Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Rencana Nervan


__ADS_3

Hari hari berlalu tak terasa sudah enam bulan pernikahan Khanna dan Nervan. Semenjak hari itu sikap Nervan sudah mulai berubah. Nervan sering pulang larut malam, Khanna sering memergoki Nervan sedang berduaan dengan Safita, Bahkan Nervan membiarkan Safita bebas keluar masuk rumahnya. Khanna tidak peduli dengan semua itu, Ia lebih menyibukkan dirinya ke dalam pekerjaan. Hari ini Khanna sedang memasak untuk sarapan mereka. Setelah selesai Khanna menatanya di atas meja makan. Nervan sudah bersiap di meja makan menanti Khanna mengambilkan makanan untuknya.


" Silahkan di makan Mas." Ucap Khanna.


Nervan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Tiba tiba...


" Buh..." Nervan memutahkan makanannya di atas tisu.


" Keasinan Yank... Gimana sih udah belajar masak juga masih belum bisa pas rasanya." Hujat Nervan.


" Maaf Mas aku tidak konsen masaknya." Sahut Khanna. Khanna tidak sakit hati karna Khanna berhasil menutup hatinya untuk Nervan.


" Maaf... Lain kali yang konsen donk Yank, Apa ada yang sedang Adek pikirkan hmm?" Tanya Nervan.


" Nggak ada Mas." Sahut Khanna.


" Nervan.... Tenang saja aku udah bawakan sarapan untukmu, Karna aku tahu kalau istrimu tidak bisa memasak." Ucap Safita tiba tiba dengan membawa rantang di tangannya.


" Makasih Fit." Ucap Nervan melirik ke arah Khanna. Wajah Khanna biasa biasa saja.


" Ya udah... Sekarang udah ada Safita jadi aku bisa bersiap untuk kerja." Ucap Khanna meninggalkan mereka berdua di dapur. Nervan menatap kepergiannya.


Khanna masuk ke dalam kamar mandi, Ia segera membersihkan tubuhnya, Setelah selesai, Ia memoles make up tipis pada wajahnya. Dengan memakai baju dan rok pendek, Ia melangkah keluar kamar.


Saat Khanna melewati ruang tamu, Ia menatap Nervan dan Safita yang sedang duduk berdua di sana.


" Mau kemana dengan pakaian seperti itu?" Tanya Nervan membuat Khanna menghentikan langkahnya.


" Tadi aku sudah bilang mau ke Cafe." Jawab Khanna.


" Ganti pakaiannya yang lebih tertutup." Titah Nervan.


" Aku mau pakai yang ini saja Mas, Lagian hawanya gerah." Sahut Khanna.


" Baiklah terserah kamu saja... Ada yang ingin Mas bicarakan padamu Dek, Sini duduklah." Ujar Nervan.


Khanna duduk di sofa di samping Nervan.


" Ada apa Mas?" Tanya Khanna.


" Sayang...." Ucap Nervan mengenggam tangan Khanna.


" Kita sudah menikah selama enam bulan... Tapi kenapa kamu belum hamil juga? Mas udah pengin nimang bayi sayang... Umur Mas udah nggak muda lagi." Ujar Nervan lembut.


" Aku juga tidak tahu Mas kenapa aku belum hamil juga, Lalu apa yang ingin Mas katakan?" Tanya Khanna menatap Nervan.


" Maafkan Mas sayang... Mas ingin menikahi Safita...


Jederrrrrrr


Akhirnya hari ini tiba, Hari dimana kebenaran yang Aroon katakan terungkap. Nervan sudah menjalankan rencananya untuk menyakiti Khanna dan keluarganya. Khanna menatap Nervan dengan tatapan kosong. Tatapan yang sudah tidak menggambarkan adanya cinta di sana. Bahkan Nervan sendiri pun bingung kenapa Khanna berubah menjadi seperti ini? Tidak ada kata kata sayang dan sikap manja kepadanya lagi. Terkadang dia uring uringan sendiri.


" Seiring kebersamaan kami sebagai tetangga dan juga teman, Rasa itu muncul begitu saja di hati Mas sayang.... Maaf Mas tidak mampu mengendalikannya, Rasa ini begitu menyiksa hati Mas... Setiap hari rasa ini semakin tumbuh subur dengan sendirinya, Maafkan Mas sayang.... Maafkan Mas." Ujar Nervan memeluk tubuh Khanna. Khanna sebisa mungkin menahan air matanya, Ia tidak mau menunjukkan sikap lemahnya di hadapan Nervan dan Safita. Bukankah dia sudah tahu jika hari ini akan tiba? Safita mengembangkan senyumnya, Hatinya berbunga bunga mendengar ucapan Nervan ingin menikahinya.


" Apa ini pembalasan yang pernah kamu ucapkan waktu itu?" Tanya Khanna.


Nervan melepas pelukannya, Ia menatap wajah Khanna dengan sendu.

__ADS_1


" Bukan..... Semua ini tidak pernah Mas rencanakan sebelumnya, Mas hanya ingin memilikinya, Mas ingin mendapatkan seorang putra kalau tidak darimu maka Mas bisa mendapatkan darinya." Ujar Nervan.


Jleb.....


Hati Khanna bagai di sayat sebilah pisau yang tajam. Luka tapi tidak berdarah, Itulah yang Khanna rasakan. Tapi Khanna harus tetap tegar.


" Aku akan segera membalikkan keadaan Mas, Bukan aku yang akan kalah.... Tapi kamu.... Mari kita buktikan siapa yang akan terluka dengan perpisahan ini, Siapa yang akan merasa sakit dan sendiri... Kamu salah dalam memilih lawan, Akan aku tunjukkan siapa kamu sebenarnya, Kamu akan menyesali semua perbuatanmu dalam kesunyian dan kesendirianmu." Batin Khanna.


" Baiklah kalau itu maumu Mas... Aku mengijinkanmu menikah lagi..." Sahut Khanna.


" Semudah itukah kamu mengijinkan aku menikah lagi? Kamu tidak sedih dengan keputusanku ini?" Tanya Nervan menatap heran ke arah Khanna.


" Jika kita sudah tidak sejalan untuk apa di pertahankan lagi, Aku mengijinkanmu menikahinya tapi setelah kamu menceraikan aku." Sahut Khanna.


" Apa??? Tidak.... Aku tidak akan menceraikanmu, Kalian akan tinggal bersama di sini, Jadi mulai sekarang kalian harus belajar akur." Ujar Nervan.


" Terserah kamu saja... Aku sudah terlambat, Permisi." Sahut Khanna.


Khanna pergi ke Cafe dengan perasaan gamang, Sebenarnya Ia ingin menangis... Benarkah dirinya sudah tidak mencintai Nervan lagi? Apakah dia hanya menyembunyikannya saja di hatinya yang paling dalam? Entahlah.... Hanya Tuhan dan Khanna yang mengetahuinya.


Sedangkan di dalam rumah,


" Aaaa Nervan... Benarkah kamu ingin menikahiku?" Tanya Safita kegirangan.


" Jangan berharap banyak, Kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya." Sahut Nervan meninggalkan Safita.


Nervan berjalan menuju kamarnya, Ia menutup pintu dan menguncinya. Tubuhnya luruh ke lantai. Nervan memukul dadanya berharap rasa sesak di dadanya akan segera hilang. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Cairan bening yang Ia bendung sedari tadi akhirnya lolos juga. Ia berencana membuat Khanna sakit hati tapi kenapa justru Ia yang merasakan sakitnya.


" Hiks.... Hiks... Ada apa dengan hatiku? Apa yang harus aku lakukan? Khanna maafkan Mas Maafkan Mas yang telah menyakitimu." Monolog Nervan.


Sesampainya di Cafe Khanna segera masuk ke ruangannya, Sebenarnya tidak ada pekerjaan penting hari ini, Dia hanya beralasan saja, Setiap harinya Ia hanya akan numpang tidur saja.


Ponsel Khanna berdering tanda panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya.


" Hallo Rev?" Sapa Khanna setelah mengangkat panggilannya.


" Lo dimana? Hang out yuk." Ucap Revi.


" OK Mall xx, Gue langsung otw." Sahut Khanna memutuskan panggilan teleponnya.


Khanna segera meluncur ke Mall xx, Sesampainya di sana Ia langsung memarkirkan mobilnya. Ia menuju ke tempat yang Ia janjikan kepada Revi.


" Hai." Sapa Revi.


" Mau kemana nih?" Tanya Khanna.


" Nonton gimana?" Revi balik bertanya.


" Shopping aja.. Gue mau ngehabisin duit suami, Dari pada buat nikah lagi mending gue pakai buat bantu orang." Ujar Khanna.


" Kawin lagi?" Tanya Revi memastikan.


" Ya.. Dia mau kawin lagi Rev." Jawab Khanna.


" Sama siapa?" Tanya Revi.


" Sama Safita... Orang yang dia suka sejak kuliah." Sahut Khanna.

__ADS_1


" Ya ampunnnnnn Khan, Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu saat ini." Ujar Revi memeluk Khanna.


" Its OK aku aja happy kok, Yuk kita shopping shopping habiskan duit Nervan." Ujar Khanna.


" Mau beli apa emang?" Tanya Revi.


" Kita beli bahan makanan sama yang lainnya lalu kita berikan ke panti asuhan gimana?" Tanya Khanna.


" Siap siap.... Ayo..." Sahut Revi.


Mereka menuju stand kebutuhan pokok, dan pakaian. Ia menghabiskan uang hingga tiga puluh juta, Setelah itu Khanna membeli barang branded lainnya hingga menghabiskan lima puluh juta. Ia sampai menyewa mobil bak terbuka untuk mengangkut semuanya.


Setelah itu mereka menuju ke panti asuhan terdekat untuk mengantar bahan makanan, Pakaian dan lainnya. Khanna turun dari mobilnya menuju halaman panti.


" Selamat siang Mbak, Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pak Satpam menghampiri mereka.


" Saya mau menyumbangkan barang barang yang ada di mobil itu Pak." Sahut Khanna.


" Khanna." Panggil seseorang. Khanna menoleh ke belakang.


" Richard....." Gumam Khanna.


" Kamu di sini?" Tanya Richard.


" Iya...." Sahut Khanna.


" Siapa Nak?" Tanya seorang wanita paruh baya yang baru keluar dari dalam.


" Ini Bu... Khanna teman saya." Jawab Richard.


" Maaf Bu, Saya mau memberikan barang barang yang ada di sana." Ujar Khanna menunjuk ke arah mobil yang membawa bawaannya.


" Oh ya... Makasih Nak Khanna atas bantuannya, Semoga Allah membalasnya dengan kebahagiaan dalam hidup Nak Khanna." Ucap Ibu Panti.


" Amien.... Makasih bu." Sahut Khanna.


"Kalau begitu saya permisi Bu, Nanti biar Pak sopir yang menurunkannya, Assalamu'alaikum." Ucap Khanna mencium punggung tangan Ibu Panti.


" Wa'alaikumsallam terima kasih sekali lagi Nak." Sahut Ibu Panti.


" Pak turunkan semuanya ya." Ucap Khanna kepada Driver mobil.


" Siap Mbak." Sahit Driver.


" Khanna." Panggil Richard. Khanna menghentikan langkahnya.


" Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Richard.


" Mau bicara apa? Saat ini Revi sedang menungguku di mobil." Ujar Khanna.


" Duduk di sana, Sebentar saja." Ucap Richard menunjuk kursi yang ada di depan panti.


" Baiklah." Sahut Khanna.


Mereka berdua duduk di kursi membicarakan sesuatu, Tanpa mereka sadari Nervan melihatnya dari dalam mobil. Nervan mengepalkan tangannya. Ia semakin yakin untuk menjalankan rencana selanjutnya...


TBC...

__ADS_1


Biarin sekarang masih banyak pertanyaan ya... Kita akan mengetahui jawabannya di bab bab selanjutnya... Jangan lupa like koment dan votenya... Makasih....


__ADS_2