Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Terbawa Suasana


__ADS_3

Setelah mandi Khanna turun ke bawah meninggalkan Nervan yang sedang mandi juga, Khanna merasa kesal dengan tingkah Nervan yang menyebalkan. Ia terus berjalan hingga sampai ke meja makan. Di sana sudah ada Mama Alfi dan Papa Sakti.


" Pagi Ma... Pa." Sapa Khanna mencium pipi Mama dan Papa bergantian.


" Pagi sayang, Mana suamimu?" Tanya Mama.


" Lagi mandi Ma." Sahut Khanna.


" Khannn leher kamu di gigit apa tuh kok merah?" Tanya Mama sambil senyum senyum.


" Nyamuk Ma." Sahut Khanna asal.


" Mama baru tahu kalau bekas gigitan nyamuk bisa merah selebar itu." Goda Mama.


" Berarti bukan nyamuk Ma, Drakula mungkin Ma." Kesal Khanna.


" Van.. Khanna di gigit drakula katanya." Ucap Mama saat melihat Nervan berjalan mendekat ke arah mereka.


" Apa Ma? Drakula?" Tanya Nervan sambil duduk di sebelah Khanna.


" Iya... Tuh lihat lehernya merah." Ujar Mama.


" Yankkk..." Ucap Papa.


" Itu mah gigitan Nervan Ma." Ucap Nervan tanpa malu setelah menoleh ke arah Khanna.


" Oh bekas gigitanmu... Wah buas juga ya kamu." Ujar Mama.


" Ckk." Decak Khanna sambil berdiri, Nervan mencekal tangannya.


" Apaan sih." Ketus Khanna.


" Duduk sayang." Ucap Nervan lembut.


" Nggak usah ngatur ngatur aku deh." Ucap Khanna mencoba melepas cekalan Nervan.


" Sayang... Tidak sopan meninggalkan meja makan sebelum memakan sesuatu, Apalagi ketika orang tua sedang bicara." Jelas Nervan.


" Bicara tidak penting, Lepas." Khanna menghentak kasar tangannya, Nervan semakin kuat mencekal tangannya.


" Sakit Mas." Pekik Khanna.


" Duduk." Titah Nervan menatap tajam ke arah Khanna.


" Nggak mau." Ketus Khanna.


" Mas bilang duduk Dek." Tekan Nervan.


" Lepas dulu baru aku duduk." Ucap Khanna.


" Maaf bila Mas menyakiti Adek." Ucap Nervan melepas cekalannya.


Khanna duduk kembali di kursinya dengan perasaan dongkol dan ingin menangis. Ia di perlakukan seperti itu di depan orang tuanya sendiri. Dadanya bergemuruh menahan sesak di dadanya, Ia semakin menumbuhkan rasa benci dalam hatinya. Tak ingin terlihat lemah, Khanna segera pergi dari sana.


" Dek... " Panggil Nervan. Khanna tak menghiraukannya Ia tetap berjalan menuju kamarnya.


" Maafkan sikap Khanna dan Nervan Yah Ma." Ucap Nervan.


" Tidak apa sayang, Sekarang Khanna tanggung jawabmu, Apapun yang kamu lakukan demi kebaikannya Ayah menyetujuinya." Ujar Papa Sakti.


" Makasih Yah." Sahut Nervan.


" Ayo kita makan dulu." Ajak Mama.


" Iya Ma." Sahut Nervan.


Mereka makan dengan khidmat, Setelah selesai Nervan segera mengambilkan makanan untuk Khanna. Dengan membawa nampan di tangannya Nervan berjalan menuju ke kamarnya.


Ceklek

__ADS_1


Nervan membuka pintunya, Terlihat Khanna sedang duduk bersandar dengan bantal sebagai tumpuannya. Ia sedang memainkan ponsel di tangannya.


" Dek makan dulu." Ucap Nervan menghampiri Khanna. Ia meletakkan nampannya di atas nakas samping tempat tidur.


" Perlu aku suapi?" Tanya Nervan. Khanna tidak bergeming, Ia lebih suka melihat ponselnya daripada suaminya.


" Sayang... Ayo makan dulu ntar sakit lhoh kalau sampai telat makan." Ujar Nervan.


" Sa...


Drt drt drt


Belum sempat Nervan melanjutkan ucapannua tiba tiba ponsel Nervan berbunyi tanda panggilan masuk, Ia melihat ID pemanggil lalu melirik ke arah Khanna yang tampak tidak mempedulikan sekitarnya. Nervan berjalan ke arah balkon. Ia mengangkat teleponnya.


" Hallo Fit, Ada apa?" Tanya Nervan.


" Kamu dimana? Kok rumahmu sepi?" Tanya Safita.


" Aku sedang di rumah Ayah, Kenapa?" Ucap Nervan.


" Aku cuma mau nganter sarapan aja buat kamu, Tapi kamu nggak di rumah aku bawa pulang aja deh." Ujar Safita.


" OK makasih Fit." Sahut Nervan menutup panggilan teleponnya.


Nervan kembali masuk ke dalam. Ia menggelengkan kepalanya melihat Khanna yang sedang makan dengan lahapnya. Ia menghampiri Khanna.


" Pelan pelan makannya sayang... Kaya' orang kelaparan aja." Ucap Nervan sambil duduk di tepi ranjang.


" Bukankah pura pura bahagia memang membuat kita kelaparan?" Tanya Khanna.


" Makanya jangan pura pura sayang... Berbahagialah, Terima aku sebagai suamimu maka kamu akan merasakan kebahagiaan yang nyata." Ujar Nervan.


" Nggak akan, Bukankah kamu lebih bahagia jika berpisah denganku? Kamu bisa bahagia hidup bersama kekasihmu begitupun denganku." Ucap Khanna, Ia segera meminum minumannya lalu meletakkan gelas dan piring kosong ke nampan kembali.


Nervan menggenggam tangan Khanna membuat Khanna menatapnya.


" Jawab pertanyaan Mas sayang... Apa selama bersamaku kamu sama sekali tidak tertarik denganku?" Tanya Nervan.


" Apa tidak ada rasa sayang sedikitpun di hatiku buat aku?" Tanya Nervan lagi.


" Tidak." Ucap Khanna.


" Apa kamu sama sekali tidak takut kehilangan aku?" Nervan menatap tajam mata Khanna membuat Khanna gugup.


" Tidak." Jawab Khanna sambil menggelengkan kepalanya.


" Apa kamu benar benar membenciku?" Tanya Nervan.


" Tidak." Jawab Khanna.


" Itulah jawaban yang aku inginkan." Ujar Nervan.


" Hahhhhh." Ucap Khanna bingung.


" Kamu tidak benar benar membenciku Dek, Aku tahu kalau kamu punya rasa padaku, Jangan mengelak... Kamu tahu kenapa aku tidak mau menceraikanmu?" Tanya Nervan.


" Tidak... Emang kenapa? Kamu tidak mencintaiku kan? Lalu kenapa kamu tidak mau berpisah dariku?" Tanya Khanna ingin tahu.


" Kalau aku bilang.... Aku mencintaimu apa kamu percaya?" Tanya Nervan balik.


" Tidak." Jawab Khanna.


" Kamu akan tahu jawabannya nanti jika waktunya sudah tiba, Sekarang bersiaplah kita harus pulang ke rumah, Tidak baik seorang istri berlama lama di rumah orang tuanya hmmm." Ujar Nervan.


" Aku tidak mau kembali ke rumah itu." Ketus Khanna.


" Kenapa?" Tanya Farhan.


" Aku nggak mau deket deket sama mantan gebetanmu." Ucap Khanna kesal.

__ADS_1


" Kamu cemburu?" Tanya Nervan memastikan.


" Siapa yang tidak cemburu mengetahui suaminya membeli rumah di samping rumah mantannya? Apalagi kemarin kamu bilang kalau kamu masih mencintainya." Ujar Khanna.


" Cemburu itu tandanya sayang lhoh Dek." Ucap Nervan sambil tersenyum.


" Eh apaan?... Aku cemburu? Nggak ya." Elak Khanna.


" Barusan kamu ngaku lhoh." Ucap Nervan.


" Nggak... Aku salah ngomong doank." Kilah Khanna malu.


" Ngaku aja lah Dek kalau kamu cemburu sama Safita, Aku seneng kok kalau kamu cemburu, Itu tandanya kamu ada rasa padaku." Ujar Nervan.


" iya.... Rasa Benci." Ketus Khanna.


" Benar Benar Cinta." Sahut Nervan.


" Bukan.. Tapi B E N C I." Ucap Khanna mengeja kata Benci.


" Benci sama cinta beda tipis." Ujar Nervan.


" Tau ah gelap." Ketus Khanna memanyunkan bibirnya.


" Jangan gitu Dek, Entar Mas khilaf lho." Ucap Nervan.


" Bodo'." Sahut Khanna


" Tapi Adek suka kan kalau Mas khilaf? Buktinya Adek menikmatinya." Ujar Nervan.


" Apaan sih rese' lo mah." Ucap Khanna memukul Nervam dengan bantal.


" Ampun Dek... Ampun." Ucap Nervan menangkis bantal Khanna. Khanna terus memukulinya hingga Nervan menarik tubuhnya, Khanna jatuh di atas ranjang di bawah kukungan Nervan. Mata mereka saling menatap satu sama lain dengan nafas ngos ngossan. Nervan menatap bibir merah milik Khanna. Ia memajukan wajahnya, Khanna memejamkan matanya. Tiba tiba...


Fiuh... Nervan meniup wajah Khanna membuat Khanna membuka matanya.


" Kenapa? Berharap Mas mencium Adek lagi?" Tanya Nervan membuat Khanna gelagapan.


" Mau Mas cium lagi?" Goda Nervan menatap mata Khanna yang juga menatapnya.


" Mau..." Ucap Khanna menganggukkan kepalanya.


" Benarkah?" Tanya Nervan dengan mata berbinar.


" Hmm..Tapi aku yang nyium duluan." Ucap Khanna.


" Hmmm Lakukanlah." Ucap Nervan mejamkan matanya.


Khanna memajukan wajahnya, Ia menempelkan bibirnya ke bibir Nervan. Sampai tiba tiba...


" Awh..." Pekik Nervan membuka matanya.


" Sakit Dek... Nafsu amat." Ucap Nervan mengelap darah di bibirnya.


" Makanya jangan rese'." Ketus Khanna.


" Minggir." Sambung Khanna.


Nervan mengunci tangan Khanna dengan kedua tanggannya membuat Khanna ketakutan.


" Mau apa kamu Mas?" Tanya Khanna ketakutan.


" Mau membalas perbuatanmu." Sahut Nervan.


" Minggir lepas." Ujar Khanna.


Nervan menyusupkan wajahnya ke leher Khanna, Khanna berontak dengan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri tetapi tidak berhasik karna Nervan sudah mendapat posisi yang pas, Nervan segera menyesap leher Khanna dengan lembut membuat Khanna mendesis menghentikan gerakannya. Nervan memainkan lidahnya di sana membuat gelenyar aneh pada tubuh Khanna. Sesekali Nervan menyesapnya membuat tanda merah pada leher putih istrinya. Semakin lama semuanya menjadi tak terkendali... Ciuman Nervan beralih pada bibir Khanna. Keduanya sama sama terlena dan terbawa suasana. Sampai sampai Khanna lupa akan janjinya yang tidak akan pernah menerima Nervan sebagai suaminya.


Keduanya terbuai dalam balutan asmara cinta yang sedang mekar di dalam hati keduanya. Nervan berhasil melepas masa lajangnya sedangkan Khanna melepas masa gadisnya. Tanpa mereka sadari bahwa cinta mereka telah menyatu dalam alunan ******* dan erangan di dalam kamar mereka, Kamar yang terang benderang menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka di pagi menjelang siang hari ini. Sesekali Khanna mendesis merasakan sakit pada bagian bawahnya, Nervan memperlakukannya dengan lembut. Nervan terus memanjakan istrinya di bawah kukungannya. Nervan menghujani kenikmatan demi kenikmatan kepada istrinya. Setelah keduanya sama sama kelelahan akhirnya mereka sama sama tumbang dan terkapar di atas ranjang. Nervan segera memeluk Khanna dari belakang, Keduanya sama sama tertidur dalam balutan selimut kehangatan yang baru saja mereka ciptakan.

__ADS_1


**TBC....


Duh duh... Kenapa author nulisnya keblabasan sampe sini ya.. Sungguh di luar rencana author nih... Maafin ya... Jangan di bilang kalau Khanna murahan ya... Karna sebenarnya di hati Khanna juga menyimpan cinta untuk Kakak Angkatnya sejak lama.... Tunggu kisah mereka berikutnya ya... Makasih dukungannya.... Miss U All**


__ADS_2