
" Membantu yang bagaimana?" Tanya Khanna memastikan.
" Dengan menikahinya." Sahut Nervan.
Jederrrrrr
Khanna mencoba menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya berdetak begitu cepat, Ia merasa dejavu dengan semua ini. Kejadian ini di alaminya beberapa bulan lalu saat Nervan menjalankan rencananya. Rencana bodoh yang di susun oleh Kakaknya sendiri untuk memisahkan mereka. Khanna harus tenang dalam menghadapi masalah ini, Ia khawatir kalau ini rencana seseorang untuk memisahkan mereka lagi.
" Siapa pria yang menodai Safita Mas?" Selidik Khanna.
" Di... Dia...." Ucap Nervan gugup.
" Dia siapa?" Tanya Khanna.
"Bang Aroon." Sahut Nervan.
" Apa???? Kak Aroon???" Pekik Khanna menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Bukankah mereka tidak ada hubungan apa apa? Lalu kenapa Safita bisa hamil dengan Kak Aroon? Apa kamu tidak curiga dengan Safita? Kenapa dia mengatakan hamil saat Kak Aroon tidak ada di sini?" Cerocos Khanna mengungkapkan kecurigaannya.
" Hah entahlah Dek, Mas pusing Dek memikirkannya, Kemarin Safita mengancam jika Mas tidak mau membantunya dengan menikahi sementara dirinya, Ia akan melaporkan Bang Aroon ke polisi Dek, Mas tidak mau jika itu sampai terjadi, Tadinya Mas hanya berpikir kalau Mas mau membantunya dengan menikahinya sampai Bang Aroon di temukan." Ucap Nervan.
" Safita juga bilang kalau dia takut di usir dari kost nya karena ketahuan hamil di luar nikah." Ucap Nervan.
" Kostan? Bukannya Safita tinggal di rumah sebelah?" Tanya khanna.
" Bukan.... Rumah sebelah sebenarnya rumah temannya, Ia hanya numpang di sana kalau di kostan kesepian." Jelas Nervan.
" Mas hanya mau menikahinya secara siri, Mas juga tidak akan menyentuhnya Dek, Ini Mas lakukan hanya untuk menutup aibnya dan aib keluarga kita saja sayang, Percayalah." Ujar Nervan.
" Kau boleh menikahinya setelah kau menceraikan aku." Ucap Khanna.
" Tidak... Mas tidak akan menceraikanmu, Stop mengatakan perceraian, Mas tidak menyuakinua sayang." Sahut Nervan.
" Kalau kamu tidak mau berpisah dariku, Maka jangan ulangi kejadian yang sama yang membuat aku pergi jauh darimu Mas, Kali ini aku tidak akan pernah mau kembali padamu jika sampai aku melangkahkan kakiku meninggalkan rumah ini dan meninggalkan kamu, Ingat... Aku tidak akan pernah mau kembali lagi, Ini kesempatan terakhir bagimu." Tegas Khanna.
" Tidak sayang... Mas tidak mau kehilangan Adek, Mas tidak akan mengulanginya lagi... Maafkan Mas Dek." Ucap Nervan.
" Jujur saja Mas bingung Dek... Mas tidak berpikir jernih, Mas hanya merasa kasihan sama Safita, Dia sudah membantu Mas waktu itu tapi sekarang Mas tidak bisa membantunya." Ucap Nervan.
" Kau merasa berhutang budi padanya? Karena dia sudah membantumu menyakiti hatiku? Apa itu maksudmu? Atau memang ini kemauanmu untuk menikahinya?" Tanya Khanna langsung berdiri di samping ranjang itu.
__ADS_1
" Heh... Aku tidak percaya semua ini... Kamu yang terlihat jenius kini justru menjadi laki laki bodoh, Kau mau mengulang kebodohanmu dengan membuatku pergi jauh darimu? Apa kamu tetap akan menikahinya?" Tanya Khanna.
" Tidak sayang." Sahut Nervan.
" Harusnya kamu meminta pendapatku Mas, Bagaimana caranya membantu Safita, Bukan malah meminta izinku untuk menikahinya, Kau benar benar bodoh Mas, Baru saja kita baikan sekarang kita sudah bertengkar lagi, Aku muak dengan sikapmu yang lembek seperti ini, Apalagi dengan wanita lain." Hujat Khanna.
" Lalu sekarang Mas harus apa sayang?" Tanya Nervan menatap Khanna.
" Kau tidak perlu membantunya dalam urusan pribadinya, Biarkan dia meminta tanggung jawab dengan pria yang sudah menghamilinya, Kenapa harus kamu? Aku yakin dia hanya akan memanfaatkan kamu saja Mas, Jangan gegabah! Jadikan kejadian kemarin menjadi pelajaran untukmu agar tidak mudah percaya dengan orang lain Mas." Ujar Khanna.
" Tapi Mas tidak tahu di mana keberadaan Bang Aroon saat ini, Dia pergi bagai di telan bumi, Sama seperti saat kepergian Adek waktu itu, Apalagi dengan kondisiku yang seperti ini, Itu tidak memungkinkan Mas mencari keberadaan Bang Aroon." Ucap Nervan.
"Apa Adek tahu dimana Bang Aroon berada?" Tanya Nervan.
" Tidak... Hanya Papa dan Papa Shiv yang mengetahuinya." Sahut Khanna.
" Lalu bagaimana caranya kita bisa menemukan Bang Aroon?" Tanya Nervan.
" Aku nggak tahu, Yang jelas aku tidak mengijinkanmu menikahi Safita." Tegas Khanna.
" Baiklah Mas akan menuruti semua ucapanmu, Tapi tolong bantu Mas untuk membantunya menemukan Bang Aroon sebelum perutnya semakin membesar, Bagaimanapun dia membutuhkan bantuan kita sayang." Ujar Nervan.
" Itu salah Safita sendiri yang tidak bisa menjaga dirinya." Ucap Khanna duduk kembali di atas ranjangnya.
" Itu bukan menjadi alasan, Seharusnya apapun alasannya Ia mampu menjaganya Mas." Ujar Khanna.
" Mas juga tidak tahu, Sekarang Mas mau tidur semoga besok Mas bisa mencari solusinya.
" Aku akan menanyakan keberadaan Kak Aroon kepada Papa Shiv." Ucap Khanna.
" Semoga Papa Shiv mau memberitahukan kepada kita." Ujar Nervan.
" Iya Mas." Sahut Khanna.
Akhirnya mereka berdua tidur dengan nyenyak memasuki alam mimpi melupakan masalah yang baru mereka hadapi. Ujian dalam rumah tangga memang benar adanya. Tapi kita harus menjalaninya dengan penuh ketenangan agar kita mampu melewatinya. Nervan memeluk tubuh Khanna dengan erat. Ia tidak mau kehilangan istri tercintanya lagi.
...****************...
Pagi ini Khanna dan Nervan pergi ke rumah Papa Shiv. Khanna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di sana mereka di sambut dengan antusias oleh Papa Shiv. Ketiganya saat ini sedang duduk di sofa di ruang tamu sambil meminum kopi di lengkapi dengan beraneka ragam kue kue.
" Ada apa nih tumben anak Papa yang cantik dan ganteng mau main ke sini? Kirain udah lupa kalau punya Papa di sini juga." Ujar Papa Shiv.
__ADS_1
" Seperti yang tadi malam aku ceritakan ke Papa, Gimana hasilnya Pa? Apa benar yang aku pikirkan saat ini?" Ujar Khanna.
Ya semalam saat Khanna terbangun dari tidurnya, Khanna menelepon Papa Shiv dan menceritakan semuanya, Khanna meminta bantuan Papa Shiv untuk menyelidiki kebenaran Safita karena Ia yakin jika Safita memiliki rencana jahat di balik semua ini.
" Sesuai dugaanmu sayang, Dia hanya memanfaatkan kebaikan Nervan untuk memisahkan kalian berdua." Jelas Papa Shiv.
" Apa Pa? Apa maksud dari semua ini? Nervan tidak mengerti Pa." Ucap Nervan.
" Safita hanya membohongimu, Dia hanya ingin mendapatkan dirimu dan memisahkanmu dari Khanna saja, Papa kira dia masih menyukaimu, Jadi apapun caranya dia akan melakukan apapun demi mendapatkan dirimu Nervan." Jelas Papa Shiv.
" Kenapa Safita setega itu padaku?" Ujar Nervan.
" Perlu kamu ketahui, Aroon pergi dalam keadaan bersih tanpa scandal apapun, Mungkin memang benar dulu Aroon menyukai Safita tapi sekarang sudah tidak lagi, Maaf Papa tidak bisa memberitahu dimana Aroon berada pada kalian, Yang jelas berhati hatilah dengan yang namanya Safita, Jangan mudah percaya dengan orang lain, Terutama kamu Nervan." Ujar Papa Shiv menatap Nervan.
" Baik Pa." Sahut Nervan.
" Jadikan kejadian sebelumnya pelajaran berharga untukmu, Kemarin Papa hanya mengirim Khanna ke kota Y saja, Tapi jika besok kamu menyakitinya maka Papa akan mengirimnya ke Negara lain agar kamu tidak bisa menemukannya, Kemarin aja kamu masih butuh bantuan Papa." Jelas Papa Shiv memberi nasehat kepasa Nervan.
" Iya Pa dan terima kasih atas bantuannya, Berkat Papa Shiv aku berhasil menemukan Khanna." Sahut Nervan.
" Papa sudah memberikan rumah baru untuk kalian agar jauh dari Safita." Ucap Papa Shiv.
" Dimana itu Pa?" Tanya Khanna.
" Tuh..." Papa Shiv menunjuk rumah yang ada di sebrang jalan sana.
" Maksud Papa?" Tanya Khanna memastikan.
" Rumah di depan itu sekarang menjadi rumah kalian, Hadiah dari Papa dan agar Papa bisa mengawasi kalian dari orang orang yang berniat jahat seperti Safita." Ujar Papa Shiv.
" Makasih Pa..." Pekik Khanna memeluk Papa Shiv.
" Sama sama sayang, Selalu jadi wanita yang kuat dan tegar dalam menghadapi situasi apapun." Ucap Papa Shiv.
" Tentu Pa." Sahut Khanna.
" Maafkan Papa Van, Bukan maksud Papa merendahkan harga dirimu, Melihat kejadian kemarin Papa ingin selalu memantau kalian berdua, Papa hanya menginginkan kebahagiaan untuk kalian berdua, Semoga kalian selalu bersama dan hanya maut yang mampu memisahkan kalian berdua." Ucap Papa Shiv.
" Amien... Makasih Pa atas bantuan dan bimbingan Papa selama ini." Sahut Nervan.
Papa Shiv memang menyayangi mereka semua, Papa Shiv sudah menganggap Nervan, Khanna dan Aroon sebagai putra dan putrinya sendiri. Entah kapan Papa Shiv mau membina rumah tangga dengan wanita. Hanya Ia dan Tuhan yang mengetahuinya.
__ADS_1
**TBC.....
Jangan lupa like koment dan votenya ya... Maaf jika ceritanya kurang seru karena author masih dalam proses belajar... Makasih atas suportnya... Miss U All**