
Pagi harinya Nervan mengerjapkan mata mendengar adzan subuh berkumandang. Ia menggeliat meluruskan otot otot yang kaku.
" Eh pegal sekali kakiku, Awh...apalagi leherku." Monolog Nervan sambil memijat lehernya.
Nervan menatap ke arah kasur, Khanna sedang tertidur pulas dengan selimut tersingkap memperlihatkan paha mulusnya. Nervan geleng geleng kepala. Ia berjalan menghampiri ranjang dan membenarkan selimut yang di pakai Khanna. Nervan segera menuju kamar mandi mengambil wudhu, Ia melaksanakan shalat subuh di dalam kamarnya. Setelah selesai Nervan segera membangunkan Khanna.
" Dek bangun udah subuh." Nervan mengguncang pelan bahu Khanna. Khanna tidak bergeming.
" Dek... Bangun shalat subuh dulu." Nervan kembali mengguncang tubuh Khanna.
" Khan masih ngantuk Ma, Bentar lagi ya." Sahut Khanna. Nervan tersenyum melihat kelakuan Khanna yang mengira dia tidur di kamarnya sendiri.
" Dek.... Sayang..." Ucap Nervan lembut.
Khanna mengerjapkan matanya, Ia menatap wajah laki laki tampan yang membungkuk di depannya. Khanna memicingkan matanya.
" Kamu ngapain di kamarku?" Ucap Khanna sinis.
" Bangun subuhan dulu, Ini kamar Mas Dek bukan kamar kamu." Sahut Nervan.
Khanna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar tersebut. Terpapanglah foto pernikahannya dengan Nervan di depan tempat tidurnya. Matanya membola menatap tidak percaya.
" Udah ingat?" Tanya Nervan.
" Siapa yang suruh pajang foto itu di sini?" Tanya Khanna menyenderkan punggungnya pada headboarsd ranjang.
" Kenapa? Bagus kan biar kamu tahu kalau kita sudah nikah." Sahut Nervan.
" Aku nggak menganggap pernikahan ini ada." Ketus Khanna.
" Terserah Adek saja, Faktanya pernikahan ini benar benar ada, Mandi gih lalu shalat." Titah Nervan.
Khanna turun dari ranjang, Ia melipat selimut dan menatanya di atas ranjang. Ia menatap selimut yang teronggok di atas sofa, Lalu Ia menatap ke arah Nervan.
" Lipat selimutnya jangan sampai Mama Sarah tahu kalau kamu tidur di sofa.... Awas aja ya kalau ngadu." Ancam Khanna menatap tajam ke arah suaminya. Khanna segera ke kamar mandi mengambil wudhu. Lalu Ia shalat subuh sendiri.
Nervan menatapnya dari sofa. Ia menatap istrinya yang saat ini sedang berdoa. Sebenarnya Khanna gadis yang baik hati tapi karna hasutan Aroon dia jadi membenci Nervan dan selalu bersikap buruk padanya.
"Aku yakin suatu saat nanti hatimu akan melembut dan mau menerimaku menjadi suamimu, Saat ini aku ridho dengan apa yang akan kamu lakukan padaku karna rasa benci itu belum hilang dalam hatimu, Aku akan menyiraminya dengan penuh cinta hingga cinta itu mampu menggantikan rasa bencimu padaku." Ujar Nervan dalam hati.
Selesai shalat Khanna menghampiri Nervan yang sedang menatapnya. Ia tatap wajah cantik istri di depannya dengan penuh cinta.
" Jangan liatin kaya' gitu, Aku nggak suka." Ucap Khanna.
__ADS_1
" Yang sopan Dek sama suami nggak baik bicara keras gitu dosa." Ucap Nervan lembut.
" Bodo' aku nggak nganggep kamu suamiku kok, Pinjam lap top donk." Sahut Khanna.
" Aku nggak akan pinjemin kalau kamu ngomongnya gitu, Belajarlah berbicara sopan sama suami Dek." Ujar Nervan. Khanna menghela nafasnya panjang. Ia memang sengaja membuat suaminya marah tapi nyatanya suaminya nggak marah juga.
" Mas Nervan bolehkah aku pinjam laptopmu?" Tanya Khanna membuat Nervan tersenyum.
" Baiklah sayang silahkan, Laptopnya ada di atas meja itu." Ucap Nervan sambil tersenyum. Khanna melirik sinis pada Nervan.
Khanna segera berjalan ke meja yang sering di gunakan Nervan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Khanna membuka laptop dan menghidupkannya. Betapa terkejutnya Khanna melihat walpaper yang ada pada layar laptop Nervan. Di sana terpapang fotonya yang sedang duduk di sofa. Ia melirik ke arah Nervan dan hanya di balas dengan senyuman oleh Nervan.
"Selalu saja senyum kapan marahnya si? Apa dia tidak punya emosi kali ya? Udah aku pancing biar marah marah juga tetap aja gagal, Sabar banget sih jadi orang." Gerutu Khanna dalam hati.
" Dek...Mas ngegym dulu ya." Ucap Nervan.
" Hmm." Gumam Khanna. Nervan berjalan keluar kamarnya menuju tempat gym yang tak jauh dari kamarnya.
Khanna segera membuka email miliknya, Di sana banyak laporan keuangan Cafe yang belum Ia selesaikan. Ya Khanna mewarisi bakat Papanya, Ia menjadi pemilik beberapa Cafe di kota ini dan banyak cabang cabang lainnya di luar kota. Semua cafe milik Khanna di beri nama " KA" inisial dari namanya.
Sedangkan Nervan Ia meneruskan perusahaan milik Papa Reno dengan jabatan Wakil direktur. Karna direktur utamanya masih Papa Reno, Nervan menolak untuk di jadikan CEO di perusahaan itu, Karna baginya Ia belum pantas memimpin perusahaan sebesar itu. Nervan juga menjalankan bisnis pariwisata bersama teman temannya. Ia menyediakan dari transportasi, Hotel dan lain sebagainya.
Tak terasa waktu sudah pagi, Khanna menyudahi pekerjaannya lalu Ia beranjak untuk mandi. Ia bersiap untuk bekerja hari ini. Selesai mandi Khanna menuju ruang ganti. Almarinya sudah bisa di buka, Tadi pagi art mengantar kuncinya ke kamar Nervan.
Khanna segera turun ke bawah menuju meja makan di mana Mama Sarah sedang menata makanan di sana. Khanna menghampirinya.
" Pagi Ma..." Sapa Khanna.
" Pagi sayang dah rapi aja, Mau langsung kerja? Nggak cuti dulu buat bulan madu." Goda Mama Sarah.
" Nggak ah Ma lain kali aja, Maaf ya Ma Khan nggak bantuin Mama masak." Ucap Khanna.
" Nggak pa pa Mama tahu kamu nggak bisa masak, Mama Alfi udah kasih tahu semuanya sama Mama." Ujar Mama Sarah.
" Sebenarnya kalau masaknya bisa si Ma, Cuma nggak tahu rasanya kalau aku masak tuh selalu nggak enak." Keluh Khanna.
" Nggak pa pa nanti sambil belajar ya, Karna bagaimanapun kamu sekarang seorang istri, Pasti Nervan mau merasakan masakanmu juga." Ujar Mama Sarah.
" Iya Ma." Jawab Khanna.
" Ya udah kamu panggil Nervan gih kita sarapan sekarang." Titah Mama Sarah.
" Ok Ma." Sahut Khanna.
__ADS_1
Khanna segera kembali ke kamarnya Ia ingin melihat Nervan marah marah karna tidak di siapkan baju kantor olehnya. Saat Khanna membuka pintunya Ia melihat Nervan sedang memasang dasinya dan sudah berpakaian rapi. Khanna kecewa karna Nervan menyambutnya dengan senyuman.
" Mas di tunggu Mama untuk sarapan." Ucap Khanna.
" Iya sebentar, Lagi pasang dasi nih tumben susah, Biasanya nggak gini deh." Sahut Nervan.
Khanna menghampiri Nervan, Ia mengambil alih dasi yang di pegang Nervan lalu memakaikannya. Nervan menatap wajah cantik Khanna dengan senyum mengembang. Hatinya berbunga menerima perhatian kecil dari Khanna.
" Selesai." Ucap Khanna mendongak menatap Nervan, Mata keduanya beradu, Setelah beberapa saat Khanna memutus pandangannya lebih dulu. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghilangkan rasa gugupnya.
" Makasih...Ayo kita ke bawah." Ajak Nervan mencairkan suasana, Ia tahu kalau saat ini Khanna sedang gugup.
Nervan berjalan keluar kamar di ikuti Khanna dari belakang. Saat di anak tangga Nervan menggandeng tangan Khanna. Khanna sempat menarik tangannya tapi Nervan segera memberi isyarat kepada Khanna agar tetap menggandeng tangannya.
" Silahkan duduk sayang." Ucap Mama Sarah setelah Nervan dan Khanna sampai di meja makan.
" Pagi Ma, Pa." Sapa Nervan.
" Pagi Van, Ayo kita mulai sarapannya." Ujar Papa Reno.
Mama Sarah mengambil makanan untuk Papa Reno. Sedang Khanna hanya melihatnya saja. Ia mau melakukan hal sama untuk Nervan tapi Ia merasa canggung.
" Sayang..." Nervan Panggil Nervan sambil melirik ke arah piringnya.
" Eh...Iya Mas..." Khanna segera mengambil piring Nervan dan mengambil makanan seperti yang di lakukan Mama Sarah.
" Makasih Yank." Ucap Nervan setelah sarah menyajikan makanan di depannya.
Khanna mengambil makanan untuk dirinya sendiri, Mereka mulai makan dengan Khidmat.
" Nervan, Khanna Papa sudah memesan paket Honeymoon untuk kalian minggu depan." Ucap Papa.
" Uhuk...uhuk...uhuk...
**TBC....
Babang Nervan Saat mau berangkat kerja**
Khanna siap mulai kerja hari ini
__ADS_1
Jangan menghujat sikap Khanna ya, Memang saat ini Khanna masih membenci Nervan jadi ya sikapnya semaunya sendiri. Makasih suportnya dan jangan lupa di tunggu like dan komentnya...Miss U All...