
Setelah kejadian malam itu Khanna mendiamkan Nervan. Ia meragukan kembali kesetiaan Nervan karena pada dasarnya Nervan pernah merusak kepercayaan yang Khanna berikan padanya, Apalagi wanita yang berada di telepon waktu itu terus saja menghubungi Nervan tanpa tahu waktu baik itu pagi siang atau pun malam selalu ada saja alasannya. Nervan yang katanya mau memecatnya nyatanya tidak bisa apa apa karena ternyata sekretaris itu cucu seorang pemegang saham terbesar di perusahaannya.
Pagi ini mereka berdua makan dalam diam, Berulang kali Nervan membujuk dan menjelaskan kepada Khanna perihal hubungannya dengan Rara tapi Khanna tetap bungkam, Ia tidak mau berbicara sebelum Ia membuktikan sendiri kebenarannya.
" Sayang hari ini Mas ada meeting sama client di resto favorite Adek, Apa Adek mau ikut menemani Mas meeting?" Tanya Nervan memancing agar Khanna mau berbicara dengannya. Tapi hasilnya nihil Khanna tetap bungkam.
" Sayang jangan diam aja donk, Apa nggak bosan dari kemarin ngediemin Mas terus." Ucap Nervan.
" Sayang Mas minta maaf ya, Tapi serius Mas tidak ada hubungan apa apa dengannya Dek, Percayalah pada suamimu ini." Sambung Nervan.
Khanna beranjak menuju wastafel untuk mencuci piringnya.
" Sudahi kemarahan Adek pagi ini ya, Mas sudah berusaha menjauhinya tapi Mas bisa apa ini semua terkait dengan pekerjaan di kantor Mas, Bahkan Mas tidak bisa merollingnya sayang." Ucap Nervan memeluk Khanna dari belakang.
" Mas mohon sayang... Mas tidak tertarik dengan wanita lain selain Adek sayang, Percayalah." Ujar Nervan.
Drt....Drt...
Ponsel Nervan bergetar, Ia melepas pelukannya lalu mengambil ponselnya. Kesempatan itu di gunakan Khanna untuk pergi meninggalkan Nervan.
" Ngapain lagi sih pagi pagi gini udah telepon." Kesal Nervan.
" Ada apa? Aku sudah bilang jangan ganggu aku di luar jam kerja kamu tahu nggak sih, Aku sedang menghabiskan waktuku dengan istriku." Ucap Nervan mengangkat sambungan teleponnya sambil mengejar Kanna lalu Ia memeluk pinggang Khanna. Ia tidak akan membiarkan Khanna salah paham lagi dengan telepon Rara biarkan Khanna mendengarkannya.
" Maaf Van, Meeting di ajukan setengah jam lagi jadi kamu harus segera sampai ke resto secepatnya." Ucap Rara.
Ini yang membuat Khanna semakin curiga, Mana ada sekretaris memanggil atasannya dengan nama saja. Ia berontak tapi Nervan lebih mengeratkan tangannya.
" Kenapa seenaknya saja mengatur waktuku? Dan satu lagi panggil aku Pak karena aku atasanmu sudah sering di bilangin tapi masih saja ngeyel, Dasar dungu." Kesal Nervan.
" Maaf Pak, Waktu meeting sudah di setujui oleh Pak Reno kami tinggal menunggu kedatangan anda saja." ucap Rara.
" Baiklah aku akan segera ke sana." Sahut Nervan mematikan sambungan ponselnya.
Nervan memasukkan teleponnya ke dalam saku celananya. Ia mengalungkan tangannya ke leher Khanna yang memunggunginya.
" Hanya masalah pekerjaan saja kan." Ucap Nervan.
" Aku tidak peduli." Sahut Khanna.
" Adek harus peduli sayang kalau tidak peduli gimana? Jika Adek takut kehilangan Mas harusnya Adek jagain Mas donk jangan malah di abaikan gini yang ada entar Mas kabur lhoh." Tutur Nervan mencium tengkuk Khanna membuat tubuh Khanna meremang.
" Lepas aku mau kerja." Ketus Khanna.
" Sayang kan udah Mas bilang barusan, Di sayang sayang donk Masnya biar nggak hilang di ambil orang." Ujar Nervan.
" Mau di ambil orang atau tidak itu tergantung kamunya." Sahut Khanna.
Nervan tersenyum setidaknya Khanna mulai menimpali ucapannya.
" Aku bilang lepas aku mau berangkat kerja." Berontak Khanna.
" Kiss dulu." Ucap Nervan membalikkan tubuh Khanna.
__ADS_1
Nervan menatap wajah Khanna membuat Khanna memalingkan wajahnya. Tak mau kalah Nervan menangkup wajah Khanna dengan kedua tangannya. Malas menatap wajah Nervan Khanna memejamkan matanya.
Cup cup cup
Nervan mencium kedua pipi Khanna, Yang terakhir Ia mencium bibir Khanna, Nervan menggigit pelan bibir bawah Khanna membuat Khanna sedikit membuka mulutnya. Nervan mencecap bibir Khanna dan Khanna pun membalasnya. Hati Nervan membuncah menerima ciuman dari Khanna sampai tiba tiba..
" Awh." Pekik Nervan menjauhkan bibirnya.
" Sayang ciumanmu ganas sekali membuat bibir Mas berdarah." Ucap Nervan.
Benar saja darah lumayan banyak keluar dari bibir Nervan. Ia segera melapnya dengan tisu, Khanna sedikit merasa bersalah tapi Ia segera meninggalkan Nervan di sana.
Khanna melajukan mobilnya menuju Cade sedangkan Nervan menuju resto untuk menemui clientnya.
Di tempat lain tepatnya di dalam rumah mewah nan megah, Rara sedang bergumul bersama ayah angkatnya. Rara terus mengeluarkan suara erotisnya di bawah kukungan ayah angkatnya. Bramono mengangkat Rara menjadi anaknya sejak Rara berusia lima tahun. Setelah dewasa Rara tumbuh menjadi wanita yang lumayan cantik dan memiliki body yang aduhai membuat Bram tertarik padanya. Mereka sering melakukan hal bejat seperti ini sejak Rara berumur delapan belas tahun.
" Ayah....." Desis Rara.
" Iya sayang... Nikmatilah." Sahut Bram.
Bram terus memacu tubuhnya di atas tubuh anak angkatnya. Tubuh Rara terlihat begitu menggoda di mata Bram, Ia tidak bisa menahan hasratnya setiap berada di dekat Rara. Apalagi sejak pertama kali Ia mendatangi Rara rasanya Ia tidak butuh pelayanan dari istrinya lagi hingga istrinya meninggal dunia.
" Yah..." Desis Rara
" Sebentar lagi sayang." Sahut Bram.
Tubuh Rara menggeliat seperti cacing kepanasan, Ia tidak memungkiri jika ayahnya mampu membuatnya merasakan kepuasan batin. Rara tidak membutuhkan cinta untuk melakukan itu karena baginya keduanya sama sama saling membutuhkan. Setelah hampir dua jam akhirnya tubuh Bram tumbang di samping tubuh Rara.
" Apa jika aku bisa mendapatkan Nervan kau akan melepasku?" Tanya Rara.
" Ya... Aku akan membiarkan kau menikah dengan Nervan tapi kita tetap bisa saling memuaskan." Sahut Bram.
"Cih sialan.. Jika bukan karena uangmu aku tidak sudi di sentuh pria tua sepertimu, Menjijikkan." Gerutu Rara dalam hati.
"Setelah kau mendapatkan warisan itu kau harus mengalihkan atas namaku, Aku tidak akan rela harta ayah mertuaku jatuh ke tangan anak Diana, Dia hanya cucu dan aku menantunya, Sia sia aku menyingkirkan Tono dan Ita jika harta itu jatuh ke tangan cucunya." Sambung Bram.
" Kau bahkan tega membunuh iparmu sendiri." Cebik Rara.
" Demi harta apapun akan aku lakukan, Jadi lakukan tugasmu dengan baik, Kau godalah Nervan dengan tubuhmu ini aku sudah susah payah membuatmu masuk ke sana, Jangan sampai gagal tinggal satu langkah saja kita bisa berhasil mendapatkan segalanya, Untuk itu pisahkan dulu Nervan dari istrinya sebelum tua bangka itu menemukannya." Ujar Bram.
" Aku yakin jika kakek pasti akan menemukan Nervan." Ujar Rara.
" Dan saat itu tiba kau sudah menikah dengannya." Sahut Bram.
Bramono adalah suami dari Rosi adik dari Ita yang tak lain ibunya Diana. Atau dengan kata lain Bramono adalah Adik ipar dari neneknya Nervan. Beberapa tahun terakhir sang Kakek Santo mencari keberadaan cicitnya untuk mewariskan semua hartanya kepada cicitnya yang tak lain adalah Nervan. Tapi Bram tidak menyetujuinya hingga Ia membuat rencana untuk mendapatkan semua harta itu.
" Ingat janjimu Babby, Kau bisa menikahi Nervan tapi kau tidak bisa menguasai harta warisan dari ayah mertuaku, Karena harta itu akan menjadi miikku sepenuhnya, Aku hanya akan memberimu komisi saja, Jika kau mengingkarinya maka akan aku pastikan kau berakhir di penjara atau akan aku kirim kau ke pusat lokali**** agar kau menjadi ja**** yang melayani banyak pria di sana ." Ucap Bram.
" Kau memang benar benar licik Yah, Aku tidak menyangka aku akan di besarkan oleh pria sepertimu." Cebik Rara.
" Pria seperti apa? Pria yang mampu memuaskanmu? Pria yang mampu membuatmu mende*** begitu maksudmu?" Ujar Bram kembali menindih tubuh Rara
"I... Iya." Sahut Rara.
__ADS_1
" Kita mulai lagi aku akan membuatmu berteriak memanggil namaku Babby." Ucap Bram.
Bram kembali menguasai tubuh Rara seolah tidak ada puasnya. Rara hanya pasrah saja menikmati sensasi yang luar biasa yang di ciptakan oleh Bram. Lagi lagi. Rara terus mende*** memanggil nama ayahnya.
(Haduh author kok jijay sendiri nulis part ini)
Di Cafe KA Khanna tidak bisa konsentrasi bekerja, Ia terus memikirkan siapa sebenarnya yang menjadi sekretaris Nervan kali ini? Jiwa detektif Papa Shiv menurun padanya. Ia segera meninggalkan Cafe menuju rumah Papa Shiv.
" Assalamu'alaikum Pa." Sapa Khanna memasuki rumah Papa Shiv.
" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Papa Shiv.
"Silahkan duduk dan katakan apa yang bisa Papa bantu." Ucap Papa Shiv.
" He he Papa sampai hafal ya kalau Khan ke sini saat butuh bantuan doank." Ucap Khanna nyengir.
" Siapa yang harus Papa selidiki kali ini?" Tanya Papa Shiv.
" Rara, Sekretaris Mas Nervan." Sahut Khanna.
" Tanpa kamu perintah Papa sudah menyelidikinya." Ujar Papa Shiv.
" Apa yang Papa temukan?" Tanya Khanna.
" Dia anak angkat dari Bramono cucu dari Tuan Santo pemilik saham terbesar di perusahaan Papamu, Tapi Papa belum menemukan apa tujuan dia mendekati Nervan, Apa memang dia tertarik sama Nervan apa karena suruhan orang lain." Jelas Papa Shiv.
" Hah.... Ada aja orang jahat yang mendekati Mas Nervan." Khanna menghela nafasnya.
" Papa akan segera mengetahui alasannya, Kamu jangan khawatir Papa akan mengatasinya." Ujar Papa Shiv.
" Makasih Pa." Ucap Khanna memeluk Papa Shiv.
" Kembali kasih sayang apapun akan Papa lakukan untuk anak Papa tersayang." Ujar Papa Shiv.
" Bohong... Yang selalu jadi kesayangan Papa pasti Kak Aroon bukan Khan." Ucap Khan mengerucutkan bibirnya.
" Iya deh Papa ngaku." Ujar Papa Shiv.
" Tuh kan.." Cebik Khanna.
" Kalian berdua sama sama Papa sayang kok." Ucap Papa Shiv.
" Makasih Pa." Ucap Khanna.
" Hmm." Gumam Papa Shiv.
TBC.......
*Jangan lupa like dan komentnya...
Makasih atas suportnya..
Miss U All*
__ADS_1