
"Bisa kita mulai saja rapat hari ini? Aku tidak punya waktu banyak, hanya untuk mendengarkan basa-basi dari seseorang." Alex sengaja memotong pembicaraan ibu tirinya dan sang istri.
Amy menatap wajah wanita di depannya yang terlihat tersenyum tidak enak, ia juga menelisik raut wajah suaminya yang kini berubah menjadi dingin.
"Nama kamu siapa, nak?" Tiba-tiba sosok pria tinggi dengan senyum ramah dan hangat, menyapa Amy.
Gadis itu kembali menolehkan wajahnya, memindai sosok pria yang wajahnya masih terlihat begitu gagah.
"Saya?" Sahut si mungil Amy sambil menunjuk wajahnya sendiri. Gadis itu juga melirik suaminya yang begitu tidak suka.
Pria yang kira-kira seusai babanya itu menganggukkan kepala dengan senyum bersahaja yang membuat Amy ikut tersenyum.
"Nama saya, Mandalika Mahendra. biasa dipanggil Amy, om," ucap gadis itu dengan senyum mengembang di wajah imutnya.
Sosok pria berwibawa itu tertawa lepas, mendengar sahutan Amy juga ekspresi wajah gadis di hadapannya.
"Kau terlihat begitu manis, nak. Mulia sekarang, kau, harus memanggilku, papa," pungkas pria itu dengan tegas dan diselingi senyum hangat.
Amy refleks menganga, mendengar kata papa, "j-jadi … o-om, papanya …."
Amy begitu kaget, sampai-sampai ia berkata terbata sambil memandangi suaminya yang terlihat tidak ingin tahu.
"Iya, nak," sahut tuan Mahesa sambil mengusap rambut Amy lembut.
"Oh, iya, ini ibu …."
"Tiri!" Alex memotong ucapan sang papa dengan nada ketus.
__ADS_1
Amy hanya bisa terdiam melihat ekspresi wajah suaminya dan juga pria asing yang merupakan papa, dari suaminya.
"Jangan terlalu memaksakan kehendak anda, orang asing, tetaplah orang asing," lanjut Alex tanpa melihat ke arah, tuan dan nyonya Mahesa.
"Alex, kau …." Perkataan tuan Mahesa terhenti, saat merasakan genggaman istrinya dan juga lirikan mata ke arah — Amy.
Akhirnya, tuan Mahesa hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba untuk tetap bersabar menghadapi sikap putra pertamanya yang masih berperilaku layaknya remaja.
Amy segera mendekati pasangan itu dan menyalami dengan takzim. Bagaimanapun, Amy diajarkan tentang kesopanan kepada orang yang lebih tua dan berperilaku baik.
Membuat pasangan itu, begitu menyukai si gadis imut ini. Nyonya Mahesa bahkan menyuruh Amy duduk di sebelahnya. Akan tetapi, Alex menahan istrinya agar tetap duduk di sebelahnya.
🌹🌹🌹🌹
Selama pertemuan itu berlangsung yang dihadiri para pemegang saham dan petinggi perusahaan , Amy hanya bisa diam sambil mendengarkan.
Amy bahkan menggoyangkan tangan suaminya, berharap mendapatkan izin untuk keluar dari ruangan yang sangat membosankan.
Alex terlihat menggeleng halus tanpa menatap istrinya. Membuat Amy hanya mengerucutkan bibirnya.
Alex terlihat mengambil sesuatu di dalam saku jas hitam yang ia kenakan.
Satu bungkus, bulatan coklat kini ia buka bungkusnya dan menyerahkan kepada sang istri.
Amy membukakan kedua kelopak matanya dengan berbinar-binar, ia juga menatap suaminya dengan senyum bahagia.
"Terima Kasih," ucap Amy tanpa suara. Alex mengambil telapak tangan istrinya dan menggenggam lembut di bawah meja.
__ADS_1
Disaat pembahasan rapat akan berakhirnya, tiba-tiba pintu ruangan luas itu terbuka. Seorang pria muda masuk ke dalam dengan langkah santai dan wajah tidak bersalah.
Semua tatapan mengarah kepadanya dengan hernia. Namun tidak dengan nyonya dan tuan Mahesa merasa tidak nyaman melihat putra mereka datang terlambat.
Apalagi tatapan Alex yang kian memanas, mungkin ubun-ubun pria itu pun ikut memanas. Melihat saudara tirinya muncul.
Apalagi remaja tampan itu beralih duduk di samping istrinya dengan wajah tanpa dosa.
Setelan pria muda itu juga tidak kontras dengan keadaan sekarang. Dengan memakai celana jeans yang kedua lututnya terdapat sobekan dan kaos polos putih dibalut jaket Levis berwarna biru.
Mendengar kursi di sebelahnya bergeser, Amy hanya melirik sekilas dan kembali menikmati coklat pemberian suaminya.
Gadis itu terdiam sesaat, saat menyadari sesuatu di sampingnya. Amy memutar kepalanya sedikit demi sedikit ke samping untuk menyakinkan penglihatan dan pikirannya.
"Kau!" Pekik Amy saat melihat kehadiran Kelvin di sana.
"Hay, manis!" Sapa Kelvin sambil memiringkan kepala untuk menatap wajah manis Amy.
Alex segera beraksi, ia menggeser kursi sang istri lebih dekat kepadanya. Dan memberikan tatapan peringatan kepada — Kelvin.
"Bisa kita lanjutkan?" Seru salah satu petinggi perusahaan tersebut.
Akhirnya rapat itu pun dilanjutkan, meskipun selama rapat, Alex dan Kelvin saling perang dingin dengan tatapan.
Apalagi di imut Amy, berada di tengah-tengah kedua pria rupawan itu.
Sementara Amy, lebih memilih menikmati cemilan yang baru saja disajikan oleh salah satu karyawan. Tanpa memperdulikan perdebatan, suaminya dan Kelvin.
__ADS_1
"Lepaskan, tanganmu dari istriku!" Pekik Alex, sambil menepis tangan Kelvin yang sengaja meletakkan di belakang leher — Amy. Seakan-akan pria muda itu memeluk si Amy.