
AUTHOR KASIH TAHU KALAU COVER "SUAMIKU KAKAK ANGKATKU" DI GANTI OLEH PIHAK NOVELTOON BIAR PARA READERS TIDAK BINGUNG YA... MAKASIH NOVELTOON
...****************...
Hari ini Khanna dan Nervan sedang bersiap menuju rumah sakit, Nervan harus menjalani terapi lagi. Dengan memakai dress warna biru dan rambut di kucir kuda membuat Khanna kelihatan lebih cantik. Sedangkan Nervan memakai kemeja putih lengan pendek dengan celana denimnya.
" Sayang kamu cantik sekali." Ucap Nervan memeluk Khanna dari belakang.
" Kamu juga tampan Mas, Tampan banget malah bikin hati Adek jadi klepek klepek." Ujar Khanna.
" Masa' sih?" Tanya Nervan.
" Hmmm tapi apa adanya dirimu aku akan tetap mencintaimu Mas." Ucap Khanna.
" Makasih sayang.... Mas juga sangat sangat mencintai dirimu." Sahut Nervan.
Nervan membalikkan tubuh Khanna, Ia merapikan anak rambut Khanna, Nervan menatap wajah cantik istrinya.
" Morning kiss dulu ya biar semangat." Ucap Nervan. Khanna menganggukkan kepalanya.
Nervan mengecup bibir Khanna lembut. Khanna membuka sedikit mulutnya sambil memejamkan mata. Lidah Nervan bermain main di dalam sana mengekspos setiap inchinya. Untuk beberapa saat keduanya saling terlena dengan sensasi manis bibir masing masing. Setelah di rasa sudah kehabisan nafas, Nervan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Khanna dengan jempolnya.
" Terima kasih sayang, Sebelum terapi kaki Mas terapi bibir duluan." Ucap Nervan.
" Kamu ini ada ada saja, Mana ada terapi bibir dengan ciuman? Terapi bibir itu dzikir Mas, Baca Qur'an baru namanya terapi." Ujar Khanna.
" Itu sih udah Mas lakukan setiap malam sayang." Sahut Nervan.
" Iya juga ya.." Kekeh Khanna.
" Ya udah ayo Dek kita berangkat, Dokter Bara sudah nungguin." Ajak Nervan.
" Sebentar Mas aku lihat dulu apa lipstik yang aku pakai luntur atau tidak." Ucap Khanna berdiri di depan cermin.
" Ya nggak mungkinlah Dek orang harganya jutaan kamu bandingin sama yang harganya seratus ribu." Kekeh Nervan.
" He he iya lupa." Sahut Khanna cengengesan.
Khanna membantu Nervan berjalan menuju mobilnya, Setelah siap Khanna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Sesampainya di sana Khanna membantu Nervan berjalan menuju ruang fisioterapi.
" Wah sepertinya banyak kemajuan nih." Ucap Dokter Bara menyambut kedatangan mereka.
" Alhamdulillah Dok." Sahut Nervan.
Nervan sudah tidak memakai tongkatnya Khannalah yang menjadi gantinya. Kemana mana Khanna akan menuntun Nervan, Biarlah Ia menjadi kaki Nervan. Bukankah begitu tugas seorang istri?
" Ternyata dukungan Nyonya Khanna memberi pengaruh besar untuk kesembuhan Tuan Nervan." Ujar Dokter Bara.
" Dokter bisa aja, Ini semua berkat kerja keras Dokter." Sahut Khanna.
" Nyonya bisa aja untuk merendah." Ucap Dokter.
"Memang itu kenyataannya Dokter, Saya sangat berterima kasih karena Dokter mau membantu untuk kesembuhan suami saya." Ujar Khanna.
" Itu sudah menjadi tugas saya Nyonya, Mari Tuan Nervan kita mulai terapinya." Ujar Dokter Bara.
" Aku tunggu di luar ya Mas." Ucap Khanna menatap Nervan.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Nervan dengan senyum manisnya.
Nervan mulai melakukan terapinya, Ia mulai berdiri sendiri walau masih sempoyongan tapi Ia bertekad untuk segera sembuh. Dokter Bara terus memberi instruksi untuk menguatkan kaki Nervan. Sedangkan Khanna menunggu di luar sambil memainkan ponselnya.
" Sepertinya ini akan menjadi terapi terakhir Tuan Nervan, Kaki Tuan sudah sembuh, Di rumah seringlah jalan jalan supaya bisa cepat berjalan dengan normal lagi." Ucap Dokter Bara
" Alhamdulillah makasih banyak Dok atas bantuannya." Sahut Nervan.
"Sama sama Tuan, Sekarang anda tidak perlu meminum obat lagi, Jadi saya tidak berikan resepnya ya." Ujar Dokter Bara.
" Baik Dok sekali lagi terima kasih, Saya pulang dulu." Ucap Dokter Bara.
" Sama sama Tuan Nervan, Hati hati di jalan." Sahut Dokter Bara.
Nervan berjalan keluar dengan tertatih tatih menghampiri Khanna yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
" Ayo Dek kita pulang." Ucap Nervan. Khanna mendongak menatap Nervan yang sudah bisa berdiri dengan tegak.
" Kamu sudah sembuh Mas?" Tanya Khanna.
" Seperti yang Adek lihat tapi Mas masih belum bisa untuk berdiri terlalu lama." Ujar Nervan.
" Tidak masalah Mas yang penting kamu udah sembuh, Tidak menebus obat dulu?" Ucap Khanna.
" Kata Dokter sudah tidak perlu minum obat lagi." Jelas Nervan.
" Baiklah ayo kita pulang." Khanna memasukkan ponselnya ke dalam slimbagnya. Lalu menuntun Nervan menuju mobilnya.
Sesampainya di rumah Khanna segera turun dari mobil, Ia membantu Nervan keluar dari mobilnya.
"Apa sih Mas bikin malu aja." Ucap Khanna dengan pipi memerah semerah tomat matang.
" Ya udah ayo mas mau jalan sendiri." Ujar Nervan.
" Baiklah Mas hati hati, Aku ada di belakangmu." Sahut Khanna.
Mereka berjalan masuk menuju ruang tamu, Nervan duduk bersandar di sofa, Ternyata cukup melelahkan walau hanya berjalan beberapa meter saja. Khanna kembali ke arah pintu ingin menutup pintunya sampai tiba tiba Safita nyelonong masuk menghampiri Nervan.
" Kamu ini gimana sih Van? Aku nungguin kabar dari kamu malah kamu blok nomer aku." Kesal Safita. Nervan menatap Khanna yang sedang berdiri sambil bersedekap dada.
" Kabar apa?" Tanya Nervan.
" Ya kabar tentang kamu mau nikahin aku gimana sih, Kapan kamu mau nikahin aku? Keburu perutku membesar." Ucap Safita.
" Benar benar tidak tahu malu." Gumam Khanna tapi masih bisa di dengar Safita.
" Apa maksudmu tidak tahu malu? Aku meminta pertanggung jawaban dari Nervan, Kamu nggak suka?" Sinis Safita.
" Siapa yang melakukannya siapa yang bertanggung jawab." Cibir Khanna menggelengkan kepalanya.
" Van kamu jangan diam aja donk." Desak Safita.
" Maaf Fit aku nggak bisa, Kamu cari aja lelaki yang menghamili kamu itu." Ujar Nervan.
" Kamu kan tahu kalau Aroon pergi entah kemana? Lalu aku harus mencarinya kemana?" Tanya Safita.
" Apa kamu yakin bayi itu milik Kak Aroon?" Tanya Khanna dengan senyum merendahkan.
__ADS_1
" Apa maksudmu? Jelas jelas ini anak Aroon, Aku hanya melakukannya dengan Aroon." Sahut Safita.
" Ya siapa tahu kamu melakukannya dengan orang lain, Lalu kamu mau menjebak Mas Nervan biar tanggung jawab menggantikan Kak Aroon." Sindir Khanna membuat Safita gelagapan
" Terserah kamu mau ngomong apa, Yang jelas Kalau Nervan tidak mau menutup aib Aroon maka aku akan menjebloskan Aroon ke penjara." Ancam Safita.
" Silahkan.... Jika terbukti anak itu milik Kak Aroon maka aku sendiri yang akan meminta Kak Aroon untuk bertanggung jawab dan menikahimu, Tapi jika kau mempermainkan kami maka kau harus siap menerima akibatnya karena telah bermain main kepada keluarga kami." Tekan Khana dengan menatap tajam ke arah Safita membuat nyali Safita menciut.
" Kau tahu dimana Aroon berada?" Tanya Safita sedikit takut.
" Tentu... Aku adiknya, Aku tahu dimana Kak Aroon berada dan tentang apa saja yang Ia lakukan, Termasuk yang dia lakukan kepadamu, Jangan sampai Kak Aroon tahu kau membawa bawa namanya dalam masalahmu ini karena jika sampai dia tahu maka tamatlah riwayatmu Nona Safita." Tegas Khanna membuat Safita bergidik ngeri.
" Ternyata Aroon dan adiknya sama sama mengerikan, Aku harus pergi dari sini, Aku tidak mau bermain main dengannya lagi" Batin Safita.
Safita segera beranjak dan pergi dari sana, Dia sangat ketakutan karena Ia takut betapa berpengaruhnya keluarga Aroon, Sepertinya dia salah memilih umpan.
" Hei mau kemana? Urusan kita belum selesai." Teriak Khanna.
" Sayang... Adek menakutinya makanya dia lari begitu saja." Ucap Nervan.
" Ha ha biar tahu rasa dia, Biar nggak ganggu suamiku dengan air mata buayanya yang membuat suamiku lemah iman lagi." Sahut Khanna dengan senyum kecut. Hatinya merasa dongkol jika mengingat tentang kebodohan suaminya.
" Iya maaf deh, Nggak lagi lagi." Ucap Nervan.
" Dek... Apa Adek masih mengkonsumsi pil itu?" Tanya Nervan menatap Khanna. Khanna tahu apa yang di maksud Nervan.
" Ya enggaklah Mas, Emang aku mau berhubungan sama siapa." Sahut Khanna.
" Adek masih muda udah mengkonsumsi pil itu, Apa tidak akan ada efeknya?" Tanya Nervan hati hati.
Deg.....
Jantung Khanna berdetak dengan kencang, Kenapa Ia tidak berpikir sampai ke situ? Bagaimana kalau kandungannya kering? Bagaimana kalau Ia susah hamil? Apakah akan datang karma untuknya karena menunda rejeki yang Tuhan berikan kepadanya? Pikir Khanna.
" Hei kok malah ngelamun sih." Ucap Nervan menyenggol lengan Khanna.
" Eh... I...Iya Mas." Sahut Khanna. Khanna menghela nafasnya.
" Nggak usah di pikirin maafin Mas yang udah buat Adek cemas, Semua ini terjadi juga karena Mas, Kita berdoa saja semoga semua akan baik baik saja ya, Dan Tuhan akan segera mengirimkan malaikat kecil untuk kita hmm." Ucap Nervan memeluk Khanna.
" Iya Mas, Amien semoga Allah memaafkan dosaku karena telah menolak rejeki darinya." Sahut Khanna.
" Adek tidak menolak, Adek hanya menundanya saja, Mas mau istirahat Dek, Kita ke kamar ya." Ujar Nervan.
" Iya Mas, Ayo." Sahut Khanna.
Khanna membantu Nervan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Nervan membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia mencoba memejamkan matanya, Karena saking ngantuknya akhirnya Nervan terlelap dalam tidurnya.
Khanna menatap wajah tampan suaminya, Ia menjadi kepikiran tentang efek pil kb yang pernah di minumnya.
" Tidak masalah kan aku minumnya cuma sebentar, Lagian juga udah hampir tiga bulan aku udh nggak minum lagi, Tenang Khanna pasti kamu masih bisa hamil secepatnya." Gumam Khanna menyemangati dirinya sendiri.
Khanna memeluk Nervan sambil memejamkan matanya, Ia berharap semua urusannya akan di mudahkan oleh sang Maha Pencipta.
TBC....
Jangan lupa like dan momentnya ya... Makasih
__ADS_1