Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Bertemu Kakek


__ADS_3

Setelah Nervan dan Papa Shiv menemui pengacara Tuan Santo dan membuktikan dengan tes DNA bahwa Nervan benar benar keturunan Tuan Santo, Hari ini mereka bersama sama ke rumah Tuan Santo untuk menjenguk Tuan Santo sekaligus memastikan apa yang di laporkan oleh orang suruhan Papa Shiv benar.


" Saya sangat bersyukur akhirnya Tuan muda sendiri yang menghadap saya, Saya sudah mencari anda kemana mana Tuan Nervan, Tapi saya tidak bisa menemukan anda karena marga pada nama belakang anda telah di ganti." Jelas Pak Jogi di dalam mobil.


" Saya juga tidak tahu Pak kalau istri saya tidak menyelidiki tentang wanita yang bernama Rara." Sahut Nervan.


" Mungkin istri anda tanggap pada niat Rara Tuan." Sahut Pak Jogi.


Jarak antara kantor Nervan ke rumah Tuan Santo lumayan memakan waktu lama sekitar satu jam. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.


Setelah sampai di rumah Tuan Santo, Ketiganya turun dari mobil. Mereka berjalan mendekati pintu rumah.


Ting tong...


Nervan memencet bel rumah Kakek buyutnya. Tak lama pintu terbuka dari dalam.


Ceklek...


" Ka...Kau." Pekik Tuan Bram. Ia menatap Pak Jogi sang pengacara ayah mertuanya dan Papa Shiv.


" Selamat pagi Tuan Bram, Kedatangan saya ke sini ingin menjenguk Tuan Santo, Sudah lama beliau tidak bertukar kabar dengan saya." Ujar Pak Jogi.


" E... Si silahkan masuk." Sahut Bram gugup.


Bram berjalan menuju ruang ramu mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa empuk itu. Bram menjadi salah tingkah, Ia takut ketahuan kalau Tuan Santo Ia pindahkan ke gudang belakang, Apalagi saat ini beliau sedang sakit. Bram menenangkan dirinya untuk pura pura tidak mengenal Nervan.


" Dimana kami bisa menemui Tuan Santo, Tuan?" Tanya Nervan.


" Sebentar... Saya jadi bingung, Untuk apa kamu kemari dan ingin menemui Papa mertuaku." Tanya Bram menatap Nervan.


" Tidak perlu basa basi paman saya rasa paman sudah tahu tujuan kedatanganku ke sini." Ujar Nervan.


" Pa... Paman?" Tanya Bram.


" Iya... Tidak usah pura pura aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, Semua bukti bukti sudah aku dapatkan bersiaplah untuk menebus kesalahanmu paman Bramantio." Tekan Nervan.


" Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya? Dan bukti apa yang kau maksud?" Tanya Bram.


" Berikan hasil tes itu Pak Jogi." Ucap Nervan.


Pak Jogi memberikan amplop berwarna putih berlogo rumah sakit ternama di kota itu. Tuan Bram segera membukanya. Ia membacanya dengan teliti.


" Jadi kau cucu dari Kakak iparku?" Tanya Bram membuat Nervan kesal karena Bram terus berpura pura tidak mengenalnya.


" Ya aku cucu dari orang yang sengaja kau bunuh untuk menguasai harta warisannya." Sahut Nervan.


" Apa maksudmu? Pembunuhan siapa?" Tanya Bram.


" Pembunuhan berencana kepada kakek dan nenekku yang kau rencanakan termasuk kepada ibuku." Bentak Nervan.


" Apa apaan ini? Kau menuduhku melakukan hal keji itu? Aku tidak tahu apa apa." Bentak Bram.


" Tenanglah Tuan Bram jika kau tidak bersalah kau tidak perlu sekalut ini, Bicarakan baik baik secara kekeluargaan." Ujar Pak Jogi.


" Aku tidak tahu apa apa, Jangan menuduhku atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik keluarga Santo Raharja." Ucap Bram.


" Silahkan paman bahkan tanpa paman mengundangnya, Polisi sudah datang ke sini dan siap untuk menangkapmu." Ujar Nervan.


Tap tap tap

__ADS_1


Belum sempat Bram menjawab terdengar suara deru langkah memasuki ruangan itu. Bram membulatkan matanya dengan mulut menganga menatap empat orang polisi yang berjalan menghampirinya.


" Anda saya tangkap Tuan Bramantio atas tuduhan pembunuhan berencana yang anda lakukan beberapa tahun silam, Dan ini surat perintahnya." Ucap salah satu polisi.


" Apa apaan kalian ini, Pergi dari sini, Pergi kalian, Aku tidak bersalah aku tidak tahu apapun." Teriak Bram.


"Jelaskan semuanya nanti di kantor polisi Tuan." Sahut Polisi.


Dua polisi memegang tangan Bram lalu memborgolnya.


" Lepaskan... Lepaskan aku, Kurang aja kau Nervan, Kau menjebakku, Awas kau tidak akan aku biarkan hidup tenang." Bentak Bram.


" Aku akan memastikan kau tidak akan bisa keluar dari penjara, Kau sudah melenyapkan tiga nyawa paman." Sahut Nervan enteng.


" Bawa Pak jangan biarkan dia lolos dari hukuman mati." Titah Nervan.


Polisi menggelandang Bram menuju mobil polisi.


" Kita harus ke gudang belakang Tuan muda." Ucap Pak Jogi setelah kepergian polisi.


" Baiklah ayo Pak." Sahut Nervan.


Nervan, Papa Shiv dan Pak Jogi menuju gudang di belakang rumah.


" Apa maksud paman Bram mengurung Kakek di sini Pak Jogi?" Tanya Nervan sambil berjalan.


" Mungkin supaya dia bebas menjalani hubungan dengan anak angkatnya Tuan." Ucap Pak Jogi.


" Apa? Maksudmu Bram dengan Rara begitu? Mereka mempunyai hubungan khusus? Tidak sekedar ayah dan anak?" Tanya Nervan memastikan.


" Iya Tuan." Sahut Pak Jogi.


" Selain licik ternyata dia juga menjijikkan, Bisa bisanya dia menjalin hubungan dengan anak angkatnya sendiri, Aku bahkan tidak sudi memanggilnya paman karena dia memang bukan pamanku." Cebik Nervan emosi.


" Maaf Pa." Sahut Nervan.


Setelah sampai di depan gudang yang memang di jaga ketat oleh beberapa penjaga, Nervan meminta penjaga untuk membukakan pintunya.


" Buka pintunya." Tegas Nervan.


" Anda siapa? Kenapa anda bisa sampai di sini? Maaf kami tidak bisa membukanya karena kami hanya patuh pada perintah Tuan Bram." Tanya salah satu penjaga.


" Dialah Tuan kalian yang sebenarnya, Tuan muda Nervan Raharja, Kalau Tuan kalian selama ini sudah di bawa ke kantor polisi." Ujar Pak Jogi.


" Kalau kalian tidak patuh padaku maka aku akan memecat kalian semua." Ancam Nervan.


Para penjaga saling pandang dan saling menganggukkan kepala. Tidak mau kehilangan pekerjaannya akhirnya penjaga membukakan pintunya.


Ceklek.....


Pintu pun terbuka. Nervan masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dengan berbagai tumpukan barang barang yang tidak terpakai. Dalam gudang itu terdapat satu ruangan yang tertutup. Nervan segera membuka pintunya.


Sebuah kamar dimana seorang kakek renta terbaring lemah di atas ranjangnya. Nervan menghampirinya. Ia menatap wajah keriput, Pucat dan hanya tersisa tulang dan kulitnya saja.


Papa Shiv dan Pak Jogi menghampiri Nervan.


" Rupanya Tuan sedang tidur." Lirih Pak Jogi.


" Ini kah Kakek buyutku?" Tanya Nervan dengan mata berkaca.

__ADS_1


" Iya Tuan, Inilah keluarga kandung anda satu satunya." Jawab Pak Jogi.


" Jika keluarga kandungku sekaya ini, Kenapa keluarga ibuku hidup sederhana? Bahkan bisa di bilang hidup dalam kesusahan." Tanya Nervan tidak percaya.


" Itu karena kakek anda menutup identitas yang sebenarnya, Mereka ingin hidup damai tanpa ancaman dari Tuan Bram." Sahut Pak Jogi.


" Dia di butakan oleh harta." Ucap Papa Shiv.


Mendengar suara bisik bisik orang lain, Kakek Santo mengerjapkan matanya. Ia menatap ke arah ketiga orang yang sedang berdiri di depannya.


" Jogi." Ucap Kakek Santo.


Nervan membantu Kakek Santo duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Siapa mereka Jogi?" Tanya Kakek Santo menatap ke arah Papa Shiv dan Nervan bergantian.


" Perkenalkan saya Shivran Khanna Tuan, Dan ini menantu saya Nervan." Ucap Papa Shiv.


" Oh." Gumam Kakek Santo.


" Apa anda masih mau mencari keberadaan putra Nona Diana Tuan?" Tanya Pak Jogi.


" Tentu saja, Cepat temukan dia sebelum aku mati agar seluruh kekayaanku tidak jatuh ke tangan iblis itu Jogi." Sahut Kakek Santo.


" Dia ada di hadapanmu Tuan." Ujar Pak Jogi.


" Mana?" Tanya Kakek Santo.


" Tuan muda Nervan adalah putra kandung Nona Diana bersama Tuan Reno Tuan." Jelas Pak Jogi.


" Kau cicitku? Benarkah?" Tanya Kakek menatap Nervan.


" Iya Kek." Sahut Nervan.


" Oh cicitku peluk kakek Nak." Ujar Kakek Santo.


Nervan memeluk tubuh ringkih kakek buyutnya.


" Akhirnya aku bisa menemukanmu Nak." Ujar Kakek Santo.


" Iya Kek." Sahut Nervan.


" Jogi segera siapkan berkas pengalihan hartaku atas namanya, Aku merasa sudah tidak ada waktu lagi." Titah Kakek Santo.


" Saya sudah menyiapkannya Tuan, Anda tinggal tanda tangan di sini." Ujar Pak Jogi memberikam stopmap kepada Kakek Santo.


Tanpa membacanya Kakek Santo segera menandatanginya. Ia percaya seratus persen dengan Jogi pengacaranya.


" Sekarang tanda tanganlah, Kakek berikan semua ini padamu karena kamu satu satunya peneresku." Ucap Kakek Santo.


Nervan menandatangani berkas pengalihan itu, Setelahnya Ia mengembalikan stopmap itu pada Pak Jogi.


" Aku akan menjaga harta itu Kek." Ucap Nervan.


" Makasih Nak, Sekali lagi peluk Kakek." Ucap Kakek Santo.


Nervan memeluk Kakek Santo sampai tiba tiba tubuh kakek menjadi lemas.


" Kek... Kakek." Ucap Nervan melepas pelukannya.

__ADS_1


" Kakeeekkkkk.....


TBC.....


__ADS_2