Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Kepergian Kakek


__ADS_3

" Kakekkkk." Teriak Nervan membaringkan tubuh Tuan Santo di atas ranjang. Beliau memejamkan matanya.


" Kakek bangun Kek." Ujar Nervan mengguncang pelan tubuh Tuan Santo.


" Sepertinya Tuan Santo sudah tiada Tuan muda." Ujar Pak Jogi.


" Innalilahiwainnailaihiroji'un." Ucap Nervan menekan dagu Tuan Santo dengan tangannya.


" Segera urus pemakamannya Pak Jogi." Ujar Nervan.


" Baik Tuan." Sahut Pak Jogi meninggalkan gudang belakang.


" Pa...Kakek Pa, Kakek sudah tiada padahal kami baru saja berjumpa Pa, Aku belum menghabiskan waktu berdua dengannya." Ucap Nervan menatap Papa Shiv.


" Tenanglah Van yang penting kakekmu sudah lega bisa bertemu denganmu, Papa turut berduka cita Van, Sabar ya." Ucap Papa Shiv menepuk pundak Nervan.


" Iya makasih Pa." Sahut Nervan sedih.


Bagaimana tidak sedih baru saja bertemu dengan keluarga kandungnya kini Nervan sudah kehilangan lagi. Nervan mengusap air matanya, Ia mengambil ponsel di saku celananya. Ia segera menelepon Khanna.


" Hallo Mas." Sapa Khanna di sebrang sana.


" Hallo sayang, Mas cuma mau mengabarkan kalau Kakek Santo telah tiada baru saja." Ucap Nervan.


" Apa?" Pekik Khanna.


" Innalillahiwainnailaihiroji'un kamu yang sabar ya Mas, Aku akan segera ke sana bersama dengan Papa dan Mama, Segera share loc aja Mas." Sambung Khanna.


" Baiklah hati hati Mas kirim lokasinya sekarang." Ujar Nervan menutup panggilannya.


Beberapa tetangga mulai berdatangan untuk melayat. Mereka mulai mengurus jenazah Tuan Santo. Setelah melalui beberapa proses pemandian jenazah kini Tuan Santo pun siap untuk di makamkan.


" Maaf Mas lama tadi nunggu Alia pulang sekolah dulu." Ucap Khanna menghampiri Nervan yang sedang berdiri di samping kereta jenazah Tuan Santo.


" Tidak apa apa sayang makasih udah datang." Sahut Nervan. Khanna berjalan berdampingan dengan Nervan sambil menggenggam tangan Nervan memberikan kekuatan kepada suaminya.


Sesampainya di pemakaman Tuan Santo segera di kebumikan sesuai syariat islam pada umumnya.


" Kakek maafkan Nervan karena baru sekarang Nervan menemukan kakek, Maafkan kakek dan nenek Nervan serta ibu Nervan yang selama ini menjauh dari Kakek, Istirahatlah dengan tenang Kek Nervan mengikhlaskan kepergian Kakek semoga Kakek di terima di sisihNya." Ucap Nervan di depan gundukan tanah merah yang masih sangat basah.


" Halo Kakek aku istrinya Mas Nervan, walaupun kita belum bertemu sebagai keluarga tapi kita pernah bertemu di perusahaan saat meeting waktu itu, Maafkan aku yang kala itu tidak menyadari jika kakek adalah keluarga Mas Nervan, Istirahatlah dengan tenang kek aku akan mengurus cucumu yang tampan satu ini." Ucap Khanna melirik ke arah Nervan.


" Makasih sayang, Mas tahu kalau Mas ini memang tampan sejak lahir." Ucap Nervan narsis sambil memeluk Khanna.


" Narsis." Cebik Khanna.


" Nggak pa pa donk." Sahut Nervan.


" Van sudah sore ayo kita pulang." Ujar Papa Sakti yang berdiri di belakang Nervan dan Khanna.


" Iya Yah." Sahut Nervan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


" Yah bolehkah Nervan mengajak Khan menginap di rumah kakek Santo?" Tanya Nervan pada Papa Sakti.


" Tentu saja Khan istrimu jadi Khan akan mengikutimu kemanapun kau pergi." Sahut Papa Sakti.


" Makasih Yah." Sahut Nervan


" Kalau begitu Papa pamit ya maaf nggak bisa singgah ke rumah kakek kamu, Papa ada keperluan mendadak." Ujar Papa Sakti.


" Iya Yah nggak pa pa." Sahut Nervan.


Setelah kepergian keluarganya, Nervan menggandeng Khanna menuju rumah kakeknya yang sekarang menjadi miliknya.


" Silahkan masuk Tuan muda." Ucap seorang penjaga.


" Makasih." Sahut Nervan.


Nervan mengajak Khanna masuk ke dalam, Mereka mengitari rumah besar itu di ikuti Pak Jogi dari belakang. Pak Jogi bukan hanya pengacara Tuan Santo tapi Ia juga menjabat menjadi asisten pribadi Tuan Santo. Ia di berhentikan bekerja menjadi asistent pribadi oleh Bram dengan ancaman jika Ia menolak maka nyawa Tuan Santo menjadi taruhannya.


" Ini kamar utama Tuan." Tunjuk Pak Jogi.


Nervan membuka pintu kamar, Aroma minyak wangi Bram menyeruak di hidungnya.


" Kamar ini di huni Bram?" Tanya Nervan.


" Iya Tuan... Kamar ini di huni oleh Tuan Bram dan Nona Rara." Sahut Pak Jogi.


Ya Pak Jogi sudah mengumpulkan informasi tentang apa saja yang terjadi di dalam rumah ini termasuk hubungan antara ayah dan anak angkatnya.


" Baik Tuan saya akan menyuruh para pekerja besok pagi, Apa Tuan muda mau tinggal di sini?" Tanya Pak Jogi.


" Setelah semuanya di renovasi aku akan pindah di sini, Aku mau rumah ini menjadi seperti baru yang siap di huni." Sahut Nervan.


" Baik Tuan sesuai keinginan anda." Sahut Pak Jogi.


" Terim kasih atas bantuannya Pak Jogi." Ucap Nervan.


" Sama sama Tuan, Saya permisi dulu." Sahut Pak Jogi.


Pak Jogi meninggalkan Nervan dan Khanna.


" Sayang ayo kita pulang, Mas nggak betah ada di sini." Ujar Nervan mengajak Khanna.


" Iya Mas ayo." Sahut Khanna.


Nervan dan Khanna melangkah meninggalkan kamar Bram tiba tiba...


" Nervannnn." Teriak Rara menghampiri Nervan dan Khanna.


" Apa yang kau lakukan kepada ayahku?" Bentak Rara.


" Ayahmu atau kekasihmu?" Tanya Nervan menatap Rara.

__ADS_1


" A... Apa maksudmu?" Tanya Rara.


" Kekasihmu sudah aku kirim ke penjara, Segera kemasi barang barangmu dan pergi dari rumahku ini." Titah Nervan.


" Tidak aku tidak akan pergi dari sini." Kukuh Rara.


" Kalau kamu tidak mau aku akan menjebloskanmu ke penjara bersama kekasihmu itu." Ucap Nervan.


" Jangan.... Baiklah aku akan pergi." Sahut Rara.


Rara berlari ke kemarnya Ia segera mengemasi barang barangnya lalu pergi meninggalkan rumah yang menurutnya neraka baginya


Nervan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah keduanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri masing masing.


Khanna duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya. Nervan keluar dari kamar mandi menghampirinya.


" Sini Mas sisirin." Ucap Nervan.


" Biar aku aja Mas, Mas pakai baju dulu." Sahut Khanna.


" Nggak usah pakai baju entar di buka lagi kok." Seloroh Nervan mengambil sisir di tangan Khanna.


" Nggak mau ah aku udah mandi." Sahut Khanna.


" Iya deh Mas juga lagi badmood, Tapi lain kali boleh ya." Ujar Nervan.


" Mas apa benar kita mau pindah ke rumah kakekmu?" Tanya Khanna menatap Nervan lewat pantulan cermin.


" Apa Adek keberatan kalau kita pindah ke sana?" Bukannya menjawab Nervan justru balik bertanya.


" Menurutku rumahnya terlalu besar Mas, Lagian aku yakin Rara pasti akan mengganggu kita, Aku mau hidup damai Mas." Ujar Khanna.


" Adek benar rumah itu memang terlalu besar jika hanya di huni kita berdua." Sahut Nervan mengalungkan tangannya ke leher Khanna. Ia menempelkan dagunya pada kepala Khanna.


" Jadi?" Tanya Khanna mendongak.


" Kita tinggal di sini saja, Tapi kalau kita sudah punya anak nanti kita pindah ke sana ya, Bisr anak anak kita puas bermainnya secara di sana lebih luas dari di sini." Ucap Nervan.


" Iya Mas." Sahut Khanna.


" Mas pakai baju dulu." Ucap Nervan mencium kening Khanna.


Nervan dan Khanna berbaring di atas ranjang sambil berpelukan. Keduanya memasuki alam mimpi dengan pikiran masing masing.


.TBC....


*Dikit aja yah... Author lagi terserang demam sama flu...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya makasih...


Miss U All*

__ADS_1


__ADS_2