
Pagi hari Nervan bersiap pergi ke kantor, Saat ini mereka sedang sarapan pagi. Kebiasaan baru Khanna yaitu makan makanan yang sudah di gigit oleh Nervan katanya sih bawaan bayi. Sungguh aneh.
Ting Tong...
Suara bel rumah berbunyi. Khanna dan Nervan saling lempar pandang.
" Biar Mas aja yang buka." Ucap Nervan beranjak dari kursinya.
Ceklek....
Nervan membuka pintu nampaklah seorang pria kekar berdiri di depan pintu.
" Bang Aroon." Pekik Nervan.
" Aku mau menemui Khanna, Apa dia ada?" Tanya Aroon dingin.
" Ada Bang, Silahkan masuk." Sahut Nervan.
Nervan mempersilahkan Aroon duduk di sofa ruang tamu, Ia berjalan ke dapur menghampiri Khanna di meja makan.
" Sayang ada yang mau bertemu denganmu." Ucap Nervan.
" Siapa Mas?" Tanya Khanna.
" Adek lihat sendiri aja." Sahut Nervan membuat Khanna penasaran.
Khanna berjalan menuju ruang tamu. Ia menatap pria yang sedang duduk menunduk.
" Siapa ya?" Tanya Khanna membuat Aroon mendongak menatap ke arahnya.
" Kak Aroon." Pekik Khanna menutup mulutnya.
Khanna menubruk tubuh Aroon masuk ke dalam pelukannya.
" Kakak.... Kakak apa kabar?" Tanya Khanna melepas pelukannya lalu menatap Aroon. Ia duduk di samping Aroon sambil menggenggam tangan Aroon.
" Kakak baik sayang, Gimana kabarmu?" Tanya Aroon merapikan anak rambut Khanna.
" Aku baik baik saja Kak." Sahut Khanna.
" Papa Shiv bilang udah ada Khan junior di sini." Ujar Aroon mengusap perut Khanna.
" Iya Kak, Usianya baru enam bulan." Sahut Khanna.
" Apa kamu bahagia mengandung anaknya?" Tanya Aroon.
" Sangat Kak... Aku sudah lama menantikannya, Apa Kakak di sana bahagia?" Tanya Khanna.
" Tidak.... Kakak tidak bahagia hidup jauh dari keluarga Kakak, Itu sebabnya Kakak kembali ke sini." Ujar Aroon.
" Kakak sudah tidak di hukum lagi?" Tanya Khanna.
" Tidak.. Aku di hukum karena Dia." Sahut Aroon.
" Maafkan aku Kak." Ucap Khanna sedih.
" Bukan salah kamu, Tidak perlu di pikirkan nanti akan mengganggu perkembangan Khan junior." Sahut Aroon.
__ADS_1
" Apa Kakak mau memimpin perusahaan Papa Shiv lagi?" Tanya Khanna.
" Iya... Kakak akan menjagamu di sini supaya dia tidak menyakiti kamu lagi, Kalau Kakak tahu masalah yang baru kalian hadapi Kakak pasti datang ke sini untuk membawamu pergi jauh darinya, Tapi sayang aku tidak di sini dan baru mengetahuinya tadi malam, Dan kamu pun begitu lemah hingga mau kembali padanya." Ujar Aroon.
" Bagaimanapun anakku butuh Papanya Kak." Sahut Khanna.
" Yah itulah wanita, Mudah terluka dan mudah memaafkan, Tapi Kakak bersumpah jika dia melukaimu lagi Kakak akan membawamu pergi dari sini, Ini kesempatan terakhir baginya." Ucap Aroon.
" Terserah Kakak saja, Jika Mas Nervan mengulangi kesalahan lagi aku nurut sama Kakak, Aku akan menuruti apapun yang Kakak mau." Sahut Khanna.
" Bagus kalau begitu, Kakak pulang dulu." Pamit Khanna.
" Kenapa terburu buru sih? Kita baru ketemu lhoh Kak." Ucap Khanna.
" Kakak ada urusan setelah ini." Ujar Aroon.
"Kakak tidak mau sarapan bareng dulu?" Tanya Khanna.
" Kakak masih malas melihat wajah dia, Kakak pulang kamu hati hati ya harus bisa jaga diri." Ucap Aroon.
" Iya Kak, Salam untuk Papa dan Mama." Ujar Khanna.
" Akan Kakak sampaikan, Atau kalau tidak kamu nanti ke rumah nanti Kakak ajak jalan jalan ke Mall gimana?" Tanya Aroon.
" Baiklah aku mau, Aku akan membeli apapun yang aku inginkan Kak." Ujar Khanna.
" Apapun untukmu, Kakak tunggu di rumah sekarang Kakak pulang dulu ya." Ucap Aroon.
" Hati hati Kak." Sahut Khanna.
Aroon pergi meninggalkan kediaman Nervan. Setelah kepergian Aroon, Khanna kembali ke meja makan. Di sana Nervan sudah menata makanannya di piring.
" Mana Bang Aroon?" Tanya Nervan.
" Sudah pulang Mas cuma mampir sebentar." Sahut Khanna.
" Owh." Gumam Nervan.
Nervan memang tidak ikut bergabung dengan Khanna dan Aroon tapi Ia mendengarkan ucapan keduanya di balik pintu dapur. Ia memberikan waktu untuk keduanya bebas bicara termasuk membicarakannya.
" Mas bolehkah aku ke rumah Mama? Aku ingin temu kangen sama Kak Aroon." Ucap Khanna.
" Boleh.. Nanti Mas antar Adek sekarang makan dulu, Mas suapi ya." Ucap Nervan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Khanna.
" Mas dulu baru aku." Ujar Khanna.
" Baiklah." Sahut Nervan.
Nervan memakan sedikit makanan yang ada di sendoknya lalu Ia berikan sisanya kepada Khanna. Khanna menerimanya dengan senang hati hingga makanan di piringnya tandas tak tersisa. Inilah kegiatan baru mereka.
Nervan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Papa Sakti. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di sana. Sesampainya di rumah mertuanya, Khanna segera turun dari mobilnya.
" Mas tidak mampir dulu?" Tanya Khanna saat hendak turun.
" Mas udah terlambat sayang maaf ya, Nanti sepulang kerja Mas langsung ke sini." Ucap Nervan setelah melihat jam mewah yang melingkar pada pergelangan tangannya.
" Baiklah hati hati Mas." Ujar Khanna mencium punggung tangan Nervan.
__ADS_1
" Kamu juga hati hati jaga dedeknya ya." Ucap Nervan mengelus perut Khanna.
Cup
Nervan mencium kening Khanna.
" Assalamu'alaikum Mas." Ucap Khanna.
" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Nervan.
Setelah Khanna masuk ke dalam rumah Papa Sakti, Nervan melajukan kembali mobilnya menuju kantornya.
" Assalamu'alaikum." Ucap Khanna memasuki rumah orang tuanya.
" Wa'alaikumsallam." Sahut orang yang ada di dalam.
Khanna berjalan menghampiri mereka semua. Papa Sakti, Mama Alfi, Aroon dan satu lagi seorang wanita cantik. Khanna menyalami kedua orang tuanya dengan takzim.
" Siapa?" Tanya Khanna menunjuk gadis itu.
" Kenalkan aku Tiffani, Panggil saja Fani." Ucap Fani menyodorkan tangannya kepada Khanna.
" Khanna." Sahut Khanna membalas uluran tangan Fani.
" Siapa dia Kak?" Tanya Khanna.
" Di... Dia." Aroon menjeda ucapannya.
" Kakak iparmu." Sahut Fani.
" Apa? Kakak Ipar? Kapan kalian menikah?" Pekik Khanna kaget bukan main.
" Satu bulan yang lalu Kakakmu menikahiku, Tapi dia mau lepas dari tanggung jawabnya menjadi suami, Dia bahkan kembali ke sini dengan meninggalkan aku di sana." Jelas Fani.
" Fani ku mohon diamlah." Ucap Aroon.
" Kenapa? Kamu mau menutupi pernikahan kita karena kau masih mengharapkan wanita itu? Dia bahkan sekarang sudah menikah kalau kamu lupa." Sahut Fani.
" Aku tidak tahu maksud kalian, Kakak menanti gadis lain tapi kenapa menikahi Fani?" Tanya Khanna.
" Kakakmu menikahiku karena dia sudah menodaiku, Dia mabuk karena frustasi mendengar gadis yang di cintainya bertunangan dengan orang lain." Jelas Fani.
" Apa benar Kak?" Selidik Khanna menatap Aroon.
" Iya... Aku terpaksa menikahinya tapi cintaku hanya untuk Mila." Jawab Aroon.
" Kau dengar apa yang Kakakmu bilang kan? Bagaimana perasaanmu jika kamu menjadi aku? Setelah dinodai aku di nikahi tapi aku tidak di cintai, Sebenarnya jika Kakakmu mau berusaha aku rasa bisa tapi dia sudah menutup hatinya untuk wanita lain." Ujar Fani.
" Kasihan sekali kamu Fan, Kak... Aku tidak mengharap ini dari Kak Aroon, Kalau begini ternyata Kak Aroon jauh lebih buruk dari Mas Nervan." Sahut Khanna menatap Aroon.
" Entahlah aku pusing tidak bisa berpikir, Kau diamlah di sini jangan mengikutiku, Aku tidak sudi hidup satu rumah denganmu." Ketus Aroon kepada Fani.
Aroon pergi keluar meninggalkan mereka yang sedang menatap kepergiannya.
" Hiks.... Aku harus gimana? Orang tuaku sudah tidak mau mengakuiku sebagai anak mereka karena aku telah mencoreng nama baik mereka, Sedangkan suamiku menolak kehadiranku." Isak Fani.
" Sabarlah sayang kita akan hadapi sama sama." Ujar Mama Alfi.
__ADS_1
TBC...