
" Kamu."
" Kamu." Pekik Khanna dan Adam bersamaan.
" Kalian saling kenal?" Tanya Robi.
" Tidak." Jawab Khanna dan Adam bersamaan lagi. Robi menatap ke arah Khanna dan Adam bergantian.
" Apaan sih liatinnya gitu amat." Ucap Khanna kepada Robi.
" Kalau begitu kenalkan... Pak Adam ini Khanna pemilik Cafe ini, Khanna ini Pak Adam orang yang mau membooking Cafe kita." Robi mengulangi ucapannya.
" Khanna." Ucap Khanna mengulurkan tangannya. Ia mencoba bersikap profesional.
" Adam." Sahut Adam membalas uluran tangan Khanna.
" Senang bertemu dengan anda Tuan." Ucap Khanna menarik tangannya.
" Silahkan duduk." Sambung Khanna.
Adam memperhatikan Khanna secara diam diam, Senyum tertarik di sudut bibirnya.
" Baiklah Tuan Adam... Sebelumnya saya mau bertanya kapan dan untuk acara apa anda membooking cafe saya?" Tanya Khanna.
" Untuk acara pertemuan dua keluarga nanti malam." Sahut Adam.
" What???? Nanti malam?" Pekik Khanna.
" Iya.. Nanti malam." Sahut Adam dingin.
" Bagaimana bisa saya menyiapkan semuanya dalam waktu sekejap? Setidaknya jika anda membooking sekarang berati itu pesanan untuk besok" Ujar Khanna.
" Sebentar Tuan Adam... Konsep seperti apa dulu yang anda inginkan untuk acara nanti malam?" Tanya Khanna.
" Konsep sederhana, Yang simple aja Ya....." Adam mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
" Aku mau ruangan yang ini... Hanya perlu tambah dekor sedikit saja." Ucap Adam.
" Hah...." Khanna menghela nafasnya lega.
" Maaf Tuan... Jika hanya pertemuan dua keuarga saja, Kenapa tidak memesan ruang VIP saja? Kenapa harus membooking semuanya?" Tanya Khanna memastikan.
" Keluarga saya tidak suka banyak orang, Berisik! Apalagi orang orang seperti anda Nona Khanna, Jangan khawatir saya tidak bisa membayarnya, Saya seorang CEO bukan sopir seperti yang anda tuduhkan, Berapapun bayarannya saya akan membayarnya tunai." Jawab Adam.
Khanna menatap tajam ke arah Adam. Ia merasa geram mendengar ucapan Adam.
" Lanjutkan dengan Asistent saya saja, Saya rasa hal kecil seperti ini tidak perlu melibatkan saya terlalu jauh." Ujar Khanna.
Ia beranjak meninggalkan ruangan yang mulai memanas itu, Ia berjalan menuju ruangannya kembali. Khanna menutup pintunya kasar.
" Sialan.... Dia menguji kesabaranku, Aku sudah mencoba bersikap profesional dia malah nyolot." Kesal Khanna.
Sedangkan di ruangan VIP,
" Apa begitu etikad Bosmu jika menemui client?" Tanya Adam kepada Robi.
" Maafkan Bos saya Tuan, Mungkin dia tersinggung dengan ucapan anda." Jawab Robi.
" Persiapkan semua sebaik mungkin saya tidak mau terjadi kesalahan sekecil apapun, Termasuk dengan menu yang saya pesan tadi." Titah Adam.
" Baik Tuan." Sahut Robi.
Adam segera keluar dari ruangan itu, Ia berjalan menuju pintu keluar, Semua karyawan wanita menatapnya dengan tatapan kagum. Ia mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran Cafe.
__ADS_1
Sore harinya, Nervan baru pulang dari kantornya, Ia membuka pintu tetapi terkunci. Nervan mengambil kunci cadangan yang ada di tasnya. Ia membuka pintu memasuki rumahnya, Sepi... Nervan segera menuju kamarnya, Lalu Ia segera mandi. Setelah mandi Nervan duduk termenung di atas ranjang dengan bersandar pada headboard.
" Kemana Khanna ya? Kok belum pulang? Telepon nggak ya???? Tapikan aku lagi ngambek..... Ahhh nanti aja deh... Itung itung latihan hidup sendiri jika nanti aku meninggalkannya." Batin Nervan.
Hingga menjelang malam Khanna belum juga pulang, Nervan menatap Jam yang melingkar pada tangannya yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ia berjalan mondar mandir sambil memikirkan Khanna.
" Kemana sebenarnya kamu Dek?... Kenapa seharian ini tanpa kabar? Aku harus menelponnya." Ujar Nervan dalam hati.
Nervan segera mengambil ponselnya, Ia membuka aplikasi hijau mencari kontak atas nama " Sayangku". Lalu Nervan segera memencet tombol telepon. Sambungan terhubung hanya tinggal menunggu Khanna mengangkatnya.
" Hallo." Sapa Khanna setelah mengangkat panggilannya.
" Hallo sayang... Adek dimana?" Tanya Nervan.
" Aku lagi di Bandung, Malam ini aku nggak pulang." Jawab Khanna.
" Kenapa Adek nggak pulang?" Tanya Nervan.
" Aku sedang mengurus Cafeku yang ada di sini, Mungkin aku pulang besok pagi." Ujar Khanna.
" Kenapa tadi Adek nggak bilang dulu sama Mas?" Nervan kembali bertanya.
" Kamu nggak nanya." Sahut Khanna.
" Harusnya Adek ijin dulu sama Mas..." Ujar Nervan mulai mengeluarkan jurus ceramahnya.
" Mau bilang gimana? Kamu aja main pergi begitu saja, Bahkan makanan yang aku buat juga tidak kamu sentuh, Mulai sekarang aku nggak mau masak lagi buat kamu, Terserah kamu mau makan darimana, Mau beli atau masak sendiri aku tidak peduli, Dan ingat satu hal aku di sini kerja bukan happy happy." Kesal Khanna mematikan sambungan teleponnya.
" Sok peduli banget sih jadi orang.... Nyatanya semuanya palsu... Bikin badmood aja... Sekarang perhatian ujung ujungnya di tinggalkan buat apa... Hah lama kelamaan aku nggak sabar buat ninggalin dia, Apa aku dulu ya yang harus ninggalin dia sebelum aku di tinggalkan? Tapi kata Kak Aroon aku harus melihat kebenarannya dulu, Baiklah sabar Khanna... Sabar sebentar lagi." Gerutu Khanna.
Malam hari pun telah tiba, Khanna bersiap mengecek kesiapan tempatnya. Dengan memakai baju seadanya tetap membuat aura kecantikan Khanna terpancar. Khanna berjalan menuju pintu Cafe lalu mengeceknya dengan teliti hingga ruangan VIP yang di maksud Adam tadi. Setelah semuanya lengkap, Khanna kembali ke ruangannya.
Khanna merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang tersedia di ruangan pribadinya. Ia memainkan ponselnya untuk membuang rasa jenuhnya. Beberapa jam pun berlalu, Khanna merasa lapar, Ia keluar menuju dapur Cafe mencari makanan untuk mengganjal perutnya. Tiba tiba...
" Lepas." Berontak Khanna.
" Biarkan seperti ini." Ucap seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Khanna.
" Lepas Richard.... Lepaskan aku...." Teriak Khanna.
" Biarkan aku melepas rinduku padamu." Ucap Richard masih memeluk Khanna.
" Lepas Richard... Tolong.... Tolong...." Teriak Khanna.
" Richard lepaskan aku... Tolong...Siapapun Tolong aku.... Robi.... Nella... Tolong aku." Khanna mencoba mencari pertolongan. Sampai tiba tiba...
" Lepaskan istriku." Bentak Nervan, Ia segera menarik kasar tubuh Richard menjauh dari Khanna.
Bugh.... Bugh.... Bugh....
Nervan memukul Richard dengan membabi buta.
" Stop Mas... Jangan....Stop Mas... Dia bisa mati." Teriak Khanna.
" Kamu membelanya...." Ucap Nervan menatap tajam ke arah Khanna.
" Bukan begitu Mas... Dia bisa mati jika kamu terus memukulinya." Sahut Khanna.
" Jadi ini pekerjaan yang kamu bilang? Hingga membuatmu tidak pulang, Ini pekerjaannya?" Bentak Nervan. Khanna berjingkrak kaget.
" Tidak Mas bukan itu, Aku memang ada pekerjaan di sini." Ujar Khanna.
" Kamu menyakitiku.... Kamu menyakiti hatiku.... Aku akan membalas pengkhianatan yang kamu lakukan Khanna." Bentak Nervan.
__ADS_1
Khanna mendekat ke arah Nervan, Ia menatap Nervan dengan tajam.
" Jika kamu mau membalas rasa sakit hatimu silahkan, Tapi yang jelas aku tidak pernah mengkhianatimu Nervan." Teriak Khanna.
" Aku tunggu pembalasan darimu, Aku ingin lihat sampai di mana kamu menyakitiku dan sampai kapan aku mampu bertahan di sampingmu." Sambung Khanna.
Khanna meninggalkan Nervan dan Richard yang masih tersungkur di sudut dapur. Ia kembali ke ruangannya dan masuk ke kamar dengan mengunci pintunya.
" Ada apa ini?" Tanya Adam yang sedang mencari sepupunya.
" Tuan Nervan?" Ucap Adam.
" Tuan Adam?" Ujar Nervan.
" Ada perlu apa anda di sini?" Tanya Nervan.
" Saya sedang mencari sepupu saya, Dia meninggalkan acara, Katanya mau ke toilet tapi hingga sekarang dia belum kembali." Jelas Adam.
" Apa itu dia?" Tanya Nervan menunjuk Richard yang sedang terkapar di lantai.
" Richard...." Pekik Adam menghampiri Richard.
" Apa yang terjadi denganmu? Kenapa jadi seperti ini." Adam memapah Richard keluar dapur menuju sofa tak jauh dari sana.
" Dia mengganggu istriku." Ucap Nervan mengukuti mereka.
" Apa maksud anda Tuan Nervan?" Tanya Adam.
" Dia berani memeluk istriku." Jelas Nervan.
" Siapa istri anda Tuan Nervan?" Tanya Adam.
" Khanna... Khanna Arvia pemilik Cafe ini." Sahut Nervan membuat Adam melongo.
" Khanna istri anda? Pemilik Cafe ini? Sebentar sebentar... Kenapa saya tidak asing dengan nama Khanna ya..." Pikir Adam.
" Dia mantan tunanganku Kak, Yang sekarang jadi istrinya." Jelas Richard mengusap darah pada ujung bibirnya.
" Jadi Nona Khanna yang tadi aku temui tunanganmu?" Tanya Adam memastikan.
" Mantan tunangan." Ucap Nervan.
" Ah iya... Mantan tunangan." Ralat Adam.
" Ternyata aku tertarik sama istri orang." Batin Adam.
" Aku peringatkan sama kamu, Jangan pernah temui apalagi mengganggu istriku lagi, Kau sendiri yang sudah mencampakkannya jadi jangan pernah berharap dia mau kembali lagi sama kamu." Ancam Nervan.
" Aku tidak mencampakkannya, Aku di jebak... Dan aku akan mencari tahu siapa yang sengaja menjebakku dan menggagalkan pernikahanku dengannya." Sahut Richard.
" Aku tidak peduli itu, Yang jelas kau harus menjauhinya, Kalau tidak aku tidak yakin kau akan selamat dari genggamanku." Ucap Nervan.
Nervan meninggalkan mereka, Ia berjalan menuju ruangan Khanna, Ia mencoba membuka pintu kamar Khanna tapi tidak bisa karna Khanna menguncinya dari dalam.
Nervan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia memikirkan rencana apa yang akan di lakukannya untuk membuat Khanna takut kehilangannya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Tak lama Nervan pun tertidur di sana.
**TBC.....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author ya... Biar semangat ngetiknya...
Makasih atas suport yang para readers berikan.
Miss U All**...
__ADS_1