Suamiku Kakak Angkatku

Suamiku Kakak Angkatku
Penjelasan Nervan


__ADS_3

Mohon maaf untuk para readers... Author lupa jika belum up selama tiga hari.... Maafin ya...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah Khanna masuk ke dalam kamarnya. Ia memejamkan matanya tanpa membersihkan dirinya karena saking mengantuknya. Sedangkan Nervan yang baru saja masuk berjalan menghampiri Khanna di ranjangnya.


" Maafkan Mas sayang, Mas ceroboh hingga membuat hati Adek terluka." Ucap Nervan mengelus kepala Khanna.


Cup


Nervan mengecup pipi Khanna. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sempat tersentuh wanita lain. Ia bahkan menggosok kulitnya hingga memerah. Setelah selesai Ia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Khanna. Ia memeluk perut Khanna menyusul Khanna ke alam mimpi.


Pagi hari Nervan bangun lebih dulu, Ia memasak makanan untuk sarapannya dan Khanna. Satu jam berkutat di dapur akhirnya Ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menatanya di meja makan, Nervan kembali ke kamarnya untuk membangunkan Khanna.


Nervan menggelengkan kepalanya menatap Khanna yang masih tidur di atas ranjangnya.


" Sayang bangunlah ayo kita sarapan." Ucap Nervan mengguncang pelan pundak Khanna. Khanna tidak bergeming Ia masih setia menutup matanya di dalam selimutnya.


" Sayang..." Panggi Nervan.


Nervan duduk di tepi ranjang, Ia menyibak anak rambut Khanna lalu mencium keningnya. Kebetulan posisi Khanna saat ini miring ke kiri.


" Sayang bangun, Mandi dulu lalu kita sarapan kasihan dedeknya udah lapar lho." Ujar Nervan mengelus pipi Khanna membuat sang emou terganggu.


" Engh.." Lenguh Khanna mengucek matanya.


" Sayang." Nervan mencoba memanggil Khanna lagi.


" Apa sih mas aku masih ngantuk tahu, Semalam aku tidak tidur, Udah deh jangan ganggu aku, Makan sendiri sana atau kalau tidak ajak pacarmu kecilmu itu." Sahut Khanna sambil memejamkan matanya.


" Sayang kok gitu sih, Dia bukan siapa siapa Mas ya, Dan Mas minta maaf atas kejadian semalam." Ujar Nervan.


" Bodo' ah aku mau tidur lagi." Sahut Khanna.


" Baiklah tidurlah lagi, Maafkan Mas yang sudah mengganggu tidurmu." Ucap Nervan.


Nervan meninggalkan Khanna ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Ia keluar kamar mandi. Ia kaget saat melihat ranjang yang sudah kosong. Ia mencari cari Khanna tapi tidak menemukannya.


" Sayang... Sayang kamu dimana?" Panggil Nervan.


" Khanna sayang." Panggil Nervan sekali lagi.


Setelah mencari Khanna di lantai bawah tidak ketemu, Nervan kembali ke kamarnya. Ia membuka pintu balkon kamarnya berharap bisa menemukan Khanna di sana. Dan benar saja Nervan tersenyum melihat Khanna sedang berenang di bawah sana. Nervan segera berlari menuju taman belakang dimana kolam renang itu berada. Ia membuka pintu yang menghubungkan taman dan kolam renang.


Nervan membuka pakaiannya dan menyisakan celana boxernya saja. Nervan berjalan mendekati kolam dan...


Byurrrr


Nervan masuk ke dalam kolam renang. Ia mengejar Khanna yang sedang berenang di depan sana. Sadar akan kehadiran seseorang, Khanna muncul ke permukaan lalu menepi, Ia menyandarkan tubuhnya pada tepian kolam. Nervan berdiri di depannya sambil menatap Khanna yang terlihat sangat ***** dengan pakaian dan rambut basahnya.


" Bukankah Mas udah mandi? Ngapain ikut berenang?" Tanya Khanna menatap Nervan.


" Mas hanya ingin berduaan denganmu." Sahut Nervan.


" Nggak mau tubuhmu bau wanita lain." Ucap Khanna menutup hidungnya.


" Adek tidak lihat tubuh Mas merah merah gini? Bahkan banyak yang lecet." Ujar Nervan menunjuk dadanya.


" Astaga, Ini kenapa Mas? Di cakar sama wanita itu?" Seloroh Khanna.


" Ini bekas Mas gosok semalam Dek untuk menghilangkan jejaknya, Mas juga jijik jika dia berhasil menyentuh Mas, Nih juga udah Mas rendam kan biar bakteri dan kumannya mati." Sahut Nervan.


" Sampai segitunya kamu Mas, Apa ini nggak perih Mas sampai lecet lecet?" Tanya Khanna menyentuh dada Nervan yang lecet.

__ADS_1


Melihat Khanna yang sepertinya cemas padanya Nervan langsung menggunakan kesempatan ini untuk mendapat perhatian dari Khanna. Jarang jarang kan?


" Awh perih Dek, Perih banget." Rintih Nervan sambil melirik Khanna.


" Ya udah kalau perih kita naik aja nggak usah renang." Ujar Khanna.


" Nggak mau masih mau berduaan sama Adek dulu di sini, Kita tidak pernah melakukannya di kolam bukan? Mas ingin sensasi yang beda Dek." Sahut Nervan sambil tersenyum nakal.


" Apa maksudmu Mas? Apa kamu mau melakukannya di sini?" Tanya Khanna gugup.


" Iya." Sahut Nervan singkat.


" Nggak mau ah malu nanti kalau ada orang gimana." Tolak Khanna.


" Kan nggak ada orang, Cuma kita berdua ini." Ujar Nervan tersenyum senang melihat wajah Khanna yang gugup.


" Aku tetap nggak mau." Ujar Khanna.


" Nggak mau apa?" Tanya Nervan.


" Nggak mau lakuin itu." Sahut Khanna.


" Lakuin apa?" Goda Nervan.


" Ya lakuin itu, Tadi kamu bilangnya mau sensasi yang berbeda kan?" Ujar Khanna.


" Mas cuma mau ciuman kok." Sahut Nervan.


" Apa? Ciuman?" Tanya Khanna. Nervan menganggukkan kepalanya.


" Ciuman doank?" Tanya Khanna memastikan.


" Emang Adek mikirnya kita mau melakukan apa?" Tanya Nervan menatap Khanna membuat pipi Khanna memerah karna menahan malu.


" Ah enggak aku nggak mikirin apa apa." Kilah Khanna.


" Ih siapa yang piktor? Enggak ya." Dalih Khanna.


" Bohong... Ngaku aja deh." Ucap Nervan.


" Enggak Mas." Sahut Khanna.


" Kalau Adek mau mencoba di sini ayo kita lakukan." Ajak Nervan.


" Apa sih Mas aku nggak mau." Sahut Khanna.


" Ya udah kalau gitu ciuman aja." Ujar Nervan.


Nervan merapatkan tubuhnya. Tangan kirinya memeluk pinggang Khanna sedangkan tangan kirinya berada di belakang tengkuk Khanna. Nervan memajukan wajahnya membuat Khanna memejamkan matanya. Nervan mengecup bibir Khanna. Khanna membuka sedikit mulutnya membiarkan Nervan memainkan lidahnya di dalam mulutnya. Nervan mencecap bibir Khanna dengan lembut.


Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva bahkan Nervan menahan tengkuk Khanna untuk memperdalan ciumannya. Suara decapan saling bersahutan memenuhi ruangan kolam renang itu. Setelah di rasa keduanya kehabisan nafas, Nervan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Khanna dengan jempolnya.


" Makasih sayang." Ucap Nervan mengecup kening Khanna. Ia memeluk tubuh Khanna yang bagian perutnya sudah terlihat sedikit membuncit.


" Sekarang kita ke atas Mas, Kita obati lukamu dulu, Aku takut lukamu akan infeksi." Ujar Khanna.


Sekesal atau semarah apapun istri jika suaminya terluka maka dia akan cemas bukan?


" Baiklah ayo." Ucap Nervan membantu Khanna naik ke atas. Nervan memakaikan bathrobe pada tubuh Khanna.


" Sebentar Mas ambil baju Mas dulu." Ujar Nervan mengambil bajunya.


" Ayo." Ajak Nervan menggandeng Khanna.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju kamar. Setelah itu keduanya masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi bersama. Keduanya benar benar mandi tanpa melakukan hal lainnya tentunya karna Khanna menolaknya. Kalau Nervan mah bawaannya pengin menyerang apalagi melihat mangsa di depannya dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Setelah selesai mandi dan berganti baju, Khanna mengajak Nervan duduk di tepi ranjangnya.


" Aku ambil salep dulu Mas." Ucap Khanna.


" Iya sayang." Sahut Nervan.


Khanna mengambil salep di kotak p3k. Setelah mendapatkan apa yang Ia cari, Ia kembali menghampiri Nervan.


" Sini aku oleskan." Ujar Khanna.


Khanna mulai mengoleskan salepnya ke bagian dada Nervan yang luka membuat Nervan mendesis karena sedikit perih.


Fiuh.. Khanna meniup niup luka Nervan yang sudah Ia olesi salep berharap bisa mengurangi rasa perihnya.


" Udah semua Mas." Ucap Khanna setelah selesai mengoleskan salep ke seluruh luka lecet di tubuh Nervan.


" Makasih sayang." Ucap Nervan.


"Sama sama Mas, Mau pakai kemeja apa kaos aja Mas?" Tanya Khanna.


" Kaos aja lah Mas free hari ini jadi Mas tidak pergi ke kantor." Sahut Nervan.


" Baiklah aku ambilkan kaosnya dulu." Ujar Khanna berjalan menuju almari untuk mengambil kaos untuk Nervan.


" Ini Mas." Khanna memberikan kaos oblong pendek warna hitam yang kontras dengan kulit putih Nervan kepada Nervan.


" Ayo kita sarapan dulu." Ajak Nervan setelah memakai kaosnya.


" Ayo." Sahut Khanna.


Mereka turun ke bawah menuju meja makan. Kali ini Nervan melayani Khanna mengambilkan makanan untuk Khanna.


" Makasih Mas." Ucap Khanna.


" Sama sama sayang." Sahut Nervan.


Keduanya makan dengan khidmat, Masih sama seperti hari hari biasanya, Khanna akan makan dari sendok Nervan dan tentunya sisa sari Nervan. Setelah selesai makan Nervan membawa Khanna ke ruang keluarga.


" Sayang Mas mau minta maaf atas kejadian semalam, Mas benar benar tidak tahu kenapa Mas bisa sampai di kamar hotel itu, Tapi sumpah Mas tidak berkhianat darimu sayang, Mas tidak pernah menduakanmu dengan wanita manapun, Mas hanya ingat saat Mas menabrak orang, Setelah itu Mas tidak ingat apa apa lagi." Jelas Nervan.


Nervan menghela nafasnya, Khanna menunggu kelanjutan cerita Nervan. Walaupun Ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi dari Papa Shiv, Tapi Ia ingin mendengarnya dari Nervan sendiri walaupun cerita Nervan tidak selengkap cerita Papa Shiv. Ya kan Nervannya pingsan.


" Saat Mas membuka mata, Mas merasa ada seseorang yang memeluk Mas, Mas ingin memastikan siapa wanita itu tapi wajahnya tertutup rambut, Saat Mas menyibak rambutnya Adek keburu datang dan melihat semuanya " Terang Nervan.


Nervan menatap ke arah Khanna.


" Kamu percayakan sama Mas?" Tanya Nervan menggenggam tangan Khanna.


" Iya aku tahu Mas, Kamu hanya di jebak sama wanita ular itu, Tapi dia tidak tahu kalau dia salah dalam memilih lawan." Sahut Khanna.


" Istri Mas di lawan, Nggak akan ada yang menang." Ucap Nervan mencubit pelan hidung Khanna.


" Massss merah tahu." Rengek Khanna manja sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Nervan .


" Iya tahu... Istri siapa sih manja banget?" Tanya Nervan.


" Istrinya Kakak Angkatku." Sahut Khanna membuat keduanya tertawa.


" Kamu bisa aja." Kekeh Nervan.


TBC .....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


Makasih atas suport yang kalian berikan...


Miss U All...


__ADS_2