
Hari hari berlalu tak terasa kehamilan Khanna sudah memasuki bulan ke sembilan. Saat ini Khanna sedang makan malam bersama Nervan. Tiba tiba Ia merasa mulas pada perutnya.
" Awh Mas sakit." Rintih Khanna.
" Mana yang sakit sayang?" Tanya Nervan.
" Mas awh perutku sakit Mas." Ujar Khanna.
" Kita ke rumah sakit sekarang sayang." Ucap Nervan.
Nervan menggendong tubuh Khanna menuju mobilnya.
" Bersabarlah sayang." Ucap Nervan.
Nervan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit khusus ibu dan Anak. Sesampainya di rumah sakit, Khanna segera di bawa ke ruang bersalin, Nervan selalu menggenggam tangan Khanna seolah menyalurkan kekuatan pada Khanna dan berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Di dalam ruangan bersalin Khanna sedang berjuang melahirkan kehidupan baru untuk putranya. Dengan di pandu Dokter Khanna terus berusaha melahirkan putranya dengan selamat.
Oek... Oek....
Suara tangisan putra Khanna dan Nervan menggema memenuhi ruangan bersalin itu.
" Selamat Pak anak pertama anda laki laki, Dia terlahir dengan sempurna." Ucap Dokter.
" Alhamdulillah, Terima kasih sayang." Ucap Nervan mencium kening Khanna.
" Silahkan Pak di adzani dulu." Ujar Dokter memberikan bayi Khanna kepada Nervan.
Setelah di adzani, Nervan memberikan kembali putranya kepada Dokter untuk di bersihkan.
Kini Khanna dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang rawat. Kedua orang tua dan mertuanya berkumpul di sana.
" Selamat atas kelahiran putra pertama kalian sayang." Ucap Mama Alfi.
" Makasih Ma." Sahut Khanna.
" Selamat sayang, Semoga putra yang baru kau lahirkan menjadi anak soleh." Ucap Mama Sarah.
" Amien makasih Ma." Sahut Khanna.
" Kak Khan siapa nama dedek bayinya?" Tanya Alia.
" Kamu tanya Kak Nervan aja ya." Ujar Khanna menunjuk Nervan yang sedang menggendong putranya.
" Baiklah." Sahut Alia.
" Kak Nervan siapa nama dedek bayinya?" Tanya Alia menghampiri Nervan.
Nervan menatap ke arah Khanna.
" Arkhan Bara Arviano." Sahut Nervan.
" Wah nama yang bagus." Pekik Alia.
" Hallo dedek Arkan." Sapa Alia mengelus pipi Arkan.
" Halo Tante." Sahut Nervan.
" Alia yakin besok kalau Arkan udah gedhe pasti cakep banget mirip Kak Nervan." Ujar Alia.
" Tentu donk." Sahut Nervan.
Oek... Oek....
" Sayang Arkan menangis." Ucap Nervan menghampiri Khanna.
" Mau net*k dianya Mas, Sini." Ujar Khanna.
Nervan memberikan Arkan kepada Khanna, Khanna mulai menyusuinya.
__ADS_1
" Uluh cucu Oma haus ya." Ujar Mama Alfi.
" Sar kita sudah tua, Kita udah jadi Oma ha ha." Kekeh Mama Alfi.
" Iya ya... Udah nenek nenek kita." Sahut Mama Sarah.
" Udah udah sama sama udah tua, Dua tahun lagi beri cucu ke dua ya Khan." Ujar Papa Reno.
" Ha?????" Ucap Khanna melongo menatap Papa mertuanya.
" Tenang saja Pa akan Nervan usahakan." Sahut Nervan.
" Kamu nggak kasihan Mas sama aku, Aku aja baru nafas gini kalian sudah membicarakan anak lagi." Cebik Khanna.
" Iya sayang maaf." Sahut Nervan.
" Hmm." Gumam Khanna.
" Kapan kamu boleh pulang Khan?" Tanya Mama Alfi.
" Besok sore Ma." Sahut Khanna.
" Untuk sementara tinggallah bersama kami supaya kami bisa membantumu merawat Arkan." Ujar Mama Alfi.
Khanna menatap ke arah Nervan meminta persetujuannya. Nervan menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang Mama Alfi sarankan.
" Baiklah Ma." Sahut Khanna.
" Ah akhirnya Mama punya teman juga di rumah Pa." Pekik Mama Alfi.
" Iya Ma, Rajin rajinlah merawat cucu pertama kita." Sahut Papa Sakti.
" Siap Pa." Ucap Mama Alfi.
Ceklek....
" Kak Aroon." Pekik Khanna.
Aroon berjalan menghampiri ranjang Khanna.
" Selamat sayang akhirnya sekarang kamu sudah menjadi Ibu." Ucap Aroon memeluk Khanna.
" Terima kasih Kak." Sahut Khanna.
Aroon menghampiri Nervan dan langsung memeluk tubuh Nervan membuat semua orang melongo.
" Selamat untukmu Nervan sekarang kau sudah menjadi seorang Papa, Semoga kalian selalu bahagia, Berbahagialah dengan adikku, Aku merestui kehidupan kalian, Dan semoga dengan restuku tidak akan ada masalah yang menerpa rumah tangga kalian lagi." Ucap Aroon.
" Terima kasih Bang.... Aku sangat bahagia banget mendapat restu dari Bang Aroon, Makasih Bang." Ujar Nervan sambil menangis bahagia.
" Maafkan kesalahanku selama ini, Kau dan Khanna adalah adikku, Maafkan aku." Unar Aroon.
" Aku juga minta maaf padamu Bang." Sahut Nervan.
Aroon melepas pelukannya, Ia menghampiri Baby Arkan lalu menggendongnya.
" Ah anak Papa imut sekali, Siapa namamu sayang?" Tanya Aroon.
" Arkan Bang." Sahut Nervan.
" Arkan... Dia memanggilmu Papa berarti dia harus memanggilku Daddy... Daddy Aroon." Ucap Aroon menciumi pipi Arkan..
Semua orang menatap haru ke arah Aroon. Akhirnya Aroon memberikan restunya kepada Nervan dan mau mengakui Nervan sebagai adiknya. Tidak ada hal yang lebih bahagia selain hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Sayang Arkan pipis nih." Teriak Nervan memanggil Khanna.
Khanna keluar dari kamar mandi mengjampiri box Arkan. Kini mereka sudah berada di rumah Mama Alfi setelah kemarin pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
" Coba gimana cara gantinya, Mas juga pengin bisa." Ujar Nervan.
Khanna mulai mengganti popok Arkan dan Nervan mengamatinya.
" Kenapa nggak pakai diapers aja?" Tanya Nervan.
" Besok aja kalau udah sedikit besar Mas, Kasihan masih bayi aku takut dia akan ruam." Sahut Khanna.
" Oh gitu ya." Gumam Nervan.
" Dah selesai." Ucap Khanna.
" Cepet amat Dek." Ujar Nervan.
" Yang penting udah bersih Mas." Sahut Khanna.
" Sekarang tinggal mimik asi." Ujar Khanna.
Khanna memangku Arkan dan mulai menyusui Arkan. Arkan menghisap dengan kuat.
" Sayang jangan di habisin donk! Sisain buat Papa nanti malam." Seloroh Nervan.
" Kamu ini Mas ada ada aja." Kekeh Khanna.
" Kapan Mas bisa menikmati itu lagi Dek?" Tanya Nervan melirik itunya Khanna.
" Masih lama lah Mas, Paling nggak nunggu umur Arkan dua bulan." Ujar Khanna.
" Apa Dek? Dua bulan?" Pekik Nervan.
" Iya Mas, Kenapa?" Tanya Khanna menatap Nervan.
" Kelamaan lah sayang, Satu minggu ya." Tawar Nervan.
" Emang masa nifas berapa bulan Mas?" Khanna kembali bertanya.
" Empat puluh hari, Ah iya empat puluh hari lagi no tawar menawar." Ujar Nervan.
" Terserah kamu saja Mas." Sahut Khanna.
" Arkan mirip sama Mas ya Dek." Ujar Nervan.
" Entar kalau mirip orang lain kamu curiga sama aku." Sahut Khanna.
" Ah iya kamu bener." Ucap Nervan meringis.
Nervan menatap bahagia kepada istri dan anaknya. Setelah kehadiran Arkan Ia berharap tidak akan ada lagi masalah masalah yang menerpa rumah tangga mereka. Nervan memegang tangan Khanna. Ia menatapnya dengan penuh cinta.
" Terima kasih sayang Adek sudah menerima dan menemani Mas selama ini, Adek sudah sabar menghadapi dan selalu memaafkan kesalahan Mas, Mas sangat bahagia akhirnya kita bisa memiliki keluarga kecil yang bahagia, Selalu bersama Mas, Menualah bersama Mas sayang, Kita besarkan anak anak kita bersama dengan penuh cinta." Ucap Nervan mencium punggung tangan Khanna.
" Iya Mas, Aku juga mengucapkan banyak terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang Mas berikan selama ini, Ketabahan dan kesabaranmu, Maafkan atas segala kesalahanku, Aku akan selalu menemanimu dengan sisa hidupku, I Love U." Ujar Khanna.
" I Love U More sayang." Sahut Nervan memeluk Khanna dan putranya.
Akhir yang bahagia walau sebelumnya telah melewati berbagai macam lika liku kehidupan berumah tangga. Semoga keluarga mereka selalu bahagia.
...............END..............
Author mengucapkan banyak terima kasih kepada para readers yang selalu mendukung karya author sehingga author mampu menyelesaikan karya ini.
Author juga ingin mengucapkan kata MAAF yang sebesar besarnya bila ada salah kata dalam berkarya atau membalas koment kalian semua.
Author mengucapkan
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA bagi yang menjalankannya
Semoga kita selalu dalam Lindungannya dan mampu mencapai kemenangan di hari yang Fitri....
MISS U ALL....
__ADS_1