
Pagi ini Nervan sedang melakukan terapi pada kakinya, Untuk terapi awal Dokter hanya menekuk lalu meluruskan kaki Nervan kembali begitu berulang ulang.
" Bagaimana Tuan Nervan? Apa sudah sedikit ada rasa pada kaki anda?" Tanya Dokter.
" Sepertinya belum Dok." Sahut Nervan.
" Tidak masalah ini baru terapi awal, Semoga besok sudah mulai ada rasa dan akan segera sembuh." Ujar Dokter.
" Terima kasih Dok." Sahut Nervan.
" Selalu beri semangat kepada Tuan Nervan Nyonya, Insya Allah dukungan dari keluarga mampu memberikan kesembuhan yang nyata, Yang jelas tetap semangat menjalankan terapi dan jangan lupa untuk minum obat secara teratur." Ujar Dokter.
" Baik Dok terima kasih atas bantuan Dokter." Sahut Khanna.
" Kalau begitu saya permisi." Ucap Dokter.
" Silahkan Dok." Sahut Nervan dan Khanna bersamaan. Dokter keluar ruangan meninggalkan Khanna dan Nervan.
" Adek sayang...." Panggil Nervan.
Khanna yang sedang menyiapkan sarapan menoleh ke arah Nervan.
" Iya Mas." Sahut Khanna menghampiri Nervan di atas ranjang.
" Mas mau pip*s." Ucap Nervan malu malu.
" Ya udah ayo." Sahut Khanna.
Khanna membantu Nervan turun dari ranjang lalu duduk di kursi roda. Khanna mendorongnya menuju kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi Khanna mendudukkan Nervan di closet duduk tentunya setelah membuka pakaian bawah Nervan ya...
Setelah selesai Khanna membantu Nervan menuju ranjangnya kembali. Nervan duduk di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang. Khanna menunduk menata bantal di belakang punggung Nervan membuat wajah mereka menjadi dekat bahkan sangat dekat karena hampir menempel. Nervan menahan tengkuk Khanna lalu mencium bibirnya. Khanna memejamkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya, Mereka saling membelitkan lidah masing masing, Setelah cukup lama, Nervan menyudahi ciumannya karena Ia takut tidak bisa menahan dirinya. Ia mengusap pelan bibir Khanna.
" Morning kiss sayang." Ucap Nervan mencium kening Khanna.
" Bisa aja cari cari kesempatan kamu Mas." Ujar Khanna.
" Harus donk Dek.. Biar semangat menjalani hari hari Mas yang sedikit suram." Ucap Nervan.
" Jangan mengeluh Mas." Sahut Khanna.
" Astaghfirullohhal'adzim.... Tapi Mas bahagia kok Dek." Ujar Nervan.
" Kenapa?" Tanya Khanna.
" Karena dengan keadaan Mas yang seperti ini kamu mau kembali sama Mas... Mas bersyukur di balik kelumpuhan Mas ternyata ada hikmahnya." Ujar Nervan.
" Maafkan aku Mas...." Ucap Khanna.
" Mas sudah memaafkan Adek, Lagian juga bukan salah Adek sayang..." Sahut Nervan.
" Apa adek akan betah mengurus Mas yang seperti ini setiap hari?" Tanya Nervan.
" Tentu Mas... Tetaplah semangat jangan pikirkan macam macam yang jelas aku akan selalu di sampingmu." Sahut Khanna.
" Terima kasih sayang." Ucap Nervan.
" Sama sama Mas." Sahut Khanna.
" Love U." Ucap Nervan.
" Love U Too." Sahut Khanna.
" Sekarang Mas sarapan dulu." Ucap Khanna.
Khanna menyuapi Nervan dengan telaten, Setelah itu Khanna memberikan obat Nervan untuk di minumnya. Selesai Nervan meminum obatnya Nervan memainkan ponselnya sedangkan Khanna memakan sarapannya.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, Nervan dan Khanna menoleh ke arah pintu dimana Safita sedang berjalan masuk menghampiri Nervan.
" Pagi Van.... Gimana kabarmu hari ini? Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Safita duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Khanna.
" Alhamdulillah sudah membaik, Tinggal nunggu kakiku pulih aja, Terima kasih udah mau datang menjengukku." Ujar Nervan.
__ADS_1
" Harus donk masa' sama ..." Safita menjeda ucapannya.
" Nggak jenguk si." Sambung Safita.
Nervan melirik ke arah Khanna yang masih sibuk dengan makanannya tanpa menghiraukan kehadiran Safita. Padahal jantung Nervan sudah dag dig dug takut Khanna marah.
" Maaf ya aku baru datang, Kemarin kemarin aku sibuk." Ucap Safita.
" Tidak apa." Sahut Nervan.
" Oh ya kapan kamu pulang?" Tanya Safita.
" Kemungkinan satu minggu lagi, Soalnya aku lagi terapi, Kata Dokter mungkin dengan terapi full selama satu minggu kakiku sudah bisa di gerakkan dengan normal lagi." Jelas Nervan.
" Semoga cepet sembuh biar bisa jalan lagi, Bisa beraktifitas seperti biasa lagi." Ucap Safita memijat pelan kaki Nervan.
" Terima kasih." Sahut Nervan.
Nervan sesekali menatap ke arah Khanna, Tapi sepertinya Khanna acuh saja, Ia palah sibuk dengan ponselnya. Safita mengajak Nervan ngobrol kesana kemari membuat Khanna jengah tapi Ia harus bersikap biasa. Ia tidak mau terpancing emosi.
Drt....Drt....
Ponsel Khanna berdering tanda panggilan masuk, Khanna melihat ID pemanggil yang ternyata Richard. Khanna segera mengangkatnya.
" Hallo Ris... Gimana kabarmu?" Tanya Khanna pada Richard yang ada di sebrang sana.
" Aku baik baik saja jangan khawatir." Sahut Richard.
" Idih PD banget, Siapa yang mengkhawatirkan kamu? Orang aku cuma tanya doank kok." Ujar Khanna.
" Kamu cuma tanya aja hatiku udah berbunga bunga Khan, Itu tandanya kamu perhatian sama aku, Apalagi jika di khawatirin sama kamu pasti akan lebih bahagia." Ucap richard.
" Makanya segera cari pendamping biar ada yang khawatirin setiap hari, Ada merhatiin dan ada yang menyayangi tentunya." Ujar Khanna.
" Belum nemu yang seperti kamu." Canda Richard.
" Eh kalau kamu nyari sama kaya' aku ya nggak mungkin nemulah... Aku kan tiada duanya tapi yang lebih baik pasti banyak." Sahut Khanna
" Bagiku kamulah wanita terbaik di dunia ini." Ucap Richard.
" Iya... Enggak deh, Gimana kabar Kak Nervan?" Tanya Richard.
"Baik... Tadi pagi udah mulai terapi, Kamu kapan ke sini?" Ujar Khanna.
" Kenapa? Dah kangen ya...." Ucap Richard.
" Apaan sih." Sahut Khanna.
Nervan menatap Khanna yang serius dengan teleponnya, Sesekali Khanna tertawa ceria membuat dada Nervan bergemuruh. Bahkan Ia tidak mendengarkan Safita yang sedang mengoceh sendiri.
" Fit aku mau istirahat, Kamu pulang dulu ya." Usir Nervan.
" Baiklah.. Aku pulang dulu, Cepat sembuh ya." Ujar Safita.
" Terima kasih." Sahut Nervan.
Safita keluar dari ruangan rawat Nervan tanpa menyapa Khanna terlebih dahulu. Sedangkan Khanna masih dengan sambungan teleponnya bersama Richard. Ia bahkan tiduran di sofa dengan telepon yang masih menempel pada telinganya.
" Dek...." Panggil Nervan. Khanna tidak menoleh karena memang Khanna tidak mendengarnya.
" Sayang." Panggil Nervan lagi.
" Adek...." Panggil Nervan lebih keras. Khanna justru asyik tertawa dengan ponselnya.
Prangggggggg
Nervan menyenggol gelas di sampingnya membuat Khanna menoleh ke arahnya.
" Udah dulu ya Ris aku mau ngurus Mas Nervan dulu, Pokoknya aku titip Cafe sama kamu, Jagain ya..Jangan lupa laporan bulanannya." Ucap Khanna.
" OK Siap... Bye." Sahut Richard.
Khanna menghampiri Nervan setelah memutus sambungan teleponnya.
__ADS_1
" Kok bisa jatuh gelasnya Mas? Mas mau minum?" Tanya Khanna menatap Nervan.
" Oh ya.. Dimana Safita?" Sambung Khanna.
" Udah pulang... Makanya jangan keasyikan teleponan Dek jadi nggak tahu kan kalau tamunya pulang." Ketus Nervan.
" Lagian nggak penting juga buat aku Mas." Sahut Khanna tidak peka.
Khanna mengira Nervan marah karena Ia tidak menyambut Safita padahal Nervan marah karena Khanna keasyikan telepon sama Richard sehingga mengabaikannya. Bahkan di panggil sampai tiga kali tidak dengar. Khanna membersihkan pecahan beling dengan teliti, Takut ada yang tertinggal dan akan melukai kaki. Setelah selesai Ia justru berbaring di atas ranjangnya sambil memainkan ponselnya. Nervan menghela nafasnya mencoba meredam emosinya.
" Sayang..." Panggil Nervan.
" Iya Mas." Sahut Khanna menatap Nervan.
" Adek nggak peka." Ucap Nervan.
" Peka gimana?" Tanya Khanna.
" Mas lagi marah sama Adek." Ucap Nervan.
" Aku tahu kok makanya aku milih menjauh dan diam saja." Sahut Khanna.
" Kenapa nggak di bujuk?" Tanya Nervan.
" Orang lagi marah kalau di bujuk susah Mas... Entar aja nunggu marahnya hilang biar nggak buang buang waktu." Ujar Khanna.
" Emang kamu aja yang marah? Aku juga kesel." Batin Khanna.
" Adek tahu Mas marah kenapa?" Tanya Nervan lucu membuat Khanna mengerutkan keningnya.
"Dia yang marah kok dia yang tanya." Batin Khanna.
" Kamu marah karena aku nggak menerima kedatangan Safita dengan baik." Jawab Khanna.
" Bukan Adekkkk." Ucap Nervan.
" Lalu kenapa Mas marah?" Tanya Khanna.
" Mas cemburu karena Adek teleponan sama Richard sampai ketawa tawa lagi." Sahut Nervan cemberut. Khanna menepuk jidatnya.
" Astaga Massss.... Ternyata suamiku ini sedang cemburu?" Tanya Khanna menghampiri Nervan.
" Iya." Sahut Nervan.
" Mas cemburu karena aku teleponan sama Richard?" Tanya Khanna menangkup wajah Nervan dengan kedua tangannya.
" Iya sayang..... Mas cemburu kamu begitu bahagia sama pria lain." Sahut Nervan.
" Kalau begitu sama donk." Sahut Khanna.
" Kok sama?" Tanya Nervan tidak mengerti.
" Aku juga cemburu melihat kamu dekat sama Safita." Ujar Khanna.
" Astaga.... Ternyata kita saling cemburu... Ha ha ha lucu juga ya." Ucap Nervan.
" Iya Mas... Kita mirip abg yang baru jatuh cinta." Sahut Khanna.
" Tidak apa cemburu tandanya sayang, Dan kalau sudah sayang maka akan takut kehilangan, Seperti Mas yang takut kehilangan Adek." Ujar Nervan.
" Sama Mas." Sahut Khanna memeluk Nervan.
" Tetaplah berada di sampingku sebagai pendukungku, Penawar rinduku, Obat lelahku dan penyemangat hidupku sayang." Ujar Nervan.
" Aku akan selalu di sampingmu asal kamu tidak akan menyakiti hatiku Mas." Ucap Khanna.
" Tentu sayang.... I Love U." Ucap Nervan.
" I Love U Too... Cepatlah sembuh matahariku agar kamu bisa menyinari hari hariku." Ucap Khanna.
" Selalu di sampingku rembulanku agar kau selalu menerangi malam malam gelapku." Sahut Nervan.
Keduanya begitu merasakan kebahagiaan yang terasa nyata. Semoga kedepannya tidak akan ada lagi rasa saling melukai dan menyakiti, Apalagi rasa saling mengkhianati.
__ADS_1
TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya... Makasih atas suport yang para readers berikan.... Miss U All...