Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Badai datang kembali


__ADS_3

Setelah selama satu minggu di rawat di rumah sakit, Hari ini Nervan di perbolehkan pulang. Terapinya membuahkan hasil yang memuaskan. Kini Nervan sudah bisa menggerakkan kakinya untuk berjalan walau masih dengan bantuan tongkat. Semangat untuk sembuh Nervan begitu kuat apalagi Khanna selalu mendukungnya.


Setelah menyelesaikan segala administrasi, Khanna membantu Nervan berjalan menuju mobilnya. Khanna membukakan pintu agar Nervan duduk di kursi samping kemudi. Khanna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Ia melirik ke arah suaminya yang entah mengapa sedari tadi hanya diam saja.


" Mas apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Khanna menoleh ke arah Nervan.


" Tidak." Sahut Nervan singkat.


" Apa ada yang Mas pikirkan? Kenapa sedari tadi hanya diam saja?" Khanna kembali bertanya.


" Tidak ada sayang, Jangan cemaskan Mas ya." Sahut Nervan.


Setelah sampai di rumah Nervan, Khanna menghentikan mobilnya tepat di garasi samping rumah. Khanna membantu Nervan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Ceklek.. .


Khanna memandangi rumah yang sudah lama Ia tinggalkan, Tidak ada kejutan apa apa di sini di karenakan kondisi Nervan yang belum stabil, Bisa saja Nervan menyuruh orang untuk memberi kejutan menyambut kedatangan Khanna, Tapi tidak Ia lakukan karena Ia ingin semuanya di kerjakan oleh dirinya sendiri agar mendapat kesan istimewa.


" Maafkan Mas sayang.... Mas tidak memberi sambutan untuk kepulangan Adek ke rumah ini kembali karena keadaan Mas yang seperti ini." Sesal Nervan.


" Tidak pa pa Mas, Yang penting pikirkan kesehatan kamu dulu, Kita langsung ke kamar ya." Ujar Khanna.


Nervan menganggukkan kepalanya, Khanna memapah Nervan berjalan pelan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Khanna mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar, Tidak ada yang berubah, Semua masih sama seperti saat terakhir Ia meninggalkan kamar ini.


" Setelah Adek pergi, Mas tidak mau lagi masuk ke dalam kamar ini, Mas tidak bisa melupakan semua kenangan kita Dek, Mas lebih memilih tidur di kamar tamu, Saat itu juga Mas mengusir Safita dari rumah ini, Mas menghabiskan waktu kesendirian dalam rumah ini." Jelas Nervan seakan mengerti apa yang Khanna pikirkan.


" Maafkan aku Mas." Ucap Khanna.


" Bukan salah Adek semua itu salah Mas Dek." Sahut Nervan.


Khanna membaringkan tubuh Nervan di atas ranjang dengan bersandar pada headboard. Setelah itu Khanna menyelimuti Nervan sampai batas perutnya.


" Mas aku mandi dulu ya, Tadi aku belum sempat mandi nanti baru gantian kamu." Ucap Khanna.


" Iya sayang... Oh ya kapan Mama Alfi mau ke sini?" Tanya Nervan.


" Sebentar lagi mungkin Mas, Kalau tidak ya mungkin nunggu besok soalnya udah sore juga kan, Kalau Mama Sarah dan Papa Reno sedang di luar kota jadi tidak bisa ke sini" Ujar Khanna.


" Tidak masalah." Sahut Nervan.


Khanna masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa baju gantinya langsung. Sepeninggal Khanna, Nervan memainkan ponselnya, Ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah mendapat pesan dari seseorang. Ia ingin membantunya tapi Ia juga tidak mau menanggung resikonya. Nervan menyugar rambutnya kasar.


Ceklek....


Khanna keluar dari kamar mandi, Ia menghampiri Nervan yang sedang duduk di atas ranjang.


" Sekarang giliran kamu Mas, Ayo aku bantu." Ucap Khanna.


" Iya sayang." Sahut Nervan meletakkan ponselnya di atas kasur.


Khanna membantu Nervan berjalan ke kamar mandi, Ia mendudukkan Nervan di atas closet. Sekarang Nervan sudah bisa mandi sendiri jadi Khanna tidak perlu memandikannya. Khanna keluar dari kamar mandi meninggalkan Nervan yang sedang mandi. Khanna duduk di tepi ranjang sambil menunggu Nervan selesai.


Ting... Ponsel Nervan menyala tanda pesan masuk. Khanna meliriknya sambil membacanya yang ternyata pesan dari Safita.

__ADS_1


📲 Safita


Gimana Van, Apa Khanna setuju?


Khanna semakin penasaran dengan maksud chat dari Safita, Ia langsung membuka ponsel Nervan dan membaca chat dari Safita yang bagian teratasnya mungkin sudah terhapus.


📲Safita


Van aku hamil...


Deg.... Jantung Khanna berpacu dengan cepat. Apa ini? Safita hamil? Hamil dengan siapa? Kenapa Ia mengatakannya pada Nervan? Pikiran buruk tentang suaminya bertebaran di pikiran Khanna. Khanna membaca chat di bawahnya. Panggilan tak terjawab. Khanna membuka riwayat panggilan masuk yang tak lama setelah panggilan tak terjawab itu. Khanna kembali ke kolom chat. Ia membaca satu persatu chat yang ada pada kontak Safita.


📲Me


Aku akan membantumu, Aku akan membicarakannya dengan istriku.


📲Safita


Aku tidak mau hamil tanpa suami Van, Aku akan mendapat cemoohan dari orang, Tolong segera bicarakan dengan Khanna.


Khanna menatap chat terakhir dari Nervan.


📲Me


Aku akan segera membicarakannya dan membuat Khanna mengerti.


Khanna menghela nafasnya, Apalagi yang terjadi dengan hubungan pernikahan mereka? Baru saja keduanya menjalani kedamaian kini sudah ada badai lagi. Kali ini jika Nervan bersalah maka Ia akan benar benar meninggalkannya.


Ceklek...


" Terima kasih sayang." Ucap Nervan.


Khanna enggan untuk membalasnya, Ia keluar kamar begitu saja menuju dapur, Ia butuh secangkir coklat panas untuk menenangkan pikirannya. Khana mulai berkutat dengan cangkir dan sendoknya. Ia mulai menyesap coklat itu sambil melamunkan kira kira apa yang akan Nervan bicarakan kepadanya.


Ting tong...


Suara bel rumah berbunyi, Khanna meletakkan cangkirnya ke meja, Lalu Ia segera berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek.....


Khanna tertegun melihat Safita yang berdiri di depannya, Khanna menghela nafasnya, Ia kira yang datang Mamanya tapi ternyata seseorang yang tidak di harapakan seperti Safita.


" Hai... Bolehkah aku masuk? Aku mau menemui Nervan dan membicarakan sesuatu yang sangat penting dengannya." Ucap Safita.


" Sekarang sudah menjelang malam, Apa kamu tidak tahu waktu? Datang saja besok siang, Mas Nervan sedang istirahat." Sahut Khanna.


" Tapi ini sangat mendesak, Ku mohon biarkan aku bertemu dengan Nervan." Ujar Safita.


" Aku tidak peduli kepentinganmu yang jelas aku tidak mengijinkan kau mengganggu suamiku, sekarang pergilah... Pergi dengan baik baik atau aku yang harus melemparmu dari sini." Sinis Khanna.


Safita yang merasa takut dengan ancaman Khanna memilih mengalah dari pada Ia harus jadi santapan kekesalan Khanna. Ia segera pergi meninggalkan Khanna dan masuk ke dalam rumahnya. Khanna menghela nafasnya.


" Hah sepertinya aku harus pindah dari sini." Gumam Khanna.

__ADS_1


Khanna menutup pintunya kembali, Ia menuju dapur untuk memasak makan malam mereka berdua. Makan malam kali ini Khanna hanya membuat nasi goreng sosis sama telur ceplok saja. Setelah selesai Khanna menatanya di piring, Ia meletakkan sepiring nasi goreng serta segelas air putih hangat di nampan. Khanna membawa nampan itu menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar Khanna menghampiri Nervan yang sedang menatap ke arahnya.


" Makan dulu Mas, Setelah itu di minum obatnya." Ucap Khanna.


Nervan menerima piring dari tangan Khanna, Ia segera menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Nervan menoleh ke arah Khanna yang malah asyik dengan ponselnya.


" Adek tidak makan?" Tanya Nervan.


" Nanti saja Mas, Aku lagi badmood." Sahut Khanna cuek.


Nervan melanjutkan makannya hingga habis.


" Sudah Dek." Nervan mengulurkan piringnya kepada Khanna. Khanna meletakkannya di nakas.


" Ini obatnya." Ucap Khanna memberikan beberapa butir obat dan segelas air hangat tadi kepada Nervan. Nervan segera meminumnya.


" Dek... Sebenarnya ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu." Ucap Nervan dengan hati hati.


" Nanti saja Mas aku mau makan dulu, Sepertinya aku butuh kekuatan untuk mendengarkan apa yang akan kamu bahas denganku." Sindir Khanna.


Khanna keluar kamar dengan membawa nampan berisi piring kosong, Ia kembali ke dapur untuk memakan makanannya.


" Apa yang akan kau bicarakan tentang kehamilan Safita Mas? Aku harus menguatkan hatiku jika benar kamulah yang bertanggung jawab atas semua itu." Monolog Khanna.


Setelah selesai makan Khanna segera kembali ke kamarnya, Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Khanna keluar kamar mandi menghampiri Nervan, Ia membaringkan tubuhnya di samping Nervan.


" Sayang..." Panggil Nervan menggenggam tangan Khanna. Khanna beringsut menghadap ke arah Nervan.


" Katakan apa yang ingin kamu bicarakan Mas" Titah Khanna.


" Aku ingin bilang kalau.... Kalau...Kalau....." Nervan menggantung ucapannya.


" Safita hamil lalu kamu mau menikahinya begitu?" Ucap Khanna.


Nervan melongo membulatkan matanya dengan membuka mulutnya.


" Da.... Darimana Adek tahu?" Tanya Nervan gugup.


" Yang jelas aku tahu bukan darimu Mas, Kamu selalu menyembunyikan semuanya dariku, Sekarang aku tanya apa anak itu milikmu?" Selidik Khanna.


" Bukan sayang...." Tegas Nervan.


" Lalu????" Tanya Khanna.


" Aku hanya ingin membantunya..." Sahut Nervan.


" Membantu yang bagaimana?" Tanya Khanna memastikan.


" Dengan menikahinya."


Jederrrrrr

__ADS_1


TBC.....


Jangan marah dulu ya.... Di sini Nervan sedang bingung.... Tunggu saja kelanjutannya ya.... Makasih suportnya... Miss U All...


__ADS_2