Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Pertemuan


__ADS_3

Richard memeluk Khanna sebentar sebagai salam pertemuan. Ia duduk di depan Khanna yang terhalang meja.


" Gimana kabarmu?" Tanya Richard.


" Aku baik baik saja." Sahut Khanna.


" Aku tahu kalau kamu sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, Tapi kalau kamu tidak mau cerita padaku tidak masalah." Ujar Richard menatap wajah Khanna membuat yang di tatap menjadi gugup.


" Tenanglah aku tidak pa pa." Ucap Khanna.


" Yang aku lihat wajah kamu pucat seperti wajah wajah banyak pikiran." Tebak Richard.


" Mungkin itu karena aku sedang hamil." Ucap Khanna.


" Apa? Kamu sedang hamil? Berapa bulan?" Tanya Richard.


" Baru sekitar lima minggu." Jawab Khanna.


" Wah selamat kalau gitu, Jaga dia baik baik dan jangan sampai kamu kecapekan dan banyak pikiran itu akan berpengaruh pada janin yang kamu kandung." Tutur Richard.


" Andai yang bilang seperti ini kamu Mas, Aku akan merasa bahagia sekali, Tapi sayangnya kau tidak peduli dengan anak ini." Gumam Khanna dalam hati.


" Makasih udah memperingatkan aku, Kalau begitu akan hanya akan numpang makan dan tidur selama di sini." Sahut Khanna.


" Kamu mau di sini?" Tanya Richard. Khanna mengganggukkan kepalanya.


" Sampai kapan?" Richard bertanya lagi. Kali ini Khanna menggelengkan kepalanya.


" Aku semakin yakin jika kamu ada masalah." Ucap Richard berdiri di hadapan Khanna yang masih tetap duduk di kursinya.


" Katakan ada masalah apa? Sepertinya kali ini serius." Ucap Richard memegang bahu Khanna.


Khanna mendongak menatap Richard dengan mata berkaca kaca. Ia menggelengkan kepalanya, Lidahnya kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan Richard. Sekuat mungkin Ia menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Richard. Ia tidak mau membuka aib rumah tangganya di depan orang yang pernah menyayanginya. Tapi tatapan teduh Richard justru membuat hati Khanna merasa sesak, Khanna terisak sambil menundukkan kepalanya, Ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


Melihat itu Richard segera menarik tubuh Khanna ke perutnya. Ia mengelus pucuk kepala Khanna.


" Menangislah jika itu bisa membuat bebanmu berkurang aku tidak akan menahannya." Ucap Richard.


" Hiks... Hiks.. Ris." Isak Khanna.


" Jika kamu butuh teman curhat, Aku siap menjadi pendengar setianya." Ujar Richard.


" Hiks... Hiks... A... Aku baik baik saja." Sahut Khanna masih menyembunyikan masalahnya.


Khanna melepas pelukannya, Ia menghapus air matanya dengan pelan. Ia beranjak menuju kamar mandi membasuh mukanya dengan air dingin supaya lebih fresh. Setelah selesai dan sedikit tenang Ia keluar duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


" Sudah baikan?" Tanya Richard duduk di sofa sebrang Khanna.


" Hmm.... Maaf membuatmu berpikir yang tidak tidak." Ucap Khanna.

__ADS_1


" Its OK." Sahut Richard.


" Mau berbagi duka denganku?" Tanya Richard sedikit menuntut. Khanna menatap ke arahnya.


" Jangan di pendam sendirian itu hanya akan menjadi penyakit di dalam tubuhmu, Kasihan juga calon bayimu jika kau stres dia juga akan stres, Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya, Jadi cerita padaku apa yang sedang kau alami, Kita teman bukan? Sesama teman harus saling berbagi baik itu masalah, Suka ataupun duka." Ujar Richard.


" Aku akan bercerai dari Mas Nervan." Ujar Khanna.


" Benarkah?" Tanya Richard dengan mata berbinar.


" Apa maksudmu benarkah?" Ujar Khanna.


" Maksudku apa kau sudah memikirkan keputusanmu itu? Jangan sampai kau menyesalinya, Apa lagi sekarang sudah ada calon buah hati di antara kalian." Ujar Richard.


" Aku tidak akan pernah menyesal berpisah dari pria seperti dirinya, Aku ingin bebas mencari kebahagiaanku sendiri Ris." Sahut Khanna.


" Baiklah aku akan selalu mendukung keputusanmu, Aku akan menjadi teman yang selalu setia menemanimu." Ujar Richard.


" Makasih Ris." Ucap Khanna.


" Its OK." Sahut Richard.


Walau Richard tidak tahu apa permasalahannya tapi Ia yakin jika kali ini Nervan benar benar melakukan kesalahan fatal hingga membuat Khanna ingin benar benar berpisah darinya.


" Kalau begitu aku kembali ke penginapan dulu ya, Nanti malam aku akan kemari lagi, Kita jalan jalan memghilangkan stres, Gimana?" Usul Richard.


Richard menunduk di depan Khanna.


" Hai sayang Om pulang dulu ya nanti malam om ajak kamu jalan jalan, Bye." Ucap Richard membuat Khanna terharu.


" Aku pergi dulu kalau ada apa apa telepon aku." Ucap Richard mengacak pelan rambut Khanna.


" OK makasih udah mau menemaniku." Ujar Khanna.


" Ok, Bye." Sahut Richard keluar dari ruangan Khanna dan menutup pintunya.


Ceklek.....


" Ada apa lagi? Apa ada yang tertinggal?" Tanya Khanna menengok ke belakang.


Deg....


Tubuhnya kaku saat melihat siapa yang sedang berjalan menghampirinya. Ingin sekali Ia memeluk suami yang ada di depannya tapi Ia mencoba sekuat mungkin untuk menahannya.


" Kau datang terlalu cepat, Bahkan pengacaraku belum menyerahkan surat gugatan cerai itu ke pengadilan kau datang untuk mengambilnya bukan?" Tanya Khanna berdiri di depan Nervan.


" Sayang... Lupakan surat gugatan itu, Maafkan Mas yang telah melakukan kebodohan lagi." Ucap Nervan hendak menggenggam tangan Khanna tapi Khanna menghindarinya.


" Baru kemarin aku bilang jangan menemuiku apalagi untuk meminta maaf padaku,Karena aku tidak akan pernah memaafkanmu, Kenapa sekarang kau meminta maaf padaku? Apa kau sudah mengetahui kebenarannya?" Selidik Khanna.

__ADS_1


Nervan menghela nafasnya, Ia menatap wajah cantik pujaan hatinya. Ia ingin menarik tubuh itu ke dalam pelukannya tapi Ia urungkan takut Khanna akan semakin marah padanya.


" Iya sayang... Mas menyesal karena tidak mempercayai Adek hingga membuat Adek pergi meninggalkan Mas." Ujar Nervan sedih.


" Tapi aku tidak menyesal telah meninggalkanmu." Sahut Khanna.


Nervan memejamkan matanya. Ia akan menerima apapun cacian bahkan makian yang akan Khanna lontarkan. Khanna mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.


" Halo bagaimana surat cerainya apa kau sudah mengirimkannya ke pengadilan?" Tanya Khanna to the point.


" Sudah Nona Khanna tapi maaf gugatan itu di tolak oleh pengadilan karena alasan perceraian yang anda layangkan kurang kuat." Sahut Yanuar.


" Apa? Di tolak?" Pekik Khanna membuat Nervan mengembangkan senyumnya.


" Makasih Pa." Batin Nervan.


"Bagaimana mungkin pengadilan menolaknya? Apa kau tidak becus bekerja? Apa bayaran yang aku berikan padamu kurang? Aku tidak mau tahu aku harus bercerai darinya berapapun yang kau minta aku akan membayarnya." Ujar Khanna.


" Maaf Nona ini bukan masalah bayaran tapi memang pengadilan tidak membiarkan anda menggugat cerai Tuan Nervan entah apa alasan yang sebenarnya saya tidak tahu Nona, Jadi maaf saya tidak bisa mengajukan kasus ini lebih lanjut." Jelas Yanuar menutup sambungan teleponnya.


" Ah sial." Umpat Khanna.


" Kenapa sih harus di persulit?" Gumam Khanna yang masih bisa di dengar oleh Nervan.


" Itu tandanya Allah tidak merestui perceraian kita sayang, Maafkan Mas kembalilah kepada Mas, Jika Adek tidak mau kembali maka Mas yang akan menjemput Adek." Ujar Nervan.


" Tutup mulutmu, Aku tidak sudi hidup bersama pria sepertimu." Ketus Khanna.


" Berapa kau membayar orangku untuk mengkhianatiku?" Tanya Khanna dengan tatapan menyelidik. Bahkan di matanya sudah tidak ada tatapan cinta untuknya.


" Mas tidak tahu menahu soal itu Dek, Percayalah Allah menginginkan kita bersama, Maafkan Mas yang sudah meragukanmu, Maafkan Mas yang sudah begitu melukai dan menyakiti hati Adek, Maaf... Mas tidak tahu jika ternyata Adek di jebak oleh teman Adek sendiri." Jelas Nervan.


" Aku tidak peduli apapun alasanmu, Yang jelas mulai sekarang di antara kita tidak ada hubungan apa apa lagi, Sekarang pergilah jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapanku lagi, Aku tidak mau melihatmu." Ucap Khanna.


" Sayang.... Mungkin sekarang Adek masih marah sama Mas, Mas akan pergi tapi nanti atau besok Mas akan kembali lagi." Ujar Nervan.


" Aku akan mengusirmu lagi." Sahut Khanna.


" Mas akan kembali lagi dan lagi sampai Adek mau memaafkan Mas, Dan mau kembali pada Mas lagi." Ucap Nervan.


" Sudah aku katakan aku tidak akan pernah kembali lagi padamu, Terserah pengadilan akan menolak atau menerima gugatan dariku yang jelas aku sudah memutuskan hubungan denganmu, Sekarang pergilah aku mau istrahat." Usir Khanna.


" Baiklah Mas akan pergi sampai jumpa nanti." Ujat Nervan keluar dari ruangan Khanna.


Setelah kepergian Nervan Khanna kembali menangis, Ia tidak bisa terus terusan pura pura kuat di depan Nervan. Sebenarnya hatinya rapuh, Ia ingin sekali memeluk Nervan dan mengatakan Ia sudah memaafkannya tapi luka di hatinya masih menganga begitu lebar hingga Ia mengurungkan niatnya. Dari pada bersama hanya akan terluka lagi lebih baik menjauh atau berpisah selamanya.


TBC....


Jangan lupa like dan komentnya....

__ADS_1


__ADS_2