Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Penjelasan


__ADS_3

Hari hari berlalu tapi hubungan Nervan dan Khanna masih sama. Khanna masih membentengi dirinya dengan kebencian yang Ia tanam sejak dulu untuk suaminya. Sejak saat itu, Richard kembali hadir menganggu hidup Khanna. Setiap hari Ia ke Cafe Khanna untuk meminta maaf dan meminta Khanna kembali padanya. Hari ini Khanna kembali membuat Nervan salah paham, Richard yang tiba tiba datang lalu memeluk Khanna dari belakang membuat Nervan marah, Nervan merasa jika Khanna dan Richard kembali menjalin hubungan di belakangnya. Nervan mendorong pintu dan langsung menarik tangan Khanna menuju mobilnya. Sesampainya di rumah, Nervan segera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri di kamar mandi mencoba meredam emosinya. Sedangkan Khanna membantu Mama Sarah memasak di dapur.


" Khan sudah kamu mandi saja, Biar Mama yang menyelesaikannya." Ujar Mama Sarah.


" Nggak pa pa Ma sambil nunggu Mas Nervan mandi juga." Sahut Khanna sambil membantu memotongi sayuran.


" Oh ya Ma, Alia kapan pulangnya?" Tanya Khanna menatap Mama Sarah.


" Mungkin besok sore Khan." Sahut Mama Sarah.


" Oh Khan udah kangen Ma." Ujar Khanna.


" Kalau Mama sih udah biasa di tinggal juga, Alia betah banget kalau di rumah neneknya." Sahut Mama Sarah.


" Gimana hubungan kamu sama Nervan Nak?" Tanya Mama Sarah.


" Maksud Mama?" Khanna menatap Mama Sarah.


" Ya hubunganmu, Apakah ada kemajuan atau tidak sampai hari ini, Mungkin rasa benci itu perlahan sudah kamu hilangkan misalnya." Ujar Mama Sarah. Khanna tersenyum kecut.


" Khan sedang berusaha Ma." Sahut Khanna.


" Syukurlah Mama harap kamu bisa menerima Nervan dengan setulus hati, Dia anak yang baik makanya Mama kamu begitu menyayanginya, Mama kadang kasihan padanya yang salah Diana tapi yang harus menanggung kebencian Nervan." Ujar Mama Sarah dengan berkaca kaca.


"Sudahlah Ma jangan di pikirkan biarkan saja semuanya mengalir dengan sendirinya." Sahut Khanna.


Mereka sibuk menyelesaikan masakan yang akan di hidangkan untuk makan malam. Setelah selesai Mama Sarah menatanya di atas meja. Sedang Khan kembali ke kamarnya.


Ceklek....


Khanna membuka pintu kamarnya, Ia langsung menuju almari mengambil baju ganti tanpa menghiraukan Nervan yang sedang duduk di sofa, Ia sibuk dengan laptop di depannya. Khanna segera mandi dan mengambil wudhu untuk shalat maghrib.


Setelah shalat Isya Khanna dan Nervan turun ke bawah menuju meja makan.


" Malam Ma Pa." Sapa Khanna.

__ADS_1


" Malam sayang." Balas Mama Sarah.


" Malam." Sahut Papa Reno.


" Ayo kita mulai makannya." Ucap Mama.


Mama Sarah segera mengambilkan makanan untuk Papa Reno, Begitupun dengan Khanna, Ia mengambilkan makanan untuk Nervan. Mereka makan dengan khidmat.


" Pa... Aku berencana untuk pindah rumah, Kami ingin belajar mandiri dan bertanggung jawab dengan rumah tangga kami." Ucap Nervan. Khanna menoleh ke arahnya.


" Ckk buat apa sih pindah rumah, Aku malas kalau hanya tinggal berdua dengannya, Lagian apa maksudnya coba ngambil keputusan tanpa meminta pendapatku." Gerutu Khanna dalam hati.


" Kalau Papa terserah kamu saja, Mau pindah kemana?" Tanya Papa Reno.


" Nervan pindah ke kompleks perumahan asri Pa." Jawab Nervan.


" Baiklah Papa mengijinkannya, Semoga setelah kalian tinggal berdua akan membawa perubahan untuk hubungan kalian." Ujar Papa Reno.


" Makasih Pa." Sahut Nervan.


Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar. Khanna duduk di atas ranjang dengan punggung bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya. Nervan menghampirinya, Ia duduk di sebelah Khanna.


" Soal apa?" Tanya Khanna tanpa memalingkan tatapannya dari ponselnya.


" Soal Richard yang setiap hari datang ke Cafemu." Sahut Nervan.


" Bukankah sudah ku bilang jangan campuri urusan pribadiku? Kenapa ingin tahu?" Ketus Khanna. Nervan menghela nafasnya, Jika sudah seperti ini Ia harus mengeluarkan stok kesabaran ekstra.


" Aku mau tahu saja bagaimanapun aku suamimu, Kamu tanggung jawabku Dek, Kalau ada apa apa yang terjadi padamu aku lah orang pertama yang akan di salahkan Orang tua kita." Ujar Nervan lembut.


" Bukankah tidak terjadi apa apa? Nggak usah berlebihan seperti itu." Sahut Khanna.


" Kalau tadi aku tidak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi padamu Dek, Apa kamu memang sengaja ingin melakukannya dengannya?" Nervan menatap ke arah Khanna yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Kau menuduhku?" Tanya Khanna.

__ADS_1


" Kalau suami bicara tatap Dek jangan sibuk mainan HP." Ucap Nervan.


" Apasih nggak penting banget." Gerutu Khanna.


" Buatmu nggak penting, Tapi buatku ini penting." Nervan merebut ponsel Khanna.


" Apasih balikin sini." Ucap Khanna mencoba merebut kembali ponselnya. Nervan segera menyembunyikannya di belakang punggungnya.


Khanna terus mencoba merebut kembali ponselnya, Tanpa Ia sadari kini Khanna memeluk tubuh Nervan membuat jantung Nervan berdetak kencang.


" Aroma maskulin ini membuat hatiku tenang..." Batin Khanna.


Khanna mendongak, Wajahnya tepat di bawah wajah Nervan, Mereka saling beradu pandang. Jantung Khanna deg degan tak karuan menatap mata indah milik suaminya.


"Ada apa dengan jantungku?... Apakah aku punya kelainan jantung? Kenapa jantungku rasanya berdebar seperti ini." Ujar Khanna dalam hati.


"Dek bibirmu begitu menggoda iman Mas... Ingin rasanya Mas mengecupnya, Eh tapi tidak pa pa kan? Dah halal ini." Gumam Nervan dalam hati.


Nervan menundukkan wajahnya, Khanna memejamkan mata... Tiba tiba... Cup.... Nervan mengecup bibir Khanna. Khanna langsung membuka lebar matanya, Ia menatap tajam ke arah Nervan lalu membenarkan posisinya. Ia jadi salah tingkah sendiri.


"Ciuman pertama gue... Kenapa rasanya begitu lembut? Bahkan benda kenyal itu rasanya masih menempel di bibirku.... Sadar Khanna sadar... Dia orang yang kamu dan Kak Aroon benci..." Gumam Khanna dalam hati.


" Maaf... Kamu tidak marah kan Dek?" Tanya Nervan menangkup wajah Khanna dengan kedua tangannya.


" Apaan sih Mas... Kamu udah nyuri ciuman pertama gue.." Cebik Khanna menepis tangan Nervan. Hati Nervan berbunga mendengar ini adalah ciuman pertama bagi Khanna.


" Sama Dek.. Itu juga ciuman pertama buat Mas." Sahut Nervan.


" Lain kali nggak ada kontak fisik, Suka banget nyuri nyuri peluang seperti....." Khanna menjeda kalimatnya menoleh ke arah Nervan.


" Aku nggak mau bahas masa lalu.... Bukankah selama ini kamu sudah membalasnya? Apa kurang selama ini aku menebus kesalahan itu?" Ucap Nervan dengan nada tinggi.


" Bahkan walaupun kau tebus dengan seumur hidupmu tetap kurang Mas, Kau menyebabkan Papa dan Mamaku berpisah selama bertahun tahun, Karna ibumu Kakakku dan Mamaku menderita, Semua karna kamu dan ibumu Mas." Sinis Khanna.


" Saat itu aku tidak tahu apa apa Dek, Yang aku tahu Ayah Sakti adalah Ayahku, Aku tidak tahu kalau ternyata ibuku membohongiku, Jika aku tahu aku tidak akan pernah menganggap Ayah Sakti sebagai Ayah kandungku... Maafkan aku.. Maafkan aku yang sudah membuat keluargamu hancur... Tuhan sudah menghukumku dengan mengambil ibuku saat itu, Aku menjadi yatim piatu, Saat Ayah Sakti dan Mama Alfi membawaku ke rumah aku sudah mengetahui semuanya, Aku tahu jika aku bukan anak kandung Ayah Sakti." Jelas Nervan dengan mata nanar. Khanna menatap ke arah Nervan. Ia ingin mendengar cerita versi Nervan, Karna selama ini Ia hanya mendengar Versi Aroon saja.

__ADS_1


" Aku bahkan selalu menghindar dari perhatian dan kasih sayang yang mereka berikan kepadaku, Karna apa? Karna aku selalu menjaga perasaan Bang Aroon Dek, Saat kami sama sama pergi ke Mall, Apa pernah aku meminta sesuatu? Tidak... Bahkan aku selalu menolak apa yang Ayah dan Mama tawarkan kepadaku, Aku tidak mau membuat Bang Aroon semakin membenciku, Saat Bang Aroon mendapat nilai jelek, Aku selalu menukarnya dengan nilaiku yang bagus agar Ayah dan Mama tidak memarahi Bang Aroon, Apa semua itu masih kurang?" Tanya Nervan menatap Khanna yang sedang menatapnya juga. Ya Nervan memang anak pandai Ia bisa mengikuti pelajaran dengan mudah dalam beberapa bulan saja, Hingga Papa Sakti menaikkannya ke kelas Aroon.


TBC.....


__ADS_2