Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Sorry


__ADS_3

Plak....


Tamparan keras Khanna mendarat di pipi Revi. Revi menyentuh bekas tamparan memerah yang di layangkan oleh Khanna.


" Kenapa kamu begitu tega padaku Rev? Apa kesalahanku padamu? Kau bahkan membuatku kehilangan kasih sayang Ayah dari anakku, Gara gara kamu Mas Nervan tidak mengakui anak ini, Kau tahu betapa sakitnya semua itu Rev?... Kau begitu kejam, Kau tega padaku Rev .. Aku tidak menyangka kau mampu melakukan hal serendah ini." Ucap Khanna tidak percaya.


" Katakan apa yang membuatmu tega melakukan semua ini padaku agar aku bisa memaafkanmu." Titah Khanna.


" Kak Nervan." Ucap Revi.


" Mas Nervan? Ada apa dengan Mas Nervan? Apa maksudmu?" Selidik Khanna.


" Sayang sekarang duduk dulu kita dengarkan alasan Revi sambil santai ya...Tenang jangan emosi, Mas nggak mau Adek emosi kasihan anak kita di dalam sini sayang." Ujar Nervan menuntun Khanna menuju sofa di ruang tamu. Mereka semua duduk saling berdekatan.


" Keenan." Ucap Khanna saat melihat Keenan yang sedang duduk di sofa sambil menunduk.


" Ternyata kalian bekerja sama." Tebak Khanna.


" Sekarang beritahu Khanna apa yang kau rasakan hingga tega menjebak dan melakukan hal seperti ini pada Khanna Vi." Ucap Nervan.


" A... Aku iri padamu Khan, Aku membencimu karena kamu lebih dulu mendapatkan Kak Nervan." Ujar Revi.


Khanna menatap Revi dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Aku mencintai Kak Nervan sejak pertama kali kami bertemu, Saat ospek pertama aku langsung mencintainya, Saat aku tahu dia dekat denganmu saat itulah aku mau berteman denganmu, Tujuanku hanya satu agar aku lebih dekat dengan Kak Nervan." Jelas Revi menatap Khanna yang tak bergeming. Khanna mengepalkan tangannya.


" Jadi ucapan yang kau bilang saat pernikahanku itu kebenaran?" Selidik Khanna.


" Iya... Maafkan aku Khan, Karena rasa cintaku pada Kak Nervan aku melukai sahabatku sendiri, Maafkan aku.... Aku menyesalinya Khan... Aku melakukan hal bodoh dengan melukai sahabat karibku sendiri." Sesal Revi.


" Sekarang bukan lagi, aku bukan lagi sahabatmu Rev, Seorang sahabat tidak akan tega menjatuhkan sahabatnya sendiri, Kau lebih pantas di sebut duri dalam dagingku, Aku tidak bisa memaafkan perbuatanmu ini." Ujar Khanna.


Khanna beranjak meninggalkan mereka semua menuju kamarnya. Bahkan Revi mengejarnya pun tak di hiraukan olehnya.


" Khanna." Teriak Revi.


" Khanna maafkan aku Hiks... Hiks...." Isak Revi menyesali perbuatannya. Revi beralih kepada Papa Shiv.


" Om tolong maafkan aku, Kembalikan perusahaan Papaku Om, Jangan hukum mereka atas kesalahanku." Ucap Revi sambil terus menangis.


" Saya tidak bisa... Semua yang sudah hancur tidak bisa kembali seperti semula, Sak aku pulang dulu." Ucap Papa Shiv berlalu dari sana.


" Sekarang kalian berdua pulanglah, Terima akibat dari perbuatan kalian karena berani bermain main dengan keluarga kami." Titah Papa Sakti.


" Om apa tidak bisa mengembalikan kestabilan perusahaan Papa kami? Kami siap menerima hukuman apapun yang penting stabilkan kembali perusahaan orang tua kami Om, Saya mohon." Ujar Keenan.


" Seperti yan Shiv bilang semua tidak bisa kembali seperti semula, Jadi berjuanglah untuk mengembalikan perusahaan orang tua kalian masing masing." Sahut Papa Sakti.


Papa Sakti dan Mama Alfi meninggalkan mereka berdua. Akhirnya dengan membawa penyesalan yang amat dalam Revi dan Keenan pergi meninggalkan rumah Khanna. Kini tinggal Papa Reno, Mama Sarah dan Nervan yang tersisa.

__ADS_1


" Sayang kami pulang dulu, Berjuanglah untuk mendapatkan menantu Mama kembali, Dan setelah ini gunakan hati dan pikiranmu jangan sampai kamu mengulangi kebodohan seperti ini lagi." Tutur Mama Sarah.


" Makasih Ma." Ucap Nervan.


" Papa pulang dulu." Ucap Papa Reno menepuk pelan pundak Nervan.


" Hati hati Pa." Sahut Nervan.


Setelah kepergian kedua orang tuanya, Nervan berjalan menuju kamarnya.


Ceklek....


Nervan membuka pintu dengan pelan, Ia menatap Khanna yang sedang duduk di tepi ranjang menatap keluar jendela. Ia segera menghampiri Khanna.


" Sayang." Ucap Nervan berlutut di depan Khanna sambil menggenggam tangan Khanna.


" Mas minta maaf kepadamu..... Mas menyesali semua perbuatan Mas selama ini, Maafkan Mas yang telah melukai hati Adek... Mas mohon jangan pergi dari Mas, Kita kembali bersatu demi cinta dan buah hati kita sayang." Ujar Nervan lembut.


" Maaf aku tidak bisa." Khanna menarik tangannya. Nervan menghela nafasnya.


" Lalu apa mau Adek hm?" Tanya Nervan lembut. Ia tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Khanna. Nervan pasrah dan akan menerima apapun keputusan Khanna. Jika memang takdir mereka sampai di sini, Nervan akan mencoba mengikhlaskan semuanya. Semua ini memang kesalahannya.


" Aku mau kamu menceraikan aku secepatnya." Sahut Khanna.


Nervan tidak kaget Ia sudah tahu apa yang akan Khanna ucapkan jadi sebisa mungkin Ia mencoba untuk tegar.


Tes....


Air mata Khanna menetes begitu saja, Entah mengapa hatinya sakit sepertu di sayat sembilu. Ia tidak terima Nervan menceraikannya tapi bukankah ini maunya. Tidak mau berlarut dalam kesedihannya Nervan segera pergi meninggalkan kamar Khanna.


Malam harinya sesuai janji Nervan, Pengacara Nervan mengantar surat gugatan cerainya. Nervan menatap Khanna yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Papa Sakti dan Mama Alfi hanya mampu diam karena Khanna tidak mau mendengar pendapat orang lain. Keputusannya sudah bulat, Ia ingin nerpisah dari Nervan suaminya.


" Aku akan tanda tangan." Ujar Nervan.


Nervan mengambil ballpoint lalu membubuhkan tanda tangannya di sana. Untuk yang kedua kalinya Ia melihat surat gugatan cerai. Dan semua itu terjadi akibat kesalahannya.


" Mas sudah menandatanganinya sekarang giliran Adek, Tapi sebelum Adek menandatanginya Mas ingin kita berpisah secara baik baik, Mas ingin meminta maaf pada Adek sekali lagi, Walaupun Mas tahu jika hasilnya akan sama tapi Mas ingin memberikan kesan baik di ujung perpisahan kita." Ucap Nervan setegar mungkin.


" Sekarang ikut Mas." Nervan menarik tangan Khanna agar mengikutinya. Keduanya berjalan menuju kamar mereka entah apa yang akan Nervan lakukan di sana.


" Ini usaha terakhir Nervan Mas, Semoga Khanna mau memaafkannya." Ucap Mama Alfi.


" Semoga sayang." Sahut Papa Sakti.


Di dalam kamar Nervan menggandeng Khanna menuju balkon kamar mereka. Keduanya berdiri menghadap jalanan di depannya. Nervan menghembuskan nafasnya kasar sambil terus berdoa dalam hatinya.


" Apa yang akan kau tunjukkan padaku Mas?" Tanya Khanna.


" Lihatlah ke sana." Ucap Nervan menunjuk langit di atas sana. Khanna mengikuti petunjuk Nervan.

__ADS_1


" Tidak ada apa apa." Ucap Khanna.


" Coba lihat lagi." Ujar Nervan.


" Sama... Nggak ada apa apa hanya bintang saja." Sahut Khanna.


" Sekali lagi." Ucap Nervan.


Khanna membalikkan badannya menatap Nervan.


" Jangan bercanda deh ngerjain orang sembarangan." Ketus Khanna.


" Mas nggak bohong sayang, Coba lihat lagi ke sana." Tunjuk Nervan.


Khanna membalikkan badannya kembali menatap ke tempat yang di tunjuk oleh Nervan.


Satu.... Dua.... Tiga.... Khanna menghitung dalam hatinya dan tiba tiba...


Jederrrrrr Pyarrrrrr


Kembang api bermekaran....


Jeder Pyarrrr....


Khanna IM Really SORRY


Jederrrr Pyarrrr


I Love U Forever Khanna


Jederrr Pyarrrr


Wellcome My Baby


Jederrr Pyarrrr


Love U So Much


Begitulah kembang api itu mengungkapkan isi hati Nervan kepada Khanna. Khanna tergugu mendapat salam perpisahan yang mengesankan dari Nervan. Khanna membalikkan tubuhnya menghadap Nervan, Ia langsung menubruk tubuh suaminya. Nervan membalas pelukannya.


" Hiks... Hiks...." Khanna menangis dalam pelukan Nervan.


" Sayang jangan menangis, Jangan membuatku goyah untuk melepaskanmu." Ujar Nervan membuat Khanna semakin menangis.


" Sayang berhentilah menangis, Maafkan Mas... Adek mau kan memaafkan Mas?" Tanya Nervan menangkup wajah Khanna.


TBC.....


Hayooo kira kira Khanna mau nggak ya memaafkan Nervan.... Menurut readers gimana nih?

__ADS_1


__ADS_2