Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Kemarahan Aroon


__ADS_3

Aroon turin dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, Dimana Papa dan Mamanya sedang duduk santai di ruang keluarga sambil nonton tv. Aroon segera menghampiri mereka.


" Assalamu'alaikum Ma Pa." Ucap Aroon menyalami tangan kedua orang tuanya dengan takzim.


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Mama Alfi.


" Gimana kabarnya Ma Pa?" Tanya Aroon sambil duduk di sebelah Papanya.


" Baik sayang... Kamu sendiri gimana? Apa kamu tidak merepotkan Papa Shiv?" Tanya Papa Sakti.


" Seperti yang Papa lihat, Aku baik baik saja, Aku di sana membantunya Pa jadi nggak akan merepotkan, Papa Shiv palah senang aku tinggal di sana." Jawab Aroon.


" Kapan Papamu yang satu itu mau membina rumah tangga? Bilang padanya umurnya sudah tua kalau di tunda nanti keburu masuk liang." Ujar Papa Sakti.


" Kaya'nya udah nggak minat Pa, Mungkin nggak bisa move on dari Mama." Sahut Aroon asal.


" Sialan kamu.... Apa kamu mau jadi mak comblangnya?" Ujar Papa Sakti.


" Kalau Mama mau kenapa tidak? Ide yang bagus." Sahut Aroon.


" Awas aja kalau sampai itu terjadi, Papa tidak akan pernah mau memaafkanmu." Ketus Papa.


" Ya kalau Mamanya sendiri yang mau gimana donk? Lagian kan Papa Shiv baik.. Udah baik, Ganteng, Banyak uang pula." Ucap Aroon.


"Dasar anak lakna*t." Maki Papa Sakti.


" Udah udah... Lagian aku juga nggak mau Mas sama Mas Shiv, Kalau aku mau udah dari dulu juga, Nggak mungkin ada Khanna." Ucap Mama Alfi menengahi.


" Makasih Yank, Kesetiaanmu memang tak perlu di ragukan." Ucap Papa Sakti.


" Panggilannya di ubah kenapa Pa? Risih telinga Aroon mendengarnya." Protes Aroon.


" Ya biarin aja.. Biar romantis." Sahut Papa Sakti.


" Romantis romantis kaya' ABG aja, Ingat umur Pa... Papa udah tuirrrr." Ejek Aroon.


" Halah... Sebenarnya kamu iri kan? Makanya buruan cari pasangan biar ada yang di panggil sayang... Biar nggak ngrecokin orang tua mulu." Balas Papa Sakti.


" Nggak ya.... Nanti nunggu ada yang sreg di hati baru Aroon pepet, Aroon ajak nikah saat itu juga Pa." Sahut Aroon.


" Keburu tua... Keburu mati tuh burung." Ejek Papa Sakti menatap bagian bawah Aroon.


" Nggak bakalan bisa mati burung Aroon Pa... Dia panjang usia nggak kaya' punya Papa yang sudah loyo... Padahal baru berumur setengah abad." Sahut Aroon gantian mengejek Papanya.


" Eh jangan ngehina ya... Biar tua begini masih bisa membuat Mamamu berteriak mendes*h memanggil nama Papa." Ujar Papa Sakti.


" Stop...Stop... Stop.. Apa apaan kalian sih? Ngomongnya ngelantur kemana mana." Pekik Mama Alfi.


" Anakmu duluan." Ucap Papa.


" Papa duluan yang ngejek Aroon." Sahut Aroon.


" Sudah... Kalau Mama bilang stop ya stop.. Diam... Ganti topik yang lain." Ujar Mama.


" Oh ya apa Nervan dan Khan di sini Ma? Kok Aroon lihat mobil Nervan di depan." Tanya Aroon karna tadi Ia melihat mobil Nervan di halaman rumah.

__ADS_1


" Iya." Sahut Papa Sakti.


" Dimana mereka Ma?" Tanya Aroon menatap ke arah Mama Alfi.


" Mereka sedang istirahat di kamar." Sahut Mama Alfi.


Aroon segera beranjak berjalan meninggalkan kedua orangtuanya.


" Aroon jangan ganggu mereka." Ucap Mama Alfi, Aroon tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan sampai tiba di depan kamar Khanna.


Ceklek....


Aroon membuka pintunya, Ia menatap kedua pasang suami istri yang sedang tidur berpelukan di bawah selimut, Dan betapa murkanya Aroon saat melihat baju Khan dan Nervan teronggok di lantai. Aroon yakin telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.


" Khanna." Teriak Aroon.


" Khanna bangun." Teriak Aroon lagi karna tidak ada pergerakan dari Khanna maupun Nervan.


Mendengar teriakan seseorang Khanna dan Nervan mengerjapkan matanya, Mereka menoleh ke arah suara secara bersamaan.


" Apa yang kamu lakukan Khan?" Bentak Aroon.


" Kak Aroon..." Ucap Khanna.


" Kakak tidak menyangka kamu semurahan ini, Kakak kecewa sama kamu, Bisa bisanya kamu melayani hasrat pria bajingan ini, Jangan pernah anggap aku Kakakmu lagi, Aku memutuskan hubungan ini." Teriak Aroon.


" Kak jangan Kak... Dengarkan penjelasanku." Ucap Khanna duduk di atas ranjang dengan melilitkan selimut ke tubuhnya, Sedang Nervan langsung bangun memunguti bajunya berlari ke kamar mandi.


" Aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi, Yang jelas aku sudah tidak mempunyai adik sepertimu lagi." Bentak Aroon sambil pergi dari kamar laknat itu menurutnya. Ia menutup pintu dengan kasar. Aroon berjalan menuruni tangga dengan tergesa. Hatinya mendidih melihat adiknya telah terperdaya oleh Nervan. Ia sangat kecewa dan menyayangkan apa yang terjadi dengan Khanna.


" Tidak apa Ma." Jawab Aroon melanjutkan langkahnya kelua rumah orang tuanya.


" Aroon tunggu." Ucap Papa Sakti.


Aroon tidak memggubrisnya, Ia masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan kecepatan kencang.


" Ada apa ini Pa?" Tanya Mama Alfi kepada Papa Sakti.


" Pasti terjadi sesuatu di dalam sana Ma." Sahut Papa Sakti.


" Apa??????" Ucap Mama Alfi menggantung.


" Hmmm sepertinya kita akan segera punya cucu." Ujar Papa Sakti.


" Ahhh senengnya Mama... Akhirnya Khan mau menerima Nervan." Ucap Mama Alfi dengan mata berbinar.


" Katanya Khan nggak mau nerima Nervan, Giliran dah dapet enaknya mau dia." Ujar Papa Sakti.


" Ya nggak masalah Pa.. Yang penting dah halal ini." Sahut Mama Alfi.


Sedangkan di dalam kamar,


" Hiks....Hiks... Apa yang sudah aku lakukan." Isak Khanna yang masih duduk menekuk lututnya di atas ranjang.


Ceklek...

__ADS_1


Nervan keluar dari kamar mandi dengan muka yang lebih fresh. Ia menghampiri Khanna lalu duduk di sampingnya.


" Dek.... Maafin Mas." Ucap Nervan menyentuh pundak Khanna.


" Jangan sentuh aku." Ucap Khanna dingin.


" Maafin Mas Dek... Mas nggak bisa ngontrol diri Mas, Padahal Mas sudah lama menahannya, Tapi maaf hari ini Mas terbawa suasana, Maafin Mas ya." Ucap Nervan lembut


" Hiks...Hiks... Aku sudah menghancurkan hidupku sendiri... Aku tidak hanya kehilangan kehormatanku tapi aku juga kehilangan Kakakku.. Hiks Hiks.. Aku menyesalinya... Aku menyesal karna aku sudah memberikan sesuatu yang selama ini aku jaga kepada orang yang paling di benci Kakakku.... Aku menyesalinya..." Isak Khanna.


"Mas mohon sayang...Jangan pernah bilang kamu menyesali apa yang terjadi kepada kita hari ini, Bagaimanapun kita suami istri Dek, Itu hal yang wajib di lakukan oleh seorang istri kepada suaminya, Jangan menyesalinya agar jika dia tumbuh Ade bisa menerimanya dengan bahagia." Ujar Nervan berharap kehadiran buah hatinya agar bisa menguatkan hubungan mereka.


" Tapi aku benar benar menyesalinya." Teriak Khanna.


" Aku bodoh... Bagaimana bisa aku larut dalam buaian pria yang di hatinya masih mencintai wanita lain? Benar kata Kak Aroon, Aku murahan... Aku wanita murahan... Aku membenci diriku sendiri... Aku benci." Ucap Khanna sambil memukuli tubuhnya.


" Sayang jangan sakiti dirimu...." Ucap Nervan memeluk Khanna.


" Bagaimana jika setelah ini kamu meninggalkan aku? Bagaimana jika setelah ini kamu kembali dengan Safita? Apa yang akan terjadi kepadaku dengan status janda yang sudah ternoda?" Racau Khanna.


" Jangan pernah sakiti dirimu sendiri sayang... Dengarkan Mas..." Ucap Nervan melepas pelukannya, Lalu Ia menangkup wajah Khanna dengan kedua tangannya.


" Dengarkan dan pahami kata kata Mas.." Ucap Nervan. Khanna menatap mata Nervan dengan dalam. Tumbuh rasa ketakutan kehilangan Nervan dalam hatinya.


" Mas tidak akan pernah meninggalkanmu sayang..." Ujar Nervan.


" Benarkah?" Tanya Khanna.


" Iya... Mas berjanji dengan nyawa Mas sendiri kalau Mas tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi." Jawab Nervan.


" Lalu cintamu dengan Safita?" Tanya Khanna.


" Jujur... Mas sama sekali tidak mencintai Safita." Jujur Nervan.


" Lalu kenapa kemarin kamu bilang kalau kamu mencintainya?" Tanya Khanna.


" Mas hanya sedang mengelak dari tuduhanmu saja." Ujar Nervan.


" Lalu.. Siapa yang kamu cintai?" Tanya Khanna.


" Kamu." Jawab Nervan tegas.


Deg.... Hati Khanna berdesir mendengar kata kamu dari mulut Nervan. Benarkah yang di katakan Nervan? Atau hanya karna rasa bersalah Nervan saja.


" Kau tidak sedang berbohong?" Tanya Khanna memastikan.


" Tidak sayang.... Mas mengatakan yang sebenarnya, Mas memang mencintaimu." Ungkap Nervan.


" Apa karna kamu sudah mengambil kehormatanku? Makanya kamu bilang begitu untuk menutupi rasa bersalahmu?" Ucap Khanna. Nervan mengacak rambut Khanna.


" Adek Mau mendengar kejujuran Mas?" Tanya Nervan. Khanna menganggukkan kepalanya.


" Apa setelah Mas jujur Adek tidak tambah membenci Mas?" Tanya Nervan. Khanna menggelengkan kepalanya.


" Baiklah dengarkan Mas dengan baik....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2