
Nervan begitu kaget saat mendapat paket berisi surat gugatan cerai dari Khanna, Tapi saat dia mendapati tulisan kecil yang Khanna tuliskan pada lembar kertas itu, Kini Nervan paham apa maksudnya. Ia langsung memberitahu Papa Shiv dan Papa Sakti jika Khanna di sekap dalam rumah di tengah hutan pinus.
Papa Shiv melacak keberadaan rumah di tengah hutan pinus itu, Akhirnya Ia pun menemukannya. Saat ini ketiganya sedang dalam perjalanan menuju ke sana.
Sedangkan di mansion Reiner saat ini Khanna sedang di rias oleh pihak MUA, Tak mau membuang banyak waktu Reiner segera menggelar acara penikahannya dengan Khanna hari ini juga sebelum Nervan menemukannya.
" Wah mbaknya cantik sekali." Puji orang MUA yang merias Khanna.
" Makasih Mbak, Mbak bolehkah saya pinjam ponselmu?" Tanya Khanna.
" Maaf Nona sebelum masuk ke sini ponsel kami sudah di sita oleh penjaga di depan." Sahut pihak MUA. Khanna hanya menganggukkan kepalanya saja. Ini pasti atas perintah Reiner.
" Massss Segeralah ke sini, Aku tidak mau menikah dengannya, Ku mohon tolong aku." Batin Khanna.
" Ayo sayang kita turun, Pak penghulu sudah menunggu." Ucap Reiner menghampiri mereka.
" Emmm sebentar lagi, Kepalaku sedikit pusing." Dalih Khanna.
" Khannnn jangan banyak alasan aku tahu kamu sedang mengulur waktu, Nervan tidak akan menemukanmu di sini, Ayo atau aku akan...
" OK OK." Sahut Khanna memotong ucapan Reiner yang selalu saja mengancam akan menghabisi Nervan.
Dengan langkah gontai Khanna berjalan berdampingan dengan Reiner. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah yang ternyata rumah ini luas sekali.
" Tidak ada pintu untuk kabur Nona Khanna." Ucap Reiner membuat Khanna menoleh ke arahnya.
" Aku tidak akan kabur tapi suamiku yang akan menjemputku ke sini." Sahut Khanna.
" Sebelum dia masuk ke rumah ini aku akan menembak dia duluan." Tekan Reiner. Khanna menelan kasar salivanya.
Reiner duduk di samping Khanna di depan penghulu. Mereka memulai acara dengan pak penghulu membaca doa doa. Tiba saatnya pada acara ijab qobul.
*Saudara Reiner Barbara
Saya
Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Khanna Arvia binti Sakti Arviano dengan Mas kawin uang sebesar lima ratus juta rupiah di bayar tunai
Saya terima nikah dan kawinnya Khanna Arvia binti Sakti Arviano dengan Mas kawin*
" Hentikan." Teriak Nervan berlari menghampiri Reiner.
Bugh bugh bugh
Nervan memukul wajah Reiner tanpa ampun, Ia seperti orang yang sedang kesetanan.
" Nervan hentikan." Teriak Papa Sakti.
Papa Shiv memisahkan mereka berdua, Penghulu dan para saksi yang hadir melongo melihat pemandangan langka ini.
" Aku akan menuntutmu karena berani menikahkan istri saya dengan orang lain." Ancam Nervan menunjuk Penghulu.
" Sa... Saya tidak tahu Tuan jika Nona ini istri anda, Istri anda juga tidak bilang apa apa kepada saya." Ucap Penghulu meninggalkan mereka.
" Kenapa Nervan? Bukankah Khanna sudah menceraikanmu?" Tanya Reiner mengusap darah yang ada di sudut bibirnya.
" Kau... Kau pria gila yang beraninya menculik istri orang." Bentak Nervan.
" Ya... Aku gila.... Aku gila karena perbuatan ibumu yang sudah menghancurkan ketenangan keluargaku." Teriak Reiner membuat mereka menatapnya heran.
" Apa hubungannya dengan ibuku?" Tanya Nervan.
__ADS_1
" Ibumu... Hah dia bahkan tidak pantas di sebut sebagai ibu, Dia pantas di sebut sebagai jal***." Sinis Reiner.
" Tutup mulutmu jangan hina ibuku." Bentak Nervan menarik kerah Reiner. Reiner tersenyum meremehkan.
" Apa sebutan untuk orang yang sudah merebut pria lain dari istrinya? Bukankah itu jal****? Dia merebut ayahku hingga ibuku mengakhiri hidupnya sendiri." Teriak Reiner.
Deg.... Lagi???? Jantung Nervan terasa berhenti berdetak, Kenapa ibunya bisa sehina ini? Dia sendiri bahkan malu karena di lahirkan dari rahim wanita jahat seperti ibunya.
" Diana brengsek.... Wanita murahan... Dia menghancurkan hidup keluargaku, Kau yang harus menerima balasannya karena saat ini ibumu sudah terbang ke neraka." Teriak Reiner.
Nervan melepas tangannya, Hatinya pedih mendengar ibunya menyakiti wanita lain lagi. Nervan memundurkan langkahnya.
" Massss." Ucap Khanna hendak menghampiri Nervan, Reiner segera mencekal tangannya.
" Jangan dekati pria yang terlahir dari rahim wanita murahan sepertinya, Kau hanya milikku, Kau harus jadi milikku." Ucap Reiner.
" Lepas.... Reiner lepaskan aku." Berontak Khanna.
" Diam atau aku akan menembaknya." Ucap Reiner.
Entah dari mana sekarang Reiner sedang menodongkan pistol ke arah Nervan membuat Khanna tidak berkutik.
" Reiner lepaskan putriku, Urusanmu dengan Nervan jangan libatkan putriku dalam hal ini." Pinta Papa Sakti.
" Papa Mertua... Aku akan melepaskan putrimu jika kau mau menikahkan aku dengannya." Tawar Reiner.
" Aku akan menikahkan kalian jika Khan dan Nervan resmi bercerai, Tapi sekarang lepaskanlah putriku." Ujar Papa Sakti.
" Ayah.... Apa apaan Ayah ini? Aku tidak akan menceraikan Khan sampai kapanpun." Tegas Nervan.
"Jangan kira aku bisa kalian bohongi, Jangan berani mengikuti aku atau aku akan menembak kalian semua." Ucap Reiner menarik tangan Khanna agar mengikuti langkahnya sambil menodongkan pistol ke arah ketiganya
" Reiner mau kau bawa kemana putriku?" Teriak Papa Sakti.
" Lalu bagaimana dengan Khan Pa?" Tanya Nervan.
" Polisi akan mengurusnya, Kita diam saja demi keselamatan kita semua." Sahut Papa Shiv.
Reiner menarik Khanna sampai di depan mobilnya.
" Masuk." Titah Reiner membukakan pintu depan.
" Rei ku mohon jangan seperti ini, Hiduplah dengan damai kau pasti akan bahagia." Ujar Khanna.
" Aku akan hidup bahagia bersamamu sayang." Ucap Reiner menunduk mengelus pipi Khanna.
" Rei kau tidak mencintaiku, Kau hanya terobsesi karena dendammu." Ucap Khanna.
" Tidak sayang aku benar benar mencintaimu." Sahut Reiner.
Cup...
Tiba tiba Reiner mengecup kening Khanna.
" Jangan buang waktu mari kita pergi dari sini." Ujar Reiner.
" Reiner jangan bawa istriku." Teriak Nervan berlari menghampiri mereka. Ia tidak terima istrinya di cium pria lain. Nervan melupakan nasehat Papa Shiv hingga Ia memilih membahayakan nyawanya sendiri.
Melihat Nervan menghampirinya, Reiner mengarahkan pistolnya ke arah Nervan. Pistol yang sudah di tarik pelurunya tinggal sekali tarik maka peluru itu akan meluncur ke tubuh Nervan.
" Selamat tinggal Nervan kau memilih jalan ini sendiri" Ucap Reiner menarik pistol di tangan Dan.....
__ADS_1
Dor.....
Saru tembakan melesat tepat di punggung Reiner. Nervan menghentikan langkahnya. Melihat yang tertembak justru Reiner Khanna segera keluar menghampiri Reiner.
" Reiner...." Teriak Khanna.
Khanna menubruk tubuh Reiner yang tumbang. Keduanya jatuh ke aspalan dengan posisi Khanna memangku tubuh Reiner.
" Rei bangun Rei." Ucap Khanna menepuk pipi Reiner. Nervan menatapnya dengan perasaan cemburu, Ia bahkan mengepalkan tangannya menahan emosinya, Bagaimana bisa Khanna justru mencemaskan Reiner daripada dirinya.
" Rei ku mohon bangunlah." Ucap Khanna meneteskan air matanya.
" Uhuk... " Reiner membuka matanya, Ia meraba wajah Khanna dengan penuh perasaan cintanya. Cinta pada pandangan pertama yang berakhir pada kematian yang akan Ia alami.
" Khanna... Kau menangisiku?" Lirih Reiner.
" Bertahanlah Rei kau akan baik baik saja." Ucap Khanna mengusap air matanya.
" Aku sudah tidak kuat lagi Khan, Peluru ini tepat menembus jantungku, Aku bahagia bisa tiada dalam pelukan orang yang aku cintai, Berbahagialah Khan, Percayalah rasa cintaku ini benar benar nyata bukan obsesi belaka, Kenanglah aku walau aku hanya memberi kesakitan untukmu, Kau mau kan mengabulkan permintaanku?" Tanya Reiner dengan nafas tersengal.
" Katakan apa maumu?" Tanya Khanna.
"Kalau nanti kau memiliki anak laki laki berilah dia nama Bara...Aku ingin kau selalu mengenangku agar aku tenang di atas sana, Aku akan menemui kedua orang tuaku." Ucap Reiner.
" Baiklah aku akan memberinya nama Bara, Bara Satria Arviano tapi kau harus bertahan agar kau bisa mengajaknya bermain, Bertahanlah Rei... Maafkan aku, Maafkan kesalahan yang Mama mertuaku lakukan padamu... Pa tolong cepat bawa dia ke rumah sakit." Ujar Khanna.
" Tidak perlu Khan, Terima kasih kau ada di saat saat terakhirku." Sahut Reiner memejamkan matanya.
" Rei... Reiner...Bangun Rei... Reiner." Teriak Khanna.
Polisi menghampiri Reiner dan memeriksa denyut nadinya.
" Maaf Nona Tuan Reiner sudah tiada." Ucap Polisi.
" Reinerrrrrrr..... Tidakkkk Reiner bangunlah jangan buat aku merasa bersalah padamu." Teriak Khana.
" Kenapa kalian menembaknya... Kalian jahat... Kalian tidak punya hati, Kalian membunuh orang yang sedang sesat di jalannya." Ucap Khanna menayangkan kepergian Reiner.
" Maaf Nona jika kami tidak menembaknya maka Tuan Nervanlah yang akan di tembaknya, Kami hanya menyelamatkan Tuan Nervan yang sedang dalam keadaan bahaya." Ujar Polisi.
Khanna menoleh ke arah Nervan, Nervan begitu terluka melihat istrinya lebih mengkhawatirkan orang lain, Tak kuat menahan sesak di dadanya Ia segera pergi dari sana mengendarai mobilnya sendiri dengan membawa luka di dalam hatinya.
" Mas." Panggil Khanna menatap mobil Nervan yang menjauh dari sana.
Papa Shiv dan Papa Sakti mengajak Khanna untuk meninggalkan tempat itu. Jasad Reiner di urus oleh pihak kepolisian. Sebenarnya Khanna ingin mengikuti prosesi kremasi jenazah tapi meminta maaf pada Nervan lebih penting baginya.
Sesampainya di rumah Khanna masuk ke dalam menuju kamarnya, Kedua Papanya tidak mampir karena mereka ingin memberi waktu kepada Khanna untuk menyelesaikan masalahnya. Sampai di kamar Khanna tidak menemukan Nervan di sana. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Khanna sudah lebih fresh Ia mengambil ponselnya di dalam slimbagnya yang terletak di nakas. Ia segera menghubungi nomer Nervan, Panggilan tersambung tapi tidak terjawab. Khanna mencoba menghubungi lagi tapi sama, Nervan tidak mau mengangkat panggilannya.
π²Me
Mas angkat donk Q mnta maaf coz udah melukai πmu... Maafin ya... Segeralah pulang Q menunggumu π
Khanna menekan tombol send. Centang dua tapi tidak berubah jadi biru. Khanna menghela nafasnya, Ia melihat kontak Nervan yang sedang online. Ia mencoba menghubungi Nervan kembali tapi nomer Nervan sedang berada di panggilan lain.
" Kau marah padaku Mas.... Segera pulang jika amarahmu sudah reda." Batin Khanna.
Tak mau ambil pusing akhirnya Khanna terlelap dalam tidurnya.
TBC.....
__ADS_1
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya.. Makasih atas dukungan yang kalian berikan kepada author...
Miss U All