
Di meja makan Mama Alfi dan Papa Sakti sudah hadir di sana, Dengan langkah gontai dan kesal Khanna menghampiri mereka, Berbeda dengan Nervan, Nervan terlihat begitu semangat dan terpancar rona bahagia pada wajahnya. Mama Alfi dan Papa Sakti sampai heran melihatnya. Mereka saling pandang satu sama lain.
" Pagi Ma Pa." Sapa Khanna sambil duduk di kursi depan Mama Alfi.
" Pagi sayang." Sahut Mama Alfi.
" Pagi Yah Ma." Sapa Nervan duduk di sebelah Khanna.
" Pagi menjelang siang, Mentang mentang dah dapat jatah sarapannya jadi kesiangan." Sindir Papa Sakti.
" He he maaf Yah maklum pengantin baru... Kaya' nggak tau apa aja kegiatannya." Sahut Nervan sambil tersenyum.
" Ayo mulai sarapan." Ujar Mama Alfi.
Khanna mengambil makanan untuk Nervan, Sayur sop, Ayam goreng, Secentong nasi dan tiga sendok makan sambal.
" Sayang.... Kenapa sambalnya banyak banget, Kurangi sedikit, bisa sakit perut entar Nervannya kan kasihan" Ujar Mama Alfi.
" Mas Nervan lagi pengin makan yang pedas pedas Ma." Sahut Khanna. Nervan menelan kasar ludahnya melihat banyaknya sambal di atas nasinya.
" Benar Nervan?" Tanya Mama. Nervan menatap Khanna yang sedang melotot ke arahnya, Ia menganggukkan kepalanya. Ia tidak mungkin menyangkal takut Khanna tambah marah.
" Ya udah selamat Makan." Sambung Mama.
Khanna meletakkan sepiring nasi yang Ia ambil tadi di depan Nervan. Nervan menatapnya dengan tatapan sendu.
" Di makan Mas." Ucap Khanna tersenyum kecut.
" Makasih sayang." Sahut Nervan tersenyum manis.
" Ma nanti Khan pulang ke rumah Mama Sarah ya." Ucap Khanna di sela makannya.
" Bukankah Nervan sudah membeli rumah baru?" Tanya Papa Sakti.
" Khan malas tinggal di sana Pa, Enakan di rumah Mama Sarah aja." Jawab Khanna.
" Sayang.... Nervan ingin kamu tinggal di sana, Dia ingin belajar mandiri." Ujar Mama Alfi.
"Tidak baik menolak keinginan suami, Kamu harus mengikutinya kemanapun dia pergi, Jadi saran Mama kamu harus ikut Nervan tinggal rumah baru ya, Biar kamu bisa mandiri juga, Biar kamu bisa mengurus suami dengan baik.. Di situlah letak ladang pahala untuk seorang istri." Saran Mama Alfi.
" Baiklah Ma." Sahut Khanna mengalah. Padahal Ia takut kalau Nervan di ganggu sama ulet bulu itu. Taukan maksudnya?
Mereka melanjutkan acara makannya. Baru beberapa sendok Nervan memakan makanannya, Keringat sebesar biji jagung sudah mengucur deras pada dahinya, Sesekali Ia sambil minum air putih.
" Khan lihat suamimu dia kepedasan, Van kalau nggak kuat jangan di paksa entar sakit perut kamu." Ujar Mama Alfi.
Nervan menatap Khanna dengan tatapan memelas, Khanna menjadi tidak tega melihatnya, Ia tahu kalau Nervan tidak bisa memakan pedas.
" Jangan di makan Mas, Aku ambilkan lagi yang tanpa sambal ya." Ucap Khanna.
Khanna menarik piring Nervan, Ia menggantinya dengan yang baru. Setelah selesai makan, Khanna dan Nervan pamit untuk pulang. Nervan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia terus menggenggam tangan Khanna, Sedangkan Khanna menatap ke luar jendela.
" Sayang....." Panggil Nervan, Khanna tidak bergeming, Hatinya masih kesal karena insiden pagi tadi. Nervan membohonginya, Yang katanya sebentar ternyata hingga dua jam lamanya membuat Khanna bangun kesiangan. Seharusnya hari ini Khanna ada jadwal meeting dengan clien yang mau menyewa cafenya untuk acara reunian. Tapi karna Nervan Ia harus mengundur jadwalnya, Khanna juga harus kena marah cliennya itu.
" Adek masih marah sama Mas?" Tanya Nervan menoleh ke arah Khanna.
" Sayang.... Maafin Mas ya... Mas suka lupa waktu kalau udah gituan sama kamu.." Ucap Nervan.
" Janji deh besok lagi kalau ijinnya sebentar, Pasti sebentar nggak lama kaya' tadi." Sambung Nervan.
" Aku nggak mau lagi.... Mas harus puasa." Sahut Khanna.
" Iya deh Mas puasa... Mau berapa lama Mas puasa?" Tanya Nervan masih fokus menyetir.
" Tiga bulan." Sahut Khanna.
Ckitttttt.
Nervan menginjak remnya, Tangannya langsung menempel pada kening Khanna agar Khanna tidak terjedut dashboard.
" Mas kebiasaan deh kalau nyetir selalu ngerem mendadak." Kesal Khanna.
__ADS_1
Tin...Tin.....
Nervan melajukan kembali mobilnya setelah klakson mobil di belakangnya berbunyi.
" Maaf sayang... Mas syok tahu nggak? Masa Mas harus puasa selama itu, Nggak mau." Ucap Nervan.
" Ya terserah... Yang jelas selama itu aku nggak mau kamu sentuh... Ngeri aku liat kamu seperti singa kelaparan." Ujar Khanna.
" Ya kan baru merasakan, Jadi Mas ketagihan gitu maunya ya mau lagi mau lagi." Ucap Nervan.
" Pokoknya aku nggak mau." Ketus Khanna.
" Jangan gitu donk Dek.. Mas nggak akan tahan." Sahut Nervan.
" Bodo'." Ucap Khanna.
Nervan membelokkan mobilnya ke kompleks rumahnya. Ia turun dari mobil membuka gerbang, Setelah itu Ia kembali masuk ke mobil memarkirkan mobilnya. Khanna segera turun dari mobil, Lalu melenggang masuk ke dalam rumahnya. Baru saja Ia melangkahkan kakinya, Ia sudah di kagetkan dengan suara orang yang paling ingin Ia hindari.
" Nervan kamu sudah pulang?" Tanya Safita menghampiri Nervan yang berdiri di depan pintu.
" Iya Fit.... Oh ya kemarin kamu belum sempet kenalan kan? Kenalkan dia istriku." Ucap Nervan memperkenalkan.
Khanna membalikkan badannya, Lalu mendekati Safita.
" Kenalin Mbak.... Aku Khanna istri Mas Nervan." Ucap Khanna menekankan kata istri sambil mengulurkan tangannya.
" Hai... Aku Safita.. Temannya Nervan." Balas Safita membalas uluran Khanna, Tapi sebelum tangan Safita menempel, Khanna sudah menarik tangannya kembali.
" Aku masuk Mas." Ucap Khanna meninggalkan mereka berdua.
" Sombong amat istrimu Van." Cebik Safita.
" Kalau sama yang belum kenal emang dia gitu, Tapi sebenarnya dia baik kok." Ujar Nervan. Sebenarnya dia nggak enak sama Safita, Tapi dia nggak mau membuat Khanna marah jika Ia menegurnya.
" Aku kira kamu belum nikah, Ternyata aku terlambat mendekatimu lagi." Ucap Safita.
" Mungkin memang kita tidak berjodoh, Aku masuk dulu ya takut istriku nungguin kelamaan." Ujar Nervan.
" Iya Fit... Aku sangat mencintainya, Aku nggak mau kehilangan dia, Aku selalu takut kalau
dia marah lalu meninggalkan aku, Aku masuk dulu ya." Ucap Nervan.
" Oh ya.. Silahkan." Sahut Safita.
Nervan masuk ke dalam menyusul Khanna di kamarnya. Khanna sudah tahu letak kamarnya karna semalam Nervan memberitahunya.
Ceklek....
" Dah pulang si mantan?" Ketus Khanna.
" Udah... Nggak betah dia kamunya jutek." Sahut Nervan.
" Dia nggak betah tapi sepertinya kamunya yang betah." Ucap Khanna.
" Sayang.... Jangan gitu donk." Ucap Nervan memeluk Khanna.
" Mas hanya mencintaimu tidak ada yang lain Dek, Percayalah..."Ujar Nervan mengendus pipi Khanna.
" Iya iya aku percaya... Udah ah aku mau ke cafe dulu." Ucap Khanna.
" Kok ke Cafe si? Temenin Mas aja di rumah." Ujar Nervan.
" Aku mau ngecek cafe sama laporan dulu Mas, Dari kemarin nggak aku sentuh." Jelas Khanna.
" Ya udah deh kalau Adek ke Cafe Mas mau ke kantor juga dari pada sepi di rumah sendiri." Ujar Nervan.
" Ya udah terserah Mas aja." Sahut Khanna.
Khanna mengambil tas selempangnya.
" Aku berangkat Mas." Ucap Khanna mencium punggung tangan Nervan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum Mas." Ucap Khanna.
" Wa'alaikumsalam sayang." Sahut Nervan mencium pipi Khanna.
Khanna berjalan meninggalkan Nervan. Ia segera meluncur menuju Cafenya. Sesampainya di sana Ia segera masuk ke dalam ruangannya. Khanna mulai mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya.
Khanna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Khanna bersiap untuk pulang.
Drt....Drt...
Ponsel Khanna bergetar, Ia segera mengambil ponselnya dari tasnya, Ia lihat ID pemanggil.
" Papa Reno." Gumam Khanna.
" Hallo Assalamu'alaikum Pa." Sapa Khanna setelah mengangkat panggilannya.
" Wa'alaikumsallam Khan, Khan bisakah kamu ke kantor Papa sekarang?" Tanya Papa Reno.
" Bisa Pa, Ada apa ya Pa?" Khanna balik bertanya.
" Suamimu pingsan." Jawab Papa Reno.
" Apa Pa? Mas Nervan pingsan?" Pekik Khanna.
" Iya Khan, Sejak datang ke sini Nervan bolak balik ke kamar mandi Nak, Barusan tiba tiba dia pingsan." Jelas Papa Reno.
" Khan segera ke sana Pa." Ucap Khanna.
" Baiklah hati hati, Jangan ngebut Papa sudah menelepon Dokter untuk memeriksa Nervan." Ujar Papa Reno.
" Baik Pa... Assalamu'alaikum" Ucap Khanna.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa Reno matikan sambungan teleponnya.
"Ya Allah Masss.... Maafkan aku, Semua ini terjadi pasti gara gara aku memaksamu makan makanan pedas...Aku sudah kelewatan mengerjaimu." Batin Khanna.
Khanna melajukan mobilnya menuju kantor Papa mertuanya. Sesampainya disana Khanna segera menuju ruangan suaminya. Nampaklah Papa Reno dengan seorang Dokter yang sedang memeriksa Nervan di ruangan pribadinya.
" Pa... ." Panggil Khanna menghampiri Papa Reno.
" Nervan sedang di periksa." Ujar Papa Reno.
" Iya Pa... " Sahut khanna.
"Gimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Khanna kepada Dokter yang memeriksa Nervan. Papa Reno tersenyum mendengar Khanna mengatakan suamiku.
" Tuan Nervan dehidrasi karna mutah berlebihan Nona, Saya sudah peringatkan padanya sebelumnya untuk tidak mengkonsumsi makanan pedas dan asam, Terutama sambal, Perutnya memang kuat tapi lambungnya tidak, Itu sebabnya Tuan Nervan mengalami mutah yang berlebihan hingga membuatnya kekurangan cairan, Untung saja Tuan Nervan pingsan jadi bisa menghentikan mutahnya, Kalau tidak bisa berakibat fatal Nona." Jelas Dokter.
Hati Khanna tertohok mendengar penjelasan Dokter, Nervan seperti ini karena dirinya. Rasa bersalah menyeruak dalam hati Khanna.
" Ini resep yang harus di tebus, Habiskan semua obatnya dan istirahat total untuk saat ini, Jangan khawatir Nona sebentar lagi Tuan Nervan pasti siuman." Ucap Dokter memberikan resep kepada Khanna.
" Iya Dok, Terima kasih." Ucap Khanna.
" Sama sama Nona." Sahut Dokter.
" Mari Dok saya antar." Ujar Papa Reno.
" Khan.. Sini resepnya biar Papa yang tebus, Kamu jagain Nervan aja." Ujar Papa.
" Baik Pa." Sahut Khanna memberikan resepnya.
Setelah kepergian Papa dan Dokter, Khanna naik ke atas ranjang, Ia tatap wajah pucat suaminya. Ia berbaring miring sambil memeluk tubuh lemas suaminya.
" Mas bangun.... Maafin aku, Karna aku Mas jadi sakit gini, Aku sudah keterlaluan hingga membuatmu jadi seperti ini." Bisik Khanna. Nervan tidak bergeming, Ia masih setia menutup matanya.
" Massss bangunnnn jangan buat aku khawatir seperti ini, Bangunnn Mass jangan tinggalin aku." Ucap Khanna meneteskan air matanya. Khanna takut Nervan akan semakin parah dan tidak akan tertolong. Biasa kan kalau orang sedang khawatir pasti pikirannya selalu buruk.Takut terjadi inilah takut terjadi itulah.... Itulah sifat manusia....
**TBC....
Jangan lupa like koment dan votenya untuk karya author ya.... Makasih atas suport yang kalian berikan....
__ADS_1
Miss U All**