Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Rencana Reiner


__ADS_3

Khanna sedang menunggu Nervan di meja makan untuk sarapan sambil mengaduk aduk makanannya.


" Sayang Mas berangkat dulu ya." Ucap Nervan menghampirinya.


" Enggak sarapan dulu Mas?" Tanya Khanna.


" Enggak sayang Mas udah terlambat." Ucap Nervan melirik jam tangannya.


" Baiklah hati hati." Ujar Khanna menyalami Nervan.


" Assalamu'alaikum." Ucap Nervan mencium kening Khanna.


" Wa'alaikumsallam Mas." Sahut Khanna.


Setelah kepergian Nervan, Khanna segera bersiap untuk berangkat ke Cafenya. Ia memakai celana jeans panjang di padu dengan kaos oblong kebesarannya.


Khanna melajukan mobilnya menuju Cafenya. Di tengah perjalanan Ia seperti melihat Nervan yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan seorang wanita, Tak lama wanita itu masuk ke dalam mobil Nervan.


Khanna mengikuti mobil Nervan yang ternyata menuju rumah sakit. Diam diam Khanna terus membuntuti Nervan di belakangnya sampai pada Nervan masuk ke dalam poli kandungan.


Deg.... Jantung Khanna berdetak kencang, Tiba tiba pikiran negatif tentang suaminya bersarang di otaknya. Khanna mencoba menelepon nomer Nervan dan sambungan telepon pun terhubung.


" Halo sayang." Sapa Nervan setelah mengangkat panggilannya.


" Mas sekarang kamu dimana?" Tanya Khanna.


Hening sesaat.


" Kamu dimana Mas?" Ulang Khanna.


" A... Aku di kantor sayang, Kenapa?" Nervan balik bertanya.


Klik.... Khanna memutus panggilannya tanpa menjawab pertanyaan Nervan.


" Apa yang sedang kau sembunyikan dariku Mas?" Tanya Khanna dalam hatinya.


Khanna segera meninggalkan rumah sakit itu. Ia melajukan mobilnya menuju Cafe. Sesampainya di Cafe Khanna di sibukkan dengan pekerjaannya hingga siang hari.


Drt...Drt....


Ponsel Khanna berdering, Ia menatap layar yang menyala dengan ID pemanggil " Mas Nervan". Dengan malas Khanna mengangkatnya.


" Hallo." Sapa Khanna.


" Hallo sayang? Adek sedang apa hm?" Tanya Nervan.


" Tentu saja aku sedang kerja, Pertanyaan konyol macam apa yang kau lontarkan Mas." Jawab Khanna yang masih kesal dengan Nervan karena membohonginya.


" Sayanggg kenapa Adek berkata seperti itu? Apa Mas berbuat kesalahan?" Tanya Nervan.


" Pikir saja sendiri." Sahut Khanna mematikan sambungan teleponnya.


" Ada apa dengan istriku? Kenapa dia seperti sedang marah?" Gumam Nervan.


" Kenapa Van?" Tanya Papa Reno yang baru saja masuk.


" Ini Pa, Khan sepertinya marah sama Nervan, Di telepon malah di matiin." Ujar Nervan.


" Kau berbuat kesalahan?" Tanya Papa Reno.


" Kaya'nya sih enggak Pa." Sahut Nervan.


" Ya udah samperin aja dari pada masalahnya makin panjang, Dah selesai juga kan pekerjaanmu?" Ujar Papa Reno.


" Udah Pa aku ke Cafenya Khan dulu Pa, Assalamu'alaikum." Ucap Nervan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa Reno


Nervan berjalan menuju parkiran.


" Nervan." Panggil seseorang saat Nervan hendak membuka pintu mobilnya.


" Dara." Ucap Nervan menoleh ke arah Dara yang sedang menghampirinya.


" Hiks... Hiks.. Van." Dara langsung memeluk Nervan.


" Kenapa?" Tanya Nervan.


" Van... Dia menyuruhku membuang jan*n ini... Aku takut Van, Ku mohon tolong aku." Ucap Dara.

__ADS_1


" Aku harus gimana? Aku tidak bisa mencampuri urusan rumah tanggamu Dara, Tolong lepaskan aku, Malu kalau di lihat banyak orang." Ucap Nervan tegas.


" Hiks... Aku butuh sandaran Van, Ku mohon pinjamkam bahumu sebentar saja untuk aku bersandar." Pinta Dara.


" Baiklah sebentar saja." Sahut Nervan tidak tega.


Nervan mengedarkan pandangannya hingga matanya bertemu dengan mata hitam pekat milik istrinya, Khanna mengepalkan tangannya, Ia segera masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan kantor suaminya dengan perasaan kesalnya.


Nervan melepas kasar pelukan Dara, Ia segera masuk ke dalam mobilnya lalu mengejar mobil Khanna. Dara tersenyum puas menatap kepergian mobil Nervan.


" Kau hebat Dara..... Baru sehari kau mendekati Nervan mereka udah mau berantem aja." Ucap seorang pria di belakang Dara.


" Bagaimana Reiner apa kau masih akan melanjutkan rencanamu ini?" Tanya Dara kepada Reiner.


Reiner seorang pria yang bertabrakan dengan Khanna saat di Mall. Ia merasa tertarik dengan pesona Khanna dan ingin memilikinya. Hingga Ia menyuruh Dara yang tak lain adalah sepupu Nervan dari Mama Sarah untuk mendekati Nervan dan mengacaukan rumah tangganya.


" Tentu saja, Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan pujaan hatiku, Aku tidak peduli walaupun dia milik orang lain, Dan kau Nervan.... Kau akan hancur seperti ibumu menghancurkan keluargaku." Ujar Reiner menyeringai.


" Baiklah aku akan membantumu tapi jangan lupa komisi lahir dan batin kau harus memberikannya padaku." Ujar Dara mengelus pipi Reiner.


" Malam nanti datanglah ke kamarku, Aku akan memuaskanmu." Sahut Reiner tersenyum smirk.


" Baiklah sayang tunggu aku." Ucap Dara mencium pipi Reiner lalu meninggalkannya.


" Dasar b*tch." Umpat Reiner.


Khanna melajukan mobilnya ke rumah Revi sahabatnya. Sampai di sana Ia langsung masuk ke dalam rumah Revi.


" Assalamu'alaikum Tante." Sapa Khanna kepada Mamanya Revi yang bernama Tante Risma.


" Wa'alaikumsallam Khan." Sahut Tante Risma.


" Revinya ada Tan?" Tanya Khanna.


" Ada di kamar, Langsung ke atas aja." Ucap Tante Risma.


" OK Tan." Sahut Khanna.


Khanna berjalan menaiki tangga menuju kamar Revi. Khanna membuka pintunya.


" Hai Rev." Sapa Khanna menghampiri Revi yang sedang duduk di karpet sambil memangku laptopnya.


" Iya lagi pengin aja." Sahut Khanna.


" Pasti ada problem makanya inget ke sini." Tebak Revi.


" Enggak, Gue fine fine aja." Sahut Khanna.


" Jangan bohong coba kau katakan." Ujar Revi.


" Eh Rev gue ada urusan bentar, Gue pulang dulu ya." Ucap Khanna.


Khanna segera pergi meninggalkan rumah Revi, Saat ini tujuannya adalah rumah Papa Shiv. Setelah menempuh waktu hanpir setengah jam akhirnya Khanna sampai di rumah Papa Shiv


" Assalamu'alaikum Pa." Ucap Khanna masuk ke dalam rumah mencari Papa Shiv.


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Papa Shiv dari dalam.


" Pa ada yang ingin aku bicarakan sama Papa." Ucap Khanna.


" Apa sayang?" Tanya Papa Shiv.


" Mas Nervan bohongi Khanna Pa, Tadi pagi dia ngantar cewek ke poli kandungan tapi saat Khan tanya dia dimana, Mas Nervan jawabnya lagi di kantor." Ujar Khanna.


" Nervam benar benar bodoh Khan, Papa yakin pasti musuh sedang mengintainya dan merencanakan sesuatu." Ucap Papa Shiv.


" Khan minta bantuan Papa ya untuk menyelidiki semuanya, Khan capek Pa kalau harus menghadapi masalah yang sama lagi, Gara gara pelakor lagi." Ujar Khanna.


" Baik Papa akan bantu kamu." Sahut Papa Shiv


" Makasih Pa." Ucap Khanna.


" Apapun untukmu sayang." Sahut Papa Shiv


" Khan pulang dulu ya Pa, Nanti calling Khan kalau udah dapat info." Ucap Khanna.


" OK... Hati hati." Sahut Papa Shiv.


Sesampainya di rumah Khanna segera masuk ke dalam kamarnya, Ia memilih untuk membersihkan diri dulu dan mengabaikan tatapan Nervan yang sedang duduk di tepi ranjang. Lima belas menit kemudian,

__ADS_1


Ceklek....


Khanna keluar dari kamar mandi, Ia duduk di depan meja rias memoleh wajahnya dengan cream malam. Nervan menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.


" Lepas." Berontak Khanna.


" Adek salah paham sayang, Apa yang Adek lihat tidak seperti yang Adek bayangkan." Ucap Nervan lembut.


" Memang apa yang aku bayangkan?" Tanya Khanna menatap Nervan lewat tampilan cermin.


" Dia Dara, Sepupu ku dari Mama Sarah, Dia meminta tolong padaku untuk melindunginya dari kekejaman suaminya." Jelas Nervan.


Khanna berdiri menghadap Nervan.


" Kenapa kamu selalu peduli dengan urusan pribadi orang lain? Apa kamu biro perlindungan wanita wanita yang membutuhkan bantuan? Apa kamu juga akan menikahinya? Jangan bodoh kau Nervan, Dia mungkin saudara dari Mama Sarah tapi dia tidak ada ikatan persaudaraan denganmu? Apa kau yakin dia tidak punya tujuan lain? Hah aku benar benar tidak menyangka ternyata kau laki laki yang lembek, Kau laki laki yang tidak punya prinsip, Kau laki laki bodoh yang gampang di manfaatkan orang lain, Bikin geram aja... Urusi saja para wanitamu aku tidak peduli." Cerocos Khanna.


Ia masuk ke dalam selimutnya mengabaikan Nervan yang sedang memikirkan ucapannya.


" Sayang maafkan Mas." Ucap Nervan membaringkan tubuhnya lalu memeluk Khanna dari belakang.


" Aku bosan dengan kata maafmu, Berpikirlah realistis sebelum bertindak, Jangan gegabah atau pernikahan kita yang akan jadi taruhannya." Sahut Khanna.


" Baiklah Mas akan lebih berhati hati." Ujar Nervan.


" Selalu saja seperti itu aku muak mendengarnya." Ketus Khanna.


" Sayang.... Jangan marah." Ucap Nervan mencium tengkuk Khanna.


" Aku marah karena kau membohongiku, Dan karena kamu dengan mudah mau di peluk oleh wanita lain, Suatu saat jika aku berpelukan dengan pria lain kau jangan marah." Sahut Khanna.


" Nggak boleh.... Mas nggak rela Adek di sentuh oleh pria lain." Ucap Nervan.


" Bodo amat." Sahut Khanna.


" Sayang..... Jangan gini donk, Mas sedih kalau Adek marah." Ujar Nervan.


" Aku nggak peduli." Sahut Khanna.


" Dekkkkk." Rengek Nervan.


" Diam napa sih Mas, Aku mau bobok ngantuk tau." Ucap Khanna.


" Baiklah selamat malam." Ucap Nervan.


" Hmmm." Gumam Khanna.


Nervan berjalan menuju balkon sambil menghubungi seseorang. Lukiman orang kepercayaannya yang serba bisa di andalkan dalam segala hal.


" Hallo Bos." Sapa Lukiman.


" Selidiki wanita bernama Dara, Dia anak dari Kakaknya Mama Sarah." Titah Nervan.


" Baik Bos." Sahut lukiman memutus panggilannya.


" Dasar tidak sopan." Gerutu Nervan.


Nervan menatap jalanan dari atas balkon, Ia seperti melihat sebuah mobil yang sedang mengawasi rumahnya.


" Siapa lagi yang berusaha menghancurkanku, Sebenarnya apa kesalahanku? Untung Khan segera menyadarkan aku... Wahai hati... Janganlah kau begitu baik dengan orang lain, Kebaikanku hanya di manfaatkan oleh orang yang berniat jahat padaku, Terima kasih Tuhan... Kau telah mengirin Khanna untukku." Batin Nervan.


Nervan masuk ke dalam kamarnya, Ia merebahkan tubuhnya di samping Khanna, Ia peluk tubuh istri tercintanya dengan penuh perasaan cinta. Nervan mencium kening Khanna.


" Jika memang Dara berniat jahat pada kita, Maka aku akan membalasnya sayang." Batin Nervan.


Di tempat lain setelah melakukan permainan panas mereka Reiner dan Dara menyusun rencana untuk menjebak Khanna.


" Lakukan rencana itu besok malam Dar." Titah Reiner.


" Siap sayang, Aku yakin rencana kita pasti akan berhasil." Sahut Dara.


" Terima kasih sudah mau membantuku." Ucap Reiner.


" Sama sama." Sahut Dara.


*TBC....


Jangan lupa like komentnya ya... Kalau berkenan berikan vote dan hadiahnya... Terima kasih....


Miss U All*...

__ADS_1


__ADS_2