Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Kedatangan Papa Sakti


__ADS_3

Khanna masuk ke dalam kamarnya, Ia menghampiri Nervan yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Khanna naik ke atas ranjang, Ia menyenderkan kepalanya ke bahu Nervan. Nervan tidak bergeming, Ia masih asyik dengan ponselnya.


" Mas...." Panggil Khanna. Tidak ada sahutan, Nervan tetap fokus pada ponselnya.


" Mas." Ucap Khanna mengguncang badan Nervan.


" Mas ih." Kesal Khanna merebut ponsel Nervan. Ia meletakkannya di samping ranjangnya


" Kalau di panggil tuh nyahut Mas jangan diam aja, Kamu marah?" Tanya Khanna menatap Nervan.


" Nggak peka." Gumam Nervan yang masih bisa di dengar Khanna.


" Mas kamu itu salah paham, Kamu lihat nih tanganku, Tanganku terluka saat aku menuangkan air panas ke dalam cangkir Mas." Ujar Khanna menunjukkan tangannya, Nervan melirik dan benar saja pergelangan tangan Khanna sedikit melepuh.


" Sayang.... Apa apaan ini? Kenapa bisa seperti ini? Lain kali tidak perlu ke dapur lagi Mas nggak mau kamu terluka begini." Ucap Nervan menarik pelan tangan Khanna. Khanna tersenyum melihat kekhawatiran Nervan.


" Terluka begini aja masih di cemburuin kok, Nggak usah pura pura peduli Mas." Cebik Khanna menarik tangannya tentunya hanya pura pura.


" Sayang kok ngomong gitu sih, Maafin Mas ya Mas nggak tahu kalau Adek terluka, Mas tadi liatnya dia mau nyium tangan Adek." Ujar Nervan.


" Ris cuma niupin Mas biar nggak perih karna di kasih salep." Sahut Khanna.


" Ya udah deh maafin Mas ya." Ucap Nervan mencium kening Khanna.


Nervan menangkup wajah Khanna, Ia memajukan wajahnya membuat Khanna memejamkan matanya.


Cup


Nervan mencium bibir Khanna, Sedangkan Khanna membuka sedikit mulutnya membiarkan lidah Nervan menyusup ke dalam mengekspos setiap inchinya. Nervan me***** lembut bibir Khanna, Ia menahan tengkuk Khanna untuk memperdalam ciumannya. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva. Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Nervan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Khanna dengan jempolnya.


" Makasih." Ucap Nervan. Nervan selalu mengucapkan terima kasih setiap melakukan sesuatu dengan Khanna.


" Sekarang Mas suapin ya pakai gudheg yang di bawa sama mantan kamu, Ah namanya jadi gudheg rasa mantan." Ujar Nervan.


" Apasih Mas kamu ini, Ayo suapi aku udah lapar banget dan pengin banget makan gudheg itu." Ucap Khanna.


" Baiklah sayang ayo, Demi dedeknya Mas rela menyuapimu dengan makanan yang di beli mantan kamu." Sahut Nervan.


" Apa sih Mas bahas mantan mulu, Kaya' kamu nggak punya mantan aja." Cebik Khanna.


" Eh nggak ada ya, Mas nggak pernah pacaran kok." Sahut Nervan.


" Terus apa kabar dengan wanita ganjen yang bernama Safita? Lupa?" Sindir Khanna.


" Eh kalau dia.... Dia...


" Mantan terindah." Sahut Khanna memotong ucapan Nervan.


" Bukanlah Dek, Dia hanya mantan pelarian." Ujar Nervan.


" Bukan tapi mantan pelabuhan hati." Sahut Khanna.


" Enggak kok Dek kan Mas nggak pernah berlayar, Ngapain ke pelabuhan?" Canda Nervan.


" Bohong, Orang kamu berlayar sambil menyelami cintanya Safita kok." Ujar Khanna.


" Nggak percaya kamu Dek, Udah ah nggak perlu bahas mantan, Mantan itu cuma di masa lalu jangan bawa mantan di masa depan hanya akan merusak masa depan saja." Ucap Nervan.


" Itu tahu." Sahut Khanna.


" Adek ngerjain Mas?" Selidik Nervan.


" Menurut Mas?" Khanna balik bertanya.

__ADS_1


" Nakal kamu ya." Ujar Nervan mencubit hidung Khanna.


" Awh sakit Mas, Merah nih kalau panjang kaya' pinokio gimana?" Cebik Khanna.


" Tambah cantik seperti wanita bollywood." Ujar Nervan.


" Tau ah." Ketus Khanna.


" Udah ah ayo kita dinner dulu, Dinner tidak romantis." Ucap Nervan.


" Ayo tambah lapar aku Mas gara gara kamu bahas mantan." Ucap Khanna.


Keduanya turun ke bawah menuju dapur. Nervan mengambil makanan untuk Khanna. Gudheg yang berisi telur di dalamnya.


" A" Ucap Nervan mulai menyuapi Khanna.


" Mas dulu." Ujar Khanna, Nervan menghela nafasnya.


Nervan memakan separo sendok lalu sisanya Ia suapkan kepada istrinya. Begitu seterusnya hingga makanan di piring itu tandas.


" Pinter banget anak Papa makan banyak, Sehat sehat ya di dalam sini." Ucap Nervan mengelus perut Khanna.


" OK Pa." Sahut Khanna.


" Mau tidur apa nonton tv?" Tanya Nervan.


" Nonton tv dulu Mas sambil nunggu nasinya turun." Sahut Khanna.


" Tapi aku mau lihat film yang romantis ya Mas." Sambung Khanna.


" Baiklah jika ada adegan yang bikin baper kita praktekkan ya." Canda Nervan.


" Ih genit." Sahut Khanna.


" Sama istri sendiri nggak masalah Dek." Sahut Nervan.


Pagi hari Nervan sudah bersiap menuju kantornya, Tapi melihat Khanna yang muntah muntah Ia mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih menemani istri tercintanya.


Ting tong


Bel rumah berbunyi pertanda ada tamu yang datang.


" Mas bukain pintu dulu ya." Ucap Netvan.


" Iya Mas." Sahut Khanna.


Nervan turun ke bawah berjalan menuju pintu.


Ceklek....


Nervan membuka pintunya menampakkan kedua orang tua Khanna dan seorang pria di belakangnya yang tak lain adalah Richard.


" Ayah Mama, Silahkan masuk." Ucap Nervan.


" Ngapain kamu ke sini?" Tanya Nervan menghadang Richard saat akan masuk ke dalam.


" Mau jenguk Khanna kak, Aku ke sini bareng sama Mama sama Papa lhoh." Ujar Richard.


" Mama Papa, Mereka bukan siapa siapa kamu." Ketus Nervan.


" Mereka aja diam saja kenapa kamu yang sewot Kak?" Tanya Richard.


" Pa aku nggak boleh masuk sama Kak Nervan." Teriak Richard.

__ADS_1


" Hih dasar bocil sukanya ngadu, Ya udah masuk gih." Ucap Nervan.


Mama Alfi dan Papa Sakti berjalan menuju ke kamar Khanna. Sampai di kamar keduanya menghampiri Khanna yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.


" Gimana kabarnya sayang?" Tanya Papa Sakti.


" Papa.... Khan kangen banget." Pekik Khanna.


" Papa juga." Sahut Papa Sakti memeluk Khanna.


" Sama Papa aja, Sama Mama nggak ya." Ucap Mama Alfi.


" Sama Mama juga donk.. Bagaimana kabar Mama dan Papa?" Tanya Khanna.


" Baik sayang, Kamu sendiri gimana?" Tanya Mama Alfi.


" Baik si Ma, Cuma kalau pagi masih mual." Sahut Khanna.


" Itu hal biasa yang di alami ibu pada hamil muda sayang." Ujar Mama Alfi.


" Iya Ma." Sahut Alfi.


" Eh ngomong ngomong kamu ngidam apa sayang?" Tanya Mama Alfi.


" Ngidam gudheg dari aku Tan, Harus dari tempatnya asli lagi." Sahut Richard yang baru saja masuk.


" Walah.... Berarti kamu ke sini cuma nganter gudheg buat Khanna aja?" Tanya Mama Alfi.


" Iya Tan, Oh ya Khan apa tanganmu sudah sembuh?" Tanya Richard.


" Udah Ris." Sahut Khanna.


" Tangan kamu kenapa sayang?" Tanya Mama Alfi menarik pelan tangan Khanna. Ia menatap tangan Khanna yang sedikit kehitaman.


" Nggak pa pa Ma, Cuma krna panas ceret aja." Sahut Khanna.


" Lain kali hati hati sayang." Ujar Papa Sakti.


" Siap Pa." Sahut Khanna.


" Sayang ada yang mau Papa bicarakan pada kamu." Ucap Papa Sakti.


" Tentang apa Pa? Katakan saja." Ujar Khanna.


" Papa butuh bantuan Nervan untuk memenangkan kasus sengketa lahan yang Papa beli di kota M, Papa ingin membangun cafe dan tempat wisata di sana, Jadi Papa ingin mengajak Nervan ke sana karena Papa bekerja sama dengan perusahaan Nervan." Jelas Papa Sakti.


" Dan kamu nanti di rumah sama Mama ya, Nggak pa pa kan?" Tanya Mama Alfi.


" Tapi Khan tidak bisa makan tanpa di suapi Mas Nervan Pa Ma, Terus nanti makanku gimana?" Ujar Khanna.


" Hanya sebentar mungkin satu mingguan saja sayang." Ujar Papa Sakti.


" Kalau Adek tidak mengijinkan Mas tidak akan pergi, Biar Iqbal yang menggantikanku Yah, Nervan juga tidak tega meninggalkan Khan dalam keadaan seperti ini." Sahut Nervan.


" Tapi Van.....


" Mengertilah Ayah, Bagiku istriku lebih penting dari segalanya, Maafkan Nervan Yah." Ucap Nervan sambil menunduk.


" Baiklah." Sahut Papa Sakti sedikit kecewa.


TBC....


*Hai readers terhormat author udah kehabisan ide nih... Bantu author donk tuangkan ide kalian di sini nanti akan author pertimbangkan.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentnya ya... Yang berkenan silahkan vote dan beri author hadiah ya...


Miss U All*


__ADS_2