Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Jalan Jalan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Khanna masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lima belas menit kemudian Ia keluar kamar mandi hanya menggunakan bathrobe saja. Ia berjalan menuju meja rias untuk melakukan ritual malamnya.


Grep...


Nervan membungkuk sambil memeluk Khanna dari belakang. Dahunya Ia tempelkan pada kepala Khanna.


" Ada apa Mas?" Tanya Khanna menatap Nervan melalui pantulan kaca.


" Mas kangen Dek." Sahut Nervan.


" Sama... Aku juga kangen Mas." Ujar Khanna.


Nervan menggendong tubuh Khanna ala bridal style, Ia merebahkan tubuh Khanna di atas ranjang.


" Kalau Mas menginginkanmu malam ini boleh nggak sayang? Mas akan melakukan dengan pelan dan lembut." Ucap Nervan menatap mata Khanna penuh kerinduan. Khanna menganggukkan kepalanya.


" Makasih sayang." Ucap Nervan.


Nervan menundukkan kepalanya mengecup bibir Khanna. Ia menyusupkan tangannya ke bawah kepala Khanna untuk menahan tengkuknya. Ia me***** bibir Khanna dengan lembut. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva.


Semakin lama ciuman itu semakin panas dan menuntut. Nervan memulai permainannya memanjakan tubuh istrinya. Keduanya saling menikmati sensasi memabukkan di atas awang awang. Nervan benar benar melakukan permainannya dengan lembut. Suara desah** dan erangan terdengar saling bersahutan memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya saling melepas rindu melalui setetes demi setetes keringat yang mengucur di tubuh mereka.


Setelah hampir dua jam lamanya akhirnya keduanya tumbang setelah sama sama mencapai puncak nirwana.


" Makasih sayang." Ucap Nervan mencium kening Khanna.


Nervan menggendong tubuh Khanna menuju kamat mandi untuk membersihkan sisa sisa berc*nta mereka. Setelah bersih Nervan memakaikan baju kepada Khanna. Ia kembali menggendong Khanna menuju ranjang. Ia merebahkan tubuh Khanna dengan pelan.


" Apa dia baik baik saja?" Tanya Nervan yang berbaring di sebelah Khanna sambil mengelus perut Khanna.


" Iya Mas dia baik baik saja, Oh ya Mas besok jadwal pemeriksaan apa kamu mau menemaniku?" Tanya Khanna.


" Tentu donk sayang, Besok Mas akan mengantar Adek, Sekarang tidurlah udah malam." Sahut Nervan memeluk Khanna.


Pagi hari Khanna bersiap untuk pergi ke rumah sakit melakukan pemeriksaan untuk kandungannya. Dengan memakai dress di bawah lutut berwarna dusty Ia terlihat sangat anggun. Nervan menghampirinya lalu memeluknya.


" Mas.. Ayo kita berangkat kenapa malah meluk aku segala?" Ujar Khanna.


Nervan melepas pelukannya, Ia merapikan anak rambut Khanna.


Cup...


Nervan mengecup bibir Khanna.


" Mas warna lipstikku hilang nanti." Ucap Khanna.


" Mana ada, Lipstik mahal kok, Kalau luntur besok cari yang lebih bagus lagi." Sahut Nervan.


" Ah kamu ini, Ayo berangkat Mas." Ajak Khanna.


" Baiklah sayang, Ayo." Sahut Nervan.


Nervan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Sesampainya di rumah sakit Ia menggandeng tangan Khanna menuju ruangan bagian Obgyn.


" Silahkan Bu Khanna, Dokter sudah menunggu." Ucap Suster yang berdiri di depan ruangan.


" Makasih sus." Ucap Khanna.

__ADS_1


Khanna dan Nervan masuk ke dalam dimana seorang Dokter cantik sedang menunggunya.


" Silahkan Bu.... Nona." Ralat Dokter setelah melihat Khanna yang masih muda.


" Terima kasih Dok." Sahut Khanna.


" Apa ada keluhan Nona Khanna?" Tanya Dokter.


" Saya mual jika makan tidak di suapi suami saya Dok." Ucap Khanna membuat Dokter tu tersenyum.


" Berarti ikatan si janin sama Ayahnya kuat Nona makanya Ia hanya mau makan lewat tangan Ayahnya saja." Sahut Dokter.


" Benarkah Dok? Pantas saja dia mau makan kalau hanya di suapi Papanya saja." Ujar Khanna.


" Silahkan berbaring kita akan lihat udah sebesar apa dedeknya ya." Ucap Dokter.


Khanna berbaring di atas brankar. Suster membantunya menutupi bagian bawahnya dengan selimut lalu menyibak baju Khanna.


Dokter mengusapkan gel pada perut Khanna lalu mulai menggerakkan transdusernya.


Dug dug dug...


" Detak jantung janin sudah bisa terdeteksi walau masih lemah Nona, Titik hitam ini merupakan janin anda yang masih sebesar biji kacang hijau lebih besar sedikit sih, Usianya baru menginjak delapan minggu ya, Istirahat yang cukup jangan sampai stres apalagi kecapekan, Makan makanan bergizi dan minum air putih yang banyak." Jelas Dokter.


Nervan menatap layar monitor dengan tatapan haru. Ingin sekali Ia menangis di sana tapi Ia masih punya rasa malu.


Setelah menebus resep dari Dokter, Khanna dan Nervan kembali ke mobilnya.


" Mau jalan dulu atau langsung ke rumah?" Tanya Nervan.


" Jalan jalan ya Mas, Aku ingin ke Mall xx cari sesuatu yang cocok nanti." Ujar Khanna.


Nervan melajukan mobilnya menuju Mall yang di sebutkan Khanna. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam akhirnya ke duanya sampai di parkiran Mall.


" Ayo sayang." Nervan menggandeng tangan Khanna masuk ke dalam.


Khanna dan Nervan berjalan keluar masuk dari satu stand ke stand lainnya. Berulang kali Nervan menawarkan barang mewah kepada Khanna, Namun Khanna selalu menolaknya. Nervan menghela nafasnya, Ia sedikit menahan malu karena Khanna tidak membeli apapun di sana, Ia hanya melihat lihat saja.


" Sayang sebenarnya apa yang sedang Adek cari? Kenapa dari tadi hanya keluar masuk saja?" Tanya Nervan karena setelah masuk stand ponsel Khanna keluar lagi tanpa membeli apapun.


" Nggak ada yang menarik di hati Mas, Kita jalan lagi ya barang kali nanti ada yang sreg di hatiku nanti aku akan membelinya." Sahut Khanna.


" Apa Adek tidak capek? Nanti kelelahan lho, Kita cari makan aja gimana? Makan bakso kaya'nya enak Dek." Ujar Nervan.


" Ya udah Mas ayo." Ajak Khanna.


Khanna dan Nervan berjalan menuju stand bakso yang ada di sana. Keduanya memesan dua mangkok bakso pelakor dan esteh.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang.


" Mau Mas suapi atau makan sendiri?" Tanya Nervan.


" Suapi." Sahut Khanna manja.


" Baiklah.... Pakai kecap aja ya." Ujar Nervan.


" Yang pedas Mas biar enak." Ucap Khanna.

__ADS_1


" Jangan terlalu pedas sayang kasihan dedeknya." Ujar Nervan sedikit menambahkan sambal ke mangkok bakso Khanna.


" A'" Nervan mulai menyuapi Khanna.


" Mas dulu donk." Ujar Khanna.


" Lhoh belum hilang kebiasaannya? Kirain Mas tinggal satu minggu udah lupa." Ujar Nervan.


" Ya enggak lah Mas, Kan dedeknya yang mau." Sahut Khanna.


Setelah mrnghabiskan satu mangkok bakso. Khanna mengajak Nervan jalan lagi sampai...


" Awh..." Pekik Khanna menabrak seseorang.


" Hati hati donk sayang." Ucap Nervan menahan tubuh Khanna supaya tidak terjatuh.


" Maaf mbak Maaf." Ucap wanita yang menabrak Khanna.


Khanna merasa familiar dengan suara itu, Ia mendongak menatap ke arah wanita yang sedang menatapnya juga.


" Safita." Ucap Khanna.


Nervan menatap tajam ke arah Safita.


" Kamu bisa bebas?" Tanya Nervan.


" E... E... Bisa." Gugup Safita.


" Bagaimana bisa?" Selidik Nervan.


" E... E... " Safita menggantung ucapannya.


" Kamu merayu mereka dengan tubuhmu?" Tanya Nervan.


" E... Maafkan aku Van, Aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu jadi ku mohon jangan mengusik hidupku lagi." Ujar Safita.


" Baiklah asalkan kau tidak mengusik hidupku lagi." Sahut Nervan.


" Baiklah aku akan pergi." Ucap Safita meninggalkan Khanna dan Nervan.


" Mas sebenarnya dia kamu bawa kemana? Apa kamu berbuat buruk padanya?" Tanya Khanna.


" Tidak sayang... Mas sudah menyerahkannya kepada anak buah Mas jadi Mas tidak tahu apa apa." Kilah Nervan.


" Baiklah aku percaya padamu, Sekarang kita pulang aja ya Mas aku capek." Ujar Khanna.


" Baiklah sayang ayo." Nervan menggandeng tangan Khanna menuju mobilnya.


Keduanya pulang ke rumah untuk beristirahat. Nervan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali menatap ke luar jendela melihat pemandangan kota yang panas.


TBC ....


*Jangan lupa like dan komentnya ya...


Mohon doa dan dukungannya agar author bisa menyajikan cerita yang menarik.


Yang mau bantu author mencarikan ide ayo tulis di kolom komentar ya...

__ADS_1


Makasih....


Miss U All*....


__ADS_2