Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Dunia Terasa Milik Berdua


__ADS_3

Hari hari berlalu kini Nervan sudah bisa berjalan dengan normal lagi, Saat ini Ia sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Pekerjaan kantornya sudah menanti kehadirannya. Bahkan berkas berkas yang akan di gunakan untuk bulan depan sudah menumpuk seperti gunung.


" Sayang mana baju Mas?" Teriak Nervan dari ruang ganti.


" Iya Mas bentar." Sahut Khanna yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja.


" Mas udah hampir telat Dek." Ucap Nervan.


" Emangnya Mas doank yang telat aku juga Mas, Salah siapa mandi lama banget pake acara nganu nganu segala." Gerutu Khanna menyiapkan pakaian untuk Nervan.


" Nganu nganu apa sayang?" Goda Nervan memeluk Khanna dari belakang.


" Lepas ih buruan pakai bajunya, Entar makin telat lagi." Ujar Khanna melepas pelukannya.


" Biarin perusahaan bokap ini." Sahut Nervan.


" Mas inget kamu di sana itu pegawai, Jangan buat para pegawai yang lain iri." Ejek Khanna sambil memakaikan baju ke badan Nervan.


" Enak aja Mas di samain sama pegawai, Mas wakil Direktur Dek." Protes Nervan.


" Sama aja." Sahut Khanna sambil mengancingkan baju Nervan.


" Dek... Adek sengaja goda Mas lagi ya? Adek sengaja mau ngajak Mas seharian di kamar aja?" Tanya Nervan.


" Godain gimana?" Khanna balik bertanya.


" Itu." Tunjuk Nervan ke sesuatu yang menyembul dari atas handuk Khanna. Khanna mengikuti arah jari Nervan dan...


" Mesum." Cebik Khanna menutupi bagian itu.


" Sama istri sendiri gak pa pa Dek." Sahut Nervan.


" Udah sana keluar gantian aku mau ganti." Ucap Khanna.


" Mas mau lihat." Ujar Nervan.


" Mas...." Pekik Khanna.


" Apa sayangggg." Sahut Nervan.


" Minggir ih keluar sana aku mau ganti." Ucap Khanna mendorong tubuh Nervan.


" Nggak mau, Mas mau lihat." Kukuh Nervan.


" Mas jangan gini lah aku udah dingin Mas." Ucap Khanna memelas.


Nervan maju mengambil baju ganti Khanna, Ia menurunkan handuk Khanna, Untung saja Khanna sudah pakai dalaman. Nervan memakaikan kaos oblong pada istrinya, Lalu Ia memakaikan jaket denim Khanna membuat Khanna terpesona dengan menatap wajah Nervan sedekat ini.


" Mas tahu kalau Mas tampan, Tapi liatinnya jangan gitu dong Dek, Tenang aja wajah ini hanya milikmu sayang." Ucap Khanna.


" Apasih Mas." Sahut Khanna malu malu.


" Bawahannya sekalian atau mau pakai sendiri?" Tanya Nervan.


" Sendiri aja sekarang Mas keluar dulu." Jawab Khanna.


" Baiklah Mas tunggu di meja rias." Sahut Nervan mencium pipi Khanna.


Khanna tidak menggubris omongan Nervan, Ia segera memakai bawahannya. Celana jeans panjang membuatnya semakin kelihatan perfect. Khanna berjalan menuju meja rias. Ternyata Nervan sudah siap dengan sisir di tangannya.


" Sini duduk." Ucap Nervan.


Khanna menurut saja Ia tidak mau membuang banyak waktu karena waktu semakin berlalu. Dengan telaten Nervan menyisir rambut Khanna lalu Ia mengucirnya.


" Udah rapi, Nggak usah pakai bedak nanti tambah cantik banyak yang suka." Ucap Nervan.


" Aku nggak pernah pakai bedak jika hanya pergi kerja Mas, Aku cuma pakai cream doank." Sahut Khanna sambil mengoles cream ke wajahnya. Setelah selesai Ia memoles bibirnya dengan lipbalm.


" Duh istri siapa sih cantik banget, Jadi nggak rela Adek keluar rumah Dek." Ucap Nervan.


" Aku kan harus mantau cafe Mas, Nanti kalau aku nggak visit gimana? Entar kalau ada problem aku nggak tahu." Sahut Khanna.


" Besok kalau Adek udah hamil jangan kerja ya, Bedrest di rumah aja." Ujar Nervan.


" Siapppp Masskuuh." Sahut Khanna.


Setelah sarapan mereka berdua berangkat kerja bersama, Nervan lebih dulu mengantar Khanna ke Cafenya.

__ADS_1


" Aku berangkat ya Mas." Ucap Khanna mencium punggung tangan Nervan.


" Hati hati sayang." Ujar Nervan mencium kening Khanna.


" Mas juga hati hati, Assalamu'alaikum." Ucap Khanna.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Nervan dengan senyum manisnya.


Setelah Khanna masuk ke dalam Cafenya, Nervan segera melajukan mobilnya ke kantornya. Sesampainya di kantor Nervan segera masuk ke dalam ruangannya. Ia segera mennyelesaikan semua pekerjaan yang sempat tertunda.


Hari menjelang siang Khanna menatap ponselnya yang sama sekali tidak ada notif panggilan atau pesan dari Nervan. Ia berinisiatif datang ke kantor Nervan dengan membawa makan siang. Khanna yakin kalau saat ini Nervan pasti sedang bekerja dan melupakan makannya.


" Mbak bungkusin nasi sama steak satu ya, Yang porsi jumbo." Ucap Khanna kepada seorang waitres yang bernama Reva.


" Baik Mbak Khanna mohon tunggu sebentar." Sahut Reva.


Khanna menunggu sebentar sambil duduk.


" Ini Mbak sesuai pesanan." Ucap Reva memberikan satu kantong plastik berisi pesanan Khanna.


" Billnya masukin ke tagihan saya ya." Ucap Khanna.


" Iya Mbak." Sahut Reva.


Walaupun ini Cafe milik sendiri tapi Khanna tetap membayar tagihan setiap Ia pesan sesuatu.


Khanna melajukan mobilnya menuju kantor suaminya. Setelah sampai di sana Ia segera masuk ke dalam ruangan Nervan.


Ceklek.....


Nervan menoleh ke arah pintu, Ia menatap istri tercintanya yang sedang berdiri menatapnya dengan kantong plastik di tangannya.


" Sayang...." Ucap Nervan beranjak menghampiri Khanna.


" Siang Mas." Sapa Khanna mencium tangan Nervan.


" Siang sayang." Sahut Nervan mencium pipi Khanna.


" Tumben mau ke sini?" Sambung Nervan.


" Iya aku yakin Mas Nervan melewatkan makan siang, Jadi aku bawain makan siang untukmu." Sahut Khanna.


" Ya udah Mas lanjut kerja lagi, Aku suapi makannya gimana?" Tanya Khanna.


" Mau banget." Sahut Nervan.


Khanna menarik kursi untuk Ia dekatkan pada kursi Nervan. Nervan melanjutkan pekerjaannya dengan sibuk mengetik pada laptopnya sedangkan Khanna sibuk menyuapi suaminya. Mereka berdua begitu bahagia melewati moment moment berharga seperti sekarang ini. Dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak.


" Adek makan juga donk jangan cuma Mas doank." Ucap Nervan.


" Iya nanti kalau Mas udah selesai." Sahut Khanna.


" Entar habis di makan Mas doank Dek, Kan kamu cuma bawa satu." Ujar Nervan.


" Kan udah aku bagi Mas, Tenang aja sekarang konsen kerja aja." Ucap Khanna sambil menyuapi Nervan lagi.


Suapan demi suapan dari tangan Khanna telah Nervan habiskan. Sekarang gantian Khanna yang makan, Ia duduk di sofa sambil sesekali menatap suaminya yang sedang fokus menyelesaikan pekerjaannya.


" Mas aku pulang dulu ya." Ucap Khanna setelah merapikan meja dari bungkus makanannya.


" Tunggu sebentar bareng Mas ya." Ujar Nervan.


" Masih lama nggak Mas? Ini udah jam dua." Tanya Khanna menatap jam di tangannya.


" Satu jam lagi sayang.... Kita lanjut nonton gimana?" Ujar Nervan.


" Mmmm gimana ya????" Gumam Khanna.


" Atau Adek mau shopping? Uang yang Mas transfer ke atm kamu masih utuh lhoh." Ujar Nervan.


" Kan udah aku ambil semua waktu aku pergi Mas." Ucap Khanna.


" Yang selama tiga bulan ini kan belum ke pakai." Ujar Nervan.


" Mas masih tranfers ke atmku?" Tanya Khanna memastikan.


" Iya." Sahut Nervan.

__ADS_1


" Padahal selama itu kan aku tidak menjalankan kewajibanku sebagai istrimu Mas." Ujar Khanna.


" Tapi Adek masih istri Mas kan? Jadi sudah kewajiban Mas menafkahi Adek." Sahut Nervan.


" Maafin aku ya Mas." Ucap Khanna.


" Bukan salahmu Dek." Ujar Nervan.


" Baiklah." Sahut Khanna.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nervan menggandeng tangan Khanna menuju mobilnya, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Mall xx. Sesampainya di sana Nervan dan Khanna langsung menuju ke bioskop. Nervan memilih film bergenre romantis.


" Ayo masuk Dek." Ucap Nervan menggandeng Khanna dengan tangan kanannya karena tangan kirinya membawa popcorn.


Tak lama setelah mereka duduk filmpun di mulai. Film yang mereka tonton ternyata film untuk usia remaja. Adegan dalam film tersebut benar benar membuat para penonton baper. Saat adegan ciuman yang cukup panas, Mulut Khanna melongo. Ia segera menyembunyikan wajahnya ke dada Nervan. Ia merasa malu melihat adegan mesra seperti itu.


" Kenapa sayang? Pengin?" Tanya Nevan menggoda Khanna.


" Eh... Apasih Mas." Sahut Khanna menatap Nervan.


Nervan menangkup wajah Khanna. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Khanna, Ia mencium bibir Khanna dan melu***nya lembut. Khanna terbuai dengan ciuman Nervan. Mereka saling membelitkan lidah menikmati sensasi manis dari ciuman yang mereka lakukan hingga tanpa sadar bahwa film sudah usai dan saat ini lampu sudah menyala.


" Ehm ehm." Dehem seseorang membuat keduanya sadar.


Khanna membulatkan matanya kala menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian para penonton yang hendak keluar. Ia langsung memeluk Nervan menyembunyikan wajahnya ke dada suaminya. Sedangkan Nervan nampak biasa biasa saja. Cukup lama mereka dalam posisi itu hingga sudah tidak ada lagi orang di dalamnya.


" Ayo Dek kita keluar semua orang sudah pergi." Ucap Nervan.


" Aku malu Mas." Ujar Khanna.


" Nggak perlu malu kali Dek, Kita kan suami istri." Sahut Nervan santai.


" Kamu ini gimana sih Mas, Mereka kan nggak tahu kalau kita suami istri, Lagian kamu mau nyium nggak tahu tempat." Kesal Khanna.


" Kenapa mesti marah Adek juga menikmatinya kan?" Goda Nervan.


" Tau ah." Ketus Khanna meninggalkan Nervan.


" Sayang...." Ucap Nervan mengejar Khanna.


Khanna mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan sekitarnya sampai....


Brughhhhhh...


Tubuh Khanna kehilangan keseimbangan Ia terpelanting ke belakang, Khanna memejamkan matanya bersiap merasakan sakit pada tubuhnya yang mendarat ke lantai.


" Eh kok nggak sakit? Apa aku jatuh di kasur ya?" Batin Khanna.


Khanna membuka matanya menatap seorang pria yang sedang menopang tubuhnya dengan memeluk pinggangnya. Mata mereka saling beradu pandang untuk sesaat.


" Lepaskan istriku." Teriak Nervan menghampiri mereka. Dadanya bergemuruh menahan cemburu di dadanya, Ia tidak rela istrinya di sentuh oleh pria lain.


Brughhhhh....


" Awh..." Pekik Khanna saat tubuhnya mendarat ke lantai.


" Kenapa di lepas? Jadi jatuh kan aku... Sakit tahu." Gerutu Khanna mengerucutkan bibirmu.


" Aku cuma menuruti suamimu... Dia bilang suruh lepasin ya aku lepasin lah." Ucap Pria itu meninggalkan Khanna.


" Sayang maaf... Ayo bangun." Ucap Nervan mengulurkan tangannya.


Khanna menerima uluran tangan Nervan, Ia beranjak bangun tapi tiba tiba...


Brugh....


Khanna menarik kasar tangan Nervan hingga Ia jatuh ke lantai.


" Sayang kamu tega banget." Ucap Nervan sambil bangun menarik tubuh Khanna. Keduanya kini sama sama terjatuh di lantai. Nervan menggelitik perut Khanna.


" Ha ha ha ha ha.... Stop Mas... Udah berhenti." Ucap Khanna sambil tertawa terbahak bahak.


" Nggak mau suruh siapa jail.... Ampun nggak." Sahut Nervan terus menggelitik perut Khanna.


" Iya iya ampun Mas ampun.... Nggak lagi lagi." Ucap Khanna.


Nervan menghentikan gelitikannya, Mereka sama sama duduk di lantai saling menatap satu sama lain. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling dimana para pengunjung banyak yang mengerubungi mereka, Banyak yang menatap dengan tatapan iri ke arah keduanya. Nervan dan Khanna saling pandang lalu mereka tertawa bersama. Sungguh dunia terasa milik berdua.

__ADS_1


TBC.....


Jangan lupa like komentnyavote dan hadiahnya untuk author ya.... Makasih atas suport yang para readers berikan... Miss U all...


__ADS_2