Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Dilema


__ADS_3

Sinar matahari masuk ke kamar Khanna lewat celah celah korden membuat Khanna mengerjapkan mata. Ia menatap seseorang yang saat ini sedang memeluk perutnya. Kulit putih mulus, Bibir sexy dan hidung mancung menambah sempurna pahatan sang Maha Kuasa. Khanna tersenyum.... Ada perasaan teduh dalam hatinya saat memandang wajah suami di depannya. Ingin sekali Khanna mengecup bibirnya, Tapi Ia gengsi untuk melakukannya.


" Kenapa aku merasa nyaman berada dalam pelukannya? Kenapa aku tidak bisa marah kepadanya? Bukankah aku sendiri yang membuat janji untuk tidak saling menyentuh fisik? Tapi apa ini? Bahkan jantungku berdebar hanya karna memandang wajahnya saja, Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Tidak... Ini tidak boleh terjadi atau Kak Aroon akan meninggalkan aku, Aku tidak mau kehilangan Kak Aroon, Aku harus membentengi diriku agar tidak jatuh terlalu dalam dengan perasaan ini..." Gumam Khanna dalam hatinya.


" Udah puas liatinnya? Aku tahu kalau aku ini tampan." Tanya Nervan.


Khanna menatap Nervan yang masih menutup matanya.


" Dia ngigau?" Gumam Khanna yang masih terdengar oleh Nervan, Nervan tersenyum manis.


" Eh kok senyum." Gumam Khanna lagi.


" Mas tidak ngigau sayang, Mas udah bangun dari tadi saat kamu mengagumi ketampanan Mas ini." Ujar Nervan membuka matanya.


" Mana ada, Nggak ya, Nggak level mengagumi parasit hidup sepertimu." Ketus Khanna melepas pelukan Nervan lalu Ia menurunkan kedua kakinya di lantai.


Saat Ia hendak berdiri tiba tiba Nervan menarik tangannya hingga Khanna terjatuh di atas tubuh Nervan, Nervan segera mengunci tubuh Khanna dengan memeluk pinggangnya.


"Lepas... Apaan sih." Berontak Khanna.


" Diam sayang, Kalau kamu nggak diam kamu membangunkan sesuatu di bawah sana." Ucap Nervan membuat Khanna diam seketika.


Mata Khanna menatap mata Nervan yang berada di bawah tubuhnya. Nervan menatap bibir manis milik Khanna. Ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Khanna. Khanna membulatkan matanya, Mulutnya sedikit menganga membuat Nervan mencuri kesempatan itu. Tangannya beralih menekan tengkuk Khanna, Nervan menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Khanna. Ia memainkan lidahnya di dalam sana mengekspos seluruh incinya. Khanna yang terbuai dengan permainan Nervan pun memejamkan matanya. Nervan terus ******* lembut bibir manis istrinya. Ciuman itu berlangsung lumayan lama.


Nervan membalikkan posisi dengan tidak melepas pagutannya. Ia terus memberikan sensasi panas dingin kepada Khanna. Khanna mengalungkan tangannya ke leher Nervan. Tangan Nervan mulai bergerilya kemana mana membuat tubuh Khanna menggeliat seperti cacing kepanasan. Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi panas. Ciuman Nervan turun ke leher, Ia membuat stempel ke pemilikan di sana membuat Khanna mendes*h.


Saat tangan Nervan hendak menyusup ke dalam kaos Khanna, Tiba tiba Khanna menghentikannya.


" Jangan lakukan itu." Ucap Khanna menahan tangan Nervan.


" Kenapa sayang? Kepalang tanggung nih." Sahut Nervan menatap Khanna dengan mata berkabut gairah.


" Minggir aku mau mandi." Ketus Khanna.


" Dek... Aku suamimu, Ijinkan aku melakukannya." Hiba Nervan yang sudah tak kuasa menahan sesuatu yang tegang di bawah sana.


" Aku bilang minggir." Ucap Khanna mendorong tubuh Nervan.

__ADS_1


Nervan merebahkan tubuhnya di samping Khanna. Khanna segera berlari ke kamar mandi meninggalkan Nervan yang sedang kesakitan menahan hasratnya. Khanna menutup pintu kamar mandi dengan kasar. lalu Ia mengunci pintunya dari dalam.


Tubuh Khanna luruh di belakang pintu, Ia tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Kenapa Ia tidak menolak sentuhan Nervan? Ia justru menikmatinya.


" Ada apa denganku? Kenapa aku seperti wanita murahan yang mau di sentuh oleh pria yang aku benci.... Kenapa? Kak Nervan.... Orang yang dulu aku benci tapi kenapa hari ini aku tidak lagi merasakan kebencian itu? Kenapa? Bagaimana jika aku memang benar benar mencintainya? Apa aku harus kehilangan Kakak yang selama ini aku sayangi? Ya Tuhan berikan petunjukmu.... Bagaimana aku menghadapi perasaanku sendiri." Monolog Khanna.


Ia segera berjalan menuju wastafel, Ia menatap cermin di depannya.


" Ya ampunnn apa ini?" Pekik Khanna menyentuh tanda merah pada lehernya. Ia tersenyum mengingat kejadian yang Ia alami barusan. Bagaimana malunya dia ketahuan menikmati ciuman yang Nervan berikan padanya.


Tok tok


" Dek... Kamu baik baik saja?" Tanya Nervan sambil mengetuk pintu. Khanna tidak bergeming, Ia malu jika harus berhadapan dengan Nervan.


" Dek....Sayang..." Ucap Nervan lembut membuat hati Khanna menghangat.


" Dek...Kalau nggak nyahut Mas dobrak nih pintunya." Ujar Nervan.


" Iya aku baik baik saja." Teriak Khanna dari dalam membuat Nervan lega.


" Maafin Mas Dek, Mas harus melakukan semua ini agar cepat tumbuh rasa cinta dan takut kehilanganku di hatimu, Mas yakin kamu memiliki rasa yang sama denganku walau hanya sedikit, Tapi kamu takut mengakuinya karna terhalang oleh restu Bang Aroon." Monolog Nervan sambil tersenyum. Ia menyimpulkan seperti itu karna tadi Khanna terlihat menikmati ciumannya, Dan saat Nervan memanggilnya sayang, Khanna diam saja tidak protes apalagi marah.


Ceklek....


Nervan menoleh ke arah pintu kamar mandi.


Glek.... Nervan menelan kasar salivanya, Melihat Khanna keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya saja. Bahu putih dan paha mulus membuat sesuatu di bawah sana menegang lagi. Nervan berdiri lalu menghampiri Khanna yang sedang menatapnya. Khanna memundurkan langkahnya hingga Ia masuk kembali ke dalam kamar mandi. Nervan terus memajukan langkahnya hingga tubuh Khanna mepet di tembok kamar mandi.


Nervan mengukung Khanna dengan tangan di sebelah kanan dan kiri kepala Khanna. Khanna menundukkan wajahnya sambil mencengkram kuat handuknya agar tidak melorot. Nervan mencengkram lembut dagu Khanna membuat Khanna mendongak menatapnya. Nervan kembali mengecup bibir Khanna. Khanna mendorong tubuh Nervan dengan satu tangannya tidak membuat Nervan bergeming. Ia terus mencecap bibir manis Khanna yang sudah menjadi candu baginya.


" Lepaskan aku..." Ketus Khanna mencoba mendorong tubuh Nervan kembali.


" Kenapa? hmmm." Ucap Nervan lembut masih menatap Khanna.


" Apa yang kamu lakukan sudah keterlaluan, Kamu melewati batasanmu." Hardik Khanna.


" Keterlaluan gimana? Kelewat batas yang mana? Aku suamimu, Aku bebas melakukan apapun pada istriku, Bahkan yang lebih dari ini." Sahut Nervan.

__ADS_1


" Aku tidak mengenal dirimu yang sekarang Mas, Aku tidak pernah menyangka ternyata dirimu searogan ini." Ketus Khanna.


" Bukankah kamu lebih suka Mas yang seperti ini? Dulu aku kakakmu maka aku akan memperlakukanmu dengan sangat lembut, Karna kau bagai mutiara yang tidak boleh tergores sedikit pun dalam keluarga kita, Tapi sekarang aku suamimu jadi aku harus mendidikmu menjadi wanita yang lebih baik lagi bukan? Termasuk membuatmu menghormati dan menuruti perkataanku." Tegas Nervan.


" Kau mungkin bisa membuatku menghormatimu, Tapi kau tidak akan pernah bisa menghapus rasa benci ini di dalam hatiku dan membuatku menuruti semua perkataanmu, Karna bagiku kau bukanlah siapa siapa, Kau anak wanita pelakor yang mengambil kesempatan saat Papaku kehilangan ingatannya, Dan sampai kapanpun aku akan tetap membencimu, Aku membencimu." Ujar Khanna. Nervan memejamkan matanya berusaha meredam emosinya.


" Dan ingat... Aku akan segera menceraikanmu."


" Khanna." Bentak Nervan meninju tembok tepat di samping kepala Khanna. Khanna mejamkan matanya.


" Sudah aku peringatkan berkali kali jangan pernah kamu ucapkan kata cerai lagi, Aku tidak akan pernah menceraikanmu dan tidak akan pernah membiarkanmu menceraikan aku." Teriak Nervan.


" Kenapa? Kenapa kau tidak mau bercerai dariku? Apa karna harta Papaku yang akan kau kuasai? Atau karna dendammu dengan Kak Aroon? Kau ingin membuat Kan Aroon sakit hati karna melihat adiknya tidak bahagia hidup bersamamu Hah? Atau karna yang lainnya? Kenapa? Kenapa? Nervan." Ucap Khanna sambil berteriak.


" Karna aku mencintaimu Khanna, Aku mencintaimu dari dulu hingga sekarang." Teriak Nervan tanpa sadar.


Deg....Jantung Khanna berdetak dengan kencang.. Ia menatap Nervan dengan tatapan tidak percaya... Kakak angkatnya mencintainya? Apa itu sebabnya Nervan dengan senang hati menjadi pengganti Richard untuk menikahinya?...


" Kamu.... Kamu mencintaiku?" Tanya Khanna tidak percaya. Nervan menyugar rambutnya kasar. Ia merutuki kebodohannya yang tanpa sadar mengakui perasaannya kepada adik angkatnya sebelum menjadi istrinya. Nervan berjalan keluar kamar mandi, Ia mencoba menghindari pertanyaan Khanna.


" Tunggu..." Khanna menceka tangan Nervan membuat Nervan menghentikan langkahnya.


" Katakan! Apa benar kamu mencintaiku sejak dulu? Sejak kapan? Apa sejak status kita masih menjadi Kakak dan Adik angkat? Katakan Mas!." Ucap Khanna.


" Jangan di pikirkan, Aku hanya salah bicara, Yang aku cintai dari dulu hanya Safita." Sahut Nervan.


Khanna langsung melepas cekalannya. Hatinya mencelos.... Entah mengapa Ia kecewa dengan jawaban Nervan.


" Safita???? Ya Safita... Itu sebabnya kamu membeli rumah di samping rumahnya, Aku tahu tujuanmu sekarang... Aku akan segera mengirim gugatan cerai untukmu, Setelah itu kau bisa menikahi Safita." Ujar Khanna menuju ruang ganti.


" Bukan begitu maksudku." Ucap Nervan tapi tidak di hiraukan oleh Khanna. Khanna menutup pintu ruang gantinya dengan keras.


" Achh" Teriak Nervan frustasi.


**TBC.....


Mohon like dan komentnya.... Makasih untuk semuanya... Miss U All**

__ADS_1


__ADS_2