Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Pisah


__ADS_3

Huek.... Huek


Khanna memuntahkan isi perutnya pada wastafel kamar mandinya. Nervan yang masih tertidur di atas ranjang mendengar Khanna muntah langsung berlari menghampirinya.


" Sayang mual lagi?" Tanya Nervan.


" Iya Mas." Lirih Khanna.


" Sini Mas pijit." Ucap Nervan memijat tengkuk Khanna.


" Udah Mas, Udah mending kok." Ujar Khanna membasuh mulutnya lalu melapnya dengan tisu.


" Sini Mas gendong aja." Ujar Netvan menggendong Khanna ala bridal style.


Khanna mengalungkan tangannya ke leher Nervan. Mereka saling pandang dengan pandangan penuh cinta.


Nervan membaringkan tubuh Khanna ke atas ranjang dengan pelan.


Cup


Nervan mencium kening Khanna.


" Sayang anaknya Papa, Jangan buat Mama sakit ya, Kasihan Mamanya jadi nggak nyaman mau ngapa ngapain." Ujar Nervan mengelus perut Khanna.


" Ini udah biasa Mas di alami sama wanita hamil muda, Tidak perlu khawatir." Ujar Khanna.


" Gimana nggak khawatir sayang? Mas nggak tega lihat Adek begitu, Kalau bisa di tukar Mas rela menggantikan Adek yang seperti ini." Ucap Nervan.


"Mana bisa? Ada ada aja kamu Mas." Kekeh Khanna.


" Ada sayang itu kehamilan simpatik kan suaminya yang ngidam." Sahut Nervan.


" Itu katanya yang cinta suaminya bener bener besar sedangkan cintamu masih tak berukuran Mas." Cebik Khanna.


" Kok gitu sih Dek?" Ujar Nervan.


" Buktinya kita sering dapat masalah." Ucap Khanna.


" Maaf sayang, Tapi percayalah cinta Mas sangat besar kepada Adek." Ujar Nervan.


" Mas.." Panggil Khanna.


" Iya sayang." Sahut Nervan.


" Kenapa hmm?" Sambung Nervan menatap Khanna.


" Aku pengin makan rujak buah yang pedas." Ucap Khanna.


" Masih pagi sayang, Makan yang lain dulu ya, Nanti siang Mas belikan rujaknya." Ujar Nervan.


" Tapi aku penginnya makan sekarang Mas." Kukuh Khanna.


" Sayang dengarkan Mas, Adek pengin makan rujak pedas pagi gini, Entar kalau sakit perut gimana? Terus asam lambung naik jadi tambah mual mual, Kan nggak nyaman Dek." Jelas Nervan memberi pengertian.


" Adek juga harus menjaga kesehatan diri sendiri supaya kehamilan ini terasa nyaman dan menyenangkan, Tahu kan maksud Mas?" Tanya Nervan.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Khanna.


" Sekarang Mas mau bikin sarapan dulu ya, Mas masakin bubur ayam mau?" Tanya Nervan.


" Terserah Mas saja yang penting aku di suapi." Sahut Khanna.


" Siap sayang." Ucap Nervan.


Nervan berjalan menuju dapur untuk membuatkan bubur ayam untuk istri tercintanya. Dua puluh menit kemudian semuanya sudah siap, Nervan membawanya ke kamar Khanna.


" Ayo makan dulu sayang." Ucap Nervan menghampiri Khanna.


Nervan duduk di tepi ranjang, Ia mulai meniup bubur di sendoknya.


" A sayang." Ucap Nervan menyodorkan sesendok bubur di depan mulut Khanna.


" Mas dulu." Ujar Khanna.


" Baiklah." Sahut Nervan.


Nervan memakan sedikit bubur di sendoknya, Lalu Ia suapkan ke mulut Khanna. Begitu seterusnya hingga bubur itu habis.


" Sekarang minum vitaminnya." Ucap Nervan.


Khanna hanya menatap ke arah Nervan yang menyodorkan segelas air dan satu butir vitamin di tangannya.


" Apa? Harus Mas dulu?" Tanya Nervan.


" Hmm." Gumam Khanna menganggukkan kepalanya.


" Udah Mas." Ucap Khanna memberikan gelasnya kembali kepada Nervan.


" Pinter." Ujar Nervan mengusap pucuk kepala Khanna.


Nervan membawa mangkok dan gelas kosong kembali ke dapur.


Di tempat lain tepatnya di rumah Papa Sakti, Aroon sedang berdebat dengan Fani di dalam kamar mereka. Ya Papa Sakti memaksa Aroon untuk satu kamar dengan Fani tapi Aroon memilih menginap di rumah Papa Shiv.


" Sekarang pergilah, Aku sudah menalakmu dan menceraikanmu, Jadi kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi karena kita hanya nikah siri saja." Ucap Aroon setelah mengucapkan talak kepada Fani.


" Kau jahat Aroon, Aku tidak bersalah." Teriak Fani.


" Tidak bersalah bagaimana? Kau bahkan sudah merencanakan semua ini." Bentak Aroon.


" Aku bersumpah akan membalas sakit hati kepada Mila, Wanita yang kamu cintai itu." Teriak Fani.


Aroon menarik baju bagian leher Fani, Ia menatap nyalang ke arah Fani.


" Berani kau sentuh dia maka nyawamu sebagai taruhannya, Aku akan mengejarmu kemanapun kamu pergi untuk membunuhmu." Ancam Aroon mendorong tubuh Fani hingga terjerembab ke lantai. Aroon pergi meninggalkan Fani sendirian.


" Awh.... Sialan kau Aroon." Pekik Fani menatap kepergian Aroon.


Sesampainya di ruang tamu Aroon di hadang oleh Papa Sakti.


" Sini Nak." Ucap Papa Sakti.

__ADS_1


Aroon duduk di sofa menghadap Papa Sakti dan Mama Alfi.


" Ada apa ribut ribut?" Selidik Papa Sakti.


" Aku sudah menceraikan wanita ular itu Pa." Sahut Aroon.


" Apa maksudmu wanita ular?" Tanya Mama Alfi.


" Dia sudah merencanakan semua ini dari awal Pa, Aku di jebak, Dia sengaja ingin masuk ke rumah ini untuk menguasai harta kita, Ayahnya tahu jika aku dari keluarga Arviano." Jelas Aroon.


" Ya ampuuun, Mama tidak menyangka sayang, Gadis sepolos dia bisa melakukan hal serendah ini." Pekik Mama Alfi.


" Begituah dia Ma, Usir dia dari sini karena aku tidak sudi berurusan dengannya." Ucap Aroon.


" Lalu gadis mana yang kau sukai?" Tanya Mama Alfi.


" Dia mantan muridku Ma, Namanya Kamila Azzurra, Sebenarnya hubungan kami sudah lumayan dekat sejak Aroon pertama masuk ke kelasnya, Setelah dia naik kelas dan Aroon di pindah ke sekolah lain kami sudah tidak berhubungan lagi, Dan saat Aroon ke rumahnya ternyata dia sudah di jodohkan dengan orang lain, Saat itulah Aroon mabuk dan masuk ke dalam jebakan wanita ular itu." Jelas Aroon.


" Lalu apa sekarang dia sudah menjadi milik pria lain?" Tanya Mama Alfi.


" Sudah Ma, Dia sudah menikah dengan guru matematika kelas dua belas, Aroon terlambat padahal Aroon yakin dia memiliki perasaan yang sama dengan Aroon Ma." Ujar Aroon.


" Beraeti dia bukan jodohmu sayang, Dan sekarang dia sudah menjadi milik orang lain jadi jangan pernah kamu merebut milik orang lain sayang." Ujar Mama Alfi.


" Kalau pria itu menyianyiakannya Aroon akan merebutnya Ma." Sahut Aroon.


" Terserah kamu saja lah." Sahut Mama Alfi menghela nafasnya.


Tap tap tap


Fani turun dari tangga menghampiri Mama Alfi dan Papa Sakti.


" Pa Ma." Ucap Fani.


" Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Aku tidak sudi punya menantu sepertimu sekarang pergilah dari rumah ini, Kami tidak akan memberimu sepersenpun kami sudah tahu rencana busukmu." Usir Mama Alfi.


" Tapi Ma..


" Stop jangan panggil aku Mama aku bukan siapa siapa kamu." Mama Alfi memotong ucapan Fani. Ia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar.


" Sekarang pergilah dari rumah ini sebelum saya melaporkanmu ke polisi." Titah Papa Sakti.


" Tapi Pa..


" Tidak ada tapi tapian dan maaf kamu bukan siapa siapa saya." Sahut Papa Sakti.


" Baiklah aku akan pergi dari rumah ini." Ucap Fani keluar dari rumah Papa Sakti dengan perasaan kesal dan benci karena rencananya gagal.


TBC....


*Jangan lupa like dan komentnya ya... Yang mau lanjut cerita Aroon baca di novel author yang berjudul "Ternyata dia hanya Milikku"


Tapi Aroon bukan tokoh utama ya....


Makasih....

__ADS_1


Miss U All*...


__ADS_2