
Sudah satu minggu Nervan dalam keadaan koma, Sekarang Nervan sudah di pindahkan di rumah sakit terbesar di kota J untuk perawatan yang lebih intensif serta untuk memudahkan keluarganya jika mau menjenguk atau menemani Khanna menunggunya.
Sore ini setelah mandi dan berdandan rapi Khanna menghampiri Nervan yang masih setia dengan tidur panjangnya, Ia membungkukkan badannya lalu mencium kedua pipi Nervan.
" Sore Mas Nervanku tersayang yang paling ganteng tiada duanya.... Masih setia aja nih menutup mata, Emang nggak mau ya memandang aku yang sudah berdandan cantik hanya untuk dirimu, Bangunlah Mas aku selalu menanti kehadiranmu." Sapa Khanna mencium kening Nervan.
" Cium pipi udah, Cium kening udah, Tinggal cium bibir nih... Mau nggak Mas aku cium bibirnya, Kalau mau bangun sekarang donk.... Nanti akan aku cium bibir manismu sangat lama.... Bangun donk jangan tidur mulu nggak capek apa, Aku aja capek nungguinnya." Ujar Khanna mengelus pipi Nervan.
" Maafkan aku Mas yang lebih menuruti egoku dari pada mendengarkan penjelasanmu, Saat itu hatiku begitu sakit dan perih mendengar kabar tentang semua rencana yang kamu lakukan padaku, Maafkan aku.... Bangunlah Mas aku sangat merindukan perhatianmu, Aku merindukan kasih sayangmu, Aku merindukan semua yang ada pada dirimu termasuk ciumanmu." Ucap Khanna.
" Eh enggak... Bukan itu maksudku, Pokoknya yang jelas aku sangat sangat sangat merindukanmu.... Ku mohon demi istri tercintamu ini bangunlah... Bangunlah untukku Mas... Jangan buat aku lelah menunggumu, Jangan biarkan aku menyerah menanti kehadiranmu kembali di sisiku... Maafkan aku.... Jangan marah lagi padaku, Aku tidak akan menceraikanmu Mas...Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu.... Bangunlah Mas tinggalkan mimpimu di sana." Ucap Khanna.
Khanna mendekatkan bibirnya ke bibir Nervan. Khanna mengecup bibir Nervan sedikit lama. Saat Khanna hendak menjauhkan bibirnya tiba tiba tangan Nervan menahan tengkuknya membuat mata Khanna membulat sempurna, Mulutnya sedikit terbuka, Nervan menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Khanna. Ia merindukan ciuman manis dari istrinya walau sebenarnya Ia masih lemah tapi Ia tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, Nervan ******* lembut bibir Khanna, Ia mengekspos setiap inchinya. Keduanya memejamkan mata menikmati sensai manis melepas rindu yang selama ini mereka pendam. Setelah di rasa kehabisan nafas Nervan melepas pagutannya. Khanna menatap Nervan dengan tatapan tidak percaya. Ia mengusap pelan bibirnya, Lalu Ia mengusap bibir Nervan yang basah juga.
" Ka... Kamu sudah sadar Mas?" Tanya Khanna. Nervan hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Alhamdulillah aku bahagia banget Mas, Akhirnya kamu sadar juga... Maafkan aku Mas.." Ucap Khanna memeluk Nervan.
" Jangan seperti ini lagi, Jangan membuatku khawatir Mas, Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Aku tidak sanggup kehilanganmu.. Aku tidak bisa hidup tenang tanpamu Mas.." Ujar Khanna menangis sambil memeluk tubuh ringkih Nervan.
" Maafkan aku Mas yang tidak mempercayai penjelasanmu, Maafkan aku yang tidak memberi kesempatan padamu untuk menjelaskan semuanya... Jangan tinggalkan aku, Aku mencintaimu Mas.... I love u." Ucap Khanna melepas pelukannya.
" Love U More sayang." Ucap Nervan mencium pipi Khanna.
" Sebentar aku panggil Dokter dulu Mas." Ujar Khanna hendak pergi tapi Nervan mencekal tangannya. Khanna menoleh ke arah Nervan.
" Tadi Dokter sudah kesini memeriksa Mas." Lirih Nervan.
" Jadi Mas sudah sadar dari tadi sebelum aku keluar kamar mandi?" Selidik Khanna. Nervan menganggukkan kepala.
" Aaaaa berarti Mas denger semua yang aku ucapkan tadi? Mas tahu kalau aku menciumi wajahmu?" Tanya Khanna memastikan.
" Iya." Sahut Nervan lirih membuat Khanna menjadi malu.
" Aaaa aku malu sekali Masss." Ucap Khanna menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
" Jangan malu.. Aku suamimu, Terima kasih telah menjadi penyemangat hidupku, Aku mendengar semua yang kamu ucapkan selama satu minggu ini, Maafkan aku yang tidak bisa langsung meresponmu." Ucap Nervan.
Nervan tahu jika dirinya mengalami kecelakaan lalu koma selama satu minggu karena tadi saat Dokter sedang memeriksanya tiba tiba Nervan membuka matanya, Lalu Dokter menceritakan semuanya kepadanya.
" Tidak masalah Mas, Yang penting sekarang kamu sudah sadar, Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Khanna. Nervan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Ya udah Mas istirahat dulu aja, Masih lemas baru sadar juga." Ujar Khanna.
Nervan menepuk ranjang di sisi sampingnya, Khanna naik ke atas ranjang dengan pelan takut melukai Nervan. Ia membaringkan tubuhnya di samping Nervan dengan posisi miring menghadap Nervan. Khanna memeluk perut Nevan. Ia manatap wajah pucat suaminya.
" Mas... Apa itu masih sakit?" Tanya Khanna menunjuk pada kepala Nervan.
" Iya sedikit." Sahut Nervan.
" Istirahatlah Mas, Aku akan menjagamu di sini." Ujar Khanna.
Nervan memejamkan matanya, Ia ingin beristirahat untuk mengumpulkan keberaniannya mengatakan kondisi yang sebenarnya kepada Khanna. Kalau Khanna mau menerimanya Ia akan sangat bahagia tapi kalau Khanna lebih memilih meninggalkannya, Maka Nervan akan ikhlas melepasnya.
Malam harinya Khanna sedang menyuapi Nervan dengan semangkok bubur di tangannya, Khanna menyuapi Nervan dengan telaten. Ia mengusap sudut bibir Nervan yang kotor dengan tisu. Setelah selesai Khanna meletakkan mangkok kosongnya pada nampan.
" Sekarang minum obat dulu Mas biar cepet pulih." Ucap Khanna menyodorkan beberapa butir obat kepada Nervan. Nervan meminumnya dengan segelas air putih.
" Sekarang tidurlah." Ucap Khanna.
" Ada yang ingin Mas bicarakan padamu sayang." Ucap Nervan menggenggam tangan Khanna. Ia sudah lebih kuat dari tadi sore. Ia juga sudah menguatkan hatinya dan akan menerima kemungkinan terburuk kalau Khanna memilih meninggalkannya. Khanna duduk di kursi tunggu sambil menatap Nervan.
" Apa itu Mas?" Tanya Khanna.
" Apa???? Kamu lumpuh?" Tanya Khanna memastikan.
" Iya sayang kaki Mas lumpuh, Apa Adek masih mau menerima Mas sebagai suami Adek? Kalau tidak Mas akan menandatangani surat cerai yang sudah kamu tanda tangani itu, Mas ikhlas melepas Adek untuk menjalani hidup bahagia dengan orang lain, Mungkin ini karma yang harus Mas tanggung karena pernah menyakitimu, Maafkan Mas yang hanya mampu menorehkan luka pada hati Adek." Ujar Nervan.
" Hiks.... Hiks.... Kenapa harus seperti ini?" Lirih Khanna menghapus air matanya. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa kepada suaminya. Semua ini terjadi karena dirinya, Karena dirinya yang menyuruh Nervan untuk pergi sejauh jauhnya.
" Mas akan menyuruh pengacara Mas untuk mengurus perceraian kita." Ucap Nervan memejamkan matanya. Hatinya begitu sakit mendengar ucapannya sendiri. Bukan ini yang Ia mau tapi demi kebahagiaan Khanna Ia rela melakukan apa saja termasuk melepasnya.
" Mas mau menceraikan aku?" Tanya Khanna menatap Nervan.
" Itu jika Adek yang memilih untuk meninggalkan Mas." Sahut Nervan.
" Kalau aku tidak mau meninggalkanmu?" Khanna kembali bertanya.
" Mas tidak akan menceraikan Adek.... Tapi Adek harus menerima segala konsekuensinya hidup dengan pria lumpuh seperti Mas." Sahut Nervan.
Khanna menggenggam tangan Nervan. Ia menciumi tangan lemah itu dengan perasaan yang mendalam. Ia menatap ke arah Nervan.
" Apapun keadaanmu Mas, Aku rela dan ikhlas menerimamu sebagai suamiku, Sebagai imamku dan sebagai ayah dari anak anakku kelak." Tegas Khanna.
__ADS_1
" Benarkah sayang????." Tanya Nervan dengan mata berbinar.
" Tentu Mas... Aku akan selalu berada di sisihmu, Aku akan selalu mencintaimu, Aku akan selalu menyayangimu Mas.... Maafkan aku yang membuatmu jadi seperti ini." Sesal Khanna.
" Semua sudah takdir sayang... Doakan dan selalu dukung Mas agar Mas bisa sembuh seperti semula.. Maafkan Mas karena ke depannya Mas akan selalu merepotkanmu." Ucap Nervan.
" Itu sudah menjadi kewajibanku Mas.. Mari kita buka lembaran baru dengan suasana dan kondisi yang baru." Ujar Khanna.
" Terima kasih sayang... Mas sangat bahagia mendengar Adek masih mau mendukung Mas... Mas akan semangat untuk sembuh demi bisa menjaga Adek kembali sayang." Ucap Nervan.
Khanna berdiri lalu memeluk Nervan.
" Maafkan aku... I Love U." Ucap Khanna.
" Love U More sayang." Sahut Nervan.
" Sekarang Mas tidur biar cepat pulih, Besok biar di periksa Dokter lagi." Ucap Khanna.
" Besok Mas mulai teraphi sayang." Ujar Nervan.
" Baguslah Mas biar cepet sembuh juga." Sahut Khanna.
" Sayang.... Jika seandainya Mas lumpuh permanen gimana?" Tanya Nervan. Khanna menghela nafasnya pelan.
" Jangan pernah berbicara seperti itu Mas.. Ingat ucapan adalah doa, Kita berdoa yang baik baik saja ya... Dan ingat satu hal, Apapun keadaanmu aku akan tetap mencintaimu, Jangan tanyakan itu lagi padaku Mas." Terang Khanna.
" Baiklah sayang maafkan Mas." Ucap Nervan.
" Sekarang tidurlah Mas, Selamat malam." Ucap Khanna mencium kening Nervan.
" Malam sayang." Sahut Nervan.
Khanna beranjak menuju ranjang di samping Nervan. Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Nervan, Mata mereka beradu pandang dan saling melempar senyum.
" Tidurlah Mas..." Ucap Khanna.
" Baik sayang..." Sahut Nervan memejamkan matanya.
TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya ya... Bila berkenan beri bunga mawar untuk author... Makasih... Miss U All.
__ADS_1