Sarah, Papa Sakti dan Mama Alfi, Aroon, Papa Shiv serta Nervan. Mereka duduk diruang keluarga dengan perasaan cemas. Dalam benak mereka bertanya bertanya, Apa tujuan Papa Sakti mengumpulkan mereka semua?
" Sebenarnya ada apa kamu mengumpulkan kami semua di sini Sak?" Tanya Papa Shiv membuka pembicaraan mereka karena sedari tadi hanya ada keheningan saja.
" Ada yang ingin aku beritahukan pada kalian semua." Jawab Papa Sakti.
" Soal apa Yah? Apa ini soal Khan? Apa Ayah sudah menemukan Khan? Dimana Khan? Ayah, Aku akan segera menjemputnya dan meminta maaf padanya." Ujar Nervan.
" Soal itu Ayah juga belum mengetahuinya, Sepertinya Khan di lindungi oleh orang yang memiliki koneksi kuat di kota ini." Sahut Papa Sakti melirik Papa Shiv.
" Lalu tentang apa Sak?" Tanya Papa Reno.
" Tentang siapa yang sudah menjebak Nervan dalam permainan ini." Sahut Papa Sakti.
" Papa sudah tahu siapa yang menjadi dalang di balik semua ini?" Tanya Aroon tiba tiba angkat bicara.
" Ya... Papa tahu semuanya, Karena Nervan lebih tertarik mondar mandir mencari Khan, Tanpa tujuan yang jelas, Maka Papa dan Papa Shiv yang harus turun tangan menyelidiki semuanya." Sahut Papa Sakti.
" Siapa Sak? Siapa yang tega membuat Nervan melakukan kebodohan dan membuatnya dengan Khan berpisah? Lalu apa motif sebenarnya dia melakukan semua itu?" Tanya Papa Reno.
" Biar orang itu sendiri yang menjelaskannya." Sahut Papa Sakti menatap Aroon. Semua yang ada di sana ikut menatap ke arah Aroon.
" Maksud Papa apa menatapku seperti itu?" Tanya Aroon.
" Hanya kamu yang bisa menjelaskan semuanya, Apa kamu tidak mau menjelaskannya?" Ujar Papa Sakti.
" Apa Papa menuduhku yang melakukan semua rencana ini?" Tanya Aroon.
" Papa tidak akan menuduh tanpa bukti Aroon." Sahut Papa Sakti.
" Maksud Papa Bang Aroon yang melakukannya? Bang Aroon yang menyuruh Tante Diandra untuk mengancamku?" Selidik Nervan menatap Sakti.
"Hei kau jangan asal menuduhku! Apa buktinya jika aku melakukan semua itu?" Tanya Aroon membela diri.
Papa Sakti mengeluarkan flashdisk lalu menancapkannya pada televisi di depannya, Ia mulai menghidupkan tvnya hingga nampaklah sebuah rekaman video, Papa Sakti memutar rekaman video itu, Rekaman video yang menunjukkan dimana Aroon sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang Nervan kenali sebagai Tante Diandra.
" Tante Diandra..." Gumam Nervan.
" Jadi itu Diandra yang kamu maksud Van?" Tanya Papa Reno.
" Iya Pa." Sahut Nervan.
Video pun mulai berputar,
Terima kasih sudah mau membantuku Tante... Ini bayaran plus bonus untukmu karena berhasil memisahkan adikku dengan bajing*n itu. Segeralah perfi dari sini sejauh mungkin dan jangan lupa buang kartu perdanamu agar tidak bisa di lacak. (Aroon)
__ADS_1
Sama sama Tuan Aroon, Kalau begitu saya permisi dulu. (Tante Diandra)
Semua orang menatap ke arah Aroon dengan tatapan tidak percaya.
" Kamu tega sama aku Bang! Aku tidak terima." Teriak Nervan menghampiri Aroon.
Bugh...Bugh...
Nervan memukul wajah Aroon dua kali membuat Aroon tersungkur. Mama Alfi dan Mama Sarah menjerit.
" Nervan..." Pekik Papa Sakti dan Reno bersamaan.
" Aroon." Papa Shiv membantu Aroon berdiri.
" Kenapa kamu lakukan ini padaku Bang? Kami saling mencintai, Kenapa kamu tega memisahkan kami? Kamu bahkan tega menyakiti Khan adikmu sendiri." Teriak Nervan.
" Dia sudah tidak mencintaimu lagi, Sekarang dia membencimu, Sangat membencimu." Bentak Aroon.
Aroon tersenyum sinis ke arah Nervan, Ia mengusap darah pada sudut bibirnya. Ia maju mendekati Nervan dan...
Bugh.... Bugh....
Aroon membalas pukulan Nervan.
" Kau sendiri yang menyakiti adikku, Kau yang membuatnya meninggalkan dirimu bodoh." Teriak Aroon. Situasi semakin tidak terkendali.
" Kenapa kalian seperti anak kecil? Selesaikan semuanya dengan baik tanpa emosi." Bentak Papa Sakti yang menjadi emosi sendiri.
" Maaf Yah." Ucap Nervan.
" Heh... Kamu bilang aku tega misahin kamu sama Khan? Kamu aja yang bodoh... Kenapa kamu mau mengikuti rencana Tante Diandra? Jangan melimpahkan masalahmu kepada orang lain.." Ucap Aroon.
" Aroon jelaskan apa yang membuatmu tega melakukan semua ini sayang? Mama tidak menyangka kamu tega melakukan semua ini pada adikmu Nak... Mama gagal dalam mendidik kalian berdua..... Mama gagal menghapus kebencianmu kepada Nervan Nak... Mama juga gagal mendidik Nervan hingga Ia menjadi bodoh seperti ini.... Karena Mama adikmu harus menjadi korban kebodohan kalian berdua..." Ujar Mama Alfi mengusap air matanya.
" Tenanglah Al... Ini bukan salahmu, Biarkan mereka menyelesaikan masalah yang mereka buat sendiri, Jangan terlalu banyak pikiran itu tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Mama Sarah mencoba menenangkan Mama Alfi.
" Ma maafkan Nervan telag membuat Mama sedih." Ucap Nervan. Mama Alfi menganggukkan kepalanya.
" Karena kalian semua sudah mengetahui kalau aku dalang di balik semua ini maka akan aku katakan yang sebenarnya." Ucap Aroon. Semua orang menatap ke arah Aroon. Aroon kembali duduk di kursinya.
" Awalnya aku berhasil menggagalkan rencana pernikahan Khan dengan menjebak Richard, Aku yakin kalau dia mau menjadi pengganti Richard karna aku tahu kalau sebenarnya dia mencintai adikku." Ucap Aroon. Semua tahu siapa yang di maksud 'Dia' oleh Aroon.
" Jika kamu tahu kalau Nervan mencintainya lalu kenapa kamu memisahkan mereka?" Tanya Mama Sarah angkat bicara.
" Aku pikir dengan Khanna menikahi dia, Khanna akan memperlakukannya dengan buruk, Khanna akan terus membuatnya sakit hati, Bahkan aku berharap suatu hari nanti Khanna akan pergi meninggalkannya dengan pria lain, Tapi aku salah... Ternyata Khanna juga mencintainya, Semua rencanakan gagal." Jawab Aroon.
" Aku sudah meminta Khan untuk menceraikan dia baik baik, Tapi Khan menolaknya dengan alasan mereka berdua saling mencintai, Khan berani membantahku karna mendapat dukungan darinya, Jadi aku menyusun rencana yang lainnya." Ucap Aroon.
__ADS_1
" Siapa sebenarnya Diandra itu?" Tanya Mama Alfi.
" Dia teman dari Ibunya dia." Jawab Aroon melirik Nervan tanpa mau menyebut namanya.
Nervan semakin terpuruk mendengar kebenaran dari Aroon. Ia merutuki kebodohannya yang dengan mudah percaya pada orang lain.
" Apa kamu yang memberitahu Khan tentang rencana yang akan di lakukan Nervan?" Selidik Papa Sakti walaupun Ia sudah tahu kebenarannya.
" Iya.... Aku memberikan rekaman suara dia dengan temannya, Bukan... Lebih tepatnya temanku." Sahut Aroon.
" Kau menjebakku? Jadi orang yang menghampiriku dan mengaku sebagai sepupuku itu temanmu? Kau sengaja menyuruhnya membuat aku menceritakan rencana Tante Diandra?" Tanya Nervan geram.
" Yah... Dan aku sedikit mengubah isinya." Sahut Aroon.
" Sialannnn Kau benar benar jahat." Teriak Nervan hendak menghampiri Aroon.
" Tenang Van." ucap Papa Reno menahan Nervan.
" Dia membuat Khan membenciku Pa... Dia membuat Khan meninggalkan aku, Aku harus menghajarnya, Selama ini aku sudah mengalah dan bersikap baik padanya, Tapi kali ini tidak lagi aku akan menghajarnya." Ujar Nervan sedih
" Yang membuat Khan meninggalkanmu itu dirimu sendiri, Kau begitu mudah termakan omongan orang lain.. Kau memang tidak pantas menjadi pendamping adikku, Tapi syukurlah sekarang Khan sudah meninggalkanmu, Walau aku tidak tahu dia ada dimana tapi hatiku lega akhirnya dia berpisah dengan laki laki pecundang sepertimu." Ujar Aroon.
" Kau yang terlalu jahat padaku." Teriak Nervan.
" Sudah sudah.... Tenanglah..." Ucap Papa Sakti membuat keduanya diam.
" Semua sudah terjadi dan kalian berdualah yang salah dalam hal ini, Sekarang kalian berdua harus mencari keberadaan Khanna sampai ketemu, Papa beri waktu satu bulan dari sekarang." Ujar Papa Sakti.
" Aroon sudah mencarinya Pa, Bahkan teman teman Aroon ikut membantunya tapi hasilnya nihil... Keberadaan Khan tidak di ketahui." Sahut Aroon.
" Nervan.... Jika cintamu tulus terhadap Khan maka Papa yakin kamu bisa menemukannya." Ujar Papa Sakti.
" Baik Pa tapi Nervan ingin meminta petunjuk kepada Papa Shiv untuk sekedar memberi tahu di kota atau Negara mana saat ini Khan berada." Sahut Nervan menatap Papa Shiv.
" Aku?" Tanya Papa Shiv menunjuk dirinya.
" Iya... Nervan yakin Papa Shiv lah yang berhasil menyembunyikan Khanna hingga dia tidak bisa terendus oleh siapapun, Bahkan Nervan menyewa detektif profesional pun dia juga tidak mendapatkan informasi apapun selain Khan mencairkan semua tabungannya di kota ini." Ucap Nervan. Papa Shiv menghela nafasnya.
" Ku akui kamu memang cerdas Van, Baiklah aku beri tahu kamu kalau saat ini Khan ada di kota Y, Kamu bisa mencarinya sendiri di sana." Ucap Papa Shiv.
" Terima kasih Pa... Nervan segera berangkat ke sana.. Nervan pamit Assalamu'alaikum." Ucap Nervan penuh semangat.
Nervan berlari keluar rumah, Ia segera melajukan mobilnya menuju Bandara. Ia membeli tiket keberangkatan menuju kota Y yang akan lepas landas dua jam lagi. Hati Nervan begitu bahagia, Ia berharap akan segera menemukan Khan di sana. Nervan tahu tempat yang harus di tuju, Ia mencurigai sebuah cafe yang baru buka dengan nama Cafe KA, Semalam temannya menceritakan tentang Cafe yang lagi booming itu, Nervan sudah mencari informasi tentang Cafe KA tapi tidak ada satupun informasi yang Ia dapat. Ia semakin yakin jika ini pekerjaan Papa Shiv. Karena hanya dia yang bisa melakukan semua itu. (Ingatkan Kalau Papa Shiv seorang CEO perusahaan Entertaint terbesar di kota ini dan di negara asalnya).
" Sayang tunggu Mas sebentar lagi." Batin Nervan.
TBC.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentnya... Kalau berkenan kasih author hadiah biar semangat nulisnya ya.... Makasih