
Alexander kini menundukkan kepalanya menatap tajam gadis yang masih terlelap dengan kepala gadis itu di atas kedua pahanya, juga kedua tangan gadis itu kini berada di pinggangnya merapatkan wajah di perut kerasnya.
Membuat pria bule frustasi, akibat gadis kecil itu begitu menyaksikannya dengan wajah Amy yang mengendus-endus perut kekarnya.
Para bapak-bapak yang ada di sana pun kini menatap Amy juga Alexander bergantian.
"Apa dia anak anda tuan?" Tanya pak polisi yang sejak tadi berdiri.
Alexander yang di tanyain terdiam sesaat lantas menggelengkan kepalanya. Membuat ketujuh bapak-bapak di sana melirik Alexander dengan tajam.
Sekarang suasananya sedang mode serius, dan kedua polisi itu kini harus melakukan tindakan lanjut karena keadaan semakin larut malam.
"Boleh kami melihat identitas anda?" Pinta pak polisi yang nama tag-nya di seragam kepolisian tertulis, Muhammad Iqbal.
Alexander hanya diam dan mencoba mengambil sesuatu di saku celananya bagian belakang, pria tinggi itu mengeluarkan sebuah dompet lalu mengambil sesuatu lantas di berikan kepada — pak Iqbal.
"Alexander William Mahesa, usia 40 tahun dan seorang warga negara Inggris," ucap pak polisi sambil membaca identitas Alexander.
"Seumur gue, yah?" Timpal salah satu bapak-bapak yang menelisik wajah Alexander.
"Masih kelihatan muda," sela bapak-bapak yang lain yang ikut menatap wajah Alexander yang dinilai masih terlihat muda dengan usia 40 tahun.
"Lah, elu seumuran tapi muka lu kayak aki-aki," celetuk seorang pria yang merupakan rekan kerja pria yang menyela pembicaraan pak polisi.
"Itu namanya, boros di muka," timpal pria lainnya. Dan mereka pun menertawakan pria tersebut yang menjadi bahan julid di tengah suasana tegang.
"Sudah, lebih baik kita bangunin nih, bocah!" Seru pria yang lebih tua di antara para saksi, menunjuk ke arah Amy.
Alexander pun hanya bisa menghela nafas panjang, melihat sikap absrat Amy.
"Pak polisi, bagaimana kalau kita hubungi keluarganya aja," sentak salah satu pria yang menyarankan ide.
Kedua bapak polisi itu pun lupa untuk berpikir ke arah sana.
"Iya benar, bagaimanapun mereka harus tahu kelakuan anak gadis mereka dengan seorang pria asing, mana udah tua juga. Apa ini yang sering diomongin para gadis-gadis? Sugar daddy." Pungkas pria yang sejak tadi memandangi wajah manis Amy yang begitu nyenyak-nya.
"Mungkin? Secara si bule kan? Masih tampan, apalagi dia mapan, maka jadi incaran empuk gadis-gadis nakal," sahut yang lain, membenarkan penilaian rekannya.
Kedua polisi itu ikut menyimak dan menganggukkan kepala mereka, begitu juga para bapak-bapak yang lain, menyayangkan perbuatan Amy.
"Sayang sekali, gadis ini. Sukanya sama gula bapak," celetuk pria yang sejak tadi berbicara.
Semua kini menatap pria tersebut dengan wajah heran dan mencibir.
__ADS_1
"Bukan gula bapak, om. Tapi bapak gula," timpal yang lain, membenarkan ucapan pria yang terlihat dari suku timur.
"Lah, kan' situ yang bilang sugar daddy? Sugar kan, bahasa Indonesianya, gula. Lalu … daddy kan, diartikan dalam bahasa Indonesia, bapak atau ayah. Jadi … artinya, gula bapak." Jelas pria yang berusia sekitar 37 tahun itu membenarkan ucapannya.
Semua pria yang ada di sana hanya bisa menghela nafas panjang, dan lebih memilih diam melihat sikap ngotot pria tersebut.
"Sungguh disayangkan, cantik-cantik kok, sukanya om-om," komentar yang lain yang terus menatap wajah Amy.
"Sudah, sudah, lebih baik kita cari tahu dulu latar belakang gadis ini!" Seru salah satu pak polisi. Mencoba mencari sesuatu di tas sekolah gadis itu.
Jangan tanyakan wajah Alexander yang semakin muak. Apalagi pria itu mulai merasakan kelelahan dan ia harus membatalkan sebuah pertemuan penting dengan salah satu client-nya.
Kedua polisi itu pun menemukan ponsel Amy yang sedang mode slide dan terdapat ratusan panggilan tak terjawab dan juga pesan.
Keduanya pun bisa bernafas lega begitu juga para saksi yang akhirnya menemukan titik terang untuk menyelesaikan masalah penggerebekan tersebut.
"Kenapa kita tidak berpikir sejak tadi yah?" Ucap salah satu dari ketujuh pria itu.
"Namanya juga dalam keadaan panik, jadi semuanya tidak kepikiran," sahut lainnya.
"Kasihan yah, pasti keluarga gadis ini jadi khawatir dan panik," seloroh pria lainnya, yang ikut merasakan apa yang keluarga Amy sekarang rasakan.
Kedua polisi itu pun mencoba menghubungi pihak keluarga Amy melalui telepon di ponsel gadis itu, namun kedua polisi saling memandang, saat mendengar sahutan di seberang sana yang mengatakan, "pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, mohon tekan 1 untuk membebankan biaya panggilan kepada penerima panggilan."
Terpaksa, salah satu pak polisi pun menggunakan ponsel untuk melakukan panggilan kembali dengan pihak keluarga Amy.
Para saksi pun dengan wajah penasaran menunggu kepastian dari pihak polisi dan keluarga Amy.
Sementara Alexander pun sedang menunggu seseorang yang akan segera membawanya dari tempat yang membuatnya muak.
Tidak lama terdengar suara lirih dari seberang sana juga terdengar suara tangisan memanggil nama seseorang.
Kedua polisi mengambil kesimpulan kalau sekarang keluarga Amy sedang keadaan ketakutan juga panik.
Setelah mengatakan tentang banyak hal mengenai sosok Amy dan pak polisi juga memberitahukan kalau Amy sedang berada di kantor polisi yang berada di area jauh dari rumah Amy.
Sambil menunggu, mereka kini menatap Alexander yang terlihat begitu jengah dan beberapa kali terdengar decakan lidah di mulut pria tampan itu.
"Maaf, Mr. Apa anda benar-benar tidak mengenal gadis ini?" Lama terdiam, kedua polisi itu akhirnya memberanikan diri untuk menginterogasi pria bule itu dengan bahasa Inggris yang seadanya yang mereka pahami.
Alexander tampak terdiam sambil menatap wajah kedua polisi itu bergantian, seolah memikirkan arti dari perkataan kedua pria di hadapannya ini.
"No, saya tidak mengenalnya," sahut Alexander dengan bahasa Indonesia yang masih kaku.
__ADS_1
Bergantian kini para saksi yang mencoba memahami perkataan Alexander, yang berkata dengan bahasa campuran dan logat aneh.
"Kenapa dia bisa berada di dalam mobil anda?" Tanya pak polisi satunya dengan raut serius.
Pria bule itu terdiam sesaat, mencoba memahami sesuatu hal dengan perkataan pak polisi di depannya.
"Saya juga tidak tahu, itu gadis kecil kenapa bisa berada di dalam mobil saya," jawab Alexander yang ucapannya begitu khas bule banget. Yang berhasil membuat para saksi dan kedua polisi menganga.
"Buset dah, gue kayak nonton film si Pitung," gumam seorang saksi yang begitu gemas mendengar Alexander berucap dengan logat bahasa pria itu apalagi intonasi suara pria bule tersebut terdengar berat dan tajam.
"Usst …." Tegur pria lain saat mendengar gumaman kawannya.
Pak polisi hanya bisa mengangguk kepala mendengar penjelasan pria bule ini.
"Maaf, tapi kenapa dia bisa masuk ke dalam mobil anda?" Tanya pak polisi kembali dengan mimik wajah serius.
"Itu karena saya lupa mengunci pintu mobil saya," terang Alexander dengan dingin.
Alexander hanya memasang wajah datar dan tanpa tertarik sedikitpun untuk melemparkan senyum ke arah para saksi.
"Lempeng amat tuh muka si bule, kayak papan ulin," celetukan kembali terdengar dari para saksi yang begitu gemas melihat ekspresi wajah datar Alexander.
"Untung tampan, kalau nggak, yah mukanya kayak penagih utang setiap hari datang ke rumah," sela yang lain, membenarkan komentar pria itu.
"Kasihan amat yah? Tampan-tampan, tapi kagak bahagia sama sekali. Emang benar tidak selamanya, good looking membuat bahagia, semua perlu dukungan good atm juga," ujar yang lain, yang memberikan pendapat sesuai apa yang pria itu pikirkan.
"Pak, nih bule emang tampangnya modelan gitu, judes, cuek dan songong," sahut yang lain.
"Bukan cuma good atm aja pak, harus good di ranjang juga, percuma tampang oke, duit segudang, tapi saat di ranjang jadi siput, bangunannya lambat dan keluarnya cepat," sinis pria itu yang melirik ke arah si pria bule.
"Bisa jadi nih bule kelamaan sendiri di kampung orang, kagak ada penyaluran untuk membuat pikirannya plong," sahut yang lain.
Kedua polisi itu kembali menyimak pembicaraan para saksi yang sedang ghibahi si bule yang hanya bisa diam dengan wajah datar.
"Alah, dia kan pasti banyak duitnya pak, pasti selir-selirnya banyak. Apalagi wajahnya tampang om-om hot," kembali terdengar penilaian tentang si pria bule.
"Bisa jadi nih gadis salah satu selir termuda nya, lumayan kan uang jajannya sehari seratus ribu," komentar pedas pria lainnya yang perkataannya mengalahkan emak-emak kompleks yang sedang ghibah.
"Sudah, sudah, jangan berpikir tidak baik dulu, belum tentu yang kita pikirkan benar adanya, takutnya nanti jatuhnya fitnah, sedang dosa fitnah begitu besar dan kita pasti akan dirugikan kelak di akhirat." Seorang pria yang lebih tua dari pria-pria tersebut memberikan masukan bijak, membuat Keenam bapak-bapak itu terdiam seketika dan kedua bapak polisi menyetujui ucapan si bapak di depan mereka.
Alexander sendiri masa bodoh dengan komentar mereka, pria itu hanya memikirkan untuk segera pergi dari kantor polisi dan berdoa agar tidak bertemu dengan sosok gadis mungil yang begitu nyenyak-nya tertidur.
"Assalamualaikum, selamat malam!" Seru seorang pria yang muncul tiba-tiba dari arah pintu ruangan itu.
__ADS_1
Semuanya kini menatap pria berwajah etnis Tionghoa itu dengan heran, namun tidak dengan Alexander yang bisa bernafas lega melihat sosok yang merupakan bawahannya itu.