
"Apa???" Pekik Mama Alfi membulatkan matanya dengan mulut menganga.
" Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan Khanna." Bentak Papa Sakti. Khanna berjingkrak kaget, Baru pertama ini Papa Sakti membentak dirinya.
" Sabar Mas..." Ucap Alfi.
" Anakmu sudah keterlaluan... Baru beberapa hari menikah udah mau minta cerai, Apa kamu nggak tahu Khan dalam keluarga kita tidak ada kata perceraian, Apa kamu sudah tidak mau menjadi keluarga Arviano lagi?" Ucap Papa Sakti.
" Maaf Pa.... Tapi aku tidak mencintainya." Sahut Khanna.
" Cinta cinta tahu apa kamu tentang cinta? Mana cinta yang kamu bangga banggakan itu? Apa itu yang di namakan cinta? Meninggalkan mempelai wanita di hari pernikahannya? Ha." Ujar Papa Sakti dengan nada tinggi.Khanna hanya bisa menunduk.
" Perhatian dan kasih sayang Nervanlah yang bisa di sebut cinta, Bukan seperti baj***an tengik pacarmu itu." Ketus Papa Sakti.
" Sayang.... Apa yang kamu pikirkan hingga kamu mau minta cerai dari Nervan? Apa dia menyakitimu?" Tanya Mama Alfi. Khanna menggeleng.
" Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?" Khanna menggeleng lagi.
" Apa dia mengkhianatimu dan pergi bersama wanita lain?" Khanna menggeleng kepalanya lagi.
" Lalu karna apa sayang? Kau akan menyesal jika melepaskan Nervan untuk wanita lain, Kamu tidak akan mendapatkan ganti sepertinya Khanna..." Ujar Mama Alfi lembut sambil mengelus rambut putrinya.
" Papa tahu pasti semua ini karna Aroon bukan?" Selidik Papa Sakti.
" Benarkah itu Khan?" Tanya Mama Alfi.
Khanna tidak bergeming, Ia bingung harus menjawab apa. Kalau Ia mengatakan yang sebenarnya itu berarti Ia sama saja mengadu domba kakaknya dengan orang tuanya.
" Khan... Katakan yang sebenarnya." Ucap Mama Alfi.
" Khan tidak mencintainya Ma... Khan merasa tidak nyaman saja hidup bersamanya, Mama tahu kan kalau Khan sangat membencinya." Ucap Khanna.
" Kebencianmu itu tanpa alasan Khan, Apa yang membuat kamu membenci Nervan? Sikap dan sifat mana yang pernah menyakitimu hingga membuatmu membencinya? Tidak ada bukan? Kamu hanya mengikuti Aroon saja, Kamu membencinya berdasarkan cerita Aroon tanpa tahu yang sesungguhnya." Ujar Papa Sakti.
" Aku tahu semuanya Pa... Nervan sudah memberitahuku segalanya, Termasuk tentang perasaannya saat tinggal bersama kita." Batin Khanna.
" Sayang... Tunggulah sampai tiga bulan lagi, Jika dalam tiga bulan ini kamu tidak bisa mencintai Nervan maka kamu boleh menggugat cerai dirinya." Ucap Mama Alfi.
" Tapi Yank." Protes Papa Sakti. Mama Alfi mengerlingkan matanya.
" Baiklah Papa setuju dengan usul Mama." Sahut Papa Sakti.
" Makasih Pa, Ma." Ucap Khanna.
Tanpa mereka sadari jika Nervan berdiri di depan pintu mendengar semuanya, Ia mengusap air matanya lalu segera berlalu dari sana. Nervan masuk ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Hatinya sakit saat mendengar Khanna ingin menggugat cerai dirinya.
" Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sebelum tiga bulan itu Dek, Sepertinya kita memang harus secepatnya pindah ke rumah baru agar kita bisa menghabiskan waktu bersama." Ujar Nervan dalam hati.
Sesampainya di rumah Nervan segera mencari kedua orang tuanya. Mama Sarah dan Papa Reno berada di ruang keluarga, Kebetulan Papa Reno tidak ke kantor hari ini.
" Pa Ma." Nervan menghampiri mereka.
" Ya." Sahut Mama Sarah.
__ADS_1
" Pa.. Ma.. Nervan mau pindah rumah hari ini juga." Ucap Nervan setelah duduk di sofa ruang tamu.
" Apa kamu yakin?" Tanya Papa Reno.
" Ya Pa.. Aku ingin Khanna lebih dekat denganku agar dia bisa menerimaku menjadi suaminya, Aku ingin benih benih cinta hadir di dalam hati Khanna untukku." Ujar Nervan.
" Baiklah Papa setuju, Semoga apa yang menjadi keinginanmu bisa terkabul." Sahut Papa Reno.
" Makasih Pa, Nervan mau berkemas dulu." Sahut Nervan.
" Biarkan Bi Darmi membantumu." Ucap Mama Sarah.
" Baik Ma." Sahut Nervan.
Nervan mengepak barang barangnya, Sedang Bi Darmi mengepak barang barang milik Khanna. Setelah selesai Nervan menurunkan koper kopernya lalu meletakkannya di depan pintu.
" Siapa yang mau pindahan Mas?" Tanya Khanna yang baru masuk ke dalam rumah.
" Kita." Sahut Nervan dingin.
" Kita?" Tanya Khanna.
" Ya hari ini kita akan pindah ke rumah baru, Kenapa? kamu keberatan?" Tanya Nervan.
" E..enggak Mas, Aku ngikut kamu aja soalnya aku tidak berhak berpendapat di sini bukan?" Sahut Khanna.
" Bagus." ketus Nervan.
"Kenapa dengan Mas Nervan? Kenapa sikapnya berubah dingin sekali? Apa salah minum obat ya?" Pikir Khanna dalam hati.
Mama Sarah dan Papa Reno berjalan menghampiri Nervan dan Khanna.
" Hati hati ya, Maaf Mama sama Papa tidak bisa mengantar karna Papa mau berangkat jemput Alia." ujar Papa Reno.
" Nggak pa pa kok Pa, Nervan pamit." Nervan menyalami tangan Papa Reno dengan takzim.
" Nervan pamit Ma." Nervan bergantian menyalami Mama Sarah.
" Hati hati ya..." Ujar Mama Sarah.
" Ma.. Khan pamit ya." Khan menyalami Mama Sarah dan Papa Reno bergantian.
" Assalamu'alaikum." Ucap Nervan.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Mama Sarah dan Papa Reno bersamaan.
Nervan menyeret koper miliknya sendiri tanpa menghiraukan Khanna yang kesusahan menyeret kopernya. Khanna memasukkan kopernya sendiri di dalam bagasi mobil. Setelah itu Ia duduk di kursi sebelah kemudi.
Nervan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata membuat Khanna heran karna tidak biasanya Nervan mengemudi seperti ini. Tak berselang lama akhirnya mereka sampai ke perumahan baru yang akan mereka tinggali.
Nervan menurunkan semua koper kopernya dan milik Khanna. Ia membuka pintu dengan kunci yang ada di sakunya. Saat Nervan hendak menyeret kopernya tiba tiba...
" Nervan." Panggil seseorang. Nervan dan Khanna menoleh ke arahnya. Seorang wanita cantik memakai rok mini di atas paha dan tanktop berwarna kuning.
__ADS_1
" Ahhh Nervan akhirnya kita ketemu lagi." Ucap wanita tadi memeluk Nervan. Nervan menatap ke arah Khanna, Khanna hanya membuang mukanya saja.
" Eh... Iya.." Nervan melepas pelukannya.
" Kamu tinggal di sini? Baru pindahan ya?" Tanyanya.
" Iya Fit." Sahut Nervan.
" Fit??? Apa ini yang namanya Safita? Ganjen amat pakai peluk peluk suami orang segala." Batin Khanna jelous.
" Ayo mampir dulu ke rumahku." Ucap Safita menyeret tangan Nervan menuju rumahnya.
Ya wanita itu adalah Safita, Ia tinggal di sebelah rumah yang di beli Nervan.
" Eh... bentar bentar... Dek Mas ke rumah Safita sebentar ya." Teriak Nervan yang sudah menjauh dari Khanna.
" Jadi benarkan dia Safita, Mas Nervan membeli rumah di samping mantan pacarnya? Apa dia sengaja agar mereka bisa dekat lagi? Oh My God kenapa rasanya aku tidak rela ya?" Gumam Khanna dalam hatinya.
Khanna segera menyeret kopernya masuk ke dalam rumah, Tak lupa Ia juga membawa koper Nervan masuk. Di dalam rumah bernuansakan putih berlantai dua ini mereka akan menghabiskan waktu bersama. Khanna tiduran di sofa sambil memainkan ponselnya menunggu Nervan kembali. Ia tidak langsung ke kamar karna memang tidak tahu maunya Nervan gimana? Apa mereka akan satu kamar atau tidak.
Lama menunggu bahkan hingga sore hari, Khanna mulai lapar. Ia berjalan ke dapur tapi masih kosong tidak ada apa apa. Hanya peralatannya saja. Lagian mau masak apa? Khanna juga tidak bisa memasak.
" Ngapain aja sih mereka berdua lama amat, Udah sore juga." Gerutu Khanna dalam hati.
Tap tap tap Tampak Nervan baru masuk ke dalam rumahnya, Ia menatap Khanna yang juga sedang menatapnya.
" Apa Mas laper?" Tanya Khanna.
" Aduh maaf Mas lupa, Mas barusan udah makan di rumah Safita, Maaf ya... Mas lupa kalau kamu ada di sini." Ucap Nervan.
cessssss Hati Khanna bagai di tusuk sebilah pisau mendengar Nervan sudah makan bersama mantannya, Padahal dari tadi Khanna menahan lapar karna menunggu suaminya.
" Mana kunci mobil?" Khanna mengadahkan tangannya.
" Buat apa?" Tanya Nervan.
" Gak usah banyak tanya mana kuncinya." Sahut Khanna.
Nervan memberikan kunci mobilnya ke tangan Khanna. Khanna mengambil tas selempangnya lalu Ia berjalan keluar.
" Mau kemana?" Nervan mencekal tangan Khanna.
" Bukan urusanmu." Ketus Khanna menyentak tangan Nervan.
" Mas nanya kamu mau kemana Dek?" Tanya Nervan.
" Jangan campuri urusan pribadiku, Sama seperti aku yang tidak mencampuri urusan pribadimu, Bahkan kamu berduaan selama berjam jam meninggalkan aku yang kelaparan disini sendiri, Aku juga tidak mencampurinya kan? Lakukan itu juga kepadaku." Khanna segera berjalan menuju mobilnya.
" Dek " Panggil Nervan
Khanna masuk ke dalam mobil lalu.. Brummm....... Khanna melesat dengan kecepatan penuh meninggalkan Nervan yang sedang berdiri di sana.
" Arghhhh Kenapa jadi begini sih... " Ujar Nervan menyugar kasar rambutnya..
__ADS_1
**TBC......
Jangan lupa like dan komennya.. Makasih**