
Khanna memutuskan untuk langsung kembali ke kota J, Sesampainya di rumah Nervan memarkirkan mobilnya ke garasi. Khanna turun dari mobil berjalan membuka pintu rumahnya, Saat Khanna mendorong pintunya tiba tiba...
Brugh....
" Sayang." Pekik Nervan menghampiri Khanna yang sudah tergeletak di lantai.
Nervan membopong tubuh Khanna menuju kamarnya, Ia membaringkan tubuh Khanna dengan perlahan di atas ranjang.
" Sayang bangun sayang." Ucap Nervan menggosok telapak tangan Khanna.
Nervan mengambil semacam minyak angin lalu Ia hirupkan ke hidung Khanna. Khanna tak bergeming. Nervan ingat sesuatu Ia segera mengotak atik ponselnya hingga sekitar lima belas menit pesanannya datang. Nervan memijat telapak kaki Khanna dengan sedikit keras dan tak lama setelah itu Khanna mengerjapkan matanya.
" Sayang kamu sudah sadar? Sekarang minum dulu." Ucap Nervan membantu Khanna minum.
" Pusing Mas." Ujar Khanna.
" Iya Adek tadi lupa belum makan jadinya pusing terus pingsan deh,Tunggu Mas ambilkan makanan dulu ya tadi Mas udah delivery." Ujar Nervan yang di balas anggukan kepala oleh Khanna.
Nervan berjalan meninggalkan kamarnya menuju dapur untuk mengambil makanan. Setelah siap Ia kembali ke kamarnya.
" Sayang makan dulu." Ucap Nervan menghampiri Khanna sambil membawa nampan berisi makanan.
Nervan membantu Khanna duduk bersandar pada headboard.
" A'." Nervan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Khanna.
" Makan yang banyak biar sehat ya ini bubur ayam kesukaan Adek lhoh." Ujar Nervan.
" Iya Mas." Sahut Khanna.
Suapan demi suapan Khanna terima sampai tiba tiba...
Huek....
Khanna menutup mulut dengan tangannya, Ia langsung berlari ke wastafel kamar mandi memutahkan semua isi perutnya hingga tak tersisa.
Huek.... Huek...
Nervan menghampiri Khanna lalu Ia memijat tengkuk Khanna dari belakang.
" Mas minggir ini menjijikkan." Ucap Khanna membasuh mulutnya dengan air.
" Mas tidak merasa jijik sayang, Udah baikan?" Tanya Nervan.
" Udah Mas." Sahut Khanna.
" Ayo kembali ke ranjang." Ucap Nervan.
Nervan menggendong tubuh Khanna ala bridal style, Khanna mengalungkan tangannya ke leher Nervan, Sampai di ranjang Nervan membaringkan tubuh Khanna dengan hati hati.
" Asam lambung Adek sepertinya kambuh, Mas ambilin obat dulu ya." Ujar Nervan mengambil obat di kotak p3k.
Nervan sangat paham dengan kondisi Khanna saat ini, Khanna akan mengalami hal seperti ini jika Ia telat makan. Semua terjadi sejak Ia masih SMP. Khanna tipikal orang yang susah makan.
" Ini minum dulu." Ucap Nervan memberikan obat cair kepada Khanna.
" Makasih Mas." Ucap Khanna.
" Tidurlah setelah agak mendingan nanti Adek bisa makan lagi." Ujar Nervan menyelimuti tubuh Khanna.
" Makasih Mas." Ucap Khanna.
" Sama sama sayang." Sahut Nervan mencium kening Khanna.
Nervan duduk di samping Khanna sambil memangku laptopnya, Ia harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Khanna mencoba memejamkan matanya tapi Ia tidak bisa tidur. Ia membolak balikkan tubuhnya mencari posisi nyaman tapi tidak ketemu juga. Semua posisi serba salah menurutnya.
Melihat istrinya yang gelisah Nervan meletakkan laptopnya ke atas nakas. Ia berbaring di samping Khanna lalu memeluknya, Lengan Nervan menjadi bantalan kepala Khanna. Lima menit kemudian terdengar dengkuran halus di telinga Nervan. Sepertinya Khanna sudah terlelap, Nervan pun ikut memejamkan matanya.
Sore ini Nervan sedang berkutat di dapur, Ia membuatkan bubur nasi untuk Khanna. Setelah selesai Ia menuangkan bubur itu ke dalam mangkok lalu membawanya ke kamar.
Ceklek...
Nervan masuk ke dalam menghampiri Khanna yang sedang terlelap di atas ranjangnya. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas.
" Sayang bangun makan dulu." Ucap Nervan mengguncang pelan bahu Khanna.
__ADS_1
" Sayang bangun." Nervan mencoba membangunkan Khanna lagi.
" Iya Mas." Gumam Khanna mengerjapkan matanya malas.
" Bangun dulu makan ya." Ujar Nervan.
" Aku malas makan Mas takut muntah lagi." Sahut Khanna.
" Sedikit aja sayang kalau tidak makan entar perut kamu sakit." Bujuk Nervan.
Mau tidak mau Khanna menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang bersandar beberapa bantal. Nervan menyuapi Khanna dengan telaten, Sesekali Ia mengusap ujung bibir Khanna yang kotor.
" Udah Mas." Ucap Khanna.
" Baiklah sayang." Sahut Nervan.
Ting tong...
" Sepertinya ada tamu, Mas buka pintu dulu ya." Ujar Nervan.
Nervan turun ke bawah berjalan menuju pintu.
Ceklek....
" Kakak." Pekik Alia memeluk Nervan.
" Sayangnya Kakak." Nervan menggendong Alia.
" Turunin Kak aku udah besar." Ketus Alia.
" Baiklah." Nervan menurunkan Alia.
" Silahkan masuk Pa Ma" Ujar Nervan menyalami kedua orang tuanya.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu.
" Kak Khan mana Kak?" Tanya Alia.
" Kak Khan di kamar, Dia lagi sakit." Sahut Nervan.
" Asam lambungnya kambuh Ma, Dia tadi tidak sarapan jadi pingsan deh." Sahut Nervan.
" Haduh kok bisa sih." Ujar Mama Sarah.
" Iya Ma tadi keburu pergi ke kota B." Sahut Nervan.
" Besok lagi kalau mau pergi sarapan dulu biar nggak kaya' gini." Ujar Mama Sarah.
" Iya Ma." Sahut Nervan.
" Boleh aku ke kamar Kak Khan Kak?" Tanya Alia.
" Boleh kamarnya di atas ya." Ujar Nervan.
" Iya aku tahu." Sahut Alia.
Alia segera berjalan menuju kamar Khanna.
" Apa belum ada tanda tanda kehamilan untuk Khanna Van?" Tanya Papa Reno.
" Belum Pa, Doakan semoga kami cepat mendapatkan momongan." Ucap Nervan.
" Amien." Sahut Mama Sarah dan Papa Reno.
" Mama ke kamar Khan dulu ya mau jenguk mantu Mama." Ucap Mama Sarah.
" Silahkan Ma." Sahut Nervan.
Mama Sarah berjalan menuju kamar Khanna. Ia membuka pintu kamarnya.
" Sayang." Ucap Mama Sarah menghampiri Khanna.
" Mama, Apa kabar Ma?" Tanya Khanna sambil menyalami Mama Sarah.
" Baik sayang... Semoga kamu cepat sembuh ya." Ujar Mama Sarah.
__ADS_1
" Makasih Ma." Sahut Khanna.
" Kak Khan, Kapan Kak Khan punya Adek bayi?" Tanya Alia polos.
Khanna dan Mama Sarah saling tatap. Bibir Khanna kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Alia karena Ia juga tidak tahu kapan Ia akan punya bayi.
" Kita doakan saja semoga Kak Khan segera di beri momongan ya sayang." Ujar Mama Sarah.
" Iya Ma, Ya Allah segera beri Kak Khan dedek bayi yang lucu, Amien." Doa Alia yang di amini Khanna dan Mama Sarah.
Mereka bertiga berbincang hingga menjelang malam. Kedua orang tua Nervan dan Alia pamit pulang.
" Sayang apa Adek mau bobok?" Tanya Nervan merebahkan tubuhnya di samping Khanna.
" Nanti aja Mas belum ngantuk." Sahut Khanna.
" Hmm" Gumam Nervan.
Drt.... Drt....
Ponsel Nervan bergetar tanda panggilan masuk. Ia mengambil ponselnya lalu menatap ID pemanggil. Satu nomer baru Nervan mengernyitkan dahinya.
" Siapa Mas?" Tanya Khanna.
" Nomer baru Dek." Jawab Nervan.
" Coba lihat." Ucap Khanna merebut ponsel Nervan.
" Ppnya cewek." Sambung Khanna.
Khanna mengangkat teleponnya lalu menyalakan tombol loudspeakernya. Terdengar suara wanita yang sedang nyerocos di sebrang sana.
Halo Van kenapa kamu nggak datang datang? Aku udah dari tadi nungguin kamu lhoh, Bahkan pesananku sampai dingin, Gimana sih kamu yang ngajak ketemuan tapi kamu juga yang nggak datang, Aku kecewa sama kamu, Besok aku samper ke kantor aja, Malam
Panggilan di matikan dari sebrang sana. Khanna menatap tajam ke arah Nervan membuat Nervan menundukkan kepala.
" Pergi temui dia jangan buat dia kecewa." Sindir Khanna.
" Jangan salah paham sayang, Dia sekretarisku kami janji ketemu untuk merampungkan laporan bulan kemarin yang sudah tertunda selama satu bulan ini." Jelas Nervan.
" Wow ternyata tidak hanya Papa yang butuh sekretaris, Ah iya aku lupa bahkan aku juga butuh sekretaris, Ya udah Mas segera temui dia selesaikan pekerjaan kalian." Ucap Khanna.
" Besok aja." Sahut Nervan.
" Iya bener juga, Sekarang udah malam kalau besok bisa lebih leluasa." Ujar Khanna.
" Sayang kok ngomongnya gitu sih? Beneran ini hanya masalah pekerjaan Dek, Mas tidak ada hubungan apa apa sama dia, Setelah pekerjaan ini selesai Mas akan hentikan dia, Mas tidak butuh sekretaris lagi." Terang Nervan.
" Terserah kamu Mas itu pekerjaan kamu kok." Sahut Khanna.
Khanna menyelimuti tubuhnya, Ia berbaring membelakangi Nervan membuat Nervan menghela nafasnya.
Drt... Drt...
Gantian ponsel Khanna yang berdering, Khanna beranjak duduk di tepi ranjang menatap ponselnya.
" Kak Derry." Gumam Khanna yang masih si dengar Nervan.
Nervan menghampiri Khanna dan langsung merebut ponsel dari tangan Khanna.
" Tidur." Ucap Nervan dingin.
" Balikin ponselnya." Ucap Khanna.
" Mas bilang tidur sekarang, Jangan bantah." Ucap Nervan sambil menonaktifkan ponsel Khanna.
" Egois." Cebik Khanna menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Malam ini Khanna tidur dengan membawa rasa kesalnya pada Nervan suaminya.
**TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author ya ....
Terima kasih atas suport yang para readers berikan...
__ADS_1
Miss U All**....