
Malam harinya Khanna baru saja mandi, Ia sedang memoles cream malam pada wajahnya, Nervan menatap kagum pada kecantikan istrinya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya, Sesekali Ia mencuri pandang ke arah istrinya. Setelah selesai dengan kegiatannya Khanna segera naik ke tempat tidur. Ia merebahkan dirinya memunggungi Nervan. Nervan meletakkan ponselnya di atas nakas, Lalu ikut berbaring memeluk Khanna dari belakang.
" Sayang..... Udah ngantuk?" Tanya Nervan menyusupkan wajahnya pada tengkuk Khanna.
" Iya Mas... Aku capek." Sahut Khanna.
" Apa nggak ingin melakukan kegiatan malam dulu?" Tanya Nervan dengan tangan yang sudah bergerilya kemana mana.
" Enggak Mas lagi malas." Sahut Khanna. Ia tahu betul apa yang di maksud Nervan.
" Tapi Mas pengin Dek." Ujar Nervan menyesap tengkuk Khanna. Khanna menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.
" Sini lihat Mas." Ucap Nervan membalikkan tubuh Khanna membuat tubuh Khanna berada di bawah tubuh Nervan.
Nervan menatap wajah Khanna, Ia mengelus pipi Khanna dengan jarinya, Lalu Nervan menatap bibir pink Khanna. Nervan memajukan wajahnya mengecup bibir Khanna. Khanna memejamkan matanya.
" Ikuti saja permainannya Khanna, Kalau kamu menolak dia akan curiga jika kamu sudah mengetahui rencananya." Ujar Khanna dalam hati menyemangati dirinya.
Nervan mel**** lembut bibir Khanna, Tangannya meremas salah satu gunung kemb*r Khanna membuat Khanna mendesis. Nervan terus melanjutkan ciumannya, Kali ini ciumannya turun ke leher putih Khanna. Ia membuat stempel kepemilikkan cukup banyak di sana.
" Mau ya?" Nervan menatap Khanna dengan mata berkabut gairah.
" Maaf Mas, Aku ngantuk lain kali aja." Sahut Khanna kembali memunggungi Nervan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Nervan mengusap rambutnya kasar. Ia merasa frustasi bagaimana bisa Khanna menolaknya di saat dia lagi tegang tegangnya. Nervan turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk mendinginkan tubuhnya. Rasanya begitu pening saat hasrat tidak tersalurkan.
Sedangkan Khanna Ia terisak dalam diamnya.
" Kenapa kamu bisa menyentuhku tanpa adanya cinta di hatimu Mas? Kamu perlakukan aku bagai wanita Ja**** di luar sana, Kenapa kamu tega padaku? Semua yang kamu tunjukkan hanya palsu, Tenanglah Khanna.... Jangan menangis, Jangan lemah... Kamu harus kuat, Masih banyak rasa sakit yang akan kamu hadapi.... Semangat...." Ujar Khanna dalam hatinya.
Sinar matahari masuk melalui celah celah korden kamar Khanna, Khanna mengerjapkan matanya, Ia segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Khanna turun ke dapur membuat sarapan untuk dirinya dan Nervan. Setelah selesai Ia menatanya di meja, Khanna kembali menuju kamarnya.
Ceklek...
Khanna masuk ke dalam, Ia menatap Nervan yang sudah rapi dengan pakaian formalnya, Padahal Ia belum menyiapkan baju untuk Nervan ternyata Nervan sudah mengambilnya sendiri.
" Udah rapi aja Mas." Ucap Khanna menghampiri Nervan.
" Hmmm." Gumam Nervan.
" Sarapannya udah siap Mas, Aku mandi dulu." Ujar Khanna berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi Khanna bersiap untuk meninjau Cafenya yang ada di Kota Kembang. Ia turun ke bawah menuju meja makan.
" Kemana Mas Nervan?" Monolog Khanna.
Khanna menatap makanan yang masih utuh di meja makan, Ia segera keluar menuju parkiran melihat mobil Nervan yang sudah tidak ada di sana. Khanna menghela nafasnya. Ia kembali masuk ke dalam memakan sarapannya seorang diri. Selesai sarapan Khanna segera melajukan mobilnya menuju luar Kota.
Di dalam ruangan Nervan, Nervan selalu menatap ponselnya di atas meja, Ia berharap ada telepon atau sekedar pesan dari Khanna. Tapi nyatanya nihil. Nervan menghela nafasnya, Ia menyandarkan badannya pada sandaran kursi kebesarannya.
" Heh... Dasar nggak peka... Suami ngambek bukannya di bujuk palah di diemin, Boro boro di telepon kek nanya kenapa nggak sarapan, Ngetik pesan aja ogah.... Ah... aku terlarut dalam peranku, Aku bahkan hampir lupa dengan tujuanku yang sebenarnya." Gerutu Nervan dalam hati. Nervan segera melanjutkan pekerjaannya.
Khanna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota B. Ia sesekali melihat ke luar kaca menikmati pemandangan kota yang selalu di keluhkan dengan kemacetan panjang. Ia terus melajukan mobilnya meninggalkan kota tempat tinggalnya. Saat di tengah perjalanan tiba tiba...
Brak....
__ADS_1
Mobil Khanna di tabrak oleh mobil belakangnya, Khanna langsung turun menghampiri mobil yang menabrak mobilnya.
" Wei.... Turun Lo." Teriak Khanna menggedor kaca mobil penabrak.
" Gue bilang turun." Teriak Khanna.
Pintu mobil terbuka, Turunlah seorang pria seumuran Nervan memakai kaca mata hitam berdiri di hadapannya.
" Tanggung jawab." Ucap Khanna.
Pria itu hanya tersenyum sinis, Ia membuka kaca matanya lalu menatap ke arah Khanna. Untuk sesaat Khanna sempat terpana dengan ketampanannya, Khanna segera menguasai dirinya.
" Lo harus tanggung jawab, Perbaiki mobil gue ke bengkel.... Lo liat bemper sama bodynya penyok gara gara Lo yang nggak bisa nyetir.." Ujar Khanna.
" Berapa yang kamu mau Nona? Aku yakin mobil yang kamu pakai pasti mobil rentalan makanya kamu tidak punya uang untuk memperbaikinya, Kamu seorang driver online?" Tanya pria penabrak itu.
Khanna melongo membulatkan matanya dan sedikit membuka mulutnya. Matanya menatap tajam ke arah pria songong di depannya.
" Lo ngejek gue? Apa Lo lihat tampang gue ini mirip driver? Apa tampang gue tampang orang miskin? Sialan Lo.. Bisa bisanya Lo ngehina gue sampai ke akar akarnya." Gerutu Khanna.
" Ah ya gue tahu..... Ini ni alasan orang yang nggak mau tanggung jawab.... Jangan jangan Lo cuma supir... Lo habis nganter majikan Lo kan? Hahahaha.... Lo yang nggak punya duit Lo juga yang nuduh gue nggak punya duit... Udah deh gue ikhlasin.... Semoga Lo nggak di pecat sama majikan Lo itu..." Ketus Khanna membalikkan badannya masuk ke dalam mobilnya.
" Hei... Tunggu.... Songong Lo ya... Gue bukan sopir." Teriak pria penabrak.
Bummmmm Bummmmmm
Khanna melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang meninggalkan pria penabrak yang masih emosi.
" Menarik...." Gumam pria penabrak itu sambil tersenyum smirk.
" Sial banget hari ini gue.. Aaaa gue harus merogoh tabungan gue buat benerin nih mobil, Awas aja kalau gue ketemu dia lagi akan gue aduin sama majikannya biar di pecat sekalian." Gerutu Khanna.
Sesampainya di Cafe miliknya, Khanna memarkirkan mobilnya di area parkir khusus untuknya. Setelah turun dari mobil, Khanna segera masuk ke dalam.
" Pagi Mbak." Sapa karyawannya.
" Pagi..." Sahut Khanna.
" Tolong panggilkan Robi untuk menemui saya di ruangan saya." Sambung Khanna.
" Baik Mbak." Sahut karyawannya.
Khanna melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Ia mendudukkan pantatnya di kursi kesayangannya.
" Hah.... Hidup gue penuh misteri, Gue nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Yang jelas gue harus menyibukkan diri agar gue bisa melupakan perasaanku kepada Mas Nervan." Monolog Khanna.
Tok tok tok
" Masuk." Ucap Khanna.
" Pagi Khan." Sapa Robi menghampiri Khanma.
" Pagi... Ada perkembangan apa dengan Cafe ini?" Tanya Khanna to the point.
" Tidak ada perkembangan yang signifikan, Masih sama seperti bulan lalu, Tapi kurva penjualan bulan ini sedikit naik di banding bulan lalu." Jawab Robi.
__ADS_1
" Sepertinya kita harus mengubah konsep dan menu makanan supaya pengunjung tidak bosan dengan menu yang itu itu aja." Ujar Khanna.
" Tenang saja, Kami selalu merolling menu yang kami tawarkan setiap harinya." Sahut Robi.
" Mungkin kita perlu membenahi tatanan letak dan dekorasinya supaya lebih menarik."Ucap Khanna.
" Tentu.... Oh ya kebetulan ada clien yang ingin booking Cafe kita, Beliau akan datang siang ini, Apa kamu mau menemuinya?" Tanya Robi.
"Untuk acara apa?" Tanya Khanna.
" Pertemuan dua keluarga." Jawab Robi.
" Lamaran? Atau pertunangan?" Tanya Khanna memastikan.
" Sepertinya hanya pertemuan biasa sih." Sahut Robi.
" Kenapa di Cafe? Bukankah biasanya mereka melakukannya di Resto?" Tanya Khanna heran. Bukankah biasanya pertemuan dua keluarga selalu di lakukan di Resto?
" Yah mungkin cari suasana baru, Nanti Beliau akan menjelaskannya secara detail." Ujar Robi.
" Aku akan menemuinya." Sahut Khanna.
" Baiklah... Aku permisi dulu." Ucap Robi.
" Buatkan aku jus alpukat dengan full susu coklat." Titah Khanna.
" Siap Bos." Sahut Robi
Setelah kepergian Robi, Khanna membuka ponselnya, Ia kecewa karna Nervan tidak meneleponnya.
" Kita lihat saja siapa yang lebih betah mendiamkan, Aku atau kamu? Jika kamu memang mencintaiku pasti kamu duluan yang akan menghubungiku." Monolog Khanna.
Siang harinya sesuai yang di katakan Robi bahwa akan ada clien yang datang, Maka Khanna bersiap siap menuju ruangan VIP. Ia berjalan dengan santai, Setelah sampai di depan ruangan Khanna membuka pintunya. Ia menatap Robi yang sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang sedang menunduk memainkan ponselnya.
" Siang..." Sapa Khanna menghampiri keduanya.
" Siang.." Sahut Robi tentunya, Kalau pria itu masih sibuk dengan ponselnya.
" Khan kenalkan ini Pak Adam orang yang mau membooking Cafe kita malam ini." Ucap Robi.
" Pak Adam ini Khanna pemilik Cafe ini." Ujar Robi kepada Adam.
Adam mendongak menatap seseorang yang sedang berdiri menunduk di hadapannya hanya terhalang meja saja.
" Adam." Ucap Adam mengulurkan tangannya.
Khanna mendongak hendak membalas uluran tangan Adam, Tapi...
" Kamu...." Pekik Khanna.
" Kamu." Ucap Adam.
**TBC....
Jangan lupa like dan komentnya ... Makasih**...
__ADS_1