
Sore ini Nervan dan Khanna jalan jalan ke taman kota. Mereka duduk di bawah pohon rindang. Nervan terus menggenggam tangan Khanna seolah takut Khanna akan pergi meninggalkannya.
" Adek mau beli apa sayang?" Tanya Nervan merapikan anak rambut Khanna.
" Enggak pengin apa apa Mas, Mas lihat Babby tampan itu." Ucap Khanna menunjuk seorang bayi yang berada di kereta dorong bayi.
" Besok anak kita akan seperti itu nggak ya Dek? Sumpah imut banget Dek." Ujar Nervan.
" Aaaaa aku ingin yang lebih imut dari dia Mas." Sahut Khanna.
" Iya deh... Imut kaya' Adek." Ujar Nervan menoel pipi Khanna.
" Apa iya?" Tanya Khanna menatap Nervan.
" Hmmm beneran Adek imut makanya Mas suka." Sahut Nervan.
" Berarti kalau nggak imut, Nggak mau donk." Ujar Khanna.
" Ya mau lah, Apapun adanya Adek Mas tetap cinta kok." Sahut Nervan.
" OK lah aku percaya kalau tidak suka ya nggak apa." Ucap Khanna.
" Nggak apa gimana?" Tanya Nervan.
" Ya nggak apa aku bisa cari lainnya." Kekeh Khanna.
" Nakal ya." Sahut Nervan mencubit hidung Khanna.
" Awh... Sakit Mas." Pekik Khanna.
" Sini Mas elus, Maaf ya." Ujar Nervan mengusap usap hidung Khanna.
" Tapi boong." Sahut Khanna.
" Bener bener nakal istri Mas ini." Ucap Nervan sambil menggelengkan kepalanya.
" Mas mau es krim." Ucap Khanna tiba tiba.
" OK... Mas belikan dulu di minimarket depan situ." Ujar Nervan
" Aku tunggu di sini saja ya Mas." Ucap Khanna.
" Baiklah sayang jangan kemana mana." Sahut Nervan.
" Oh ya mau rasa apa?" Sambung Nervan.
" Rasa coklat sama strawberry." Ucap Khanna.
" Baiklah." Sahut Nervan.
Nervan berjalan menuju minimarket di sebrang jalan. Sepuluh menit kemudian Ia kembali dengan membawa kantong plastik berisi dua buah eskrim Corn*to rasa coklat dan strawberry.
" Mau yang coklat atau strawberry dulu?" Tanya Nervan duduk di samping Khanna.
" Strawberry." Ucap Khanna.
Nervan membuka es krim rasa strawberrynya.
" Ini sayang." Ucap Nervan menyodorkan es krim tersebut.
__ADS_1
" Makasih Mas." Sahut Khanna menerima es krimnya.
" A'" Khanna menyodorkan es krimnya ke mulut Nervan.
" Kok Mas sih? Kan Adek yang mau makan, Entar kurang lhoh." Ujar Nervan.
" Aku maunya Mas makan dulu nanti baru aku." Sahut Khanna.
" Kok gitu? Apa nggak jijik makan bekas Mas?" Tanya Nervan.
" Enggak, Aku penginnya gitu." Sahut Khanna. Nervan tidak bergeming.
" Ya udah kalau nggak mau." Ketus Khanna.
" Eh jangan marah donk, Mas mau kok." Sahut Nervan.
Nervan menggigit es krimnya lalu Ia berikan kepada Khanna.
" Mau yang di mulut." Ucap Khanna membuat Nervan mata Nervan membulat. Nervan menelan kasar es krim yang ada di dalam mulutnya.
" Kok di telen sih Mas, Kan aku maunya yang di mulut kamu." Kesal Khanna.
" Sayang... Apa Adek sadar apa yang Adek minta?" Tanya Nervan memastikan.
" Ya sadarlah Mas... Emang kenapa?" Tanya Khanna dengan bibir mengrucut.
" Adek nggak jijik?" Tanya Nervan. Khanna menggelengkan kepalanya.
" Adek nggak malu?" Nervan bertanya lagi. Khanna menggelengkan kepalanya lagi.
" Baiklah dengan senang hati Mas akan memberikannya, Pegang dulu." Ucap Nervan memberikan es krimnya pada Khanna.
Entah siapa yang memulai kini keduanya malah asyik berciuman dan saling bertukar saliva yang manis tercampur es krim. Nervan mencecap bibir Khanna, Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Khanna mengekspos setiap inchinya. Untuk sesaat mereka lupa berada dimana, Keduanya asyik berciuman sampai suara deheman seseorang menyadarkan mereka.
Ehm ehm...
Kepala Nervan menyembul dari balik jaketnya. Ia menatap ke arah pria tersebut dengan tatapan nyalang.
" Kenapa?" Tanya Nervan dingin.
" Kalau mau mesum jangan di tempat umum Mas." Hardik pria itu.
" Siapa yang mesum?" Tanya Nervan.
..." Itu... Kalian sedang apa?" Tanya Pria tersebut....
" Kami hanya makan es krim saja." Ucap Nervan menurunkan jaket yang menutupi kepala Khanna, Ia mengangkat tangannya yang sedang memegang separo es krimnya.
" Eh maaf Mas, Saya kirain kalian sedang berciuman." Sahut pria itu berlalu meninggalkan keduanya.
Nervan dan Khanna saling pandang lalu...
" Ha ha ha ha." Keduanya tertawa lepas bersama.
" Kamu ini Mas." Kekeh Khanna.
" Kenapa? Benar kan kalau kita memang makan es krim?" Tanya Nervan.
" Iya kamu benar nggak salah, Tapi tebakan orang tadi juga tidak salah." Sahut Khanna.
__ADS_1
" Ya bodo' amat, Lagian mau kita ngapain aja terserah kita donk, Udah halal ini." Ujar Nervan.
" Aku malu tahu Mas." Ucap Khanna.
" Nggak perlu malu ada Mas di sampingmu." Sahut Nervan.
" Kita pulang Mas." Ujar Khanna.
" Es krimnya?" Tanya Nervan.
" Mas habisin saja semuanya." Sahut Khanna.
" Nggak habis lah Dek, Adek kan tahu sendiri kalau Mas mual makan es krim, Apalagi kalau kebanyakan bisa muntah muntah kaya' orang ngidam Mas nanti." Ujar Nervan.
" Nggak pa pa gantiin aku." Sahut Khanna.
" Ya kalau iya sih nggak masalah, Tapi kalau karna asam lambung Mas ya nggak mau." Ujar Nervan.
Keduanya berjalan kembali menuju rumah mereka yang tak jauh dari sana. Kebetulan juga hari sudah tambah sore bahkan hampir menjelang malam.
Sesampainya di rumah Khanna segera masuk ke dalam kamarnya menuju kamar mandi. Ia membersihkan dirinya agar lebih fresh. Tak lama adzan berkumandang. Keduanya menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim secara berjamaah.
Malam harinya Khanna duduk bersandar pada bahu Nervan. Keduanya saling berbincang.
" Sayang apa dedeknya baik baik saja di dalam? Maksud Mas dedek sehat?" Tanya Nervan mengelus perut rata Khanna.
" Iya Mas, Usianya enam minggu bulan depan aku chek up lagi." Sahut Khanna.
" Mas akan mengantarmu, Maafkan Mas kemarin Mas nggak ikut periksakan dedek, Padahal kemarin yang pertama." Ujar Nervan.
" Tidak perlu di sesali Mas, Yang penting kedepannya kita harus saling mendukung." Sahut Khanna.
" Iya sayang, Sayang Mas kangen pengin itu... Apa boleh?" Tanya Nervan ambigu.
" Boleh Mas tapi pelan." Sahut Khanna.
" Baiklah Mas akan melakukannya dengan sangat lembut." Ujar Nervan.
Nervan menindih tubuh Khanna dengan kedua tangan sebagai tumpuannya. Ia mencium bibir Khanna sebagai awal pemanasan. Nervan me**** lembut bibir Khanna. Khanna membalas ciuman Nervan. Suara decapan saling bersahutan. Ciuman Nervan turun ke leher jenjang Khanna. Ia menyesap meninggalkan tanda merah keunguan membuat Khanna mendesis. Ciuman berlanjut hingga kini tubuh keduanya sama sama pol*s.
" Mas datang ya." Ucap Nervan dengan mata berkabut gairah.
" Iya Mas." Lirih Khanna.
Nervan memulai permainannya dengan sangat lembut hingga membuat Khanna memekik menikmati permainan Nervan yang membuatnya seolah terbang melayang ke nirwana. Nervan begitu pandai memanjakan Kanna di bawah tubuhnya. Suara erangan, Decakapan bahkan Desa**** memenuhi kamar mereka. Keduanya saling menyalurkan rindu yang selama ini terpendam dalam diri mereka masing masing.
Setelah hampir dua jam Nervan menyudahi kegiatannya setelah keduanya sama sama mencapai puncak kenikmat*n.
" Makasih sayang... Mas kangen banget sama kamu." Ucap Nervan mengecup kening Khanna. Ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Khanna.
" Hmm." Gumam Khanna.
" Apa ada yang sakit Dek?" Tanya Nervan.
" Jangan khawatir semua baik baik saja Mas." Sahut Khanna.
" Syukurlah sekarang tidurlah." Sahut Nervan memeluk tubuh Khanna di balik selimutnya. Keduanya sama sama terlelap di alam mimpi.
TBC....
__ADS_1
Jangan lupa like di setiap babnya ya...