Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Kedatangan Aroon


__ADS_3

Khanna turun ke bawah mengambil sarapan untuk Nervan dan dirinya. Di sana sudah ada ada Mama Sarah dan Papa Reno yang sedang menunggunya.


" Pagi Ma Pa." Sapa Khanna.


" Pagi Khan." Sahut Mama Sarah.


" Pagi." Sahut Papa Reno.


" Ma... Maaf, Mas Nervan tidak ikut sarapan di sini, Khan bawa ke kamar aja sarapannya ." Ucap Khanna.


" Kenapa? Apa dia sakit?" Tanya Mama Sarah.


" Mas Nervan cuma demam aja Ma, Sekarang udah baikan kok." Jawab Khanna sambil mengambil makanan. Ia menata satu piring makanan dan segelas jus jeruk di atas nampan.


" Oh... Syukurlah." Sahut Mama Sarah.


" Khan ke atas dulu ya Ma." Ujar Khanna.


" Iya silahkan." Sahut Mama Sarah.


Khanna kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya. Ia membuka pintu pelan, Khanna menghampiri Nervan yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang. Nervan menatap ke arahnya.


" Sarapan dulu Mas." Ucap Khanna duduk di sebelah Nervan.


" Mas malas makan Dek, Rasanya tangan Mas lemas buat nyendok makanan." Dalih Nervan.


" Aku suapin." Ujar Khanna.


Mata Nervan berbinar mendengar Khanna mau menyuapinya.


" A' Mas." Khanna menyodorkan sesendok makanan ke mulut Nervan. Nervan segera membuka mulutnya menerima suapan dari istri tercintanya.


" Sini gantian Mas." Nervan mengambil alih sendok yang di pegang Khanna, Ia menyendok makanan lalu menyodorkannya ke mulut Khanna.


" Kamu juga harus makan donk...A' ." Ucap Nervan.


" Enggak usah Mas nanti aja di bawah, Sekarang Mas aja yang makan dulu." Tolak Nervan.


"Aku nggak mau makan kalau kamu juga nggak makan." Ucap Nervan masih dengan tangan menggantung memegang sendok.


"Ya udah deh aku mau." Jawab Khanna pasrah. Khanna menerima suapan dari Nervan. Begitu seterusnya bergantian hingga makanannya habis.


" Minum dulu Mas." Khanna membantu memegangi gelasnya.


" Mas mau minium vitamin? Biar nggak lemas." Tanya Khanna.


" Nggak usah Dek istirahat cukup nanti pasti sembuh sendiri." Tolak Nervan karna memang dia tidak suka dengan yang namanya obat.


" Baiklah... Aku ke bawah dulu." Sahut Khanna.


Khanna turun ke bawah lalu meletakkan piring kotornya ke wastafel dapur. Tak lupa Ia mengambil minum, Ia meneguk segelas air putih hingga tandas. Khanna kembali ke kamarnya, Saat melewati ruang tamu Ia menatap ke arah seseorang yang sangat Ia rindukan.


" Kakakkkk." Pekik Khanna berhambur ke pelukan Aroon. Aroon segera membalasnya.

__ADS_1


" Kakak kemana saja selama ini? Kok nggak pernah hubungi Khan?" Tanya Khanna. Aroon melepas pelukannya, Ia kembali duduk di sofa.


" Kakak di rumah Papa Shiv, Biasa kalau di sana pasti sibuk Khan." Jawab Aroon.


" Gimana? Kamu betah tinggal di sini? Apa Nervan memperlakukanmu dengan baik? Dia tidak menyakitimu?" Selidik Aroon.


" Enggak Kak... Mas Nervan baik kok sama Khan." Sahut Khanna.


" Mas??? Kamu memanggilnya Mas??? Apa kamu sudah menerimanya menjadi suamimu?" Tanya Aroon menatap tajam ke arah Khanna membuat Khanna sedikit takut.


" Entahlah Kak, Yang jelas aku tidak mungkin kan memanggil namanya saja atau Kak seperti sebelumnya." Sahut Khanna.


" Jangan pernah bersikap baik dengannya, Kakak akan segera mengurus perceraian kalian." Ucap Aroon. Khanna melongo membulatkan matanya. Kenapa mendengar kata perceraian hatinya seperti tidak rela?


" Ce....cerai Kak?" Tanya Khanna.


" Ya...Kenapa?" Aroon menatap Khanna.


"Bukankah Kakak tahu jika di dalam keluarga kita tidak di perbolehkan ada kata perceraian? Aku tidak mau Kak, Aku takut membuat Papa dan Mama kecewa." Ujar Khanna menghela nafasnya


"Kenapa aku seperti tidak rela jika harus bercerai dengan Mas Nervan?" Gumam Khanna dalam hatinya.


" Kenapa? Apa kamu mulai mencintainya?" Selidik Aroon.


" Benarkah aku mulai mencintai Mas Nervan? Kakak angkatku sendiri? Yang sekarang menjadi suamiku." Batin Khanna.


" Khanna Kakak tanya sama kamu, Apa kamu mulai mencintai anak itu?" Selidik Aroon.


" A...a...aku...." Ucap Khanna gugup.


" Kak... Bagaimanapun Mas Nervan suamiku, Mama benar Kak kalau Mas Nervan orang baik, Dia tidak pernah menyakiti kita bukan?" Ucap Khanna pelan.


" Kamu.. Hanya kamu saja yang mungkin tidak pernah di sakitinya... Tapi aku.... Aku dan Mama di buatnya menderita karna ulah ibunya." Ucap Aroon dengan nada tinggi.


" Kak ... Yang bersalah itu ibunya, Rasanya tidak adil jika kita terus membencinya.... " Ujar Khanna.


" Heh...Kau bahkan sudah berani membelanya di depanku Khanna." Bentak Aroon. Khanna berjingkrak kaget.


" Maaf Kak bukan maksud....


" Jangan pernah anggap aku Kakakmu lagi, Hiduplah bersamanya selamanya, Anggap kita tidak pernah punya hubungan saudara, Karna aku tidak mau menjalin hubungan dengan seseorang yang aku benci." Tegas Aroon memotong ucapan Khanna lalu segera pergi dari sana.


" Kak tunggu...." Khanna mengejar Aroon keluar dari rumahnya.


" Kak Aroon tunggu Kak...."Teriak Khanna.


Aroon mengabaikannya, Ia terus berjalan menuju mobilnya, Aroon membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobilnya


Brummmmmmmmmm


Aroon melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang. Khanna mematung di tempat melihat kepergian Aroon.


" Kak....Hiks hiks... Maafkan aku." Lirih Khanna. Ia mengusap kasar air matanya sebelum ada yang melihatnya. Tanpa mereka sadari sedari tadi Nervan melihat semuanya. Saat Nervan mau menuruni tangga, Ia mendengar jelas apa yang di bicarakan Aroon dan Khanna. Hatinya kembali berdenyut nyeri mendengar Aroon belum bisa menerimanya.

__ADS_1


Khanna kembali masuk ke dalam menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Khanna langsung menuju kamar mandi. Ia menyalakan kran hingga terdengar suara air keluar dengan kencang. Khanna luruh ke lantai kamar mandi sambil terisak. Ia memukul mukul dadanya untuk menghilangkan sesak di dadanya.


" Hiks..Hiks.... Aku harus bagaimana.... Aku tidak mau kehilangan Kakak yang sangat aku sayangi, Tapi kenapa aku juga tidak rela berpisah dari Mas Nervan?.... Hiks... Ada apa dengan hatiku? Tuhan... Apa yang harus aku lakukan?" Monolog Khanna.


"Aku tidak mau kehilangan Kak Aroon jadi aku harus menuruti semua ucapannya.... Baiklah aku harus rela berpisah dari Mas Nervan." Monolog Khanna. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower mendinginkan pikiran dan hatinya.


Selesai mandi Khanna memakai baju dan memoles tipis wajahnya. Nervan menatapnya dengan tatapan bersalah. Ia tahu kalau Khanna menangis di kamar mandi.


" Kamu mau kemana Dek? Kok udah rapi." Tanya Nervan menatap Khanna yang duduk di depan meja riasnya.


" Aku mau ke rumah Mama Mas." Jawab Khanna.


" Ada perlu apa tiba tiba mau kesana?" Tanya Nervan lembut.


" Udah deh gak usah banyak tanya, Emang kalau mau ke rumah orang tua harus ada perlu dulu." Cebik Khanna.


" Dekkk.. Nggak baik sama suami seperti itu." Tutur Nervan.


" Makanya nggak usah kebanyakan ngintrogasi kaya' di kantor polisi aja." Kesal Khanna. Ia mengambil tas selempangnya lalu berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan Nervan. Nervan hanya menghela nafasnya saja.


" Ya Allah lindungilah Istriku, Aku meridhoinya pergi tanpa pamit kepadaku." Ucap Nervan dalam hati.


Khanna melajukan mobilnya menuju kediamam Orang tuanya. Sesampainya di sana, Khanna segera masuk ke dalam.


" Assalamu'alaikum." Ucap Khanna.


" Wa'alaikumsallam sayang.. Kamu kesini?" Mama Alfi memeluk putrinya, Lalu Khanna menyalami Mama Alfi dengan takzim.


" Iya Ma." Jawab Khanna.


" Mana suamimu?" Tanya Mama.


" Di rumah Ma, Dia lagi sakit makanya nggak ikut ke sini." Sahut Khanna.


" Lhoh kamu itu gimana? Orang suami lagi sakit kok palah di tinggal kemari." Ujar Mama Alfi menggandeng tangan Khanna menuju sofa.


" Ada yang mau aku bicarakan sama Papa dan Mama." Ucap Khanna.


" Tentang apa sayang?" Tanya Mama Alfi menatap curiga ke arah putrinya.


" Papa udah berangkat kerja Ma?" Tanya Khanna.


" Papa di sini sayang." Sahut Papa Sakti.


Khanna menoleh ke belakang, Ia segera menghampiri Papanya dan menyalaminya dengan takzim. Papa Sakti dan Khanna duduk kembali.


" Pa..Ma... Khan mau mengatakan sesuatu dengan kalian..e... Khan...mau." Ucap Khanna gugup.


" Ada apa hmmm?" Tanya Papa Samti lembut.


" Khan mau minta cerai sama Mas Nervan."


" Apa?????

__ADS_1


TBC...


Hayo siapa yang pernah bimbang dalam posisi Khanna? Kira kira Khanna pilih keputusan yang mana nih? Jangan lupa like dan komentnya ya... Kalau berkenan kasih hadiah buat author biar semangat nulisnya... Miss U All


__ADS_2