Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Pengakuan


__ADS_3

Nervan menggenggam tangan Khanna, Ia menatap istri tercintanya.


" Sebenarnya Mas udah dari dulu cinta sama Adek." Ucap Nervan lembut.


" Sejak kapan?" Tanya Khanna.


" Sejak Adek SMP." Jawab Nervan. Khanna menarik tangannya dari genggaman Nervan.


" Kenapa? Adek nggak terima? Adek semakin membenci Mas?" Tanya Nervan menatap Khanna.


" Kamu memang nggak tahu malu Mas." Ejek Khanna.


" Yah Adek benar.... Mas memang tidak tahu malu... Mas mencintai Adek angkat Mas sendiri." Ucap Nervan menghela nafasnya.


" Sejak rasa itu tumbuh di hati Mas, Mas selalu mencoba untuk membunuhnya, Tapi apalah daya Mas Dek? Bukannya mati tapi rasa itu semakin tumbuh di hati Mas, Mas selalu merasa bersalah mengkhianati keluarga yang sudah menyayangi Mas selama ini, Itulah sebabnya mengapa Mas meminta pindah ke rumah Papa Reno, Mas ingin menjauh darimu, Mas ingin mencoba melupakanmu." Khanna menatap Nervan dengan hati yang entah bagaimana.


" Saat masuk kuliah Mas mencoba menyukai gadis lain, Dia Safita... Tapi selama Mas mencoba untuk menggeser namamu di hati Mas, Mas tidak berhasil Dek.... Wajahmu selalu membayangi hidup Mas... Adek selalu hadir dalam mimpi Mas, Adek selalu mengganggu pikiran Mas, Saat Richard meninggalkanmu di hari pernikahan, Mas merasa ini lah jalan Tuhan menyatukan Mas denganmu, Itulah sebabnya Mas dengan senang hati mau menikahimu." Ucap Nervan menangkup wajah Khanna dengan kedua tangannya.


" Mas mencintaimu Dek.... Mas sangat mencintaimu." Ungkap Nervan memeluk tubuh Khanna.


Khanna melepas pelukan Nervan, Ia segera mengambil tas selempang dan berlari keluar rumah.


" Dek.... Adek.. Tunggu... Khanna." Panggil Nervan.


Khanna tidak menghiraukan panggilan Nervan, Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Khanna menahan sesak di dadanya, Ia melajukan mobilnya menuju rumah Revi.


Sesampainya di rumah Revi, Khanna segera turun lalu berlari masuk ke dalam.


" Rev...." Panggil Khanna sambil berteriak.


" Ada apa teriak teriak?" Tanya Revi keluar dari kamarnya.


" Gue mau tidur." Ucap Khanna nyelonong masuk ke dalam kamar Revi.


" Ckk kebiasaan... Padahal kasur di kamar Lo jauh lebih empuk." Cebik Revi.


" Bodo' ah... Bangunin gue kalau udah malam... Kita clubbing yuk." Ujar Khanna.


" Tapi jangan minum ya." Ucap Revi.


" Siappp." Sahut Khanna.


Mereka berdua tidur bersebelahan, Nervan membuka ponselnya menyalakan gps yang terhubung pada mobil Khanna, Hatinya lega setelah mengetahui Khanna berada di rumah Revi.


...****************...


Malam harinya Khanna dan Revi pergi ke club malam. Padahal mereka baru pertama kali ini mau ke sana. Mereka mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sesampainya di sana, Khanna dan Revi segera masuk ke dalam, Sebelum berhasil memasukinya mereka sudah di hadang oleh petugas keamanan di sana.


" Maaf Mbak... Bisa tunjukkan kartu anggotanya?" Tanya petugas.


" Emangnya harus pakai kartu anggota untuk bisa masuk ke dalam?" Tanya Revi.


" Iya Mbak.. Di sini hanya di khususkan untuk para anggota saja." Jelas petugas.


" Mereka datang bersamaku." Ujar Pria tampan dari belakang Khanna.


Khanna dan Revi menoleh ke belakang menatap pria tersebut.


" Oh baiklah Tuan Alan... Maaf saya tidak tahu kalau mereka wanita anda." Ucap Petugas.


" Mari masuk Nona." Ajak Pria yang bernama Alan.


Alan masuk ke dalam di ikuti Khanna dan Revi. Suara bising dari dalam membuat gendhang telinga Revi dan Khanna sakit.


" Khan.. Pulang saja yuk." Ajak Revi sambil berteriak.


" Tanggung... Ayo." Ujar Khanna.


" Nona mari ke meja bartender kita pesan minuman." Ajak Alan.

__ADS_1


" Ayo." Sahut Khanna.


Mereka mengikuti Alan menuju meja bartender, Mereka duduk di kursi depan meja bartender yang sedang meracik minuman. Revi mengetikkan sesuatu pada ponselnya lalu mengirimkannya kepada seseorang.


" Nona kita belum kenalan, Perkenalkan namaku Alan." Ucap Alan mengulurkan tangannya.


" Khanna." Sahut Khanna menjabat tangan Alan.


" Kamu?" Tanya Alan ke arah Revi.


" Revi." Sahut Revi.


" Mau pesan apa?" Tanya Alan.


" Jus aja Tuan." Sahut Revi.


" Masa' sampai sini cuma minum jus, Gimana kalau ini saja, Cobalah rasanya sangat enak." Ujar Alan menyodorkan segelas minuman di depan Khanna dan Revi.


Khanna mengambil gelas itu lalu meminumnya.


" Uek.... Pahit.." Ucap Khanna.


" Khan kamu jangan ngawur... Itu memabukkan Khan, Bagaimana kalau kamu mabuk nanti?" Pekik Revi.


" Tenang saja ada aku di sini kalau dia mabuk." Ujar Alan.


" Jangan kasih lagi Tuan, Kalau suaminya tahu anda akan menyesal." Ucap Revi.


" Dia sudah menikah?" Tanya Alan tidak percaya.


" Iya Tuan makanya jangan sembarang memberikan sesuatu padanya, Sebentar lagi suaminya ke sini." Sahut Revi.


Tanpa Revi sadari ternyata Khanna meminum yang segelasnya lagi. Khanna merenung memikirkan bagaimana dia harus menjalani semua ini, Di satu sisi dia tidak ingin kehilangan Kakaknya tapi di sisi lain dia juga tidak bisa berpisah dengan Nervan. Tak lama setelah itu...


" Rev kepalaku pusing." Keluh Khanna.


" Kamu bandel sih... Kita pulang aja." Ucap Revi.


" Memangnya kamu kenapa?" Tanya Revi.


" Hiks...Hiks...Hiks..." Isak Khanna menundukkan kepalanya pada meja bartender


" Kenapa Khan? Ada apa?" Tanya Revi cemas.


" Sepertinya dia mulai mabuk Nona Revi." Kata Alan.


Dari arah kejauhan nampak Nervan sedang berjalan ke arah mereka, Nervan mencolek bahu Revi membuat Revi menoleh ke belakang, Alan yang ikut menolehpun segera pergi dari sana karna tahu siapa yang datang menghampiri kedua gadis di sebelahnya, Sedang Nervan memberi kode kepada Revi untuk tidak memberitahu Khanna jika dia ada di sini. Saat itu juga suara musik menjadi pelan karna Nervan sudah menyuruh DJ mengecilkan volumenya. Nervan merupakan ketua keanggitaan di Club itu, Ia dapat dengan mudah memerintah siapa saja di sana.


" Rev.... Hiks.... Hatiku sakit Rev... Dadaku terasa sesak." Ucap Khanna.


" Katakan padaku Khan, Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?." Ujar Revi.


" Dia mencintaiku Rev......" Ucap Khanna.


" Dia????? Dia siapa?" Tanya Revi bingung.


" Mas Nervan.....Dia juga mencintaiku.. Ternyata kami punya Perasaan yang sama selama ini Rev..." Racau Khanna di sela kesadarannya.


Deg..... Jantung Nervan berdetak dengan kencang, Apa? Khanna juga mencintainya? Senyum mengembang di bibir Nervan yang masih berdiri di belakang Khanna. Ingin rasanya Ia memeluk Khanna saat ini juga untuk mencurahkan kebahagiaannya tapi Ia menahannya karna ingin mendengar pengakuan Khanna yang lainnya.


" Bukankah itu berita bagus Khan?" Tanya Revi.


" Tidak Rev.... Aku lebih suka jika hanya aku yang memiliki perasaan ini agar aku bisa melepasnya." Ujar Khanna.


" Kenapa harus berpisah Khan.... Bukankah kalian sudah menjadi suami istri.." Ujar Revi. Khanna tidak bergeming.


" Khan.... Khanna." Panggil Revi mengguncang bahu Khanna.


" Sepertinya dia sudah tidak sadar Kak." Ujar Revi.

__ADS_1


" Aku akan menggendongnya." Sahut Nervan. Ia menggendong Khanna ala bridal style menuju mobilnya, Mereka berpisah di parkiran karna Revi mengendarai mobilnya sendiri. Nervan melajukan mobilnya menuju rumah barunya, Ia tidak mungkin membawa Khanna pulang ke rumah orang tuanya dalam kondisi seperti ini.


Sesampainya di rumah Nervan segera membawa Khanna ke kamarnya, Ia merebahkan tubuh Khanna dengan pelan. Nervan mengelap wajah Khanna dengan air dingin. Setelah itu Ia ikut berbaring di samping Khanna sambil memeluknya.


Malam menjelang pagi Khanna terbangun, Perutnya mual tak karuan, Ia segera berlari ke kamar mandi memutahkan segala isi perutnya.


Huek....Huek...


Nervan yang mendengar Khanna mutah langsung menyusul ke kamar mandi. Ia memijat tengkuk Khanna dengan pelan. Setelah baikan Nervan menggendong Khanna menuju ranjang.


" Tunggu sebentar jangan tidur lagi, Mas bikin air lemon dulu." Ujar Nervan.


Nervan segera turun ke dapur membuat air perasan lemon untuk mengurangi efek alkohol yang Khanna minum. Untung saja minuman yang Khanna minum berkadar alkohol rendah.


" Ini minum dulu biar cepet baikan." Ucap Nervan sambil membantu Khanna minum.


" Iuhhh masam Mas.... Nggak enak." Ucap Khanna.


" Harus minum ini biar mendingan, Kalau tidak kamu akan merasa pusing sayang." Sahut Nervan.


Khanna meminumnya sampai habis. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan bersandar pada tumpukan bantal. Nervan duduk di tepi ranjang samping Khanna.


" Sini Mas pijitin." Ucap Nervan memijat pelan kepala Khanna.


" Mas nggak marah?" Tanya Khanna.


" Buat apa Mas marah sama Adek... Tapi Mas harap ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kalau sampai terulang Mas akan sangat marah sama Adek, Di sana bahaya Dek... Ada banyak pria hidung belang di dalam sana, Bagaimana jika Adek di terkam salah satunya? Mas nggak mau Adek kenapa napa, Mas menyayangimu melebihi apapun." Ujar Nervan panjang lebar.


Khanna duduk menatap Nervan yang sedang menatapnya juga. Ia melihat begitu besar cinta di mata Nervan. Nervan menangkup wajah Khanna dengan kedua tangannya.


" Mas mencintaimu Dek... Sangat sangat mencintaimu, Jangan buat Mas khawatir seperti ini lagi, Maafin Mas yang sudah mengecewakanmu, Maafkan Mas yang sudah lancang mencintai permata seperti dirimu." Ungkap Nervan.


" Hiks...Hiks...." Isak Khanna menubruk tubuh Nervan, Nervan segera membalasnya.


" Menangislah sayang... Keluarkan semua yang mengganjal di hati Adek." Ujar Nervan.


" Maafkan aku Mas.... Hiks.. Maafkan aku." Ucap Khanna di sela sela isakannya.


" Mas sudah memaafkanmu sayang... Maafkan Mas juga yang telah lancang mencintaimu." Ujar Nervan. Khanna menganggukkan kepalanya.


" Apa Adek juga punya perasaan yang sama kepada Mas?" Tanya Nervan memastikan. Khanna menganggukkan kepalanya lagi.


Hati Nervan berbunga bunga seperti ada ribuan kupu kupu terbang di dalam hatinya. Nervan memeluk erat tubuh Khanna seakan takut akan kehilangannya. Khanna melepas pelukannya, Ia mengusap air matanya.


" A... Aku juga mencintaimu Mas..." Ucap Khanna.


" Terima kasih sayang... Mas sangat bahagia mendengarnya." Sahut Nervan.


" Tapi maaf Mas... Kita tidak bisa bersama lagi." Ucap Khanna.


Deg.... Jantung Nervan terasa berhenti berdetak. Dunia seakan runtuh saat itu juga. Baru saja Khanna menjunjungnya ke atas langit, Saat itu juga Khanna menghempaskannya ke dasar lautan.


" Apa maksudmu sayang?" Tanya Nervan menatap Khanna.


TBC.....


Hayoooo tebak kira kira apa maksudnya Khanna nih.... Jangan lupa like dan komentnya di setiap bab ya...


Makasih suport yang para readers berikan


Miss U All


Baca juga karya author yang lain...


...**Menjadi mommy anak bosku...


...&...


...Pria Cacat itu Suamiku...

__ADS_1


Author tunggu di sana ya**...


__ADS_2