
Tiga hari sudah Khanna dan Papa Shiv melakukan penyelidikan siapa dan apa tujuan Rara mendekati Nervan. Akhirnya membuahkan hasil juga. Kini mereka berdua sedang duduk di ruang kerja Papa Shiv.
" Khan tidak menyangka jika Mas Nervan masih punya keluarga, Aku kira dia hidup sebatang kara Pa." Ujar Khanna setelah membaca file yang di kirim orang suruhan Papa Shiv.
" Iya Papa juga tidak menyangka ternyata Nervan cicitnya Tuan Santo." Sahut Papa Shiv.
" Untung kamu berhasil menempelkan alat itu di kancing bajunya Khan, Kalau tidak kita akan kesulitan untuk mengungkap motif yang Rara jalankan karena mereka sangat rapi dalam menyusun rencananya, Hah Papa lega akhirnya kita bisa mengetahui semuanya." Ucap Papa Shiv.
" Iya Pa makasih karena Papa udah bantu Khanna, Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara mengeluarkan Tuan Santo dari sana Pa." Sahut Khanna.
" Biarkan Nervan yang melakukannya." Sahut Papa Shiv.
" Kamu harus segera memberitahu Nervan karena saat ini kakek buyutnya sedang dalam bahaya, Jika sampai Bram tahu kalau kita mengendus rencananya Papa yakin dia tidak akan segan segan mengancam Nervan untuk melenyapkan Tuan Santo." Ujar Papa Shiv.
" Kenapa dia harus mencari Nervan Pa? Padahal bisa saja kan dia langsung melenyapkan Tuan Santo dan harta itu akan jadi miliknya?" Tanya Khanna penasaran kenapa Bram harus menggunakan cara ini.
" Kau salah sayang, Papa rasa jika Tuan Santo tiada justru itu akan mempersulit Bram untuk mengambil alih harta itu karena pasti Tuan Santo akan mengalihkan harta itu ke yayasan panti sosial sayang." Jelas Papa Shiv.
" Oh gitu." Gumam Khanna.
" Sekarang pulanglah katakan pada suamimu agar dia bisa menyelamatkan Tuan Santo dari genggaman Bram." Ujar Papa Shiv
" Iya Pa akan Khan katakan, Sekarang Khan pulang dulu." sahut Khanna.
Hari mulai menjelang malam, Khanna mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Ia masuk ke dalam dan langsung menuju kamarnya.
" Adek sudah pulang?" Tanya Nervan menghampirinya.
" Iya Mas." Sahut Khanna menutup pintu kamarnya.
" Bagaimana kabar Papa Shiv?" Tanya Nervan menarik tubuh Khanna hingga menempel pada dadanya
" Alhamdulillah baik Mas." Sahut Khanna.
Jantungnya terasa berdetak kencang saat berdekatan dengan Nervan seperti saat ini. Nervan menundukkan kepalanya mencium bibir Khanna. Sadar tidak ada penolakan dari Khanna, Nervan melanjutkan ciumannya. Ia mencecap bibir Khanna dengan lembut. Khanna membalas ciuman Nervan. Untuk beberapa saat mereka saling bertukar saliva dan bermain lidah bergantian. Setelah keduanya kehabisan nafas Nervan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Khanna dengan jempolnya.
" Makasih." Ucap Nervan mencium kening Khanna.
" Hmm." Gumam Khanna.
" Mas ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Khanna.
" Nanti aja ngomongnya saat ini Mas lagi pengin Dek, Adek udah nggak marah kan sama Mas?" Tanya Nervan.
__ADS_1
" Tapi ini penting Mas." Ujar Khanna.
" Lebih penting ini Dek, Rasanya sakit jika tidak tersalurkan." Sahut Nervan. Khanna menghela nafasnya.
" Mau ya?" Sambung Nervan menatap Khanna dengan mata berkabut.
Khanna yang tidak tega dengan suaminya akhirnya menganggukkan kepala.
Nervan merebahkan tubuh Khanna ke atas ranjang lalu Ia menindihnya. Nervan mencium lembut bibir Khanna sambil tangannya bergerilya ke tempat favoritenya. Ciuman Nervan semakin menuntut membuat sesuatu di bawah sana semakin sesak. Dengan kelembutan Nervan mulai menguasai tubuh istrinya. Khanna menikmati sensasi luar biasa yang di berikan Nervan lewat permainannya. Suara des**** dan erangan keduanya memenuhi ruangan. Hawa panas semakin menjalar pada tubuh keduanya hingga membuat keduanya bermandikan keringat.
Setelah hampir memakan waktu dua jam akhirnya Nervan tumbang di samping tubuh Khanna.
" Makasih sayang." Ucap Nervan mencium kening Khanna.
" Hmm." Gumam Khanna.
" Awh." Pekik Khanna saat tubuhnya terasa melayang ke udara.
Nervan menggendong Khanna menuju kamar mandi, Ia membaringkan Khanna pada bath up yang berisi air hangat. Dengan telaten Nervan menggisok tubuh Khanna dengan sabun membuat Khanna begitu malu di perlakukan seperti itu.
" Mas aku bisa sendiri." Ucap Khanna.
"Biar Mas saja, Mas ingin melakukannya." Sahut Nervan.
Setelah mandi keduanya kini bersantai dengan duduk di atas ranjang bersandar pada kepala ranjang.
" Sekarang katakan hal penting apa yang akan Adek katakan pada Mas." Ucap Nervan.
Khanna memberikan stopmap berisi foto dan data diri.
" Apa ini? Kenapa ada foto Rara, Bramantio, dan ini Tuan Santo." Ucap Nervan.
" Rara anak angkat dari Bramantio dan cucu angkat dari Tuan Santo, Kau tahu siapa Tuan Santo itu?" Tanya Khanna menatap Nervan.
" Pemegang saham tertinggi perusahaan." Sahut Nervan.
" Bukan hanya itu." Ucap Khanna.
" Lalu?" Tanya Nervan.
" Tuan Bramantio adalah adik ipar dari orang tua Tante Diana yang tak lain adalah Kakek dan Nenekmu, Jadi Tuan Santos adalah kakek buyutmu Mas." Jelas Khanna.
" Apa? A... Aku masih punya keluarga?" Tanya Nervan tidak percaya.
__ADS_1
" Iya Mas, Tuan Santo memberikan semua warisannya kepada Tante Diana, Karena Tante Diana sudah tidak ada maka secara otomatis semua harta itu Beliau wariskan kepadamu." Ucap Khanna.
"Itulah sebabnya Tuan Bramantio menyuruh Rara untuk mendekatimu karena dia ingin menguasai harta warisan yang Tuan Santo berikan padamu, Dia tidak rela harta warisan ayah mertuanya jatuh ke tanganmu begitu saja, Bahkan dia telah melenyapkan Kakek dan Nenekmu." Terang Khanna.
" Kenapa dia jahat sekali? Mas tidak tertarik dengan harta itu bahkan jika dia meminta kepada Mas secara langsung Mas akan memberikannya, Mas tidak ingin harta Mas hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama Adek dan anak anak kita." Geram Nervan mengepalkan kedua tangannya.
" Kalau dia meminta secara langsung pasti Tuan Santo akan menghalanginya Mas, Makanya dia bermain belakang." Ujar Khanna.
" Iya Adek benar sayang, Mas harus menemui Kakek." Ucap Nervan.
" Jangan Mas, Jika Mas tiba tiba menemui Kakek maka Tuan Bram akan curiga, Aku takutnya itu akan berdampak buruk pada Kakek Mas." Ujar Khanna.
" Saat ini Tuan Santo sedang sakit, Tuan Bram mengurungnya di sebuah gudang di belakang rumahnya, Penjagaannya sangat ketat jadi orang suruhan Papa Shiv tidak berhasil masuk ke sana, Bahkan pengacaranya saja tidak tahu tentang kondisi Tuan Santo, Satu satunya orang yang bisa masuk ke sana adalah dirimu Mas." Ucap Khanna.
" Aku? Bagaimana Mas bisa masuk ke sana?" Tanya Nervan.
" Dengan mengikuti rencana Rara, Pura puralah kau tergoda dengannya dan pergilah ke rumahnya, Dan saat itu carilah cara supaya bisa masuk ke gudang itu dan selamatkan kakek buyutmu, Aku dan Papa Shiv akan membantumu." Jelas Khanna.
" Apa? Tergoda dengan Rara? Apa adek sudah gila? Itu sama saja Mas masuk ke kandang ular Dek, Dia wanita menjijikkan melihatnya saja Mas risih apalagi jika harus berdekatan dengannya, Mas tidak mau, Mas akan menolong Kakek dengan cara Mas sendiri." Tolak Nervan.
" Itu cara paling efektif dan cepat Mas? Jangan membuang waktu lagi aku takut kita akan terlambat menyelamatkan kakekmu." Ujar Khanna.
" Tenanglah sayang, Mas akan pikirkan cara lain, Mas akan minta bantuan Papa kita." Ucap Nervan.
" Itu akan mengulur waktu Mas." Kukuh Khanna.
" Sayang mengertilah, Mas tidak mau melakukan hal rendah seperti yang mereka lakukan pada keluarga Mas, Adek cukup doakan Mas saja agar Mas bisa menyelamatkan Kakek tanpa mengikuti permainan mereka." Ucap Nervan menangkup wajah Khanna.
" Baiklah Mas terserah kau saja." Sahut Khanna.
" Sekarang istirahatlah, Jangan bebani pikiran Adek dengan masalah ini, Jangan sampai Adek stress karena itu akan mempengaruhi kesuburan hormon Adek, Mas ingin dia segera adir di dalam sini." Ucap Nervan meraba perut Khanna.
" Baiklah Mas semoga keinginanmu akan segera terwujud, Maafkan aku yang pernah menundanya." Ujar Khanna.
" Jangan sesali itu lagi Mas tidak mempermasalahkan hal itu, Tidurlah." Sahut Nervan.
Nervan memeluk Khanna hingga Khanna bisa tertidur dengan lelapnya. Nervan segera menelepon ketiga Papanya untuk meminta bantuan. Setelah menyusun rencana Nervan mematikan sambungan teleponnya.
TBC....
*Jangan lupa like dan komentnya...
Makasih atas suportnya dan maaf jika ceritanya kurang menarik*...
__ADS_1