Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Sakit


__ADS_3

Nervan mengerjapkan matanya, Ia menatap sekitar yang ternyata hari sudah malam. Ia menoleh ke samping. Bibirnya mengembangkan senyum kala menatap Khanna sedang tidur sambil memeluknya. Nervan memiringkan tubuhnya dengan pelan, Ia tatap wajah cantik istrinya, Ia rapikan anak rambut yang menutupi wajah Khanna. Khanna terbangun dari tidurnya karna terusik dengan sentuhan Nervan, Ia mengucek mata dengan tangannya.


" Masss." Ucap Khanna yang di balas senyuman oleh Nervan.


" Udah malam? Aku ke kamar mandi dulu." Khanna turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi. Ia mencuci mukanya, Setelah selesai Ia kembali menghampiri Nervan di ranjangnya.


" Masih lemas Mas?" Tanya Khanna setelah duduk di tepi ranjang.


" Hmmm." Gumam Nervan menganggukkan kepalanya.


" Kita pulang ya? Udah malam juga." Ujar Khanna.


" Tapi Mas nggak bisa jalan sendiri Dek." Ucap Nervan.


" Aku bantu... Ayo." Ajak Khanna.


Khanna memasukkan obat Nervan ke dalam tasnya, Lalu Ia memapah Nervan menuju mobilnya, Hari sudah malam jadi kantor sudah sepi. Sesampainya di mobil, Khanna segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Setelah sampai rumah, Khanna kembali memapah Nervan menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh Nervan di atas ranjang.


" Huek...." Nervan menutup mulutnya dengan tangan, Ia segera berjalan sempoyongan menuju washtafel kamar mandi.


Huek...Huek....


Nervan memutahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan kuning, Khanna memijat tengkuk Nervan berharap bisa meredakan mualnya.


" Udah Mas?" Tanya Khanna.


" Hmm." Gumam Nervan.


" Sini aku bantu." Ujar Khanna memapah Nervan kembali ke ranjangnya.


" Minum obat sebelum makan dulu Mas biar agak mendingan mualnya." Ucap Khanna memberikan obat kunyah kepada Nervan. Nervan segera mengunyahnya.


" Mas sini dulu, Aku masakin bubur ya.." Ucap Khanna. Nervan menganggukkan kepalanya saja.


Khanna meninggalkan Nervan menuju dapur membuatkan bubur untuk suaminya. Khanna mulai berkutat dengan mencuci beras, Ia menambahkan air dengan gelas lalu menambahkan sedikit santan kental di dalamnya, Hanya sedikit ya... Tidak lupa Khanna juga menambahkan garam dan daun salam secukupnya. Setelah di tunggu hingga hampir satu jam, Akhirnya bubur nasi yang Khanna buat sudah matang, Ia segera menuangkannya ke dalam mangkok, Lalu membawanya ke kamar Nervan.


" Masss makan dulu, Maaf hanya membuat bubur saja soalnya kita belum belanja, Mau delivery juga udah malam." Ucap Khanna.


" Iya nggak pa pa, Maaf ya Mas merepotkan Adek." Sahut Nervan.


" Mas begini kan juga gara gara aku." Ujar Khanna.


" Enggak kok, Mas cuma lagi kurang sehat aja makanya jadi kaya' gini." Ucap Nervan.


" A' Mas." Ucap Khanna menyuapi Nervan.


Setelah menghabiskan buburnya Nervan meminum obatnya lalu tidur kembali. Khanna segera merebahkan tubuhnya di samping Nervan menyusul Nervan ke alam mimpi.


Pagi harinya Khanna bangun lebih awal, Ia pergi ke supermarket terdekat untuk membeli kebutuhan sehari hari, Terutama bahan makanan pengisi kulkasnya. Setelah selesai Ia segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Khanna menurunkan semua belanjaannya dari mobilnya.


" Baru belanja?" Tanya Safita yang berdiri di belakang Khanna. Khanna memutar bola matanya malas.


" Hmmm." Gumam Khanna.


" Nervan mana?" Tanya Safita.


" Lagi tidur, Ngapain nanya nanya suami saya?" Ketus Khanna.

__ADS_1


" Emang nggak boleh nanya doank? Kalau dia mau aja aku nggak cuma nanya doank, Tapi akan aku rebut dia darimu." Ucap Safita memancing emosi Khanna.


" Apa maksudmu hah?" Khanna mendorong tubuh Safita hingga terhuyung ke belakang.


" Kasar Lo ya jadi cewek." Hardik Safita.


" Kenapa? Makanya jangan cari masalah sama gue." Sinis Khanna.


" Lo akan nyesel jika tahu semuanya." Ucap Safita ambigu.


" Apa maksud Lo tahu semuanya? Tahu apa Lo tentang hidup gue?" Tanya Khanna dengan nada tinggi.


" Gue tahu semuanya, Yang tidak bisa gue ungkap sekarang.... Suatu hari nanti kau akan menangisinya." Teriak Safita.


" Sayang...." Ucap Nervan dari depan pintu.


Safita menoleh ke arah Nervan, Lalu Ia segera berlalu dari sana.


" Masss.... Kenapa kamu keluar? Kamu kan lagi sakit." Ujar Khanna menghampiri Nervan.


" Ayo masuk." Khanna menuntun Nervan masuk ke dalam rumah. Ia mendudukkan Nervan di sofa ruang tamu.


" Aku bikinin minum ya Mas." Ucap Khanna.


" Air putih hangat saja Dek." Ujar Nervan.


" Iya Mas." Sahut Nervan.


Khanna mengambilkan Nervan minum. Setelah itu Ia kembali menata barang barang yang tadi Ia beli. Khanna mulai memasak untuk dirinya dan Nervan. Nervan tidak mau makan bubur lagi, Ia menyuruh Khanna memasak sop ayam saja untuknya dengan nasi lembek.


" Sayang..." Panggil Nervan menghampiri Khanna.


" Jika Safita mengatakan sesuatu pada Adek, Mas mohon Adek jangan pernah mempercayainya ya.. Dia hanya berniat membuat jarak di antara kita." Ujar Nervan.


" Iya Mas." Sahut Khanna sambil melanjutkan pekerjaannya.


" Apapun yang terjadi Mas mohon percayalah pada Mas jangan pernah percaya pada orang lain." Ujar Nervan.


" Iya Mas.. Aku akan lebih mempercayaimu dari pada orang lain." Sahut Khanna.


" Termasuk Bang Aroon." Ucap Nervan.


" Kak Aroon??? " Ucap Khanna menatap Nervan dengan mengerutkan keningnya.


" Iya Bang Aroon, Apapun yang dia katakan tentang Mas jangan pernah Adek mempercayainya, Adek tahu sendiri kan Bang Aroon tidak menyukai Mas, Pasti dia akan menggunakan berbagai cara untuk memisahkan kita." Ujar Nervan.


" Baiklah Mas, Aku lanjutkan masak dulu ya." Sahut Khanna.


" Hmm." Gumam Nervan.


Selesai memasak mereka berdua sarapan bersama. Setelah sarapan mereka membersihkan tubuh dengan mandi bersama.


" Mas aku ijin ke Cafe sebentar ya..." Ucap Khanna sambil memoles pipinya dengan make up tipis.


" Adek tega ninggalin Mas sendirian? Mas lagi sakit." Tanya Nervan.


" Sebentar aja Mas." Sahut Khanna.


" Baiklah.. Mas mengijinkannya." Ujar Nervan.


" Terima kasih Mas, Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum" Ucap Khanna mencium pipi Nervan.

__ADS_1


" Wa'alaikumsallam." Sahut Nervan.


Khanna melajukan mobilnya menuju Cafenya, Ia tadi mendapat pesan dari Aroon untuk segera menemuinya tanpa memberitahu Nervan. Khanna memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuknya.


Khanna berjalan memasuki Cafe menuju ruangannya.


" Pagi Mbak..." Sapa para karyawan Cafenya.


" Pagi... Nella.." Panggil Khanna kepada kasirnya.


" Iya Mbak." Sahut Nella.


" Jika ada yang mencariku katakan jika aku sedang tidak mau di ganggu." Ujar Khanna.


" Baik Mbak." Sahut Nella.


Khanna melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


Ceklek....


Khanna membuka pintu ruangannya, Menatap Aroon yang sedang duduk di sofa.


" Pagi menjelang siang Kak." Sapa Khanna menghampiri Kakaknya.


" Pagi adikku yang termanis tapi malang karna menikahi bajing*an itu." Sahut Aroon.


" Kak Aroon selalu saja begitu." Ucap Khanna mengerucutkan bibirnya.


" Sekarang udah nggak mau meluk Kakak lagi?" Ujar Aroon merentangkan tangannya. Dengaan mata berbinar Khanna segera masuk ke dalam pelukan Kakaknya mencurahkan rasa rindu di dadanya.


" Ada apa Kakak kemari?" Tanya Khanna melepas pelukannya.


" Sini duduk." Ucap Aroon menepuk sofa di sebelahnya. Khanna segera duduk di sana.


" Ada apa Kak?" Tanya Khanna.


Aroon menyodorkan sesuatu di atas meja, Beberapa obat dan lembar kertas.


" Kamu akan membutuhkannya." Ujar Aroon.


" Apa ini Kak?" Tanya Khanna mengambil satu strip obat berbentuk kecil kecil.


" Pil penunda kehamilan?" Khanna mengerutkan keningnya.


" Minumlah itu... Jangan sampai kamu mengandung anak dari dia, Dia tidak sebaik yang kamu kira." Ujar Aroon.


" Apa maksudmu Kak? Aku tidak mengerti." Ucap Khanna menatap Aroon.


" Sudah aku katakan padamu, Dia hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendamnya padaku, Dia tidak benar benar mencintaimu." Jelas Aroon.


" Ku mohon berhenti memandangnya dengan keburukan Kak, Dia baik.... Dia sangat mencintaiku Kak.. Kami saling mencintai." Ucap Khanna.


" Jika kamu tidak menurut padaku kamu akan menyesalinya." Ujar Aroon.


" Apa kamu punya bukti atas tuduhanmu itu? Jika kamu punya bukti akan aku pertimbangkan semuanya." Tantang Khanna.


" Ini....


**TBC.....


Jangan lupa like dan komentnya... Makasih**

__ADS_1


__ADS_2