
Nervan kembali menghampiri keluarganya, Selesai makan mereka berkumpul di ruang tamu. Nervan duduk di single sofa menghadap keluarganya.
" Gimana dengan Khanna Van? Apa dia masih marah?" Tanya Papa Sakti.
"Sepertinya sudah tidak Yah, Khan sedang tidur saat ini." Ujar Nervan.
" Ada yang ingin Nervan bicarakan pada kalian semua." Sambung Nervan menatap anggota keluarganya.
" Katakan sayang." Ujar Mama Alfi.
" Nervan mohon dengan sangat jangan pernah kalian menanyakan atau membicarakan tentang kehamilan pada Khanna, Khanna sangat sensitif akan hal itu, Apalagi ahir akhir ini dia selalu khawatir jika kandungannya bermasalah, Nervan tidak mau membebani Khan dengan semua ini, Biarlah Tuhan yang menentukan kapan Tuhan akan memberikan amanah itu pada kami, Nervan mohon pengertiannya Yah, Ma, Pa." Terang Nervan.
" Tapi Van." Ucap Papa Reno.
" Ku mohon Pa jangan debatkan soal ini lagi, Kita sudahi pembahasan soal anak, Nervan tidak mau kehilangan Khanna lagi." Nervan memotong ucapan Papa Reno.
" Baiklah Papa minta maaf." Ucap Papa Reno.
" Kalau begitu kami pamit pulang dulu sayang, Sampaikan maaf pada Khanna." Ucap Mama Alfi.
" Hati hati Ma." Ucap Nervan.
Kedua orang tua dan mertua Nervan pamit pulang begitupun dengan Papa Shiv. Setelah kepergian mereka Nervan kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di samping Khanna. Ia memeluk tubuh Khanna dari belakang.
Sinar matahari mulai merasuk ke dalam kamar Nervan. Khanna mengerjapkan matanya, Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Khanna menghampiri Nervan yang masih terlelap.
" Mas bangun." Khanna mengguncang pelan tubuh Nervan.
" Hmm." Gumam Nervan.
" Bangun Mas udah pagi." Ujar Khanna.
Nervan menarik tubuh Khanna hingga jatuh di atasnya, Ia menatap wajah cantik Khanna, Nervan menatap bibir pink milik Khanna. Ia membalikkan posisi hingga Khanna berada di bawah tubuhnya.
Nervan mengendus pipi Khanna, Ia menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Khanna.
" Massss." Desis Khanna saat Nervan menyesap lehernya hingga meninggalkan jejak merah keunguan.
Tidak hanya itu, Nervan memainkan lidahnya di sana membuat tubuh Khanna menggelinjang. Tangannya meremas bagian gunung kembar milik Khanna membuat Khanna mend****.
Ciuman Nervan beralih pada bibir Khanna. Ia mencecap bibir Khanna dengan lembut membuat Khanna sedikit membuka mulutnya, Nervan menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchinya. Keduanya terlena dengan sensasi manis yang luar biasa, Tangan Nervan tak henti hentinya memainkan squishy milik Khanna. Setelah keduanya kehabisan nafas, Nervan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Khanna dari sisa salivanya.
" Sayang boleh ya." Ucap Nervan dengan mata berkabut gairah.
" Iya Mas." Sahut Khanna menganggukkan kepalanya.
Nervan mulai membuka bathrobe yang Khanna kenakan hingga menampakkan pemandangan luar biasa indahnya. Ia mulai memainkan l*d*hnya pada puncak gunung kembar Khanna.
Khanna terus mend**** saat Nervan mendatanginya. Ia menikmati sensasi panas dingin yang Nervan ciptakan lewat permainannya. Nervan memanjakan tubuh Khanna dengan permainan lembutnya. Suara de***** dan erang*n memenuhi ruang kamar mereka berdua. Nervan terus memacu tubuhnya hingga keduanya mencapai pelep*s*n bersama.
" Makasih sayang." Nervan mencium kening Khanna. Ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Khanna.
Khanna memakai bathrobenya kembali, Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi yang ke dua kali. Nervan segera menyusulnya.
" Mau apa?" Selidik Khanna.
" Mandi sayang." Sahut Nervan.
__ADS_1
" Mandi ya jangan macam macam." Ujar Khanna.
" Enggak janji." Sahut Nervan memeluk tubuh Khanna dari belakang.
Khanna menghela nafasnya pasalnya Nervan mengulangi permainannya di sini. Setelah satu jam akhirnya mereka berdua benar benar mandi.
" Sayang Mas udah delivery makanan, Kita sarapan dulu ya baru berangkat kerja." Ucap Nervan menghampiri Khanna yang sedang duduk di meja rias.
" Aku nggak kerja Mas, Aku di rumah saja." Sahut Khanna.
" Lhoh kenapa? Apa Adek sakit?" Tanya Nervan. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Khanna.
" Enggak." Ucap Khanna menepis tangan Nervan.
" Lalu?" Tanya Nervan.
" Malu." Sahut Khanna.
" Malu kenapa sayang?" Tanya Nervan.
" Malulah kamu membuat tanda di leherku banyak banget, Nih mana merah merah banget lagi." Gerutu Khanna sambil menunjuk lehernya hingga dadanya.
" Maaf sayang Mas kelepasan." Ujar Nervan.
" Kelepasan kok sampai banyak banhet gini, Ini mah namanya doyan Mas." Cebik Khanna.
" Iya deh doyan habisnya Adek manis, Buat Mas nggak bisa nahan diri." Sahut Nervan.
" Alasan, Udah ah aku mau makan lapar." Ucap Khanna.
Sesampainya di meja makan, Keduanya makan dengan khidmat.
Drt....Drt...
Ponsel Khanna berdering tanda panggilan masuk. Khanna segera melihat ID pemanggil dalam layar ponselnya.
" Halo Rev." Sapa Khanna setelah mengangkat panggilnnya yang tak lain dari Revi.
" Kita di undang ke acara ulang tahun keenan, Lo mau datang?" Tanya Revi di sebrang sana.
" Kapan?" Khanna balik bertanya.
" Nanti malam jam sembilan." Sahut Revi.
" Malam amat." Gumam Khanna.
" Ya biasalah acara tongkrong anak anak muda, Dia sangat berharap Lo bisa datang." Ujar Revi
" Dimana acaranya?" Tanya Khanna.
" Club xx." Sahut Revi.
" Ya udah deh nanti gue usahain datang, Lo jemput gue ya." Ujar Khanna.
" OK." Sahut Revi memutus sambungan teleponnya.
" Mau kemana?" Tanya Nervan menatap Khanna.
__ADS_1
" Ke acara ulang tahun temen." Sahut Khanna.
" Cowok atau Cewek?" Selidik Nervan.
" Cowok.. Keenan namanya salah satu anggota genk kami di kampus." Sahut Khanna.
" Dimana acaranya?" Tanya Nervan.
" Di club xx jam sembilan malam Mas." Sahut Khanna.
" Nggak usah datang lah Dek, Entah mengapa perasaan Mas nggak enak takut terjadi sesuatu dengan Adek." Ujar Nervan.
" Kalau nggak datang gimana donk? Udah janjian juga sama Revi, Nggak enak kalau batalin." Ujar Khanna.
" Ya udah yang penting hati hati, Harus bisa jaga diri, Maaf Mas gak bisa ngantar Adek soalnya Mas ada meeting dengan para petinggi perusahaan hingga jam dua belas malam." Ujar Nervan.
" Iya Mas nggak pa pa, Aku datang sama Revi kok." Sahut Khanna
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari tepat jam sembilan Revi dan Khanna sampai di club xx tempat Keenan merayakan pesta ulang tahun. Keduanya menghampiri yang memiliki acara di depan meja bartender.
" Selamat ulang tahun Keen." Ucap Khanna menyalami Keenan lalu memberikan kotak kado kepadanya.
" Makasih Khan kamu udah mau datang." Sahut Keenan menatap Khanna dengan tatapan penuh arti.
" Selamat ulang tahun Keen." Ucap Revi sambil cipika cipiki.
" Makasih Rev." Sahut Keenan.
" Oh ya Khan bisakah kau menemaniku minum? Kita duduk di sana saja." Ucap Keenan.
" Tapi aku nggak minum ya." Ujar Khanna.
" Khan aku gabung sama temen temen dulu ya." Pamit Revi meninggalkan Khanna dan Keenan.
" Ayo Khan kita duduk di sana aja." Ujar Keenan.
Keduanya duduk di meja yang di tunjuk oleh Keenan. Keenan minum sambil terus menatap Khanna membuat Khanna yang di tatap menjadi risih. Khanna mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru club itu, Sebenarnya Ia tidak nyaman berada di tempat ini. Ia merogoh tasnya mencari ponselnya tapi sepertinya ponselnya tertinggal di dalam kamarnya. Tadi Ia terburu buru soalnya Revi keburu datang.
" Kenapa? Kok gelisah gitu?" Tanya Keenan.
" Ah enggak cuma nyari ponsel aja, Nggak tahunya ketinggal." Sahut Khanna.
Keenan tersenyum smirk. Ia segera membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu, Lalu Ia menekan tombol send.
" Khan nih minum dulu, Jangan khawatir Ini cuma jus biasa jadi tidak akan membuatmu mabuk." Ujar Keenan memberikan segelas jus pada Khanna.
" Makasih." Sahut Khanna.
Khanna segera meminumnya hingga habis. Tak lama setelah itu Ia merasa pusing. Pandangannya kabur, Ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Hingga tak lama kemudian Ia tidak sadarkan diri.
TBC....
Hayooo apa yang terjadi selanjutnya... Author mau kasih konflik yang agak berat ya...
Makasih suportnya.....
__ADS_1