
Sesampainya di rumah hari sudah siang, Khanna langsung berkutat di dapur untuk memasak makan siang mereka berdua. Khanna mulai meracik bumbu dan memotong daging. Tiba tiba Ia di kagetkan dengan Nervan yang memeluknya dari belakang.
" Awh Mas.....Kamu hampir membuat jantungku copot, Kalau tanganku teriris pisau gimana?." Ucap Khanna.
" Maaf sayang Mas tidak kepikiran sampai di sana." Ujar Nervan menempelkan dagunya ke bahu Khanna.
" Mas aku mau masak, Udah siang aku udah lapar Mas." Ucap Khanna.
" Biarkan seperti ini sayang.... Mas sedang meresapi kebahagiaan Mas yang hampir saja hilang karena kebodohan Mas, Hampir saja Mas kehilangan Adek.... Maafkan Mas ya yang tidak bisa berpikir jauh sebelum bertindak, Untung kamu mengingatkan Mas, Kalau tidak Mas nggak akan pernah tahu kebusukan Safita, Maaf sayang." Ujar Nervan sambil mencium pipi Khanna.
" Iya Mas nggak usah di pikirkan ya, Fokus pada kesembuhanmu dulu." Ujar Khanna.
" Mas merasa bersyukur banget bisa ngedapetin Adek, Mas tidak menyangka jika Adek kecil yang Mas gendong dan Mas sayang akan menjadi istri Mas, Makasih sayang mau menerima Mas yang udah dewasa ini." Ucap Nervan.
" Apa sih Mas, Aku juga udah dewasa kali, Umurku udah dua puluh tiga tahun, Kita cuma beda tujuh tahun doank." Sahut Khanna.
" Pokoknya Mas sangat bersyukur bisa mendapatkanmu." Ucap Nervan masih dengan posisi yang sama.
Tubuh Khanna sebenarnya berat karena Nervan menyenderkan tubuhnya ke punggung Khanna. Mau tak mau Khanna harus menopang tubuh Nervan agar tidak jatuh. Kaki Nervan belum sempurna jika Ia berdiri tanpa menggunakan tongkat. Khanna membiarkan Nervan memeluknya hingga beberapa saat. Tiba tiba Ia membalikkan badannya membuat Nervan menubruk tubuhnya.
" Awh hati hati Mas." Ucap Khanna menopang tubuh Nervan.
" Maaf Yank." Sahut Nervan memeluk Khanna.
" Duduk aja dulu ya.. Aku lanjutin masak." Ujar Khanna. Nervan menghela nafasnya, Niatnya ingin bermesraan dengan Khanna tapi waktunya yang tidak tepat.
" Baiklah." Sahut Nervan.
Khanna menuntun Nervan ke kursi yang ada di ruang makan, Ia membuatkan Nervan kopi terlebih dulu sebelum melanjutkan kegiatannya, Nervan menyeruput kopinya sambil menunggu Khanna memasak.
" Mau masak apa sayang?" Tanya Nervan menyesap kopinya.
" Rendang aja ya Mas, Aku pengin makan itu, Tapi maaf aku akan membutuhkan waktu sedikit lama." Sahut Khanna.
" Terserah Adek saja, Apapun masakan Adek akan Mas makan sayang." Ujar Nervan.
" Ahhh so sweet." Ujar Khanna menghampiri Nervan dan,
Cup
Khanna mencium bibir Nervan. Nervan menahan tengkuk Khanna, Ia mencecap bibir Khanna dan melum*tnya lembut. Nervan memainkan lidahnya di dalam mulut Khanna. Keduanya saling menikmati sensasi yang membuat tubuh panas dingin. Setelah puas Nervan melepas pagutannya, Ia mengusap lembut bibir Khanna.
" Mas pengen Dek, Yang di bawah jadi tegang." Ucap Nervan menatap ke bagian bawahnya.
" Mesum." Cebik Khanna menjauhkan tubuhnya dari Nervan.
" Beneran Mas pengen Dek, Sakit kalau nggak kesampaian sayang." Ujar Nervan.
" Mas Nervan sayang..... Mas lupa kalau kaki Mas sedang sakit? Gimana caranya mau gituan kalau kaki Mas belum bisa di gunakan dengan benar ha?" Tanya Khanna.
" Kamu yang mimpin sayang jadi Mas tidak akan kesakitan." Ucap Nervan.
" Udah ah Mas aku mau masak, Entar kalau nggak kelar kamu nggak minum obat terus ntar nggak sembuh sembuh, Jadi nggak nganu nganu deh." Ujar Khanna.
" Nganu nganu apa Dek?" Tanya Nervan.
" Ya nganu pokoknya." Jawab Khanna.
" Nganu gimana? Apa yang di lakukan saat nganu nganu?" Goda Nervan menaik turunkan alisnya.
" Bodo' ah pikir aja sendiri, Udah jangan ganggu aku mau masak, Kalau nggak aku kurung Mas di kamar mandi sana biar nggak bisa ganggu." Ancam Khanna.
" Baiklah Mas diam nggak akan ganggu." Ucap Nervan.
Khanna melanjutkan kegiatan memasaknya, Nervan menatap Khanna yang sedang goyang ke kanan dan ke kiri menampakkan gerakan *****nya.
" Terima kasih Tuhan engkau telah menunjukkan kebenaran sebelum Hambamu mengambil keputusan, Selalu bimbing hambamu ke jalan yang benar." Batin Nervan.
Setelah selesai memasak Khanna segera menatanya di meja makan. Ia mengambilkan makanan untuk Nervan.
__ADS_1
"Sayang sepiring berdua aja ya." Ujar Nervan.
" Entar nggak kenyang Mas." Sahut Khanna.
" Porsinya di lebihin, Mas lagi pengin di suapin sama Adek." Ujar Nervan.
" Manja..." Cebik Khanna.
" Nggak pa pa lah Dek kali kali di manja sama istri." Ucap Nervan.
" Baiklah sesuai perintahmu baginda raja." Sahut Khanna.
Khanna duduk di samping Nervan, Ia menyuapkan sesendok makanan ke mulut Nervan. Nervan menerima suapan dari Khanna lalu mengunyahnya dengan pelan sambil menatap ke arah Khanna.
" Gantian... A'." Nervan menyodorkan makanan ke mulut Khanna. Khanna segera menerima suapan dari Nervan karena memang saat ini Ia sedang kelaparan.
Mereka makan saling suap suapan. Hati Nervan begitu bahagia bisa menghabiskan waktu dan bermanja manja dengan istrinya. Tak selang berapa lama akhirnya mereka sudah menghabiskan makanannya.
" Minum dulu sedikit Mas lalu minum obatnya." Ucap Khanna menyodorkan seelas air putih dan beberapa butir obat ke arah Nervan, Nervan segera meminumnya.
" Makasih sayang semoga kaki Mas cepet sembuh biar bisa nganu nganuin kamu." Canda Nervan.
" Amien.." Sahut Khanna.
" Setiap malam yang terlewat Mas hitung utang lhoh Dek, Jadi besok kamu tinggal melunasinya." Ujar Nervan.
" Enak aja nggak bisa ya, Yang lalu biarlah berlalu salah siapa bikin aku pergi." Ceplos Khanna.
" Maafkan Mas ya... Itu semua memang kesalahan Mas." Ucap Nervan.
" Udahlah Mas nggak usah di bahas, Maaf aku keceplosan." Sesal Khanna.
" Its OK." Sahut Nervan.
Ting tong...
" Ada tamu Mas, Sebentar aku buka dulu ya." Ucap Khanna.
" Mas mau duduk dimana? Ruang tamu atau ruang keluarga?" Tanya Khanna.
" Ruang tamu aja." Sahut Nervan.
" Ya udah ayo." Ucap Khanna.
Khanna menuntun pelan Nervan berjalan menuju ruang tamu. Nervan sengaja berjalan tidak memakai tongkat, Itung itung latihan berjalan karena Ia takut ketergantungan dengan tongkatnya.
" Mas duduk sini dulu, Aku buka pintunya." Ucap Khanna membantu Nervan duduk.
" Baik sayang." Sahut Nervan mengecup pipi Khanna membuat pipi Khanna memerah.
Khanna berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
" Kak Khan." Teriak Alia memeluk Khanna.
" Ah adik Kak Khan udah besar aja, Betah ya di tempat nenek?" Tanya Khanna sambil berjongkok.
" Iya." Sahut Alia.
Khanna berdiri kembali menyalami Papa Reno dan Mama Sarah.
" Silahkan masuk Pa Ma." Ucap Khanna.
Mereka masuk ke dalam menuju ruang tamu menghampiri Nervan yang sedang duduk.
" Pa.... Apa kabar Pa?" Tanya Nervan mencium punggung tangan Papanya.
" Baik sayang, Kamu sendiri gimana?" Papa Reno balik bertanya.
" Sangat baik bahkan lebih baik dari sebelumnya." Sahut Nervan penuh arti.
__ADS_1
" Syukurlah." Ucap Papa Reno.
" Ini Pa Ma minumnya." Ucap Khanna menyajikan secangkir teh dan kopi untuk kedua mertuanya.
" Makasih sayang." Ucap Mama Sarah.
" Kak Khan main ps yuk." Ajak Alia.
" Boleh." Sahut Khanna.
" Nggak boleh, Kak Khan duduk di samping Kak Nervan aja jagain Kakak." Ucap Nervan mencekal tangan Khanna.
" Kak Nervan pelit." Cebik Alia.
" Gimana kalau mainnya sama Kak Nervan saja." Usul Khanna.
" Nggak mau Alia selalu kalah sama Kak Nervan, Alia maunya sama Kak Khan aja, Tapi sayang nggak boleh sama buayanya." Gerutu Alia.
" Buaya???" Tanya Khanna.
" Iya Kak Nervan buayanya dan Kak Khan jadi pawangnya." Ucap Alia membuat Khanna tertawa.
" Ha ha ha... Betul betul betul... Kak Nervan memang buaya.... Buaya darat." Sahut Khanna yang langsung mendapat pelototan dari Nervan.
" Tega kamu Dek." Ucap Nervan melepas cekalannya.
" Yah buayanya ngambek deh." Kekeh Khanna.
" Adek... Mas nggak terima kalau di bilang buaya, Apalagi apa tadi? Buaya darat nggak keren banget." Cebik Nervan.
" Kalau nggak mau buaya darat, Buaya buntung aja." Sahut Alia membuat semua orang tertawa.
Nervan cemberut dengan memanyunkan bibirnya.
" Aduh Babby besarku kok sekarang jadi ngambekan sih nggak cool tahu Mas." Ucap Khanna.
" Biarin mumpung istri lagi baik hati, Besok kalau Mas udah sembuh Mas yakin Adek udah nggak perhatiin Mas lagi." Sahut Nervan.
" Masa' sih? Emang selama ini aku nggak perhatian ya?" Tanya Khanna.
" Nggak peka juga." Sahut Nervan.
" Udah udah kenapa palah bertengkar sih, Ayo Kak kita tinggal main aja, Jangan urusin buaya darat mulu." Ucap Alia menarik tangan Khanna menuju ruang keluarga untuk bermain ps.
" Lihat Pa anakmu mendominasi istriku." Ucap Nervan.
" Biarinlah kali kali, Udah lama nggak ketemu juga." Sahut Papa Reno.
" Anak sama Papanya sama sama nggak peka." Gerutu Nervan yang kesal karena di tinggal Khanna.
" Kenapa sekarang kamu jadi manja sih Van?" Tanya Mama Sarah.
" Kan aku kangen Ma... Baru bertemu kembali jadi pengin sayang sayangan." Kekeh Nervan.
" Ya udah nanti kalau Alia sudah puas bermain dengan Khan, Kamu lanjutin sayang sayangannya, Kapan kamu pindah?" Tanya Papa Reno.
" Nunggu kaki Nervan sembuh dulu Pa." Sahut Nervan.
" Yang penting jangan berurusan dengan Safita lagi." Ucap Papa Reno menasehati.
" Iya Pa." Sahut Nervan.
Hari ini Nervan menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya, Kenapa keluarga kecil? Karena memang belum berkumpul semua. Nervan benar benar besyukur kepada Tuhan yang sudah menggariskan takdir yang begitu indah untuknya. Semoga Ia dan Khanna akan selalu mendapat kebahagiaan selamanya.
TBC......
Jangan lupa like dan komentnya ya....
Ada nggak sih yang nungguin kisah Aroon di sini? Tulis di kolom komentar ya...
__ADS_1
Makasih atas suport yang kalian berikan kepada author... Miss U All