
Dengan nafas terengah engah Khanna berlari menjauh dari rumah Nervan. Kakinya sedikit sakit karna Ia berjalan tanpa alas kaki. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada taksi lewat, Tapi sepertinya sudah tidak ada taksi yang beroperasi pasalnya sekarang sudah tengah malam.
Sedangkan di dalam kamar, Nervan terus mencari Khanna, Tapi hasilnya nihil Ia tidak menemukan Khanna di dalam kamarnya. Nervan menangkap pintu balkon yang sudah terbuka, Ia berjalan ke balkon kamarnya, Ia menatap sekitar.
" Sial.... Dia kabur lewat sini, Khanna kamu pergi dengan membawa kesalah pahaman ini, Dan sialnya kesalah pahaman itu aku yamg membuatnya sendiri." Umpat Nervan.
Nervan segera berlari ke luar rumah untuk mengejar Khanna, Ia berharap Khanna belum jauh dari rumahnya.
" Khanna.... Khannaaaa." Teriak Nervan sambil mengamati sekitar untuk mencari Khanna.
" Khanna... Jangan pergi.... Kembalilah... Khannaaaaaaaa." Teriak Nervan.
Khanna yang masih belum jauh dari sana mendengar teriakan Nervan, Tidak mau dirinya tertangkap, Khanna segera berlari dengan kencang menjauh dari pantauan Nervan. Ia tidak mau Nervan menemukannya saat ini. Tekadnya sudah kuat untuk meninggalkan Nervan selamanya
" Selamat tinggal Mas... Terima kasih atas luka ini, Aku akan membawa jauh luka ini dan berharap tidak akan bertemu denganmu lagi, Semoga kamu bahagia dengan Safita.... Selamat atas kemenanganmu... Ini adalah awal dari kehancuran dirimu sendiri... Selamat tinggal." Batin Khanna sambil terus berlari.
Lama Khanna berlari akhirnya Ia sampai ke persimpangan jalan, Ia melihat sebuah mobil melintas dari arah kanan. Khanna segera berlari ke tengah jalan untuk menghadangnya.
Ckiiiittttt
Suara rem memekakkan telinga, Mobil itu berhenti di depan Khanna. Khanna segera menghampiri pintu kemudi.
" Tolong saya." Ucap Khanna mengetok kaca mobil. Sang pengemudi menurunkan kacanya menatap Khanna yang sedang mengatur nafasnya.
" Khanna." Ucap sang Pengemudi.
" Tuan Adam..." Gumam Khanna.
" Tuan tolong saya, Saya butuh tumpangan untuk sampai ke rumah Kakak saya." Ujar Khanna.
" Baiklah silahkan masuk." Sahut Adam.
Khanna memutari mobil membuka pintu mobil di samping kursi kemudi.
" Terima kasih atas bantuannya." Ucap Khanna.
" Its OK, Mau di antar kemana?" Tanya Adam.
" Jalan xx." Sahut Khanna.
Adam melajukan mobilnya kembali menuju alamat yang Khanna tuju.
Nervan kembali ke rumah untuk mengambil mobilnya, Malam ini Ia harus menemukan Khanna untuk menjelaskan semuanya, Ia akan mengungkapkan semua kebenarannya walau nyawa Khanna dan dirinya menjadi taruhannya. Ia akan meminta perlindungan dari keluarga Khanna, Arviano dan Keluarga dari Papa kandungnya Reno. Nervan tidak pernah berpikir sampai ke situ sebelumnya, Saat Tantenya mengancam akan menghabisi Khanna jika Nervan tidak mau mengikuti rencananya, Saat itu Nervan hanya merasa takut kehilangan Khanna, Oleh sebab itu Ia mengikuti rencana Tantenya untuk menghancurkan keluarga Sakti dan Alfi. Sekarang bukan keluarga mereka yang hancur melainkan dirinya sendiri.
Nervan terus melajukan mobilnya mengelilingi Kota J berharap bisa menemukan Khanna. Tapi sepertinya nasib baik sedang tidak berpihak padanya. Nervan melajukan mobilnya menuju kediaman Papa Sakti, Mungkin Khanna akan pulang kesana, Ia akan meminta maaf dan menjelaskan semuanya, Pikir Nervan.
Sesampainya di sana, Nervan segera memarkirkan mobilnya, Ia turun dari mobilnya berjalan menuju pintu rumah Papa angkatnya sekaligus Papa mertuanya. Tanpa ragu Nervan memencet bel rumah Papa Sakti.
Ting tong Ting tong
Nervan menunggu pintu di buka dengan berdiri di depan pintu. Lama menunggu pintu tidak juga terbuka. Nervan mencoba memencet bel lagi.
Ting tong ting tong
Tak lama terdengar kunci pintu dibuka dari dalam.
" Siapa?" Tanya Mama Alfi.
__ADS_1
" Nervan Ma.." Jawab Nervan.
Ceklek......
" Nervan???? Ada apa malam malam begini ke sini? Mana Khanna? Kamu sendiri?" Tanya Mama Alfi setelah membuka pintunya.
" Boleh Nervan masuk dulu Ma?" Ucap Nervan.
" Ah iya... Silahkan masuk." Sahut Mama.
Nervan dan Mama Alfi masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu.
" Siapa Yank?" Tanya Papa Sakti yang sedang menuruni tangga.
" Nervan Mas." Sahut Mama Alfi.
Papa Sakti menghampiri keduanya, Ia ikut duduk bergabung dengan Nervan dan Mama Alfi.
" Ada apa kamu datang malam malam begini? Kenapa tidak menunggu besok pagi saja? Sekarang masih jam tiga Van, Kamu mengganggu tidur kami." Ujar Papa Sakti.
" Massss ." Gumam Mama Alfi.
"Maafkan Nervan yang tidak tahu waktu ini Yah, Nervan kesini mencari Khan." Sahut Nervan.
" Apa Khan pulang ke sini?" Sambung Nervan. Papa dan Mama mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu mencari Khan? Memang Khan kemana?" Tanya Papa Sakti.
" Khan pergi dari rumah Yah." Sahut Nervan.
" Kenapa Khan bisa pergi dari rumah? Apa kalian bertengkar?" Selidik Mama Alfi.
" Sebenarnya apa masalah kalian? Khan tidak mungkin pergi jika masalah kalian hanya masalah biasa, Pasti ini masalah besar hingga membuat Khan pergi dari rumah, Katakan pada kami supaya kami bisa membantumu sayang." Ujar Mama Alfi.
" Maafkan Nervan Ma.. Yah, Ini semua kesalahan Nervan." Ucap Nervan.
" Katakan apa yang sebenarnya terjadi." Ujar Papa Sakti.
......................
Mobil Adam sudah sampai di kediaman Papa Shiv, Khanna mengambil ponsel dari tas, Ia mencoba menelepon Aroon. Panggilan terhubung tapi Aroon tidak mengangkatnya.
" Ckkk Nih orang tidur kaya' kebo, Nggak tahu apa aku lagi butuh pertolongan, Angkat Kak." Omel Khanna. Adam tersenyum melihat Khanna yang lagi kesal.
Khanna mencoba menghubungi Aroon kembali.
" Hallo." Sapa Aroon setelah mengangkat panggilannya.
" Kak aku di depan rumah Papa Shiv nih, Bukain pintu donk." Ujar Khanna.
" Kamu kabur?" Tanya Aroon.
" Iya..Buruan gih bukain, Khan udah ngantuk." Sahut Khanna.
" Gimana mau bukain orang Kakak lagi di rumah, Tuh dia kesini nyariin kamu." Ujar Aroon.
" Nervan maksudnya?" Tanya Khanna memastikan.
__ADS_1
" Ya iyalah siapa lagi." Sahut Aroon.
" Biarin aja, Jangan kasih tahu Khan ada dimana." Ujar Khanna.
" Buang Nomermu biar dia nggak bisa melacak keberadaanmu." Ujar Aroon.
" OK... Ya udah Khan cari penginapan saja kalau begitu tapi Kakak yang bayar ya." Ucap Khanna.
" Ya bayar sendirilah masa' Kakak, Uangmu banyak belum dari dia juga pasti lebih banyak Kan?" Sahut Aroon.
" Kakakku yang paling bodoh sedunia.... Kalau aku yang bayar ya ketahuanlah... Nervan bisa melacak transaksi terakhirku, Gimana sih." Ucap Khanna.
" Ok...Ok.. Kakak yang bayar, Jangan mengganggu Kakak lagi Kakak mau tidur bye.." Ucap Aroon menutup panggilan teleponnya.
Khanna segera menonaktifkan kartu simnya dan mengaktifkan kartu sim yang satunya, Yang Nervan tidak tahu tentunya, Karna itu nomer yang baru di beli Khanna kemarin. Semoga Nervan tidak menempelkan sesuatu yang bisa di lacak pada ponsel Khanna.
" Antar aku ke hotel terdekat ya Tuan, Aku udah ngantuk banget." Ucap Khanna menatap Adam yang dari tadi setia menemaninya.
" Baiklah." Sahut Adam.
Adam melajukan mobilnya mencari penginapan terdekat, Tapi sepertinya jaraknya lumayan jauh dari sana. Sebelum mendapatkan penginapan, Ternyata Khanna sudah tidur duluan.
" Dia tidur... Gimana aku membawanya ke hotel? Entar di kira aku berbuat jahat lagi, Mana aku juga udah ngantuk berat, Aku bawa ke apartemenku sajalah, Bodo amat kalau nanti dia marah marah." Gumam Adam.
...****************...
Pagi harinya Khanna mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sangat asing baginya, Khanna membuka selimut lalu meneliti dirinya apakah masih berpakaian utuh atau tidak. Khanna menghela nafas lega karna semuanya masih pada tempatnya. Khanna menatap jam pada dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Khanna segera turun dari ranjang menuju kamar mandi, Ia membasuh mukanya lalu keluar dari sana.
Khanna keluar dari kamar, Ia menatap seorang pria yang sedang tidur di atas sofa yang menutup wajahnya dengan satu tangannya. Khanna mengingat ingat apa yang terjadi dengannya tadi malam. Setelah mengingatnya Khanna segera berjalan menuju dapur yang tak jauh dari sana.
Khanna membuka kulkas mencari bahan makanan yang bisa di masak untuk sarapan, Perut Khanna sangat lapar karna semalam Ia melewatkan makan malamnya. Khanna mengeluarkan telur, dan juga daging ayam dari dalam sana. Ia mulai meracik bumbu bumbu untuk membuat nasi goreng serta ayam goreng untuknya dan Adam.
Adam mengerjapkan matanya kala indra penciumannya mencium aroma lezat dari arah dapur, Ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Adam menyenderkan punggungnya pada dinding pemisah antara dapur dan ruang tamu.
Ia menatap Khanna yang sedang bergerak ke sana kemari menggoreng ayam dan nasi secara bersamaan. Setelah selesai Khanna segera menata makanannya ke meja makan. Tak sengaja Khanna menatap Adam yang sedang menatap ke arahnya.
" Pagi Tuan, Maaf aku mengacaukan dapurmu, Aku lapar jadi aku membuat sarapan tanpa ijin dulu denganmu, Aku nggak mau mengganggu tidurmu, Jika kamu ingin aku mengganti semua yang sudah aku masak, Maka anggap saja ini ganti rugi karna kamu pernah menabrakku waktu itu.." Cerocos Khanna.
" Tidak masalah... Lanjutkan saja aku juga sudah lapar, Aku mandi dulu." Ucap Adam meninggalkan Khanna.
Khanna selesai menata makanannya di meja makan. Ia menunggu Adam sambil memainkan ponselnya.
" Kenapa belum makan?" Tanya Adam duduk di depan Khanna.
" Aku menunggumu Tuan, Tidak sopan jika aku makan lebih dulu, Karna statusku menumpang." Jawab Khanna.
" Baiklah ayo makan, Aku tidak mau kamu pingsan di sini, Satu lagi... Berhenti memanggilku Tuan, Panggil saja Mas atau Kak." Ujar Adam.
" Baik... Kak." Sahut Khanna.
Mereka makan dengan khidmat, Adam terlihat begitu lahap memakan masakan Khanna. Sesekali Ia mencuri pandang ke arah Khanna. Entah mengapa hatinya begitu tertarik dengan pesona Khanna.
**TBC......
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya buat author biar semangat nulisnya...
Author mah banyak maunya...
__ADS_1
Miss U All**