Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Wanita Penggoda


__ADS_3

" Pagi Tuan Nervan, Jadwal anda hari ini kosong, Maukah anda menemani saya untuk makan siang kali ini saja?" Ujar Rara dengan penampilan terbaiknya.


" Aku tidak mau membuang waktu untuk hal yang tidak berguna, Jika tidak ada pekerjaan sekarang pergilah dari sini." Usir Nervan yang tetap fokus pada laptop di depannya.


Rara berjalan mendekati Nervan.


" Nervan...." Ucap Rara yang tiba tiba duduk di pangkuan Nervan.


" Rara." Nervan segera berdiri membuat Rara juga ikut berdiri.


" Jangan memancing emosiku, Dan satu lagi jangan pernah kau mencoba untuk menyentuh tubuhku atau hidupku karena seluruh hidup dan tubuhku ini hanya milik istriku." Tegas Nervan.


" Jangan munafik kamu Van, Apa kamu tidak tergoda denganku? Aku yakin sebenarnya kau begitu naf** melihatku, Bukankah begitu Van?" Tanya Rara dengan suara seksinya.


" Dasar bit**." Hujat Nervan.


Tidak mau meladeni wanita seperti Rara, Nervan berjalan ke arah pintu meninggalkan Rara.


Grep....


Dengan tidak tahu malunya Rara memeluk Nervan dari belakang.


" Lepaskan wanita murahan." Bentak Nervan menghentak kasar tangan Rara hingga Rara jatuh tersungkur.


" Kenapa? Kenapa kau menolakku? Apa aku tidak cantik di matamu? Aku tidak menarik bagimu?" Ucap Rara.


" Semenarik apapun tubuhmu tidak akan menggoyahkan sedikitpun imanku, Bahkan jika di bandingkan dengan level istriku kau jauh lebih rendah di bawahnya." Ujar Nervan.


" Begitukah? Apa yang kau banggakan dari istrimu aku bisa melakukannya." Rara berdiri menghadap Nervan, Ia langsung menarik kerah Nervan mendekatkan bibirnya hendak mencium Nervan tapi Nervan mendorongnya.


Naas... Tubuh Nervan ikut tersungkur menindih tubuh Rara, Orang akan salah paham dengan posisi mereka saat ini yang bisa di bilang intim, Wajah mereka begitu dekat sampai tiba tiba....


Ceklek.....


Mendengar seseorang membuka pintu dan hendak masuk ke dalam ruangan, Tiba tiba Rara membuka tiga kancing kemejanya di bagian dadanya.


" Apa yang kalian lakukan Mas?" Teriak Khanna sambil menutup mulutnya. Ia tak percaya dengan apa yang Ia lihat hari ini. Suaminya berbuat mesum dengan wanita lain.


" Nona... Tolong aku Nona, Tuan Nervan mau berbuat mesum kepada saya, Saya sangat takut Nona dia mau memperk*** saya." Ucap Rara bangkit menghampiri Khanna. Mata Khanna menatap kancing baju Rara yang terbuka.


" Apa apaan kamu Rara, Hentikan omong kosongmu, Aku bahkan tidak sudi untuk menyentuh tubuhmu." Bentak Nervan.


" Sayang jangan percaya padanya." Sambung Nervan.


" Lihat Nona, Dia bahkan sudah menarik kancing baju saya hingga terbuka." Ucap Rara menunjuk bagian depannya. Rara menyentuh bagian kancing Rara untuk memastikan sesuatu.


Mata Khanna membola Ia langsung menatap Nervan dengan tatapan tajamnya.


" Kau..... Kau tega berbuat serendah ini kepadaku Mas? Kau tega mengkhianati cintaku demi wanita lain? Apa selama ini pelayananku kurang kepadamu? Apa selama ini kau tidak puas denganku? Katakan Mas katakan." Teriak Khanna.


" Sayang... Apa yang Adek tanyakan? Percayalah Mas tidak berbuat apapun padanya, Bahkan dia yang mencoba merayu Mas, Demi Allah sayang Mas tidak berani berbuat macam macam di belakangmu, Mas sangat mencintaimu hanya kamu sayang." Jelas Nervan.


" Tidak.... Jangan percaya padanya dia bohong Nona, Nervan yang memaksa saya bahkan dia sudah mendorong tubuh saya sampai saya tersungkur ke lantai, Untung Nona segera datang kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada saya Nona Hiks... hiks.." Kilah Rara menitikkan air mata membuat suasana menjadi lebih panas.


" Tidak sayang percayalah pada Mas, Untuk apa Mas menggoda wanita lain jika istri Mas jauh lebih dari segalanya sayang, Mas tidak akan tergoda dengan wanita lain." Ucap Nervan.


" Tapi nyatanya kau melecehkanku Nervan, Kau hampir memperk***ku, Kau harus bertanggung jawab." Teriak Rara.

__ADS_1


" Diamlah, Sudah ku bilang hentikan omong kosongmu itu." Bentak Nervan.


" Sayang percayalah pada Mas, Adek hanya salah paham." Ujar Nervan menggengam tangan Khanna.


" Aku kecewa padamu Mas." Ucap Khanna menarik tangannya. Cairan bening lolos begitu saja dari mata indahnya.


" Sayang Mas mohon jangan menangis, Mas nggak sanggup melihatnya, Satu tetes air matamu begitu berharga untuk Mas sayang jadi Mas mohon jangan menangisi hal yang tidak penting seperti ini, Cukup percaya pada Mas maka semua akan baik baik saja." Ujar Nervan menghapus air mata Khanna.


Melihat perhatian Nervan kepada Khanna, Rara mengepalkan tangannya.


" Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, Aku tidak percaya lagi." Bentak Khanna, Ia berlari meninggalkan ruangan Nervan.


" Sayang." Teriak Nervan mengejar Khanna.


Rara mengusap air mata buayanya. Ia tersenyum penuh kemenangan. Ia berjalan kembali ke ruangannya.


"Aku harus mendapatkanmu Nervan agar aku terbebas dari pria itu." Batin Rara.


Khanna terus berlari sambil mengusap air matanya mengabaikan tatapan dari para karyawan kantor.


" Sayang tunggu." Ucap Nervan mencekal tangan Khanna.


" Lepas." Pekik Khanna.


" Mas tidak akan melepaskan Adek sebelum Adek percaya pada Mas." Sahut Nervan menarik tubuh Khanna hingga masuk ke dalam pelukannya.


"Aku mau pulang." Berontak Khanna.


" Sayang kamu salah paham, Aku tidak ada hubungan apa apa dengannya." Jelas Nervan.


" Aku tidak peduli, Aku sudah tidak percaya lagi padamu Mas, Kau pembohong, Kau pembohong." Sahut Khanna memukul pelan dada Nervan. Khanna melirik Rara yang sedang bersembunyi di balik tembok sambil menatap mereka.


" Diamlah aku tidak mau kau menjelaskan apapun atau aku akan semakin marah padamu." Lirih Khanna memotong ucapan Nervan seolah Khanna tahu apa yang akan di ucapkan Nervan.


" Baiklah." Sahut Nervan.


" Lepaskan aku mau pulang." Ucap Khanna dingin.


" Biarkan seperti ini." Ujar Nervan.


Khanna melepas paksa pelukan Nervan. Ia segera berlari menuju mobilnya dan..


Brummmmm


Khanna meninggalkan pelataran kantor Nervan dengan perasaan kesal, Hatinya sakit melihat suaminya begitu dekat dengan wanita lain.


Nervan mengacak rambutnya frustasi. Ia masuk kembali ke dalam menuju ruangan Papa Reno.


" Pa Nervan mau bicara." Ucap Nervan menghampiri Papanya.


" Bicara saja." Sahut Papa Reno.


" Pecat Rara sekarang juga dia sudah melakukan kesalahan fatal dengan melanggar kode etik karena merayu Nervan Pa." Ujar Nervan.


" Tidak bisa Van, Kalau Papa memecatnya maka perusahaan ini akan hancur karena kakeknya akan menarik semua sahamnya di perusahaan ini, Lebih bersabarlah dalam menghadapinya." Jelas Papa Reno senyum penuh arti.


" Tapi dia sudah menggodaku Pa." Ujar Nervan.

__ADS_1


" Maaf Papa tidak bisa membantu, Nasib karyawan ada pada tangan kita Van." Ujar Papa Reno


" Ah sial... Khanna salah paham padaku Pa, Dia marah karena melihat aku dekat dengan Rara, Padahal itu tidak seperti yang dia bayangkan." Gerutu Nervan.


" Bersabarlah bujuk Khanna dengan lembut pasti dia mau memaafkan dan percaya padamu." Ujar Papa Reno.


Nervan pergi meninggalkan ruangan Papa Reno.


" Maafkan Papa Van, Tapi Papa hanya menuruti perintah istrimu." Gumam Papa dalam hati.


Hari sudah mulai petang, Nervan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Butuh waktu setengah jam untuk Nervan sampai di rumah. Sesampainya di rumah Ia segera menuju kamar mencari istrinya.


" Sayang.... Sayang..." Panggil Nervan mencari Khanna di sudut kamarnya.


" Kemana dia?" Batin Nervan.


Khanna baru keluar dari ruang ganti, Ia memakai hotpants dan tangtop saja membuat dirinya lebih menarik. Nervan menelan kasar salivanya. Tiba tiba ada sesuatu yang tegak di bawah sana. Khanna berjalan melewati Nervan menuju meja rias.


" Sayang... Adek masih marah sama Mas?" Tanya Nervan menghampiri Khanna yang ridak bergeming.


" Sayang kalau Mas tanya di jawab donk, Nggak baik mengabaikan suami seperti itu dosa Dek." Ujar Nervan.


" Hmm." Gumam Khanna.


" Mau mendengar penjelasan Mas? Mas bawa bukti rekaman kamera tersembunyi di ruangan Mas." Ucap Nervan menatap Khanna dari pantulan cermin.


" Tidak perlu." Sahut Khanna berjalan menuju ranjangnya. Ia duduk bersandar pada headboard.


" Sayang..." Nervan hendak duduk di tepi ranjang.


" Jangan duduk Mas masih kotor, Entar virusnya nempel di kasur." Cegah Khanna.


" Baiklah Mas mandi dulu." Sahut Nervan berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah kepergian Nervan, Khanna segera menghubungi seseorang. Nampak Khanna mengangguk anggukkan kepalanya dengan ponsel menempel pada telinganya.


Ceklek....


Nervan menatap Khanna yang nampak serius dengan seseorang di sebrang sana.


" OK aku tunggu." Ucap Khanna menutup sambungan teleponnya.


" Telepon sama siapa Dek?" Tanya Nervan sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.


" Seseorang." Sahut Khanna singkat, Sebenarnya bukan jawaban itu yang Nervan inginkan.


" Jangan lama lama ya Dek marahnya." Ucap Nervan.


" Tergantung." Sahut Khanna ambigu.


" Tergantung gimana?" Tanya Nervan.


" Ya tergantung moodku lah, Kamu tidak bisa mengatur perasaan orang sembarangan, Mau marah kek mau seneng kek suka suka hatilah yang mau nentuin." Ujar Khanna.


Nervan hanya menghela nafasnya saja. Jika Khanna sedang marah tidak akan berhasil baik jika Nervan terus memaksanya berbicara.


TBC.....

__ADS_1


*Jangan lupa like dan komentnya untuk membangun karya author makasih...


Miss U All*


__ADS_2