Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Sorry


__ADS_3

Ceklek...


Deg...


Jantung Nervan terasa berhenti berdetak melihat pemandangan yang baginya menyakitkan hati. Mama Sarah menoleh ke arah pintu dengan mata membulat dan mulut menganga. Ia tidak percaya akan ketahuan Nervan secepat ini.


" Nervan." Pekik Mama Sarah.


Khanna melepas pelukannya, Ia menoleh ke belakang dan....


" Mas Nervan." Gumam Khanna menatap Nervan dengan perasaan bersalahnya.


Amir menatap ke arah Nervan dengan tatapan yang entah, Hanya dia sendiri yang tahu.


" Kak Nervan... Kenapa kamu di sini?" Tanya Amir. Amir menatap ke arah Khanna.


"Khan... Apa kamu jadi menikah dengan Kak Nervan?" Tanya Amir.


Khanna menatap ke arah Mama Sarah yang di balas gelengan kepala olehnya. Khanna menatap Nervan yang sedang menatapnya, Khanna menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


" Khan." Ucap Amir menanti jawaban Khanna.


" Tidak sayang... Khanna tidak jadi menikahi Nervan, Dia gagal menikah saat itu." Jawab Mama Sarah tiba tiba. Khanna dan Nervan menatap ke arah Mama Sarah.


" Apa? Kamu gagal menikah? Jadi sampai sekarang kamu belum menikah?" Tanya Amir semakin menyudutkan Khanna.


" Amir sebenarnya aku....


" Khan segeralah telepon Dokter! Bilang kalau Amir sudah sadar dan suruh Dokter segera ke sini." Ucap Mama Sarah memotong Ucapan Khanna.


" Iya Ma." Sahut Khanna.


Khanna segera melakukan apa yang Mama mertuanya perintahkan. Nervan mendekati Amir.


" Bagaimana kabarmu Amir? Apa yang kau rasakan saat ini?" Tanya Nervan.


" Seperti yang kau lihat Kak, Aku baik baik saja, Oh ya Kak ngomong ngomong sekarang tanggal berapa?" Tanya Amir.


" Tanggal tiga puluh satu maret dua ribu dua puluh dua." Sahut Nervan.


" Apa? Seingatku aku baru saja menghadiri acara pernikahan Khan yang batal, Kenapa waktu berjalan cepat sekali? Berarti ini sudah hampir satu tahun, Sebenarnya apa yang terjadi denganku Tante, Apa aku tidur selama itu?" Tanya Amir.


" Kamu mengalami kecelakaan sayang yang menyebabkan kamu koma." Sahut Mama Sarah.


" Jangan banyak berpikir, Perbanyaklah istirahat, Semoga kau cepat sembuh." Ujar Nervan menepuk pelan pundak Amir.


" Makasih Kak." Sahut Amir.


" Aku pulang dulu Ma." Pamit Nervan.

__ADS_1


Tanpa mendengar jawaban dari Mama Sarah, Nervan keluar kamar dengan perasaan kesal dan kecewa. Di depan pintu Ia berpapasan dengan Khanna yang hendak masuk ke dalam kamar. Ia menatap Khanna tanpa senyum yang biasanya selalu menghiasi bibirnya.


" Mas..." Panggil Khanna. Nervan terus berjalan menjauh tanpa mempedulikan sapaan Khanna. Khanna menghela nafasnya. Rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Sebenarnya Ia ingin mengejarnya namun Ia harus menyelesaikan masalahnya di sini dulu.


Khanna masuk kembali ke kamar Amir di ikuti Dokter yang menangani Amir. Tanpa membuang banyak waktu Dokter segera memeriksa keadaan Amir.


" Perkembangan yang bagus Tuan, Tetap semangat, Saya yakin tidak lama lagi anda pasti sembuh, Sering sering gerakkan kaki anda dengan pelan Tuan supaya tidak kaku lagi." Ucap Dokter.


" Baik Dok saya akan mencobanya." Sahut Amir.


" Minum obat secara teratur juga sangat membantu Tuan." Ucap Dokter.


" Makasih Dok." Sahut Mama Sarah.


" Kalau begitu saya permisi Nyonya." Ucap Dokter.


" Silahkan Dok." Ucap Mama Sarah.


" Amir kau istirahatlah, Tante ingin membicarakan sesuatu dengan Khanna." Ujar Mama Sarah.


" Baik Tan, Tapi jangan bawa Khan pergi ya." Ucap Amir.


" Hmm." Gumam Amir.


" Ayo Khan." Ajak Mama Sarah.


Mama Sarah menggandeng tangan Khanna menuju ruang tamu. Keduanya saling duduk berhadapan.


" Maafkan Mama sayang, Mama tidak punya cara lain." Sahut Mama Sarah.


" Mama semakin menyulitkan aku, Mas Nervan pasti marah karna aku membohonginya di tambah Mama tidak mengakui statusnya... Oh My God bagaimana aku bisa menghadapi Mas Nervan Ma." Gerutu Khanna.


" Khan Mama mohon tetap bantu Mama menyemangati Amir ya supaya dia cepat pulih dan sehat seperti semula, Mama sudah tidak punya siapa siapa lagi begitupun dengannya, Mama tidak mau kehilangannya." Ujar Mama Sarah.


" Sesuai janjiku aku akan membantu Mama sampai Amir sadar, Hari ini aku terlepas dari janji itu Ma, Dan maaf Khan tidak bisa membantu lebih jauh lagi, Khan sudah mempertaruhkan pernikahan Khan hanya untuk ini, Sekali lagi maafkan Khan Ma, Khan pamit assalamu'alaikum." Ucap Khanna.


Khanna berjalan keluarkan meninggalkan rumah mertuanya. Ia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Setengah jam perjalanan akhirnya Khanna sampai di rumahnya. Ia seera berlari menuju kamarnya karna Ia yakin Nervan berada di sana.


Ceklek...


Khanna menghampiri Khanna yang sedang terlentang di atas ranjang sambil menutup matanya dengan lengannya.


" Mas." Panggil Khanna duduk di tepi ranjang berdampingan dengan Nervan. Nervan tidak bergeming.


" Mas... Aku minta maaf jika selama ini aku berbohong padamu, Sebenarnya aku ingin memberitahu semua ini padamu tapi Mama Sarah membuatku berjanji untuk tidak mengatakannya padamu, Mama Sarah takut kalau Mas tidak mengijinkan aku untuk membantunya, Maafkan aku Mas." Jelas Khanna menggenggam tangan kiri Nervan.


" Mas aku tahu kamu tidak tidur, Jangan mengabaikan aku seperti ini, Aku sedih Mas, Lebih baik kamu marahi aku dari pada kamu diemin aku kaya' gini... Masss." Ujar Khanna.


Nervan menurunkan lengannya. Ia menatap Khanna yang sudah mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


" Lalu kenapa Adek tidak mengakui Mas sebagai suamimu?" Tanya Nervan.


" Bukan aku tidak mau Mas, Kamu tahu sendiri tadi saat aku ingin menjelaskan kepada Amir Mama Sarah mencegahku, Aku takut membuat kesalahan yang berakibat fatal buat Amir Mas, Aku tidak peduli walaupun seluruh dunia tidak mengakuimu yang pasti Mas adalah suamiku, Suami terbaik di dunia ini." Ucap Khanna.


" Apa Adek sedang merayu?" Tanya Nervan.


" Enggak, Itu memang kenyataannya, Maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa Mas, Aku tidak bermaksud apa apa, Aku hanya membantu Mama Sarah untuk menyadarkan Amir saja, Bagaimanapun aku juga merasa bersalah padanya, Secara tidak sengaja akulah alasan Amir mengalami kecelakaan itu." Ujar Khanna.


" Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Semua sudah takdir sayang." Ucap Nervan menghapus air mata Khanna.


" Mas memaafkan aku?" Tanya Khanna.


" Jika Adek sudah meminta maaf Mas harus apa hmm? Tentu saja Mas akan selalu memaafkan Adek." Ucap Nervan membawa Khanna ke dalam pelukan di atas dadanya.


" Makasih Mas, Kamu memang istimewa bagiku Mas." Ucap Khanna.


Nervan duduk bersandar pada head board, Sedangkan Khanna bersandar di bahu Nervan.


" Anak Papa gimana kabarnya nih? Udah lama Papa tidak menyapa dedek ya." Ujar Nervan mengelus perut Khanna.


" Aku baik Papa." Sahut Khanna menirukan suara anak kecil.


" Hah anak Papa kecil kecil udah di ajarin bohong ya sama Mama." Canda Nervan.


" Masssss kok gitu sih, Katanya udah di maafin." Cebik Khanna.


" Mama marah Dek." Ujar Nervan.


" Sayang kalau dedek udah lahir jangan seperti Mama yang suka ngambek sama keras kepala ya." Ujar Nervan.


" Mas kamu mencibir aku di depan diriku, Kau melukai harga diriku Mas." Protes Khanna.


" Bukankah itu lebih baik daripada Mas mengatakannya di belakangmu?" Ujar Nervan.


" Aku marah nih." Ancam Khanna.


" Jangan donk sayang Mas cuma bercanda kok, Mas tidak mempermasalahkan kebohongan Adek, Yang penting cinta Adek hanya untuk Mas." Sahut Nervan mengelus elus kepala Khanna.


" Itu pasti Mas." Lirih Khanna.


Nervan terus mengelus kepala Khanna dengan keheningan. Tanpa Ia sadari kalau Khanna justru memejamkan matanya. Ia tertidur di bahu Nervan membuat Nervan menggelengkan kepalanya.


" Sehat selalu sayang." Ucap Nervan mencium kening Khanna setelah membenarkan posisi Khanna.


TBC....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Makasih atas suport yang readera berikan....

__ADS_1


Miss U All


__ADS_2