
Sesampainya di rumah Khanna segera turun daei taksi yang di tumpanginya, Ia berlari ke dalam kamarnya untuk mencari Nervan, Khanna menghampiri Nervan yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Hari menjelang malam hingga membuat angin kencang menerpa tubuh keduanya. Khanna memeluk Nervan dari belakang.
" Maaf Mas." Ucap Khanna membuat Nervan tersenyum yang tidak di ketahui oleh Khanna.
" Jangan marah ya... Jangan dengarkan omongan Dea, Itu kan cuma dulu saat aku masih sekolah sekarang aku hanya mencintai kamu saja, Mas Nervan I Love U." Ungkap Khanna membuat Nervan lebih mengembangkan senyumnya.
" Massss." Rengek Khanna.
Nervan membalikkan tubuhnya, Ia menatap wajah istrinya yang memang cantik dari sananya. Nervan menunduk lalu mengecup bibir Khanna. Ia menahan tengkuk Khanna membuat Khanna memejamkan matanya. Tanpa berkata apa apa Nervan menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Khanna mengekspos setiap incinya. Ia melum** bibir Khanna dengan lembut. Mereka saling membalas ciuman satu sama lain menikmati sensasi memabukkan yang di hasilkan dari ciuman itu. Ciuman yang awalnya biasa kini berubah menjadi ciuman yang menuntut.
Nervan menuntun Khanna menuju ranjangnya. Ia merebahkan tubuh Khanna lalu menindihnya. Ia mulai mencium bibir Khanna lagi. Ciuman Nervan turun ke leher, Lidah Nervan bermain main di sana membuat Khanna mendesis. Nervan meninggalkan beberapa tanda merah di sana. Entah bagaimana dan siapa yang memulai kini tubuh mereka berdua sama sama pol*s.
" Mas datang ya." Ujar Nervan. Khanna menganggukkan kepalanya.
Setelah membaca doa Nervan mulai mendatangi Khanna. Keduanya sama sama terlena dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri. Suara desa*** dan Erangan pun memenuhi ruangan ini. Kedua saling menyatukan cinta mereka hingga beberapa jam lamanya. Setelah merasa puas akhirnya Nervan mengakhiri permainannya.
" Makasih sayang." Ucap Nervan mencium kening Khanna. Ia merebahkan tubuhnya di samping Khanna.
" Sekarang tidurlah atau mau mandi dulu?" Tanya Nervan.
" Tidur aja Mas capek." Sahut Khanna.
" Baiklah tidur yang nyenyak sayangku." Sahut Khanna.
Akhirnya mereka tidur dengan melewatkan makan malam mereka.
...****************...
Drt....Drt...
Khanna mengerjapkan matanya mendengar gesekan ponselnya dengan meja. Ia segera mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan dari asistennya yang ada di kota B.
" Hallo Rob, Ada apa?" Ucap Khanna dengan suara seraknya.
" Maaf Khan ganggu pagi pagi gini, Satu korban meninggal dunia dan Kakak korban meminta Lo datang ke sini untuk mempertanggung jawabkan semuanya sebagai pemilik Cafe, Mereka tidak terima jika hanya gue yang ngadepin mereka, Lo bisa ke sini kan?." Ujar Robi.
Khanna memijat pelipisnya. Entah masalah apa yang akan Ia hadapi, Padahal Ia sudah memberikan kompensasi yang cukup besar di bandingkan Cade lainnya.
" Baiklah gue akan ke sana, Gue otw jam delapan." Sahut Khanna memutuskan sambungan teleponnya.
" Ada apa sayang? Sepertinya masalah serius." Tanya Nervan menyandarkan punggungnya pada headboard.
" Satu korban meninggal dunia Mas, Pihak keluarga memintaku bertanggung jawab." Sahut Khanna.
__ADS_1
" Mas akan menemani Adek ke sana." Ujar Nervan.
" Mas kan kerja, Biar aku sendiri aja." Ucap Khanna.
" Mas nggak mau Adek menghadapi masalah sendirian, Ada Mas di sini yang siap menjadi tameng Adek, Pokoknya Mas yang akan ngantar Adek ke sana, Jika ada apa apa Mas yang akan bertindak duluan." Kukuh Nervan.
" Baiklah Mas terserah kamu saja, Tapi kamu diam aja di sana biarkan aku yang menyelesaikan masalahku sendiri, Jika aku terdesak maka au akan meminta bantuanmu, Aku mandi dulu." Ujar Khanna.
" Kita mandi bareng." Nervan menggendong tubuh Khanna yang terbalut selimut menuju kamar mandi. Nervan tidak menyianyiakan kesempatan ini, Ia kembali menyatukan cinta mereka di dalam kamar mandi. Nervan bahkan tidak ada puas puasnya menguasai tubuh Khanna. Khanna hanya pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya, Mau menolak pun takut dosa.
Setelah selesai mandi disertai drama hingga menghabiskan waktu berjam jam, Akhirnya mereka pergi tanpa sarapan, Khanna tidak bisa memasak karna tidak ada waktu lagi. Nervan segera melajukan mobilnya menuju kota B yang jaraknya lumayan jauh dari sini sekitar 151km dan 2.5 jam jika lewat tol cipumurah.
Sesampainya di sana Khanna segera masuk ke dalam Cafe meninggalkan Nervan yang sedang memarkirkan mobilnya. Cafe tersebut masih dalam proses renovasi di bagian belakang setelah kebakaran tiga hari lalu.
" Kau sudah sampai?" Tanya Robi.
" Hmm Gimana? Apa mereka masih menuntut ingin bertemu denganku?" Tanya Khanna.
" Masih Khan, Kakak korban ingin kamu menemuinya di rumah duka." Ujar Robi.
" Apa prosesi pemakamannya sudah selesai?" Khanna bertanya kembali.
" Sepertinya tadi pagi langsung di makamkan." Sahut Robi.
" Baik." Sahut Robi.
" Lhoh baru sampai mau kemana lagi? Adek belum makan lho." Ujar Nervan yang baru saja masuk.
" Nanti aja Mas, Aku mau segera selesaiin masalah ini." Ucap Khanna.
" Baiklah, Adek sama Mas aja Robi biar bawa mobil sendiri." Ujar Nervan.
" OK Kak." Sahut Robi.
Mereka menuju rumah korban yang bernama Asih, Rumahnya tak jauh dari sana. Di halaman depan terpasang kertas kuning tanda sedang berkabung. Robi berjalan menghampiri rumah itu di ikuti Khanna dan Nervan dari belakang.
" Assalamu'alaikum." Ucap Robi.
" Wa'alaikumsallam, Silahkan masuk." Sahut pria seumuran Nervan, Mungkin itu Kakak Asih.
Mereka di persilahkan duduk di sofa.
" Maaf sebelumnya Bang, Perkenalkan saya Khanna pemilik Cafe tempat Asih bekerja." Ucap Khanna.
__ADS_1
" Saya tahu." Sahut Malik Kakak Asih.
" Kedatangan saya ke sini saya ingin meminta maaf dan saya turut berduka cita atas meninggalnya Asih, Saya juga sudah memenuhi tanggung jawab saya sebagai pemilik tempat Asih bekerja, Lalu untuk apa Abang meminta saya datang ke sini?" Tanya Khanna to the point, Ia tidak mau membuang waktu untuk basa basi.
" Saya mau kamu menambah uang kompensasi untuk adik saya, Uang segitu kurang untuk mengganti nyawa adik saya." Ucap Malik tidak punya perasaan.
" Apa? Bagaimana mungkin seorang Abang tega menukar nyawa adiknya dengan uang? Saya tidak menyangka ini dari anda Tuan Malik." Ucap Khanna.
" Itu sebabnya saya meminta tambahan kompensasi kepada anda." Sahutnya enteng.
" Saya sudah menanggung biaya rumah sakit sebesar lima puluh juta, Dan saya sudah memberi kompensasi sebesar lima puluh juta, Total yang saya keluarkan untuk adik anda sebesar seratus juta, Padahal kematian adik anda di sebabkan karena penyakit jantungnya, Apa itu masih kurang?" Sinis Khanna.
Deg.... Jantung Malik deg deg an mendengar ucapan Khanna.
" Bagaimana anda tahu jika adik saya punya penyakit jantung? Jelas jelas adik saya mati karena peristiwa kebakaran di tempat kerjanya, Yaitu Cafe anda Nona Khanna." Kukuh Malik.
Plek....
" Baca rekam medis itu dengan teliti." Ucap Khanna melempar stopmap ke meja.
Nervan menatap kagum ke arah Khanna, Istrinya memang judes kalau kata jawa mah. Khanna tidak gampang terintimidasi oleh orang lain alias keras kepala.
Malik membukanya dengan perasaan takut. Ia baca dengan teliti rekam medis beserta surat kematian dari pihak rumah sakit. Di sana tertera keterangan jika adiknya meninggal karena gagal jantung yang sudah di deritanya sejak kecil.
" Jika anda mau memeras saya, Anda salah Tuan Malik, Saya bisa melaporkan anda atas tuduhan pemerasan, Dan saya pastikan anda tidak akan mendapatkan kompensasi sedikitpun, Saya tidak akan mengungkit jasa adik anda, Saya ikhlas memberikan itu semua untuk anda sebagai rasa terima kasih saya karena adik anda sudah membantu saya walaupun saya menggajinya." Sindir Khanna.
" Maafkan saya Nona Khanna." Ucap Malik.
" Anda hanya membuang buang waktu saya saja, Saya permisi."Cebik Khanna.
Khanna meninggalkan kediaman Malik di ikuti oleh Nervan dan Robi. Keduanya kembali ke Cafe dengan mobil masing masing.
**TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya..
Author ucapkan terima kasih untuk semua readers yang sudah mensuport author..
Dukung juga karya author yang lain ya...
Miss U All**...
Author tunggu di sana.....
__ADS_1