Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Penyesalan Nervan


__ADS_3

Nervan sampai di rumah dengan keadaan lesu, Sudah satu bulan lebih Nervan mencari keberadaan Khanna, Namun tidak ada hasilnya, Khanna hilang bagaikan di telan bumi. Bahkan Khanna memutus segala akses untuk keluarganya sendiri, Ia benar benar pergi menyendiri tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Bahkan Aroon dan Papa Sakti kelimpungan mencari keberadaan Khanna.


Nervan membuka pintu kamarnya, Kamar yang penuh dengan kenangan Indah bersama Khanna. Bayang bayang Khanna menghantui pikiran Nervan saat ini. Bayangan dimana Khanna mengungkapkan cintanya, mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya. Hingga bayangan penyatuan cinta mereka terekam jelas dalam pikiran Nervan seperti kaset yang sedang berputar. Nervan menatap foto pernikahannya yang ada di atas nakas, Ia pandangi wajah Khanna yang tersenyum bahagia di depan kamera walau Nervan tahu kalau saat itu Khanna tidak menginginkan pernikahan ini. Nervan memeluk foto itu dengan kesedihan yang mendalam. Penyesalan atas apa yang Ia lakukan selama ini tidak ada artinya lagi. Ia benar benar kehilangan sosok wanita yang sangat Ia cintai.


" Hiks....Hiks.... Maafkan Mas sayang... Mas menyesal telah menyakiti hatimu, Pulanglah sayang.... Beri Mas kesempatan untuk menjelaskannya.. Atau setidaknya beri petunjuk kepada Mas dimana Adek sekarang, Mas akan menjemputmu sayang... Mas mohon kembalilah pada Mas... Maafkan atas kebodohan Mas sayang Hiks.... Hiks...." Ratap Nervan.


" Argh..... Kau bodoh Nervan.... Kau bodoh.... Kau tidak menyadari bahwa kau di perdaya orang lain... Kau begitu bodoh.... Ternyata kau selemah ini Nerva ... Kau bodoh." Teriak Nervan.


Pyarrrrr..... Nervan menghantam kaca rias Khanna. Darah segar menetes melalui celah celah jarinya. Nervan tidak mempedulikannya.


" Aku harus mencari Tante Diandra... Aku harus tahu kenapa dia melakukan ini kepadaku, Aku harus mencarinya, Akan aku tanyakan siapa dia sebenarnya." Ujar Nervan.


Nervan segera melajukan mobilnya menuju rumah Papa Reno, Ia akan meminta bantuannya untuk melacak keberadaan Khanna dan menyelidiki siapa Diandra itu sebenarnya.


Sesampainya di kediaman Papa Reno, Nervan segera masuk ke dalam rumahnya, Sepi... Ia mencari Papanya hingga ke ruang kerjanya.


Ceklek...


Nervan membuka pintu ruang kerja Papanya, Namun tidak ada, Ia kembali ke ruang tamu. Tak lama kemudian Papa Reno memasuki rumah dengan tergesa gesa, Ia menghampiri Nervan. Nervan segera beranjak dari kursinya.


" Pa..." Ucap Nervan menghampiri Papa Reno.


Plak...... Tamparan keras mendarat di pipi Nervan. Nervan menyentuh pipinya lalu Ia mengusap darah di sudut bibirnya, Rasanya perih tapi seperih hatinya.


" Pa..." Gumam Nervan.


" Jangan pernah menganggapku Papamu lagi, Aku tidak sudi mempunyai anak bajing*n sepertimu." Bentak Papa Reno.


" Kamu membuatku malu di depan mereka.... Kamu sama seperti Ibumu....." Teriak Papa Reno.


" Maafkan aku Pa.... Aku terpaksa melakukannya... Aku terpaksa menyakiti Khan Pa." Lirih Nervan.


" Bagaimana bisa kamu sebodoh itu tanpa mencari tahu dulu yang sebenarnya, Siapa dia? Siapa yang mengaku ngaku sebagai Tantemu? Kenapa kamu sebodoh ini Nervan?.... Kanna di lindungi tiga keluarga.... Tiga marga sekaligus... Kenapa kamu harus takut dengan ancamannya bodoh, Tugasmu melindunginya dari ancaman orang luar bukan malah menyakitinya Nervan..." Teriak Papa Reno.


Papa Reno sudah mengetahui semuanya karna Papa Sakti sudah menjelaskan duduk perkara yang Nervan alami saat ini. Papa Reno sangat menyayangkan kebodohan Nervan yang takut akan ancaman wanita yang entah siapa sebenarnya dia.


" Khanna sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, Kalian tumbuh bersama dalam kasih sayang yang sama... Tapi kenapa kau tega melakukan ini padanya Nervan... Aku kecewa padamu." Ujar Papa Reno.


" Pa... Aku tidak pernah mengkhianatinya, Aku tidak benar benar menikahi Safita Pa.... Aku mencintai Khanna Pa. Aku hanya bersandiwara di depannya...." Ujar Nervan.


" Tapi sayangnya Khanna tidak mengetahui semua kebenaran sandiwaramu bukan? Bahkan mungkin saat ini Khanna sudah tidak mencintaimu lagi, Luka yang kau tanam menumbuhkan kebencian dalam hatinya... Carilah dia sampai ketemu kalau sampai Khan kenapa napa kau akan menanggung akibatnya...." Ujar Papa Reno.

__ADS_1


" Aku mohon bantu aku mencarinya Pa, Aku sudaj mencarinya kemana mana, Bahkan Ayah Saktipun sudah meminta bantuan dari teman temannya, Tapi sampai sekarang hasilnya masih nihil Pa." Ucap Nervan.


" Akan Papa usahakan, Papa akan meminta bantuan Shiv, Dia punya koneksi luas untuk menemukan Khanna secepatnya." Sahut Papa Reno.


" Makasih Pa, Tapi saat ini Papa Shiv sedang di luar negri dan tidak bisa di hubungi." Ucap Nervan.


" Kita tunggu kepulangannya." Ujar Papa Reno.


" Kalau begitu Nervan pulang dulu Pa, Assalamu'alaikum." Pamit Nervan mencium punggung tangan Papa Reno.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa Reno.


Nervan kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan, Ia sangat berharap bisa segera menemukan Khanna. Walaupun Papa Sakti dan Papa Reno sudah mengerahkan anak buahnya tapi tetap saja tidak membuat Nervan hanya berleha leha menunggu kabar dari rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat tepatnya di kota yang terkenal pendidikan dan pariwisatanya. Khanna sedang bersiap menuju Cafe yang baru di rintisnya, Cafe KA sebuah Cafe yang menyajikan berbagai macam menu restorant di sertai panggung musik di dalamnya. Walaupun Cafe ini baru di buka beberapa minggu yang lalu, Tapi antusiasme warga sekitar untuk mencoba menikmati sajian di cafe tersebut begitu tinggi, Apalagi anak anak muda mulai dari SMP hingga perguruan tinggi sering membuat Cafe Khanna kewalahan. Khanna sudah terbiasa menjalankan Cafe sehingga Ia tidak mengalami kendala yang berarti.


Khanna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karna di kota ini banyak lampu merah, Dengan memasang headseat pada telinganya Khanna menikmati alunan musik sambil manggut manggut. Jarak antara rumah dan Cafe tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu setengah jam saja.


Sesampainya di Cafe, Khanna segera berjalan memasuki Cafenya yang sudah ramai, Apalagi malam ini adalah malam minggu, Malam dimana para remaja bersama pasangannya menikmati malam syahdu berdua.


" Malam Mbak." Sapa Sofi seorang karyawan di sana.


" Tidak ada Mbak, Semua aman terkendali." Sahut Sofi.


" Syukurlah, Aku keruangan dulu ya." Ujar Khanna.


" Silahkan Mbak Khan." Sahut Sofi.


Khanna melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Ia duduk bersandar pada kursi kesayangannya. Pikirannya melayang saat pertama kali Ia datang ke kota ini satu bulan yang lalu. Sebelum pergi, Khanna menguras semua isi tabungan yang Nervan berikan kepadanya di Bank yang ada di kota J. Ia gunakan uang itu untuk membeli tempat yang sekarang di jadikan Cafe untuknya. Kebetulan memang sebelum di jual tempat ini merupakan sebuah restoran, Sehingga Khanna tidak banyak merubah tempatnya.


Drt.... Drt....


Ponsel Khanna berdering tanda panggilan masuk, Ia menatap ke layar ponsel melihat ID pemanggil.


" Hallo Ris ada apa?" Ucap Khanna to the point setelah mengangkat teleponnya.


" Aku ada di luar, Keluarlah kita jalan jalan ke alun alun kota." Ucap Richard.


" OK tunggu sebentar." Sahut Khanna menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


Khanna mengambil tas selempangnya lalu Ia berjalan keluar Cafe menghampiri Richard yang sudah menunggunya di depan.


" Ayo." Ajak Khanna.


" Ayo Tuan putri." Sahut Richard.


Mereka berjalan berdampingan menuju alun alun kota.


" Gimana kamu betah di sini?" Tanya Richard.


" Betah nggak betah sih... Tapi suasana di sini hampir sama di Kota J kok jadi ya... Serasa seperti berada di kota sendiri." Ujar Khanna sambil terus berjalan.


" Kamu tidak merindukan keluargamu?" Tanya Richard.


" Untuk saat ini aku tidak merindukan mereka, Aku ingin hidup tenang di sini Ris, Walau hanya sesaat karna aku yakin Papa dan Kak Aroon pasti akan menemukanku." Sahut Khanna.


" Apa kamu tidak mau mengabari mereka tentang keberadaanmu? Kasihan mereka pasti kebingungan mencarimu, Apalagi semua jejak kepergianmu sudah di tutup oleh Papa Shiv." Ujar Richard.


" Tunggu sampai saatnya tiba Ris, Saat ini aku ingin melupakan semuanya dulu.... Aku ingin menikmati hidupku sendiri.. Aku ingin menata hatiku." Sahut Khanna.


" Jangan pernah merasa sendiri ada aku di sampingmu Khan... Ada aku yang akan selalu mendukungmu.." Ucap Richard menggenggam tangan Khanna membuat Khanna menghentikan langkahnya. Khanna menatap ke arah Richard.


" Jangan terlalu baik padaku Ris, Aku tidak mau kau menaruh harapan lagi padaku, Aku tidak mau membuatmu kecewa." Ujar Khanna.


" Tenanglah... Biar rasa ini aku yang menanggungnya sendiri, Kamu tetaplah menganggapku sebagai teman." Sahut Richard.


" Terima kasih... Maafkan aku yang pernah menyakitimu, Maafkan aku yang pernah memanfaatkan orang sebaik dirimu... Aku mengorbankanmu demi pria brengsek sepertinya... Andai hati ini bisa mencintaimu, Aku yakin pasti aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia." Ujar Khanna merasa bersalah.


" Kalau kamu mau sekarang juga bisa, Belajarlah mencintaiku dan kita akan hidup bahagia selamanya, Gimana?." Canda Richard.


" Kamu ini... Aku sedang patah hati saat ini, Nggak mungkin aku membuka hati lagi untuk orang lain sedangkan di hatiku hanya tertulis namanya." Ucap Khanna.


" Tidak masalah... Aku bahagia berada di sampingmu walau sebagai teman." Ucap Richard.


" Makasih ya... Semoga kamu mendapat pendamping yang selalu setia dan mencintaimu." Ucap Khanna.


" Amien... Ayo jalan lagi." Ujar Richard.


Mereka melanjutkan langkahnya menuju alun alun kota.


" Jika kita berjodoh maka suatu hari nanti pasti Tuhan akan mempersatukan kita, Kalau kita tidak berjodoh aku harap Tuhan akan menghapuskan namamu dalam hatiku." Ujar Richard dalam hati.

__ADS_1


TBC....


Jangan lupa like vote dan komentnya ya... Makasih...


__ADS_2