Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Nervan Merajuk


__ADS_3

Sampai malam tiba Nervan bahkan belum pulang, Khanna begitu khawatir akan keadaannya, Ia sudah nenelepon Mama Sarah menanyakan keberadaan Nervan tapi Nervan tidak ada di sana.


Ceklek....


" Mas kamu pulang?" Pertanyaan aneh yang Khanna lontarkan.


" Kenapa? Apa Adek tidak ingin Mas pulang?" Sinis Nervan.


" Masss kok gitu sih, Aku udah nungguin Mas dari tadi tahu, Kenapa chatku tidak di balas?" Khanna bertanya lagi.


" Lagi malas aja." Sahut Nervan berlalu ke kamar mandi.


Khanna menghela nafasnya, Ia segera menyiapkan baju untuk suaminya. Lima belas menit kemudian Nervan keluar kamar mandi dan memakai bajunya. Nervan naik ke atas ranjang lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut sebatas dada mengabaikan Khanna.


" Mas..... Kamu marah?" Tanya Khanna duduk di tepi ranjang depan Nervan.


"Aishhh Khanna itu pertanyaan konyol, Dia pasti akan mengatakan....


" Tidak peka." Gumam Nervan.


" Nah kan belum juga selesai ngomong udah keluar kata kata keramatnya." Batin Khanna.


" Mas aku minta maaf." Khanna mengenggam tangan kanan Nervan.


" Untuk apa?" Tanya Nervan.


" Untuk.... Untuk...." Khanna menggaruk kepalanya.


Hening...


Khanna bingung mau mengatakan apa, Kata kata yang Ia susun dari tadi tiba tiba buyar. Ia mengambil nafas lalu mengeluarkannya lagi.


" Mas... Kamu salah paham padaku, Bukan maksudku untuk mengabaikan keselamatanmu, Aku yakin seandainya Reiner menembkamu kamu pasti bisa menghindarinya, Kamu penembak handal dan terlatih." Ucap Khanna.


"Aku cuma kasihan aja sama Reiner, Aku merasa bersalah karena kita dia harus meregang nyawanya, Saat itu dia sedang tersesat karena rasa sakit yang Tante Diana torehkan hingga membuat keluarganya hancur, Sebenarnya saat itu aku sedang berusaha membujuknya untuk melupakan dendamnya padamu, Aku ingin membuat dia hidup damai tanpa dendam masa lalu, Tapi sayang semuanya sudah terlambat, Dia membawa dendam dan rasa sakit itu sampai ke liang lahat, Aku bisa merasakan betapa sakit hatinya melihat kehancuran keluarganya karena aku pernah merasakannya Mas jika kau lupa." Jelas Khanna.


Deg.... Hati Nervan mencelos mendengar ucapan Khanna.


" Bayangkan saja saat itu dia masih kecil, Dia harus melihat kematian ibunya di depan mata kepalanya sendiri hanya karena kehadiran wanita lain dalam hidup ayahnya, Beruntung aku tidak senasib dengannya, Keluargaku masih utuh walau aku hanya mendengar cerita dari Kak Aroon saja tapi aku bisa merasakannya Mas, Apa yang di rasakan Reiner di rasakan Kak Aroon juga." Ucap Khanna.


" Setelah menguras harta ayahnya Tante Diana pergi meninggalkannya membuat ayahnya frustasi dan mengakhiri hidupnya sendiri, Aku hanya kasihan Mas, Apapun yang kita lakukan tidak akan mampu menghapus rasa sakit dalam hatinya, Aku tidak bermaksud menyakitimu, Maafkan aku jika aku terlihat lebih mengkhawatirkan dirinya dari pada kamu, Sekali lagi maafkan aku." Khanna mengusap air matanya.


Karena Nervan tidak bergeming, Khanna hendak bangkit tapi Nervan menarik tangannya hingga Ia jatuh di atas tubuh Nervan. Nervan membalikkan posisi hingga saat ini dia berada di atas. Ia mengusap sisa air mata di pipi Khanna. Ia mencium kedua pipi Khanna dan terakhir bibirnya.


" Maafkan Mas yang tidak bisa mengerti perasaan Adek, Mas merasa cemburu saat Adek mencemaskannya, Mas takut Adek akan meninggalkan Mas karena kasihan padanya, Atau Adek bersimpati padanya hingga rela meninggalkan Mas demi dirinya, Maafkan Mas sayang." Ucap Nervan menatap Khanna.


" Aku yang seharusnya meminta maaf padamu Mas karena aku mencemaskan pria lain yang bukan siapa siapa di depanmu hingga membuatmu terluka, Satu hal yang perlu kamu ketahui kalau aku hanya merasa iba padanya bukan karena ada perasaan lainnya." Sahut Khanna.


" Mas memaafkan Adek sayang, Adek memang wanita berhati baik, Maafkan Mas yang egois karena lebih mementingkan perasaan Mas sendiri tanpa memikirkan perasaan Adek dan Reiner." Nervan memeluk tubuh Khanna.


Lama mereka berpelukan, Nervan menatap wajah Khanna dengan tatapan penuh cinta, Ia mencium bibir Khanna dan melum*tnya dengan lembut. Khanna membalas ciuman Nervan. Suara decapan terdengar memenuhi ruangan itu. Di rasa keduanya kehabisan nafas, Nervan melepas pagutannya, Ia mengusap lembut bibir Khanna dengan Jempolnya.


" Sekarang tidurlah, Mas tahu Adek lelah, Tapi lain kali Mas tidak akan melepaskannya." Ujar Nervan.


" Makasih Mas udah mau mengerti." Sahut Khanna.


" Selamat malam." Ucap Nervan mencium kening Khanna.


" Malam Mas." Sahut Khanna.


Nervan merebahkan tubuhnya di samping Khanna sambil memeluk tubuh Khanna. Keduanya terlelap dengan tenang setelah menyelesaikan kesalah pahaman di antara keduanya.


Pagi harinya Khanna mengerjapkan matanya, Ia menatap ranjang di sisinya yang kosong, Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian Khanna sudah rapi. Ia turun ke bawah mencari suaminya. Bibirnya mengembangkan senyuman saat melihat suaminya yang sedang berkutat di dapur.

__ADS_1


" Pagi Maskuhhh." Sapa Khanna duduk di kursi meja makan.


" Pagi sayang." Sahut Nervan menghampiri Khanna lalu mencium pipi Khanna.


" Ah Mas bau masakan." Ujar Khanna menutup hidungnya.


" He he maaf Mas belum mandi." Sahut Nervan.


" Kok nggak bangunin aku sih Mas." Protes Khanna.


" Adek tidurnya pules kaya' bayi jadi Mas tidak tega mengganggu Adek." Sahut Nervan.


" Iyakah?" Tanya Khanna.


" Iya.. Adek pules karena di peluk sama Mas." Ucap Nervan.


" Nggak juga kali, Aku pules karena saking ngantuknya." Ujar Khanna.


" Iya deh, Sekarang Adek sarapan dulu Mas mau mandi." Ucap Nervan.


" Nggak mau, Kita makan bareng aja." Ujar Khanna.


" Baiklah sayangku just for U." Sahut Nervan.


Khanna mulai mengambilkan makanan untuk Nervan. Setelah itu mereka makan berdua dengan khidmat.


" Hari ini apa Adek ada jadwal?" Tanya Nervan.


" Sebenarnya mau ke kota B sih Mas." Ujar Khanna.


" Lalu?" Tanya Nervan.


" Besok aja lah hari ini aku mau ke rumah Mama Alfi dulu, Lagian korban yang di sana sudah di tangani sama asistenku." Ucap Khanna.


" Hmm." Gumam Khanna.


Nervan meninggalkan Khanna untuk bersiap sedang Khanna mencuci piring kotor bekas makan mereka.


" Ayo." Ajak Nervan.


" Cepet bener Mas." Ucap Khanna.


" Kasihan Adek kalau lama nunggunya." Sahut Nervan.


Keduanya duduk di mobil Nervan, Mereka menuju rumah Papa Sakti. Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Mereka sampai di kediaman orang tua Khanna. Keduanya segera masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum Ma." Ucap Khanna menghampiri Mama Alfi yang sedang duduk di ruang tamu.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Mama Alfi.


Keduanya menyalami Mama Alfi dengan takzim.


" Bagaimana kabar kalian?" Tanya Mama Alfi.


" Baik Ma." Sahut keduanya bersamaan.


" Ayah mana Ma?" Tanya Nervan.


" Ayahmu sedang menemani Pak Burhan ke kantor Bupati." Sahut Mama Alfi.


" Owh." Gumam Nervan.


" Mama tidak tahu tentang penculikan yang terjadi padamu Khan, Papamu benar benar pandai menyembunyikannya dari Mama." Ujar Mama Alfi.

__ADS_1


" Khan nggak pa pa kok Ma, Reiner tidak menyakiti Khan." Ucap Khanna.


" Syukurlah." Sahut Mama Alfi.


" Kamu tidak kerja Van?" Mama gantian bertanya pada Nervan.


" Free Ma, Mau ngajak Khan jalan." Sahut Nervan.


" Kemana?" Tanya Khanna.


" Kemanapun Adek mau." Sahut Nervan membuat pipi Khanna memerah, Entah kenapa ucapan Nervan membuat hatinya menghangat.


Ketiganya terlibat dalam perbincangan hangat layaknya keluarga harmonis dan bahagia. Sore harinya Khanna dan Nervan pamit untuk pulang.


" Mau mampir kemana?" Tanya Nervan fokus melajukan mobilnya.


" Mau ke taman kota aja gimana?" Usul Khanna.


" OK kita pacaran di sana seperti pasangan lainnya." Sahut Nervan konyol.


Sesampainya di taman keduanya duduk di kursi panjang menikmati suasana sore yang ramai dengan anak anak yang sedang bermain di sana.


" Kalau kita punya anak nanti kira kira lucu kaya' mereka nggak ya Dek?" Ujar Nervan menatap anak anak yang sedang bermain di depan sana.


" Mungkin." Sahut Khanna singkat.


" Khannaaaaa." Teriak seseorang menghampiri Khanna.


" Dea." Ucap Khanna.


" Ahhh akhirnya kita bisa bertemu di sini lagi." Keduanya saling berpelukan.


" Eh bentar bentar, Ini kan Kakak Lo yang Lo bilang jelek, Sombong, Angkuh, Suka ngerebut milik Kak Aroon, terus yang suka cari cari perhatian bonyok Lo, Dan yang paling Lo benci itu kan?" Cerocos Dea. Khanna segera membekap mulut Dea dengan tangannya.


" Stttt diam." Bisik Khanna.


" Eh Lo tahu nggak cowok yang Lo suka sekarang udah jadi Dokter lho di rumah sakit kota, Siapa namanya aku lupa?." Ucap Dea sambil mengingat nama itu. Khanna memberi kode pada Dea untuk diam tapi dasarnya si Dea gelo Ia justru nyerocos tiada henti.


" Ah iya Kak Derry... Dia udah jadi Dokter Sist... Lo samperin aja dia di rumah sakit, Lo pura pura sakit lalu nemuin dia, Minta nomer ponselnya, Terus ajak ngedate dan langsung bilang Kak Derry I Love U." Teriak Dea yang masih terus nyerocos sedangkan Khanna hanya bisa menepuk jidatnya.


Nervan yang merasa cemburu langsung meninggalkan Khanna dan temannya. Entah mengapa Ia tidak suka Khanna mengagumi pria lain walaupun mungkin itu di masa lalu. Ia juga tidak suka karena Khanna menjelek jelekkannya di depan temannya. Apalagi Khanna bilang padanya jika Khanna sudah menyukainya sejak lama. Benar benar childish si Nervan.


" Dea stop." Bentak Khanna membuat Dea diam.


" Kenapa? Bukankah ini info penting buatmu." Tanya Dea polos.


" Lo tahu nggak sih tadi itu suami gue." Ucap Khanna.


" What????" Pekik Gea menutup mulutnya.


" Bukannya dia kakak Lo ya?" Tanya Dea nyengir.


" Dia kakak angkat gue dulu tapi sekarang dia suami gue paham." Tekan Khanna meninggalkan Dea yang masih melongo.


" Ah alamat ngebujuk Mas Nervan lagi nih, Kenapa juga Mas Nervan sekarang cemburuan banget? Apa sebenarnya dulu juga cemburuan ya? Cuma dia tidak bisa menunjukkan kecemburuannya saja." Gerutu Khanna dalam hati.


TBC.....


*Jangan lupa like dan komentnya ya...


Makasih buat yang udah dukung author..


Miss U All*

__ADS_1


__ADS_2