
Semua orang kini berkumpul di depan tangga, menghela nafas melihat si gadis yang kini berdiri di pagar pembatas tangga, wajah gadis itu sungguh meyakinkan, namun tidak membuat orang yang ada di bawah sana berwajah takut.
Bibi Lilis dan Abang Alif begitu santai duduk di meja makan, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing.
Sedangkan Amy kini sedang bergaya seakan ingin meloncat ke bawah, namun dari raut wajah gadis itu begitu ketakutan.
Bibi Lilis mendongak ke arah Amy dan mendesis sinis. "Dasar tukang drama," gumam wanita itu.
"Pokoknya, aku tidak mau menikah dengan bapak Mr. Dia pria tua ubanan. Pokoknya Amy tidak mau menikah dengan bule lapuk!" Amy berteriak nyaring di atas ketinggian satu meter lebih itu, dengan mimik wajah yang nyaris sempurna untuk memerankan adegan bunuh diri.
"Lu, gimana sih dek. pan, si Mr lapuk dah jadi suami lu, gimana ceritanya lu nolak nikah sama laki lu sendiri?" Abang Alif menyahuti ucapan adiknya dengan wajah menatap ke atas.
"Lu turun gih, gue takut lu kenapa-napa. Ntar, siapa yang gue suruh nyuciin baju Abang kalau lu celaka," ujar pemuda itu dengan tampang gamblang.
Sang bibi segera menoleh ke samping dan mendelik sinis kepada keponakannya itu. "Dasar Abang laknat, bisanya memperalat adik sendiri," komentar sang bibi sambil berdesis jengah.
Alif diam, pemuda itu terlalu malas meladeni sang bibi, apalagi sudah begitu malam, namun rasa ngantuk sampai ke rumah seketika menghilang.
"Amy! Turun lu!" Perintah bibi Lilis dengan nada lembut.
Namun gadis itu menggelengkan kepalanya, menolak perintah sang bibi dan tetap berdiri di atas sana.
"Turun, kagak lu!" Sentak sang bibi lagi dengan muka gemas melihat keponakannya itu.
"Amy, turun!" Teriak bibi Lilis kali.
"Kagak mau, Amy kagak mau turun sebelum tuh, bule lapuk batal jadi suami aku," sahut Amy, tetap menolak turun.
Bibi Lilis pun mulai muak dan membiarkan keponakannya itu di sana.
Namun emak tiba-tiba muncul dengan wajah tampak terlihat segar, ternyata emak Nani langsung mandi, ia merasa kegerahan.
Wanita itu berjalan menuju dapur, tentu saja melewati tangga, ia juga penasaran dengan sang adik sejak tadi berteriak.
"Lu kenapa sih Lis, teriak mulu, malu noh, dengan keponakan bule lu," sela emak yang kini berdiri di dekat meja makan, memarahi sang adik.
Bibi Lilis hanya menanggapi cuek dan tidak ambil pusing komelan sang emak.
"Noh, putri Mpok," ujar bibi Lilis menunjuk ke arah lantai atas dan melihat putrinya berada di pinggir pembatas lantai di atas sana.
__ADS_1
Wajah emak mendadak begitu panik, sangking paniknya, wanita lupa kalau tinggi lantai tidak sampai dua meter.
"Astaghfirullah, Amy! Lu ngapain? Turun kagak lu!" Sentak emak dengan kedua matanya melotot.
"Kagak mau, Amy bakalan lompat kalau emak dan baba tidak membatalkan pernikahan Amy dengan bule lapuk." Tolak gadis itu dan melayangkan kembali protes.
Emak pun kembali terdiam, melihat putrinya itu yang terlihat terpukul.
"Lu udah istri orang nak, jadi kita tidak bisa menolaknya, semua sudah terjadi, sekarang lu tinggal jalani dengan sabar dan baik." Emak kini dalam mode waras, memberikan nasehat kepada anak gadisnya.
"Dia terlalu tua, Mak," ucap Amy, bergaya layaknya anak TK.
"Terus Amy masih mau sekolah Mak, masa Amy putus sekolah? Pokoknya Amy kagak mau. Bule lapuk harus keluar dari rumah ini," kembali gadis itu melayangkan protes dengan raut wajah yang terkesan galak.
Bibi dan emak hanya bisa menarik nafas dan mendelik ke atas, dimana gadis itu berdiri. Sedangkan Alif tidak peduli sama sekali dengan drama yang ditunjukkan adiknya itu.
"Ya Allah, Amy …, turun!" Pekik emak sambil memijit pelipisnya.
"Kagak mau, emak tega, nikahin Amy dengan pria tua dan buat cita-cita Amy terputus," tolak Amy yang enggan berpindah di posisinya.
"Ada apa, dek?" Baba muncul dari arah luar bersama Alexander. Keduanya begitu terkejut mendengar teriakan emak barusan, dan keduanya kini melihat Amy di atas lantai dua dengan wajah penuh keyakinan untuk melompat.
Baba pun hanya bisa menarik nafas, melihat putri satu-satunya kini melakukan aksi yang sungguh berbahaya.
Wajah pria itu terarah keatas, melihat tatapan mata putrinya yang terlihat kecewa.
"Kagak mau, bab. Amy kagak mau turun!" Sekali lagi gadis itu menolak untuk menuruti perintah sang baba.
Alexander yang melihat aksi istrinya kini berdiri tepat di posisi Amy berdiri dengan kepala mendongkak, Amy yang melihat suami besarnya, hanya mendelik malas.
"Turun!" Perintah Alexander dengan nada ngebas.
Membuat emak dan bibi tercengang, mendengar suara Alexander yang terdengar berat dan tajam.
"Suaranya, ngeri-ngeri sedap ya' Mpok?" Tanya bibi Lilis berbisik.
Emak hanya menganggukkan kepala melihat interaksi menantu dan putrinya.
"Amy kagak mau nikah baba, Amy masih mau sekolah," sentak Amy dengan raut sedih. Baba mendengar suara gemetar putri ikut tersentuh, begitu juga emak dan bibi.
__ADS_1
"Kamu bisa sekolah lagi," sahut Alexander.
"Biarkan pernikahan ini jadi rahasia keluarga," lanjut Alexander, membuat kedua orang tua Amy mengkerut binggung.
"Sebaiknya kita bicarakan ini sekarang," Alexander berucap sambil menatap baba.
Baba dan emak mengangkuk, keduanya begitu serius dengan apa yang akan menantu bule mereka sampaikan.
Amy pun begitu penasaran dan ia ingin mendengar pembahasan kedua orang tuanya juga sang suami.
Gadis itu segera menjauh dari luar pagar pembatas lantai dua, namun karena terlalu ceroboh, salah satu kaki gadis itu terpeleset dan berakhir terjatuh.
"Akhh … emak, baba!" Teriak Amy saat tubuhnya terjun.
"Astaghfirullah, Amy!" Pekik emak syok, begitu juga dengan bibi, segera berdiri.
Alexander yang berada tepat di bawah istrinya itu segera menangkap tubuh mungil Amy dan gadis itu pun selamat.
Emak, bibi dan baba, menarik nafas lega di hadapan Alexander yang kini menggendong tubuh mungil Amy.
Keduanya kini terlihat adu tatapan, masing-masing memindai wajah dan mengagumi dalam hati, adegan itu begitu terlihat romantis dan dari alam lain seakan ada musik yang mengiringi, juga ribuan bunga berterbangan di sekitar mereka. Sungguh adegan yang begitu so sweet. Namun semuanya menjadi buyar oleh seseorang yang berseru!
"Emak, ayam goreng masih ada?" Abang Alif berteriak dari arah dapur, menyadarkan pasangan suami-istri yang baru saja sah.
Alexander terlihat salah tingkah dan ia melihat raut wajah orang-orang di sana tampak tercengang.
"Turunkan, Amy bapak Mr!" Sentak Amy dengan suara tertahan.
"Bugh." Alexander pun melepaskan tubuh istrinya.
"Astaghfirullah!" Pekik emak dan bibi.
Amy hanya bisa meringis, merasakan sakit di bagian bokongnya mencium lantai. Gadis itu mendongakkan kepalanya keatas, menatap wajah santai suami bulenya tajam.
"Dasar bule ….!" Teriak gadis itu sambil mengusap bokongnya yang begitu ngilu.
Sedangkan Alexander bergerak ke arah ruang tamu, melewati kedua orang tua istrinya juga bibi Lilis dengan wajah lempeng.
"Allahu Akbar, gitu amat menantu Mpok." Seloroh bibi Lilis.
__ADS_1
hay semua ☺️☺️
mungkin novel ini bakalan uma hapus, soalnya rada" gimana gitu, apalagi ini latarnya lokal, jadi agak canggung di Uma 🤭🤭