Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Pertengkaran


__ADS_3

" Khan.... Jika aku mengatakan kalau waktu itu aku hanya di jebak, Apa kamu akan percaya padaku?" Tanya Richard menatap Khanna. Khanna menghela nafasnya.


" Apapun yang terjadi kita memang tidak berjodoh Ris." Sahut Khanna. Ris adalah panggilan Khanna untuk Richard semasa mereka bersama dulu.


" Apa kamu tidak ingin tahu siapa yang sudah menjebakku?" Richard kembali bertanya.


"Aku sudah tahu... Suamiku sendiri yang menjebakmu." Batin Khanna.


" Tidak Ris... Ikhlaskan saja semuanya, Jadikan semua ini pelajaran buat kita, Aku pergi dulu." Ujar Khanna beranjak dari duduknya.


" Bolehkah kita berteman Khan?" Tanya Richard menatap Khanna.


Khanna memikirkannya, Bukankah tidak masalah jika mantan menjadi teman? Lagian Khanna tidak punya perasaan apa apa pada Richard bukan? Dulu dia hanya menjadikan Richard pelampiasan untuk melupakan perasaan cintanya kepada Kakak angkatnya. Bukankah Nervan juga berteman dengan mantannya? Bahkan mau menikahinya? Pikir Khanna.


" Baiklah... Teman." Sahut Khanna mengulurkan tangannya.


" Teman." Ucap Richard membalas uluran tangan Khanna.


" Aku pergi dulu." Ucap Khanna.


" Sampai bertemu lagi Khan." Ujar Richard. Khanna menganggukkan kepalanya.


Khanna kembali ke mobil, Ia membuka pintu lalu masuk ke kursi kemudi.


" Lama amat, Lo nggak takut di kira selingkuh sama mantan?" Tanya Revi.


" Enggak... Yang penting gue nggak gitu." Sahut Khanna.


" Eh tadi gue seperti lihat mobil Kak Nervan lho, Tapi udah pergi sekarang." Ujar Revi.


" Ya mungkin dia ngecek buat apa aku menghabiskan uang sebanyak itu, Pasti dia sudah mendapat notif dari e banking kan." Ujar Khanna.


" Iya juga ya.. Gimana kalau beneran itu Kak Nervan? Bagaimana kalau dia lihat kamu sama Richard?" Tanya Revi.


" Ya biarin aja... Orang dia berduaan sama Safita aja aku nggak komplain kok, Udah ah ayo pulang." Sahut Khanna.


" OK OK." Ucap Revi.


Khanna melajukan mobilnya ke jalanan dengan kecepatan sedang, Ia mengantar Revi dulu ke rumahnya, Setelah itu Ia melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Khanna segera masuk ke rumahnya, Ia menuju dapur untuk mengambil minum.


Deg.....


Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat Nervan dan Safita sedang tertawa bersama di meja makan. Rupanya mereka sedang makan malam. Terlihat dapur sedikit berantakkan itu artinya Safita memasak di sini.


Khanna melangkahkan kakinya menuju kulkas, Ia mengambil air dingin lalu meminumnya mengabaikan dua orang yang saat ini sedang menatapnya.


" Sayang... Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang?" Tanya Nervan menatap Khanna.


" Cafe." Jawab Khanna singkat.


" Jangan bohong... Mas tahu apa yang kamu lakukan." Ujar Nervan.


" Aku juga tahu apa yang kamu lakukan." Sahut Khanna tak mau kalah.


" Kenapa kamu sekarang berubah Dek? Mas bahkan tidak mengenal siapa kamu yang sekarang." Ujar Nervan.


" Mungkin kamu yang salah menilai orang." Sahut Khanna membuat Nervan menghembuskan nafasnya pelan.


" Kamu salah jika menilaiku wanita yang lemah, Wanita yang akan menangis jika kamu tinggalkan... Sorry bukan tipeku seperti itu." Ujar Khanna dalam hati.


" Terserah Adek saja Mas tidak mau berdebat, Mas cuma mau bilang kalau tadi siang Mas sudah menikahi Safita secara siri di masjid depan kompleks. Tinggal menunggu aktanya jadi maka dia resmi menjadi istri sahku, Mas sudah tidak kuasa menahan hasrat Mas dengan Safita, Dari pada Mas melakukan dosa jadi Mas mempercepat pernikahan kami, Dan mulai sekarang Safita tinggal di rumah kita, Mas ingin kalian akur seperti saudara." Ujar Nervan.


Hati Khanna hancur berkeping keping, Ingin rasanya Ia menangis. Tapi Ia segera menguasai dirinya agar tidak terlihat lemah di mata Nervan. Secepat itukah Nervan tega mencampakkannya? Baru tadi pagi Ia minta ijin kepadanya untuk menikahi Safita. Sekarang dia sudah menikahinya.


" Ini rumahmu Mas, Segala keputusan ada di tanganmu, Aku tidak kuasa untuk mengaturnya." Ujar Khanna menatap Nervan.


" Dan selamat untukmu, Apa perlu aku menyiapkan pesta pernikahan mewah untukmu?" Tanya Khanna. Walau sebenarnya hatinya bagai tersayat sembilu dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Nervan hatinya tertohok mendengar ucapan Khanna. Sudah benarkah keputusannya?.


" Tidak perlu, Aku tidak mau orang lain tahu jika aku sudah menikah lagi, Cukup kita saja yang tahu." Sahut Nervan.


" Tapi kenapa Ner? Aku ingin pernikahan yang mewah." Ujar Safita.


" Kau diamlah, Ikuti semua ucapanku." Ucap Nervan.


" Baiklah." Sahut Safita.


" Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi aku permisi." Ucap Khanna.


Khanna berjalan menuju kamarnya, Ia segera masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya. Ia menyalakan kran dengan kencang.


" Hiks....Hiks.... Kenapa rasanya begitu sakit.... Aku tidak percaya kamu mampu melakukan semua ini Massss...." Isak Khanna.


" Tidak Khanna... Kamu tidak boleh menangisss, Kamu harus kuat.... Tunggu sebentar lagi.... Sebentar lagi dia akan mendapat karmanya, Semangat Khan... Semangat." Ucap Khanna menyemangati dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari hari berlalu Khanna dan Nervan menjalani rumah tangga yang semakin tidak terkendali. Bahkan Khanna sering meninggalkan Nervan dan Safita dengan alasan pekerjaan. Khanna memang bilang sudah tidak mencintai Nervan lagi, Tapi nyatanya Ia tak kuasa melihat suaminya berdua bersama dengan madunya. Khanna selalu menguatkan hatinya untuk mencari tahu sampai mana Nervan bisa menyakitinya.


Hari ini seperti biasa Khanna pulang larut malam. Rumah tampak sepi dan sudah gelap, Mungkin Nervan dan Safita sudah tidur pikirnya. Ia segera berjalan menuju kamarnya. Selama ini Nervan selalu bergantian tidur dengan Khanna dan Safita. Khanna tidak mempermasalahkannya, Hatinya sudah kebal dengan apa yang Nervan lakukan padanya. Bahkan Ia sudah tidak bisa merasakan yang namanya sakit hati lagi. Hatinya sudah mati rasa, Ia tinggal menunggu waktu untuk membalikkan keadaan.


Sesampainya di kamar Khanna segera mandi, Setelah selesai Ia keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti. Dengan memakai piyama terusan selutut, Khanna segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Tiba tiba ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


📲Richard


Hai... Lagi pa?


📲Me


Mau tidur


📲Richard


Mimpiin Q ya😍


📲Me


📲Richard


Kok nggak mau sih🤔*


Saat Khanna hendak membalasnya tiba tiba Nervan merebut ponselnya.


" Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku? Kamu kembali berhubungan dengannya? Jawab Khanna." Bentak Nervan membuat Khanna berjingkrak kaget.


Khanna turun dari ranjang berdiri di depan Nervan.


" Memang kenapa kalau aku berhubungan dengannya? Kamu juga berhubungan dengan Safita, Bahkan kamu menikahinya di belakangku Mas." Sahut Khanna.


" Seorang pria boleh memiliki istri lebih dari satu Dek, Tapi tidak dengan wanita." Ujar Nervan.


" Itu tidak berlaku untukku, Jika kamu menyayangiku maka aku akan lebih menyayangimu, Tapi jika kamu menyakitiku...." Ucap Khanna menatap tajam ke arah Nervan.


" Maka aku bisa melakukan hal yang lebih menyakitkan dari apa yang kamu lakukan padaku Nervan Satria." Tekan Khanna.


" Adek mau jadi istri yang durhaka pada suami?" Tanya Nervan.


" Lalu bagaimana denganmu? Jangan munafik membicarakan soal dosa di depanku jika dosamu jauh lebih banyak dariku, Aku menyesal telah mencintai orang seperti dirimu Nervan...." Nervan memejamkan matanya menahan rasa sakit di hatinya.


" Aku menyesal mencintai orang tidak tahu balas budi sepertimu." Teriak Khanna.


" Kau..... Sedari kecil kau di rawat oleh kedua orang tuaku, Tapi apa yang kamu lakukan kepada keluargaku? Balas dendam." Ucap Khanna.


Deg.... Jantung Nervan berdetak dengan kencang. Ia menatap ke arah Khanna.


" Kau kira aku tidak tahu tentang rencana buzukmu? Kau menikahiku hanya untuk membalas rasa sakitmu pada keluargaku, Kau menjebak Richard dan menghancurkan pernikahanku dengannya, Untuk apa? Untuk apa hah?" Bentak Khanna menarik kerah Nervan.

__ADS_1


" Untuk membalaskan dendammu... Kau sengaja menikahiku lalu membuatku jatuh cinta padamu, Setelah itu kamu akan menyakitiku dengan menikahi Safita mantan gebetanmu itu.... Kau ingin aku sakit hati, Aku terpuruk hingga membuat keluargaku sedih dan hancur bukan?....Seperti apa yang kamu rasakan setelah kepergian ibumu...Tapi sayang... Kau salah, Aku tidak selemah itu Nervan.... Bukan aku yang akan kalah... Tapi kau... Kau yang akan kalah, Bukan kau yang meninggalkan aku... Tapi aku yang akan meninggalkanmu." Teriak Khanna.


" Sa.... Sayang...." Lirih Nervan.


" Mulai sekarang aku mengharamkanmu menyentuh diriku, Aku bukan istrimu lagi....


Dan perlu kamu ketahui.... Bukan aku tidak bisa hamil selama ini... Tapi memang aku yang tidak mau mengandung benih dari bajing*n seperti dirimu." Ucap Khanna.


Khanna mengambil sesuatu di lacinya.


" Ini.... Ini pil kontrasepsi yang aku minum selama ini." Ucap Khanna menunjukkan pilnya.


"Dan ini.... Surat cerai yang sudah aku tanda tangani... Segera tanda tangani surat ini, Lalu berikan kepada pengacara... Aku menunggumu di pengadilan." Ujar Khanna.


" Tidak sayang.... Maafkan aku.... Jangan minta cerai dariku..." Ujar Nervan cemas.


Khanna segera berjalan menuju ruang ganti, Ia menurunkan koper dari atas almari. Khanna mulai memasukkan baju bajunya ke dalam kopernya.


" Kamu mau kemana?" Tanya Nervan menutup koper Khanna.


" Aku mau pergi, Aku tidak sudi tinggal satu rumah dengan dirimu lagi." Sahut Khanna.


" Kenapa? Kenapa kamu mau pergi? Rumahmu di sini Khanna." Ujar Nervan.


" Karna aku bukan istrimu lagi." Bentak khanna.


" Aku tidak akan pernah menceraikanmu." Teriak Nervan.


" Terserah aku tidak peduli." Ucap Khanna.


Nervan berlari menuju pintu kamarnya, Ia mengunci pintunya dari luar. Khanna berjalan mendekati pintu lalu menggedor pintunya.


" Buka Nervan.... Buka..." Teriak Khanna sambil menggedor pintunya.


" Nervan buka.... sialan kau...Nervan buka." Khanna masih terus berteriak.


" Arghhhhhhh... Sial sial sial." Teriak Khanna mengacak rambutnya.


" Aku harus bisa pergi dari sini, Aku sudah tidak kuat lagi, Ini saatnya aku menunjukkan siapa dirimu, Tanpa keluargaku kamu bukanlah apa apa Nervan." Ujar Khanna.


Khanna berjalan menuju balkon kamarnya, Ia mengira ngira ketinggian kamarnya hingga ke bawah. Khanna tersenyum setelah mendapatkan ide untuk bisa keluar dari rumah itu. Tanpa Nervan tahu jika Khanna pandai panjat tebing, Untuk ukuran rumah Nervan belum seberapa dengan tebing yang dulu Ia panjat sebelum menikah.


Khanna mengambil tas selempangnya, Lalu menjalankan rencananya.


Sedangkan di dalam kamar tamu, Nervan menemui Safita.


" Ada apa? Sepertinya kalian sedang bertengkar?" Tanya Safita.


" Dia berhubungan lagi sama mantannya." Sahut Nervan.


" Kamu cemburu?" Tanya Safita.


" Iya... Sepertinya aku harus memberitahu semuanya kepadanya Fit... Aku mencintainya.. Aku tidak mau kehilangannya." Ujar Nervan.


" Bukankah kamu sudah berjanji dengan Tantemu untuk membuat keluarganya hancur? Kalau kamu mundur aku yakin Tantemu sendiri yang akan turun tangan, Kalau sampai itu terjadi maka nyawa Khanna dalam bahaya." Ujar Safita.


" Ternyata Khan sudah mengetahui rencanaku sebelumnya, Dia sudah membentengi dirinya dari rasa sakit itu, Itu sebabnya selama ini dia kelihatan baik baik saja, Dia minta aku untuk menceraikannya.... Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, Lebih baik aku menghadapi Tanteku sendiri dari pada aku harus kehilangannya, Aku akan selalu melindunginya dari ancaman Tante Mirna, Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Khanna." Ujar Nervan.


" Baiklah terserah kamu saja... Sebagai teman aku akan selalu mendukungmu." Sahut Safita.


" Terima kasih." Ucap Nervan.


Nervan segera kembali ke kamarnya, Ia membuka pintu kamarnya. Sepi....


" Sayang.... Sayang.......


TBC.....


Hai readers.... Jangan ngehujat dulu ya... Tunggu sampai titik terang biar jelas semuanya

__ADS_1


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author ya.... Miss U All


__ADS_2