Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 9


__ADS_3

"Amy hilang bah. Dan sampai sekarang belum kembali," sahut emak dan diakhiri tangis histeris.


"Alhamdulillah," sahut pria paruh baya itu sambil mengelus dada.


Mendengar sahutan ayah mertuanya, emak menatap pria di hadapannya dengan bingung, begitu juga dengan baba dan abang Alif.


"Kok Alhamdulillah, kek?" Tanya Alif kepada kakeknya itu.


"Itu berarti kagak ada yang malakin gua, ton," jawab abah sambil menepuk saku celananya.


"Abah! Amy hilang bah … dan belum pulang," sela emak yang begitu terlihat sedih.


"Namanya hilang, yah, kagak pulang lah, kalau nggak dicariin," ujar abah yang menatap putranya.


"Ashraf, dah hubungi seseorang untuk mencari Amy, bah," timpal baba.


"Seharusnya lu, yang nyariin anak gadis lu, bukan ngarepin orang lain." Abah kini mode galak sambil mengomeli putranya.


Bibi Lilis muncul dari arah dapur dengan nampan berisi kopi di dalam canteng khusus untuk abah, setiap datang menjenguk para cucunya setiap malam.


"Terimakasih, neng," ucap abah saat bibi Lilis kini menyajikan kopi untuknya.


Bibi Lilis hanya tersenyum dan berjalan mendekati sang kakak.


Abah lantas menyeruput kopi yang masih berasap itu, namun sedetik kemudian terdengar suara semburan.


"Ais, panas," keluh abah, sambil menjulurkan lidahnya.


"Namanya juga masih panas bah, kagak lihat, tuh masih berembun," celetuk bibi.


Abah hanya diam sambil mengipasi salah satu telapak tangannya di depan mulutnya yang terasa terbakar.


"Untung, tuh kumis masih aman," gumam bibi Lilis, yang bergidik melihat kumis abah.


Kini suasana tiba-tiba hening, mereka masing-masing terdiam sambil berpikir. Sedangkan Abang Alif dan kedua sahabat Amy kini mencoba mengotak-atik laptop abang Alif, mencari titik lokasi — Amy.


Namun ketiga remaja itu belum mendapatkan hasil apapun, yang membuat ketiganya bertambah khawatir.


"Emak Nina … beli!" Di tengah keheningan dan memikir keras untuk memecahkan sesuatu sulit, tiba-tiba dibuyarkan oleh teriakan seseorang.


"Emak …, Mpok, beli!" Panggil seorang pria yang kini berdiri di depan warung emak Nani.


"Kagak ada orang, warungnya tutup!" Teriak bibi Lilis, menjawab ucapan pria yang kini terlihat bingung.


"Tutup? Lah … terus ini apa? Warung di buka lebar kayak gini di bilangin tutup," gumam pria tersebut, yang hanya mengenakan sarung dan kaos dalam saja.


"Mpok Lis, emak Nani, beli!" Teriak pria itu lagi. Ia mencoba mengintip di sela tembok yang menembus ruang makan dan dapur emak Nani.


"Mpok, emak!" Sekali lagi pria itu mencoba berteriak, memanggil sang pemilik warung.

__ADS_1


"Kagak ada orang!" Sahut suara dari dalam rumah.


Sang pembeli kini menganga sambil menggaruk kepalanya.


"Kalau kagak ada orang? Terus yang nyahut, siapa?" Gumam pria itu keheranan


Pria itu berniat untuk memanggil sekali lagi dan setelah ini pria itu akan pergi.


"Mpok, emak, bel …." Teriak pria itu berhenti, saat bibi Lilis muncul dengan wajah kesal.


"Beli apa?" Tanya bibi dengan nada ketus.


"Lah, Mpok! Gitu amat mukanya," ujar pria itu yang berusaha menggoda bibi.


"Lo, jadi beli kagak!? Sentak bibi Lilis dengan garang.


"Seram amat Mpok, tuh muka," seloroh pria tersebut.


"Lo, mau beli apa Samsul?! Tanya bibi dengan nada emosi.


Pria itu hanya tersenyum sambil mencoba menggoda bibi Lilis.


"Lu, jangan macam-macam!" Sentak bibi Lilis dengan wajah semakin garang.


"Beli kopi sama rokok, Mpok," ucap pria tersebut sambil terkekeh.


Bibi lalu mengambil barang yang diinginkan pria itu dengan wajah kesal.


Pria itu pun membayar barang yang dibelinya dan setelah mendapat kembalian dari bibi, pria itu lantas bergegas pergi.


Bibi Lilis kini berniat untuk menutup pintu warung dengan awal, mereka berencana untuk mencari Amy keseluruhan penjuru kota Jakarta.


Namun saat ingin menurunkan pintu warung, tiba-tiba datang pembeli baru.


"Mpok, behli!" Seru pria yang terlihat berbeda di bagian bibirnya bagian atas.


"Astaghfirullah," pekik bibi Lilis terkejut.


"Lu kalau mau beli bilang-bilang," ujar bibi yang bertambah kesal.


"Syuhda Mpohk, tahdi," sahut pria yang bicaranya membuat bibi Lilis menepuk jidatnya.


"Beli apa lu?" Tanya bibi yang sedang tidak ingin bermain-main, di saat keadaan begitu genting.


"Tohpi shatu," ucap pria itu.


"Thopi?" Tanya bibi dengan lirih.


"Hum, tohpi sahtu," ulang pria itu yang membuat bibi mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Topi?" Sahut bibi Lilis.


"Di sini kagak ada jualan topi," lanjut bibi.


"Buhkan thopi mpohk, thapi thopi." Pria sumbing itu mengulang ucapannya yang semakin membuat bibi Lilis terdiam dengan wajah frustasi.


"Iya, lu mau thopi kan? Nah disini kagak ada thopi," sahut Mpok dengan suara tegasnya.


"Buhkan, tohpi mpohk, thapi thopi," ulang pria itu dengan pelan.


"Roti!" Tebak bibi.


"Buhkan," ujar pria itu sambil melambaikan kedua tangannya.


"Lalu?"


"Thopi," sahut pria itu kembali.


"Allahu Akbar, astaghfirullah," sebut bibi yang begitu stres menghadapi pembelinya.


"Napa gua kayak dengar lagu India?" monolog bibi Lilis.


Namun tiba-tiba bibi Lilis terloncat kaget saat keponakannya muncul diam-diam.


"Napa bi?" Sela pria tampan yang muncul tiba-tiba sambil membuka lemari pendingin.


Abang Alif juga menatap sang pembeli dan menyapanya.


"Bang!" Sapa Alif ramah.


Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya.


"Lu, kenal nih pria?" Bisik bibi.


Alif menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan sang bibi.


"Sekarang, lo jualin nih orang, bibi kagak ngerti dia ngomong apa," pinta bibi Lilis.


Alif pun kini menghampiri sang pria pembeli yang sedang menatap satu persatu jualan yang terpampang di depan matanya.


"Mau beli apa bang?" Tanya Alif ramah.


"Thopi," sahut pria itu.


"Oh, thopi? Behrapah bhang?" Ujar Alif yang mengikuti perkataan pria tersebut.


"Buset, napa tuh anak ikutan sumbing?" Gumam bibi dengan tampangnya yang begitu heran.


"Dhuah," sahut pria itu.

__ADS_1


"Dua, bukan dhuah, emang Lo mau sholat dhuah malam-malam," seloroh bibi Lilis yang begitu gemas.


__ADS_2