
Hari hari berlalu sudah sebulan sejak kejadian itu, Semua jalan untuk membuktikan jika Khanna benar seolah olah tertutup. Hubungan mereka semakin berjarak. Sikap Nervan menjadi dingin dengan Khanna, Sudah tidak ada lagi kata kata mesra atau duduk berdua bersama. Nervan masih sangat kecewa karena Khanna tidak mau meminta maaf padanya atau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Bukankah sudah Khanna bilang kalau Ia tidak akan menjelaskan apapun? Khanna yang memang punya watak keras kepala juga ikut bersikap dingin dengan Nervan. Baginya berapapun kata yang Ia ucapkan jika Nervan tidak percaya padanya maka semua ituakan percuma.
Pagi ini Khanna mengerjapkan matanya, Nervan sudah tidak ada di kamarnya. Tiba tiba perutnya bergejolak tak karuan. Ia membekap mulutnya lalu berlari ke arah kamar mandi.
Huek... Huek....
Khanna memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berupa cairan kuning saja. Kepalanya terasa berdenyut nyeri, Ia meraba raba dinding berjalan menuju ranjangnya.
Baru saja Ia hendak mendudukkan pant*tnya tiba tiba perutnya mual lagi. Ia segera berlari ke kamar mandi kembali.
Huek.... Huek....
Nervan yang baru masuk kamar menghampiri Khanna di dalam kamar mandi. Ia memijat tengkuk Khanna dengan pelan. Khanna menoleh ke arah Nervan sekilas.
" Tidak perlu membantuku." Ucap Khanna menepis tangan Nervan.
" Kamu sedang sakit jangan keras kepala." Sahut Nervan yang sudah melupakan kata kata mesranya lagi.
Saat Khanna hendak melangkah tiba tiba pandangannya terasa kabur, Semua terasa hitam dan...
Brugh....
Nervan segera menangkap tubuh Khanna. Ia membopong tubuh Khanna lalu membaringkan tubuh Khanna di atas ranjang. Tanpa pikir panjang Nervan segera menelepon dokter keluarganya.
Lima belas menit kemudian Dokter Bima datang memeriksa kondisi Khanna yang sudah sadar.
" Bagaimana keadaannya?" Tanya Nervan.
" Selamat Broo kalian akan menjadi orang tua." Ucap Dokter Bima.
" Benarkah?" Tanya Khanna dengan mata berbinar. Berbeda dengan Nervan yang malah memejamkan matanya.
" Untuk memastikan dugaanku anda harus periksa ke bagian obgyn Nona, Atau anda bisa mengetes sendiri dengan tespack." Ujar Dokter Bima.
" Ah iya terima kasih Dok, Nanti akan aku tes sendiri dulu." Sahut Khanna.
" Jaga kesehatan dan kestabilan emosi anda Nona, Makan makanan yang bergizi supaya ibu dan calon bayinya sehat." Ujar Dokter Bima.
" Iya Dok." Sahut Khanna.
" Kalau begitu saya permisi, Sekali lagi selamat Broo akhirnya penantianmu berakhir juga." Ucap Dokter Bima menepuk pundak Nervan.
Nervan tidak bergeming entah apa yang ada dalam pikirannya. Setelah kepergian Dokter Bima, Nervan menghampiri Khanna yang sedang mengelus perut ratanya.
" Apa dia milikku?" Tanya Nervan.
Khanna mendongak menatap Nervan yang sedang berdiri di samping ranjangnya. Khanna turun dari ranjang dan berdiri di hadapan Nervan.
__ADS_1
" Apa maksudmu?" Tanya Khanna menatap tajam ke arah Nervan.
" Dia milikku atau milik selingkuhanmu?" Tanya Nervan.
Deg....
Dunia Khanna seakan hancur luluh tak berbentuk. Bagaimana bisa Nervan tega menanyakan hal keji itu pada Khanna. Tapi Khanna tetaplah Khanna Ia akan semakin keras jika mendapat kekerasan. Ia semakin tegas jik Ia di tindas.
" Kamu meragukanku? Kamu tidak mau mengakui anak ini sebagai anakmu?" Khanna balik bertanya.
" Aku akan mengakui anak itu jika terbukti dia memang milikku." Sahut Nervan.
" Aku tidak akan pernah membuktikan apapun, Sekali kamu tidak mau mengakui anak ini maka selamanya anak ini bukan milikmu." Tegas Khanna membuat mata Nervan membulat.
" Aku tanya sekali lagi, Kamu tidak mau mengakui anak ini sebagai anakmu?" Tanya Khanna.
" Sudah aku bilang aku butuh bukti." Sahut Nervan.
" Fix.... Anak ini bukan anakmu, Anak ini bukan milikmu atau milik siapapun, Anak ini adalah anakku, Milikku sendiri." Tegas Khanna.
" Aku tidak menyangka semua ini darimu, Aku tidak butuh suami sepertimu Nervan Satria Arviano jadi mulai sekarang aku meminta cerai darimu, Aku haramkan dirimu untuk menyentuhku dan juga anakku, Mulai sekarang aku bukan istrimu lagi." Ucap Khanna dengan air mata yang mengalir begitu derasnya Khanna segera menghapusnya.
Hati Nervan mencelos entah mengapa Ia tidak bisa mempercayai Khanna, Ingin sekali Ia percaya pada Khanna tapi lagi lagi bukti bukti foto dan pesan membuat kepercayaannya pada Khanna memudar begitu saja.
Khanna berjalan mendekati almari, Ia menurunkan koper lalu Ia mulai memasukkan semua baju bajunya di sana. Melihat semua itu Nervan segera menghampirinya.
" Apapun yang aku lakukan jangan pedulikan aku, Sama seperti kamu yang satu bulan terakhir ini tidak pernah mempedulikan aku lagi." Sahut Khanna.
" Kau tidak bisa pergi sebelum kau membuktikan jika anak itu milikku." Tekan Nervan.
" Sudah aku bilang aku tidak akan membuktikan apapun, Anak ini memang bukan milikmu, Dia hanya milikku." Bentak Khanna membuat Netvan berjingkrak kaget.
" Tapi aku butuh bukti itu, Jika dia memang bukan milikku maka aku akan melepaskanmu." Kuku Nervan memejamkan matanya. Hatinya begitu sakit mendengar ucapannya sendiri.
" Milikmu atau bukan kamu tetap harus melepaskan aku, Aku tidak sudi hidup dengan orang yang tidak percaya pada istrinya sendiri, Dia lebih percaya pada orang lain dan menyakiti istrinya sendiri, Aku tidak sudi Nervan, Aku tidak sudi menjadi istrimu lagi." Teriak Khanna.
" Aku tidak akan membiarkanmu pergi." Ucap Nervan.
" Minggirlah jangan halangi jalanku di saat kau sendiri yang membuka lebar jalan itu, Aku muak melihatnya." Ketus Khanna.
"Aku tidak suka dengan sikapmu yang jauh dari ketegasan itu, Bukan aku tidak bisa membuktikan semua ucapanku tapi aku hanya mau kepercayaanmu untukku, Tapi sayangnya semuanya tidak aku dapatkan darimu, Lalu untuk apa kita melanjutkan hubungan yang sudah rusak ini? Hubungan tanpa adanya dasar kepercayaan tidak akan mampu bertahan lama, Aku menyerah dan sekarang ku mohon jangan halangi aku." Ucap Khanna mendorong Nervan agar tidak menghalangi almarinya.
" Aku tidak mengijinkanmu untuk pergi." Ucap Nervan yang masih berdiri di depan almari.
" Dan aku tidak butuh ijinmu, Aku pastikan kau tidak akan mendapatkanku kembali setelah aku meninggalkan rumah ini, Jangan temui aku apalagi meminta maaf padaku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu, Camkan itu baik baik Nervan." Ucap Khanna menepuk dada Nervan.
Khanna mengambil slim bagnya di atas nakas, Lalu Ia pergi meninggalkan Nervan tanpa membawa kopernya. Nervan segera berlari menyusulnya, Melihat Nervan yang mengejarnya Khanna pun segera berlari menuju mobilnya.
Blam...
__ADS_1
Khanna menutup mobilnya, Ia mulai melajukan mobilnya keluar garasi tapi Nervan menghalanginya dengan berdiri di depan mobilnya sambil merentangkan tangannya.
Tin.... Tin...Tiiiiinnnnnnn
Khanna memencet klakson panjang, Nervan tidak bergeming membuat emosi Khanna memuncak, Ia terus melajukan mobilnya pelan pelan hingga Nervan semakin mundur mundur dan mundur.
" Khanna turun, Kita harus selesaikan masalah ini, Jangan pergi untuk menghindari masalah Khanna." Teriak Nervan tapi Khanna tidak peduli.
Saat mendapat sela Khanna segera menancap gas mobilnya meninggalkan Nervan yang mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya. Khanna kembali pergi dengan membawa luka di hatinya. Tapi Khanna pastikan kali ini Nervan akan benar benar kehilangan dirinya.
" Kak Nervan, Khanna mau kemana?" Tanya Revi tiba tiba menghampiri Nervan yang sedang berdiri menatap kepergian mobil Khanna.
" Tidak tahu Rev, Kakak mohon telepon dan bujuk dia untuk kembali Rev, Jangan biarkan dia pergi meninggalkan aku." Ujar Nervan.
" Atau jangan jangan Khanna mau pergi dengan Keenan." Ujar Revi.
" Keenan?" Tanya Nervan.
" Iya Kak, Maaf kemarin waktu Khanna ke rumahku aku mendengar dia teleponan sama Keenan dan membicarakan soal kepergian gitu, Tapi aku nggak tahu kemana dan siapa yang akan pergi." Jelas Revi.
" Benarkah begitu? Jadi semua ini sudah di rencanakan oleh mereka berdua?" Gumam Nervan. Revi tersenyum smirk.
" Tenanglah Kak, Mungkin memang dari dulu Khanna tidak mencintai Kak Nervan." Ujar Revi memegang lengan Nervan.
Nervan menatap tangan Revi yang berani memegang lengannya.
" Ah maaf Kak." Ucap Revi menjauhkan tangannya.
" Kau tahu kalau selama ini Khanna berhubungan dengan Keenan?" Selidik Nervan.
" E... Gimana ya Kak, Maaf Khanna temanku jadi aku tidak bisa mengadu pada Kak Nervan, Bagiku kebahagiaan Khanna lah yang utama." Kilah Revi.
" Seharusnya sebagai sahabat kau menegurnya bukan membiarkannya terjerumus dalam kesalahan, Kalau sudah begini aku harus bagaimana? Posisi serba salah, Hati dan pikiranku tidak sinkron Rev, Aku tidak tahu harus berbuat apa, Hatiku sakit hatiku benar benar kecewa pada Khanna." Keluh Nervan.
" Jika Khanna bahagia dengan Keenan maka lepaskan dia Kak, Demi kebahagiaannya." Ujar Revi.
" Entahlah Rev aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Aku masuk dulu." Ujar Nervan.
" Baiklah Kak, Satu pesanku jika Khanna tidak mengingankanmu lagi maka ikhlaskan dia bersama yang lainnya." Ucap Revi.
Nervan masuk ke dalam meninggalkan Revi. Sedangkan Revi tersenyum menyeringai menatap punggung Nervan.
TBC....
*Jangan lupa like dan komennya ... Yang berkenan kasih hadiahnya ya...
Makasih atas suport yang kalian berikan pada author...
Miss U All*..
__ADS_1